Oleh Maria D. Andriana
Buku“Dari Bakau ke Surga: Tuhan Tak Pernah Jauh” menawarkan sesuatu yang jarang hadir dalam narasi tentang Asmat di Papua Selatan. Tidak mengutamakan eksotisme suku, bukan pula laporan konflik, melainkan pembacaan spiritual atas ruang hidup.
Di tengah wacana yang kerap memotret Papua sebagai wilayah terluar atau terbelakang, buku ini berusaha menempatkan tanah bakau itu sebagai pusat pengalaman iman baik oleh umat maupun pemuka agama.
Karya ini menghimpun aktivitas pastoral Uskup Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, bersama esai dari penulis utama, yakni etnolog Evi Aryati Arbay dan tulisan warga setempat, John Ohoiwirin. Struktur tersebut membuat buku ini tidak berdiri sebagai laporan tunggal, melainkan sebuah mozaik atas suara pastoral, antropologis, dan seruan lokal. Kombinasi ini menjanjikan dialog yang kaya.
Secara visual, rangkaian foto yang dikurasi oleh Arbain Rambey memperkaya narasi dan menghadirkan atmosfer ruang hidup Asmat. Lebih dari enam puluh persen foto menampilkan aktivitas pastoral, sementara sisanya berupa lanskap dan potret keseharian yang estetik tentang Asmat. Komposisi ini mempertegas fokus buku pada pengalaman perutusan, namun sekaligus membatasi ruang visual bagi representasi budaya yang lebih luas.
Ketiadaan teks foto membuat konteks visual kurang terjelaskan. Selain itu, absennya keterangan kredit fotografer serta pembedaan antara karya fotografi profesional dan arsip dokumentasi menyisakan pertanyaan editorial.
Dalam buku yang mengangkat kebudayaan, aspek visual bukan sekadar pelengkap estetis, melainkan bagian dari tanggung jawab representasi.
Beberapa adegan yang digambarkan dalam teks, seperti papan-papan licin penutup lumpur atau sosok orang Asmat yang mendayung sambil berdiri, justru tidak muncul dalam dokumentasi visual buku. Padahal, kehadiran foto-foto tersebut dapat memperkaya pengalaman pembaca sekaligus memperkuat daya representasinya.
Secara tematik, buku ini bertumpu pada tiga simpul alam, budaya, dan spiritualitas. Alam tidak diposisikan sebagai latar yang pasif, melainkan sebagai ruang hidup yang membentuk kesadaran kolektif.
Budaya bukan sekadar ornamen etnografis, tetapi media tafsir iman. Sementara spiritualitas tidak hadir sebagai doktrin yang turun dari langit, melainkan sebagai pengalaman yang tumbuh dari lumpur bakau, dari rumah panggung, juga dari ritme sungai yang pasang surut.
Di sinilah kekuatan buku ini, yang mencoba menghadirkan iman yang berinkarnasi. Tuhan tidak digambarkan sebagai institusi yang mengatur dari atas, tetapi sebagai kehadiran yang belajar bersama komunitas.
Perspektif ini penting dalam diskursus budaya Indonesia yang masih sering terjebak pada relasi pusat dan daerah. Buku ini, setidaknya secara intensi, berupaya membalik sudut pandang tersebut.
Namun, justru pada titik itu pula muncul pertanyaan kritis. Sejauh mana suara warga Asmat benar-benar berdiri setara dalam buku ini? Meski ada kontribusi penulis lokal, narasi tetap kuat berada dalam bingkai pastoral dan refleksi gerejawi. Pembaca yang mencari pembacaan antropologis yang sistematis atau suara warga yang lebih dominan mungkin akan merasa ruang itu masih terbatas.
Bagian surat-surat gembala Mgr. Murwito memperlihatkan pendekatan Gereja yang selaras dengan semangat Konsili Vatikan II yakni pembaruan Gereja yang mendorong penghormatan terhadap kebudayaan setempat sebagai entitas yang utuh.
Dalam konteks Papua yang sarat dinamika sosial-politik, sikap ini signifikan. Buku ini tidak menutup mata terhadap realitas kekerasan dan kegelisahan yang mengemuka, tetapi memosisikan Gereja pada landasan kemanusiaan, bukan politik. Di sini, buku berani menyentuh konteks tanpa terjebak dalam retorika.
Aktivitas pastoral menyentuh harkat dan martabat warga yang masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia, pelayanan pendidikan, kesehatan dan penguatan ekonomi, terbaca melalui teks maupun rangkaian foto.
Dari sisi gaya, tulisan bergerak dalam tempo yang pelan dan meditatif. Pembaca tidak diajak berlari menyusuri data, melainkan berjalan menyusuri pengalaman. Kualitas reflektif ini menjadi daya tarik sekaligus batas.
Bagi pembaca umum yang tidak akrab dengan wacana teologi kontekstual, beberapa bagian mungkin terasa terlalu internal dan gerejawi. Buku ini lebih dekat pada kesaksian batin ketimbang analisis ilmiah.
Kehadiran Evi Aryati Arbay sebagai etnolog memberi warna tersendiri. Rekam jejaknya dalam menulis komunitas adat dari Baduy Dalam hingga Papua, menunjukkan konsistensi pendekatan yang empatik.
Pendekatan tersebut lebih banyak berfungsi sebagai jembatan refleksi spiritual ketimbang penggalian etnografis yang mendalam. Namun buku ini memang tidak diniatkan sebagai studi antropologi, dan itu perlu disadari pembaca sejak awal.
Penulis dengan sadar memberi ruang spiritual dan pastoral, alih-alih kajian antropologis yang mengemukakan struktur sosial masyarakat dan budayanya.
Dia juga menjaga keseimbangan dengan tidak mereduksi pengalaman iman menjadi suguhan data, sebaliknya juga tidak membiarkan refleksi-refleksi ini kehilangan pijakan kulturalnya.
Representasi Asmat disampaikan dengan hati-hati dengan pemahaman bahwa Papua bukan ruang kosong yang bisa ditafsir sesuka hati. Di situ ada sejarah luka yang perlu dirawat. ada martabat yang mesti dijunjung, dan, ada suara yang harus dihormati.
Tantangan dalam buku ini adalah untuk tidak memberbicarakan mereka dari kejauhan, melainkan berjalan bersama.
Pada akhirnya, “Dari Bakau ke Surga: Tuhan Tak Pernah Jauh” adalah tawaran tafsir mengenai iman yang tumbuh dari akar budaya tanpa harus mencabutnya. Ini menjadi penting dalam perbincangan tentang relasi agama dan kebudayaan di Indonesia. Sebagai suatu karya, buku ini lebih kuat sebagai refleksi pastoral daripada sebagai eksplorasi budaya yang kritis dan menyeluruh.
Buku ini layak dibaca oleh mereka yang tertarik pada inkulturasi iman dan dialog budaya. Isi buku tidak menawarkan peta akademik yang rinci, tetapi menghadirkan kesadaran bahwa spiritualitas bisa lahir dari tanah yang jauh dan sering luput dari perhatian.

*****************

