Oleh Gratia Wing Artha, Pengajar Muda Prodi Sosiologi FISIP Universitas Nasional – Jakarta
“ All that is real becomes simulation”
(Jean Baudrillard)
Seiring dengan berkembangnya zaman semua yang nyata telah berganti wujud menjadi sebuah simulasi. Begitulah yang dipikirkan oleh filsuf dan sosiolog besar asal Perancis Jean Baudrillard yang telah lama dan tekun mempelajari isu – isu kebudayaan kontemporer yang sedang berkembang di masyarakat yang dikatakan “semakin maju”. Pandangan Baudrillard yang terkesan dipengaruhi oleh filsafat nihilisme ini dapat dikatakan pemikiran terbaik dalam mengungkapkan realitas kebudayaan yang sudah semakin menakjubkan ini. Menelusiri biografinya Jean Baudrillard dilahirkan di kotaa Riems, Perancis Barat tepatnya pada 27 Juli 1929. Kedua orang tua Jean Baudrillard merupakan petanu yang kemudian memutuskan pindah ke kota Paris untuk bekerja sebagai pegawai pada Dinas Pelayanan Masyarakat. Dalam masa hidupnya Baudrillard sempat mengalami masa kejayaan dan keruntuhan ideologi fasisme. Dalam silsilah keluarganya yang merujuk pada petani dan kurangnya pendidikan sangat mengesankan bahwa Baudrillard adalah orang pertama di keluarganya yang menempuh jalur akademia. Petualangan pendidikan Baudrillard dimulai ketika dia berkuliah di Universitas Sorbonne dalam studi bahasa dan sejarah Jerman, kemudian Baudrillard melanjutkan studi doktoralnya dalam bidang sosiologi. Sebagai mahasiswa yang kritis dan punya pemikiran cemerlang Baudrillard tergabung pada organisasi kemahasiswaaan yang berhaluan Marxis. Karir akademik Baudrillard sebagai sosiolog semakin teguh ketika dia berhasil menyelesaikan studi doktoralnya di Universite de Paris – X Nanterre tahun 1966 dengan bimbingan dari sosiolog terkenal Henry Lefebvre yang dikenal sebagai sosiolog yang anti pada pemikiran strukturalisme.
Setelah lulus Baudrillard ,endapatkan posisi sebagai asisten profesor merangkak menjadi Associate Profesor dan Profesor penuh di Universite de Paris – X. Setelah cukup lama berkecimpung di Universite de [aris – X Nanterre, Baudrillard menerima ajakan filsuf dan ahli bahasa terkenal Roland Barthes untuk mengajar di Ecole des Hautes Etudes. Dalam karir akademiknya Baudrillard dipengaruhi oleh ide – ide Barthes , dan juga pemikiran Marx yang sudah lama ditekuninya. Sejak mengajar di tempat barunya kesibukan Baudrillard menjadi beertambah aktif menulis dan berpartisipasi aktif pada gerakan sosialisme yang berkembang di Perancis. Pemikiran Baudrillard berbanding terbalik dengan para filsuf Perancis saat itu yang menekuni masalah metafisika dan epistemologi, sedangkan Baudrillard lebuh memusatkan pada isu – isu kebudayaan pada ranah risetnya. Studi kebudayaan dipilihnya lantaran berfiikir bahwa dia berharap akan mengungkapkan transformasi dan pergeserab struktir masyarakat Barat yang berkembang dengan pesat yang dinamakannya dengan masyarakat simulasi dan hiperrealitas. Tulisan – tulisan Baudrillard banyak dimuat pada majalah Calvino dan Les Temps Modernes yang dikelola oleh filsuf eksistensialis ternama Jean Paul Sartre, tulisan Baudrillard menunjukkan bahwa dia penganut dan kritukus Marx yang sangat cerdas. Karya – karya terjemahannya akan Bertolt Brectct dan Arnold Wesiss yang kental dengan pemikiran Marx, sangat memperlihatkan daya kritisnya pada pemikiran Marx akan nilai guna dan nilai tukar. Dallam hal ini Baudrillard berupaya mengkolaborasikan ide Marx dengan strukturalisme Perancis. Berbeda dengan guru dan panutannya Lefebvre, dimana Baudrillard tidak anti pada strukturalisme. Yang dalam hal ini dia masih memakai dan mengadopsi ide dan istilah filsuf struturalisme.
Selain itu Baudrillard juga terpengaruh pada pemikiran Barthes soal semiologi dan Marcus Mauss seorang antropolog strukturalis yang menelurkan pemikiran tentang gift atau pemnerian dan George Bataille tentang expenditure atau belanjaan. Dari sini nama Baudrillard semakin tenar melalui bukunya yang mengkaji diskursus kebudayaan berjudul “ The Mirror of Production (1975) yang diterbitkan di Amerika Serikat. Gaya tulisan Baudrillard yang menjadi ciri khasnya adalah deklaratif, hiperbolik, skeptis, aforistik, fatalis, nihilis , akan tetapi tajam dan memukau. Melalui karaynya nama Baudrillard menjadi tenar pada jaringan akademia internasional segera banyak undangan seminar dan mengajar dar luar negeri menghampirinya. Bahkan, media massa Liberation dan Guardion selalu menampilkan tulisan – tulisannya yang kritis. Selaras dengan itu fokus Baudrillard pada kajian postmodernisme semakin menguat dan namanya semakin kuat dalam kancah pemikir postmodernisme.
