• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Jumat, Mei 1, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home SASTRA

Membingkai Keluruhan dalam Kehinaan: Memaknai Cerpen “Ting” Buah Tangan Djenar Maesa Ayu

by Redaksi
Maret 12, 2026
in SASTRA
0
Membingkai Keluruhan dalam Kehinaan: Memaknai Cerpen “Ting” Buah Tangan Djenar Maesa Ayu
0
SHARES
56
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Iroy Mahyuni, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

 

 Keluhuran Longinus dalam Satu Kata “Ting”

Djenar Maesa Ayu adalah penulis perempuan yang kerap diidentikkan dengan sebutan sastra ‘Wangi’. Sebuah ketegori sastra yang ditulis oleh perempuan dengan fokus isu utama terkait seksualitas, tubuh perempuan, relasi gender, dan pengalaman perempuan secara terang-terangan. Demikianlah keberanian seorang Djenar dikenal luas dalam banyak tulisannya, termasuk salah satu cerpennya yang berjudul Ting. Cerpen “Ting” mendeskripsikan sekaligus menarasikan pengalaman batin seorang perempuan yang melacurkan dirinya di sebuah hotel. Kisah ini dimulai dari sebuah ruang yang sempit – tangga lift. Akan tetapi, ruang yang secara fisik terlihat sempit, nyatanya dapat melahirkan gelombang emosi yang maha dahsyat. Hanya dengan satu kata “ting”, Djenar berlaku seperti penyulap yang membangun ketegangan jiwa, rasa khawatir, takut, kerinduan seorang pelacur pada ibunya, dan juga asa – dalam sekejap, ringan, tapi menggoncang. Situasi ini oleh Longinus dalam karyanya yang berjudul On the Sublime, digambarkan sebagai pengalaman hidup manusia yang paling buruk dan menyakitkan sekalipun dapat menghadirkan efek estetis yang tinggi dan menggugah nurani.

Longinus meyakini bahwa sastra yang berhasil menggoyahkan emosi pembaca dan mengangkat realitas pengalaman manusia ketingkat yang lebih tinggi adalah keluhuran sejati. Keluhuran yang lahir bukan dari sekadar keindahan satuan lingual bahasa, melainkan bagaimana pembaca terguncang oleh realitas yang tersaji. Dalam bukunya, Longinus membagi sumber keluhuran dalam sastra, diantaranya adalah kedalaman emosi yang kuat, pemilihan gaya bahasa yang akurat, dan keberhasil penulis membangun kisah yang hidup dalam benak atau imaji pembaca. Sumber-sumber keluruhan ini tumbuh dan mengakar dengan sangat baik dalam Cerpen “Ting”.

Emosi tokoh utama dalam cerpen “Ting” adalah salah satu bentuk keluhuran yang dimunculkan oleh Djenar. Dengan terampil, di sepanjang alur cerita, pembaca menyusuri perjalanan batin seorang pelacur yang hidup dalam kenyataan yang penuh dengan stigma negatif, penyesalan, keterasingan, dan rasa bersalah. Tokoh utama berjalan di bawah hujan penghakiman dari pandangan-pandangan yang merendahkan, seperti yang dilakukan oleh petugas keamanan hotel dan sepasang suami istri yang menjadi tamu. Akan tetapi, ketabahan dan kekuatan seorang pelacur menghadapi gempa penghinaan yang setiap saat berusaha meruntuhkan pertahanannya, mencapai puncak ledakan tatkala suara “Ting” memecah kerinduan pelacur yang menjadi ibu kepada anaknya. Emosi menggunung selama perjalanan dari setiap lantai ke lantai berikutnya itu tumpah tatkala dilihatnya seorang anak memanggilnya mama sebagai tujuan hidup. Apa yang terpendam akhirnya membuncah tak tertahankan. Oleh Longinus pengalaman batin semacam ini diperkenalkannya sebagai pengalaman sublime. Keluhuran yang melampaui definisi kesedihan dan kebahagiaan secara leksikal.

