Oleh Agus Widjajanto
Situasi geo politik dan geo strategis berubah dengan cepatnya, dari hari ke jam dari jam ke menit akibat keputusan kepala negara sekaligus kepala pemerintahan Amerika Serikat, Donald Trump yang mengambil kebijakan kontraversi, setelah sebelumnya menangkap Nicolas Maduro presiden Venezuela dan dibawa ke New York untuk diadili dan menguasai serta menjual minyak antara 30 hingga 50 juta barel dibawah kendali langsung presiden Donald Trump, sekarang sedang persiapan menyerang Iran negara Mullah di Timor Tengah, yang dianggap membahayakan kepentingan dan keamanan Amerika.
Belum lagi rencana mengambil alih Greenland wilayah teritorial Swedia , yang diketahui dibawah es tersimpan kandungan uranium dan tanah jarang, serta mineral yang dapat menghidupi industri dan peralatan militer, hingga memicu perpecahan didalam Kubu NATO singkatan dari North Atlantic Treaty Organization, atau dalam bahasa Indonesia disebut Organisasi Perjanjian Atlantik Utara.
Langkah langkah yang diambil presiden Trump sangat membayakan perdamaian dunia, dimana Jerman, Prancis, Norwegia telah mengirim kan pasukannya ke Greenland untuk penjagaan dan persiapan segala sesuatunya atas rencana presiden Trump yang dalam hitungan jam bisa menggerakan pasukan ke belahan dunia manapun.
Situasi di Greenland, wilayah Denmark, memang sedang panas. Beberapa negara NATO, seperti Jerman, Prancis, Denmark, dan Norwegia, telah mengirim pasukan pengintai ke Greenland untuk antisipasi serangan Amerika Serikat.
Greenland adalah wilayah Denmark yang terletak di Atlantik Utara, dan strategis bagi keamanan global. Denmark, sebagai anggota NATO, memiliki komitmen untuk menjaga keamanan wilayahnya dan bekerja sama dengan sekutu lainnya.
Tindakan negara-negara NATO ini kemungkinan terkait dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Atlantik Utara dan kepentingan strategis Greenland.
Demikian juga pada geo strategis dan politis wilayah Timor Tengah seperti Iran yang mungkin akan terjadi peperangan frontal besar-besaran dan Greenland diwilayah jauh dari teritorial Asia Pasifik, namun bagi Indonesia walaupun menganut Non Blok, mengingat dan melihat situasi dimana rencana menguasai wilayah baik Venezuela maupun Greenland adalah bukan menyangkut kepentingan politik lagi, yang berkiblat ke arah mana tapi dari dua contoh diatas semata-mata demi kepentingan ekonomi, dimana tujuanya jelas menguasai sumber daya alam, tetap mengkhawatirkan bagi Indonesia dan harus tetap waspada, yang dikaruniai sumber daya alam yang begitu melimpah bukan saja mengandung nikel, tanah jarang , uranium dan energi yang dibutuhkan industri modern saat ini.
Saat ini Indonesia suka tidak suka , telah dikepung dan dikelilingi pangkalan militer negagara Adi Daya, Pangkalan militer Amerika Serikat yang mengelilingi Indonesia dari arah Barat Sumatera, Utara Kalimantan, SAelatan Nusa Tenggara adalah:
– Barat Sumatera:
– Pulau Christmas (terletak di Samudra Hindia, bagian dari Australia).
– Pulau Cocos (terletak di Samudra Hindia, bagian dari Australia).
– Utara Kalimantan:
– Guam (terletak di Pasifik, teritori AS).
– Selatan Nusa Tenggara:
– Darwin (terletak di Australia Utara).
– Pangkalan militer di Filipina (seperti Subic Bay, meskipun tidak langsung di selatan Nusa Tenggara, tapi masih dalam radius strategis).
Pangkalan-pangkalan ini mendukung operasi militer AS di Asia Pasifik dan merupakan bagian dari strategi militer AS di kawasan, terutama terkait dengan Laut Cina Selatan dan Taiwan, namun dalam situasi geo politik dan strategis demi tujuan ekonomi dan politik, bukan mustahil berubah tujuan ke negara yang mempunyai sumber daya alam melimpah, siapa lagi kalau bukan NKRI.