“ Semua yang nyata dewasa ini telah berubah dan berkembang menjadi simulasi” ( Filsuf Jean Baudrillard).
Pada tahun 1968 Baudrillard melancurkan buku pertamanya “ The System of Object” yang sangat dipengaruhi oleh mentornya Roland Barthes. Dalam karyanya ini dia mengadopsi pemikiran semiologi Barthes guna membongkar hubungan mistifikasi objek – subjek pada realita kehidupan masyarakat yang sudah dikatakan modern. Dalam karyanya ini Baudrillard menegkaskan bahwa di bahwa bendera kemenangan era kapitalisme lanjut, mode of production telah beralih ke mode of consumption. Konsumsi inila yang melatar belakangi semua aspek kehidupan yang tak lebih pada apa yang dinamakan sebagai “objek”, yang dinamakan konsumsi yang berwujud komoditas. Sistem – sistem objek adalah judul sistem klasifikasi yang membangun makna pada kehidupan sosial masyarakat kapitalisme dewasa ini. Dalam objek – objek komoditi inilah individu dalam masyarakat konsumsi akan memiliki makna dan eksistensi dirinya.
Pada pemikiran Baudrillard fungsi utama konsumsi bukan dari manfaat atau kegunaan, namun pada fungsi sebagai nilai – tanda atau berupa nilai – simbol yang diwartakan dan digaungkan lewat iklan – iklan gaya hidup ( Baudrillard, 1969:19) apa yang dibeli oleh masyarakat merupakan tanda – tanda yang ditanamkan pada objek – objek konsumsi, yang nantinya akan membedakan pilihan individu satu dengan individu lainnya. Tema – tema akan gaya hidup , kelas sosial serta prestise tertentu merupakan makna yang sering kali ditanamkan pada objek – objek konsumsi. Dari sini dapat dikatakan bahwa objek – objek konsumsi telah mewujud seperangkat sistem klasifikasi status, prestise, bahkan tingkah laku masyarakat yang sudah semakin maju.
Karya selanjutnya adalah Consumer Society (1970) yang mana dia mengembangkan pemikiran akan posisi konsumsi pada masyarakat konsumer. Yang dalam pandangannya konsumsi tekah menjadi faktor yang fundamentak pada ekologi spesies manusia. Lebih jauh Buadrillard menegaskan bermula pada sistem nilai – tanda dan nilai – simbol serta bukan karena kebutuhan maupun hasrat guna memperoleh kenikmatan. Melalui pendapatnya Baudrillard enggan menafikan pentingnya kebutuhan. Dia hanya menyatakan bahwa masyarakat konsumer memahami konsumsi sebagai sistem pemaknaan yang tidak agi diatur oleh faktor kebutuhan maupun hasrat kenikmatan , akan tetapi leh seperangkat hasrat guna memperoleh kehormatan , prestise, dan status sosial yang tinggi lewat mekanisme berupa penandaan.
Masyarakat konsumer seperti yang biasa dilihat merupakan masyarakat yang memiliki logika sosial konsumsi yang mana kegunaan dan pelayanan tidaklah motif yang utama dari konsumsi, namun lebih merujuk pada produksi serta maipulasi penandaan sosial. Dalam masyarakat konsumer , tanda merupakan cerminan aktualisasi diri individu yang dipandang paling nyata dan tepat. Hal ini dipengaruhi oleh Mauss dan Bataille yang menegaskan akan institusi seperti Kula serta Potlach yang pada masyarakat ‘primitif”, kebidaaan memberikan sesuatu yang pebih berlandaskan pada prestise serta kebanggan simbolik, inilah yang menjadi ciri khas dalam aktivitas masyarakat konsumsi sekarang ini. Karyanya yang tidak kalah penting adalah For Critique of The Political Economy of The Sign terbit tahun 1981 pada Telos pTRess. Dari sini dia mengkritik secara keras akan prinsip nilai – guna dan nilai – tukar Marx yang dinyatakan semakin tidak relevan digunakan untuk menganalisa masyarakat yang sudah semakin maju dan kompleks pada era postmodern.
