
Oleh Athaya Sekar Khairina, Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta
Era 2000-an menjadi salah satu periodisasi penting bagi perkembangan sastra Indonesia, khususnya pada karya-karya sastra yang mulai berani mengangkat isu-isu yang sebelumnya dianggap tabu seperti seksualitas, kebebasan ekspresi, kekerasan, hingga trauma. Tema-tema tersebut seringkali diangkat dalam karya-karya sastra dari penulis perempuan, hingga muncullah istilah “sastra wangi” yang kontroversial di kalangan sastrawan karena dianggap menggiring perhatian pada kualitas suatu karya sastra dan mempermasalahkan gender sang penulis. Meskipun demikan, penulis perempuan seperti Djenar Maesa Ayu justru mengeluarkan karya-karya menariknya, salah satunya yaitu cerita pendek terkenalnya bertajuk “Mereka Bilang, Saya Monyet!” yang pernah dialihwacanakan dalam bentuk film di tahun 2008. Cerpen ini menceritakan tokoh ‘saya’ yang mengalami kekerasan seksual hingga meninggalkan luka psikologis padanya. Ia dipandang rendah oleh orang-orang sebagai ‘monyet’ atas perilakunya.
Esai ini dimaksudkan untuk menganalisis cerpen “Mereka Bilang, Saya Monyet!” karya Djenar Maesa Ayu dalam perspektif Longinus. Dalam perspektif ini, Longinus mengeksplorasi “sisi lain” dari karya sastra, yaitu sifat dan jenis tulisan tertentu yang melanggar komposisi estetis dan retoris untuk mencapai sebuah “hypos” atau keluhuran. Cerpen ini memiliki “keluhuran” yang bisa dianalisis dalam lima prinsip sumber keluhuran pengarang (Foundation, 2018): (1) daya pemikiran yang agung (grandeur of thoughts); (2) emosi yang kuat dan gairah (passion) yang mulia; (3) retorika yang unggul; (4) penggunaan pilihan kata yang berkelas; dan (5) komposisi yang mulia. Hal ini akan membuktikan bahwa Djenar tidak hanya menulis cerpen ini untuk hiburan semata, tetapi juga memiliki kekuatan ekspresif yang dapat dirasakan oleh pembaca.
Daya Pemikiran yang Agung
Cerpen ini memegang gagasan yang agung, yaitu mengkritik kekerasan seksual dan tindakan tak manusiawi pada perempuan. Label “monyet” yang diberi orang-orang pada tokoh ‘saya’ menyoroti dehumanisasi pada korban kekerasan seksual. Dari judul cerpen “Mereka Bilang, Saya Monyet!” sebetulnya sudah menunjukkan gagasan yang agung, yaitu kritik terhadap masyarakat yang memandang rendah korban kekerasan seksual dengan melabelinya sebagai hewan, di mana hal ini merupakan tindakan tak manusiawi. Selain itu, Djenar berhasil menyoroti sudut pandang tokoh ‘saya’ sebagai korban kekerasan seksual yang sedang dalam keterasingan atas dirinya sendiri. Dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:
“Saya benar-benar tidak mengerti maksud mereka. Yang saya tahu saat itu hanya hati saya terasa ngilu bagai disayat-sayat sembilu. Mungkinkah ini yang disebut perasaan? Tapi saya sudah telanjur kehilangan keberanian untuk mengatakan apa yang saya rasakan. Dan saya tambah tidak mengerti jika benar ini adalah perasaan yang mereka maksudkan, lalu mengapa mereka bisa menertawakan saya tanpa memedulikan perasaan saya sama sekali?”
(Ayu, 2001)
Emosi yang Kuat dan Gairah yang Mulia
Dalam cerpen ini, Djenar mengungkapkan emosi tokoh ‘saya’ yang jujur dan kuat, seperti jijik, bingung, marah, dan hina. Ditulis dengan narasi yang personal dan detail. Djenar juga berhasil menyoroti tokoh dalam perjalanan krisis identitasnya:
“Saya mengisyaratkan pemain keyboard untuk memainkan “La Bamba”. Dengan terpaksa pemain keyboard mengikuti permintaan saya. Saya mulai berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik dan suara saya yang terdengar tidak merdu. Saya berputar ke kiri, berputar ke kanan, bergerak maju, bergerak ke belakang, bertepuk tangan, berteriak kencang, duduk di atas pangkuan pemain keyboard, dan semua yang ada di kafe itu ikut bersorak-sorai dan bertepuk tangan.”