Belum lagi di tetangga terdekat kita, bahwa Singapura bisa disebut sebagai basis pangkalan “bayangan” Amerika Serikat karena:
– Kerja Sama Pertahanan: Singapura dan AS memiliki kerja sama pertahanan yang erat, termasuk akses ke fasilitas militer Singapura.
– Fasilitas Militer: Singapura memiliki fasilitas militer modern yang bisa digunakan AS untuk operasi strategis.
– Lokasi Strategis: Singapura terletak di Sel Strait Malaka, jalur laut penting untuk perdagangan global.
Namun, Singapura tetap menjaga kedaulatan dan tidak secara terbuka menjadi pangkalan AS. Kerja sama ini lebih pada basis “bayangan” atau akses strategis.
Memang saat ini dalam pertarungan antar negara Adi Daya terjadi persaingan sengit antara Amerika Serikat dengan China, demi ambisi sebagai penguasa Dunia, dimana konflik yang beberapa tahun lalu memanas berada di Laut China Selatan, dan apabila terjadi gesekan pertarungan di medan laut, maka pangkalan terdekat yang bisa dijadikan pangkalan, jika terjadi perang di Laut Cina Selatan melawan Cina dan perang Taiwan, pangkalan Amerika Serikat yang paling dekat digunakan kemungkinan adalah pangkalan di Filipina, terutama yang berlokasi di:
– Cagayan: Pangkalan Angkatan Laut Camilo Osias di Sta Ana dan Bandara Lal-lo, strategis untuk menghadap ke utara ke arah Taiwan.
– Isabela: Camp Melchor Dela Cruz di Gamu, juga strategis untuk menghadap ke Taiwan.
– Palawan: Pangkalan Udara Antonio Bautista dan pulau Balabac, dekat dengan Kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut Cina Selatan.
Pangkalan-pangkalan ini dipilih karena lokasinya strategis dan sudah termasuk dalam Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA) antara AS dan Filipina.
Dan mau tidak mau Karena berada di teras belakang wilayah Indonesia dengan Natuna Utara maka tetap saja berimbas pada Indonesia karena jalur terdekat peperangan.
Maka tidak salah apabila dimasa presiden Prabowo yang sudah dirintis sejak menjabat Menteri Pertahanan, meningkatkan belanja militer dan memperkuat kekuatan militer adalah langkah yang umum dilakukan oleh negara-negara untuk menjaga kedaulatan dan keamanan nasional. Indonesia, sebagai negara dengan populasi besar dan posisi strategis di Asia Tenggara, memiliki kebutuhan untuk memperkuat pertahanan nasional.
Masa pemerintahan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan dan kemungkinan sebagai Presiden terpilih, fokus pada modernisasi dan penguatan militer bisa jadi merupakan prioritas untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas regional. Indonesia telah melakukan upaya untuk meningkatkan kemampuan militernya, termasuk pengmodernisasi alutsista dan peningkatan kerja sama pertahanan dengan negara-negara lain.
Penguatan militer ini juga bisa terkait dengan dinamika geopolitik di kawasan, seperti isu Laut Cina Selatan dan kebutuhan untuk menjaga kedaulatan wilayah. Bagaimana menurut kamu tentang langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah Indonesia untuk memperkuat pertahanan nasional dengan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta yang tidak lagi mencegat diluar wilayah teritorial lagi akan tetapi berambisi menjadi kekuatan Global menuju Green Water Navi yang bisa menjangkau lautan seluruh dunia, dan ini logis dilakukan melihat sutuasi kondisi saat ini yang terhadi ditengah ketidak pastian dunia seolah sudah tidak ada lagi hukum International dan Perserikatan Bangsa Bangsa yang tidak bisa berbuat apa-apa karena ibarat gigi ompong, tentu setiap negara berjaga jaga mengingat hukum yang berlaku seperti hukum rimba, siapa kuat dialah pemenang dan berkuasa .
Dan kita harus berpikir logis untuk bersiap pada kemungkinan terburuk, sebagai persiapan kepada jaman dan pola baru menuju dunia baru.
————————
Penulis adalah pemerhati masalah pertahanan dan sosial budaya