Karya terbesarnya terbit pada tahun 1983 berjudul Simulations yang mana Baudrillard secara cerdas menjabarkan karakter khas dari kebudayaan masyarakat barat kontemporer merupakan representasi dari dunia representasi. Dimana dunia ini terbangun dari hubungan berbagai tanda dan kode secara acak, tanpa adanya referensi relasional yang jelas dan tegas. Hubungan ini mengaitkan tanda real (fakta) yang tercipta dari proses produksi , dan tanda semu ( citra) yang tercipta oleh proses yang dinamakan dengan reproduksi. Dalam kebudayaan simulasi , kedua tanda tersebut saling menumpuk serta terjalin erat dan mebangun satu kesatuan yang utuh. Tidak dapat lagi diidentifiasi mana yang asli dan palsu. Semua ini menjadi realitas yang melingkupi masyarakat Barat kontemporer. Kesatuan ini dinamakan Buadrillard dengan simulacra atau simulacrum, yang mana dunia baru yang terbentuk dari perpaduan nilai, fakta, tanda, citra, kode. Realitas tidak lagi memiliki referensi , namun simulakraitu sendiri. Dalam postmodern , prinsip simulasi ini menjadi kekuatan yang mana reproduksi melalui teknologi informasi , komunikasi digital, dan industri pengetahuan, sementara pengetahuan citra mendominasi proses komunikasi pada masyarakat manusia. Identitas individu dewasa ini ditentukan oleh persilangan citra dan kode yang membanhgun cermin akan individu memahami diri sendiri serta hubungannya dengan individu lainnya.
Pada dunia simulasi realitas tidak berfungsi sebagai refleksi atas kenyataan, namun model – model yang ditanpilkan melalui televisi, iklan, media sosial, tokoh kartun maupun sinetron. Seperti Barbie, Doraemon, Ariel Paterpan, Superman, iklan shampoo pantene, clear, dan iklan – uklan produk kecantikan tubuh dengan model artis tampan dan cantik. Melalui televisi realitas tidak hanya diproduksi , disebarliaskan serta direproduksi, namun juga dapat dimanipulasi. Realitas simulasi telah membentuk kesadaran baru dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, televisi yang dikayakan Baudrillard sebagai artefak postmodernisme menjadi wahana paling meyakinkan, diminati sama halnya dengan funsi pelajaran sejarah dan etika di sekolah. Bahkan iklan shampoo sunsilk dan karton Doraemon di televisi mampu mengajarkan manusia menemukan jati diri dan hakikat kehidupan ( Piliang, 1997:194).
Pada tahun 1989 terbit karyanya tentang Simulacra and Simulacrum kelanjutan dari simulations (1983). Pada karya terbatunya ini Baudrillard melahirkan istilah baru yang dinamakan masyarakat hiperealitas, yang mana menjabarkan. Gagasan ini berasal dari McLuhan dalam karyanya “ The Gutenberh Galaxy (1962) dan Understanding Media : The Extensions of Man ( 1964). Yang selanjutnya gagasan ini diambil oleh Baudrillard dalam menjelaskan realitas simulasi yang dihasilkan daeri berbagaimacam teknologi terbaru – micro procesor , memory bank, remote control, dorne telag mampu mengalahkan realitas yang bahkan menjadi acuan baru bagi masyarakat . dalam hal ini citra terlihat lebih indah dan meyakinkan daripada fakta . mimpi lebih dipercaya daripada kenyataan sehari – hari. Dari sinllah hiperealitas lahir yang mana realottas yang nyata dari nyang nyata , semu serta meledak – ledak. Pada dunia hiperrealitas , objek – objek asli yang pada dasarnya hasil pergumulan menjadi satu dengan objek hiperralitas. Realitas – realitas hiper , sebagaimana media online seperti Facebook, Twitter, toko online, sekolah daring , televisi, vidio game dll menjadi lebih nyata dari realitas asli. Yang mana modelm citra – citra sebenarnya yang oleh heperrealitas bertransformasi sebagai pengendali pikiran dan tingkah laku masyarakat. Hiperralitas dapat dikatakan sebagai realitas itu sendiri , yakni era yang dipandu dengan model – model realitas tanpa pojakan dasar dan referensi , yang mana yang dapat dikatakan nyata tidak semata dapat direproduksi , melainkan selalu dapat direproduksi.
Inilah pemikiran besar filsuf Jean Baudrillard yang pemikirannya akan kebudayaan postmodern sangat penting bagi tubuh pengetahuan tertama pada filsafat , ssiologi, antropologi , dan ajian budaya . Filsuf besar ini meninggal karena penyakit typphoid pada tanggal 6 Maret 2007 pada usia 77 tahun di Paris, Perancis. Namun, karya dan pemikiran filsuf besar pengkaji kebudayaan ini akan selalu abadi dikenang zaman karena sumbangsihnya pada filsafat dan ilmu sosial tidak diragukan lagi.
————————————-
Rereferensi :
Sebuah Dunia yang Dilipat : Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Postmodernisme, Penerbit Mizan : 1998. Yasraf Amir Piliang.
Hiper – Realitas Kebudayaan; Semiotika, Estetika, Postmodernisme, LKIS, 1999
Dunia yang Dilipat : Tamasya Melampaui Batas – Batas Kebudayaan , 2011 Yasraf Amir Piliang
Masyarakat Konsumsi, Kreasi Wacana. 2011. Penulis Jean P. Baudrillard . Pengantar George Ritzer.