(Ayu, 2001)
Cerpen ini tidak hanya menyoroti peristiwa yang dialami oleh sang tokoh, melainkan menggambarkan penderitaan yang dialami. Hal ini dapat mengguncangkan perasaan pembaca melalui penggambaran emosi yang kuat dan gairah yang mulia.
Retorika yang Unggul
Cerpen ini menggunakan teknik retorika yang menarik perhatian pembaca, yaitu dengan metaforis dan ironis. Metafora pada cerpen ini terlihat pada tokoh ‘saya’ dan label “monyet” yang didapat dari masyarakat yang seharusnya dapat melindungi korban, tetapi justru menjadikan korban sebagai sasaran empuk untuk dihina dan ditertawakan:
“Waktu saya menyatakan bahwa saya juga mempunyai hati, mereka tertawa dan memandang saya dengan penuh iba atas kebodohan saya. Katanya hati yang mereka maksudkan adalah perasaan, selain itu mereka juga mempunyai otak. Tapi ketika saya protes dan menyatakan bahwa saya pun punya otak, lagi-lagi mereka tertawa terbahak-bahak. Katanya, otak yang mereka maksudkan adalah akal.”
“Bagaimana kamu mau disebut manusia? Wujudmu boleh manusia, tapi kelakuanmu benar-benar monyet!”
(Ayu, 2001)
Penggunaan metafora “monyet” pada tokoh ‘saya’ menjadi retorika yang menarik karena menciptakan kontras antara manusia dan hewan, sehingga menggugah rasa hina pada tokoh ‘saya’.
Penggunaan Pilihan Kata yang Berkelas
Cerpen ini menggunakan bahasa yang sederhana sekaligus ekspresif. Pilihan kata yang digunakan pun cenderung jujur dan tajam:
“Saya malas bertanya lagi. Percuma bicara kepada seseorang atau tepatnya makhluk-yang senang dan mampu berbohong pada diri sendiri.”
(Ayu, 2001)
Dalam cerpen “Mereka Bilang, Saya Monyet!”, Djenar memilih kata-kata yang lugas untuk mengguncang perasaan pembacanya. Memang terdengar tidak sastrawi. Justru, pilihan kata ini dapat menggambarkan perasaan sang tokoh dengan jujur.
Komposisi yang Mulia
Djenar menggunakan struktur alur maju-mundur (campuran), mengilas balik tokoh ‘saya’ yang mengalami kekerasan seksual dan harus menghadapi kebingungan identitasnya. Hal ini dapat dilihat dari kutipan-kutipan cerpen berikut:
“Kebutuhan saya untuk buang air kecil semakin mendesak. Pintu kamar mandi masih terkunci. Saya mengetuk pintu pelan-pelan. Tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ada suara air. Tidak ada suara mengejan. Saya menempelkan telinga saya di mulut pintu. Saya mendengar desahan tertahan. Saya kembali mengetuk pintu. Desahan itu berangsur diam. Saya mengintip lewat lubang kunci bersamaan dengan pintu dibuka dari dalam. Sepasang laki-laki dan perempuan keluar dari dalam kamar mandi. Yang laki-laki lantang memaki, “Dasar binatang! Dasar monyet! Gak punya otak ngintip-ngintip orang!”
Seharusnya saya menghajar laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking itu. Tapi saya memang tidak cepat bereaksi jika diserang tanpa ada persiapan. Atau mungkin saya memang tidak akan pemah mampu mela-wan walaupun sudah tahu akan diserang. Saya sudah terbiasa menelan rongsokan tanpa dikunyah lebih dulu. Saya sudah terbiasa kalah dan menelan kepahitan. Karena itu saya hanya terlongong-longong sambil menyaksikan mereka berdua berlalu.”
(Ayu, 2001)
Cerpen ini memiliki komposisi yang rapi, meskipun menggunakan alur campuran. Digambarkan pula secara jelas peristiwa yang dialami serta perasaan sang tokoh yang dapat mengguncang perasaan pembaca.
—————–