Selain itu, taktik simbolik yang digunakan oleh Djenar dalam kata”Ting” turut menyulam keluhuran lainnya. “Ting” sebagai sebuah bunyi yang tidak kencang tiba-tiba menggema demikian hebat, dan berulang-ulang dalam setiap pergantian lantai, di sepanjang perjalanan melacurkan diri. “Ting” menjadi tanda pertemuan pelacur pada setiap orang yang beragam, tetapi sama-sama merendahkan. “Ting” di sini turut mengurai cerita setiap orang dalam pertemuan membawa kisah dan persoalan hidup yang berbeda-beda. Semua itu cerminan kehidupan, realita yang menampar dirinya, sepasang suami istri yang memperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja dalam membangun hubungan rumah tangga, dan anak kecil yang polos – bersih dari dosa dunia. Kemampuan Djenar menghadirkan taktik simbolik ini, mengubah hal sederhana menjadi sarat akan makna, adalah apa yang disebut oleh Longinus sebagai keluhuran artistik. Di ujung pena, Djenar menarik sejajar perjalanan moral dan emosional seorang pelacur dalam satu tarikan garis lurus metafora yang luar biasa.

Keluhuran lainnya dalam cerpen ini dapat ditemukan dalam pemandangan yang kontras antara dunia yang penuh dosa maksiat dan dunia yang penuh dengan cinta dan kasih. Dalam kehidupan dunia pelacuran, tokoh utama hidup dalam sistem yang sangat eksploitatif. Tubuhnya adalah barang dagangan, lelaki adalah pemilik kuasa yang punya kemampuan untuk membeli tubuh perempuan, dan kamar hotel berubah menjadi kamar dagang di mana tubuh dan perasaan adalah komoditas pelacuran. Dunia gelap tanpa terang dalam kehidupan para pelacur. Akan tetapi, Djenar menghadirkan secercah harapan dalam nyala lilin melalui pertalian kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya. Dalam adegan pintu terbuka dan sebutan mama menjadi penutup cerpen, seluruh beban cerita berupa emosi yang bertumpuk di sepanjang perjalanan batin tokoh seketika luruh, hanyut, tersapu bersih. Situasi ini, dalam pandangan Longinus dianggap sebagai puncak keluhuran. Keluhuran yang mampu menukar posisi dari tokoh pelacur yang terpuruk menjadi perjumpaan akan hakikat cinta dan kemanusiaan.

 

Keluhuran yang  Tumbuh dari Kehinaan                                         

Bukan Djenar namanya jika tidak tegas dan lugas dalam menggunakan gaya bahasa yang khas, dan juga tidak pernah gagal menyokong keluhuran. Narasi repetitive dalam setiap kemunculan kata “Ting” telah berhasil menciptakan ketegangan dan renungan sekaligus. Pilihan kata “Ting” membawa pembaca masuk ke dalam lift dan ikut terjebak dalam kegelisahan, khawatir, dan takut yang sama. Longinus dalam konteks ini mengatakan bahwa ritme dan pilihan kata yang sesuai dapat menyokong nilai emosional sebuah teks atau wacana. Repetisi digunakan oleh Djenar sebagai instrument memperkuat pengalaman batin pelacur yang menjadi tokoh utama. Hal ini tentu bukan sekadar teknis stilistika semata. Fakta menarik lainnya, keluhuran dalam cerpen ini tidak lahir dari pertarungan heroik seorang tokoh melakukan usaha penyalamatan luar biasa, melainkan realitas kehidupan sehari-hari melalui kata “Ting”. Lift, lantai hotel, suara bel menjadi medan pertarungan batin pelacur yang juga seorang ibu bagi anak kesayangannya.

Merujuk pada pandangan Longinus, cerpen “Ting” telah menunjukkan pembaca terkait kemampuan sastra yang dapat menarik pengalaman batin seseorang melampaui realitas keseharian manusia. Djenar bukan saja mengisahkan seorang pelacur yang menjual dirinya, melainkan pancingan empati seorang pembaca melihat kemanusiaan yang kerap berlindung di balik normal sosial. Memahami dan merasakan seakan-akan pengalaman tokoh adalah pengalaman pembaca merupakan keberhasilan Djenar dalam memadu-padankan bangunan emosi yang kokoh, teknik simbolik sederhana tapi sarat akan makna, dan gaya bahasa yang tegas, lugas, dan menggugah. “Ting” adalah contoh bagaimana keluhuran dapat tumbuh dari kehinaan. Keluhuran dapat tumbuh dalam kehidupan pelacur yang sarat akan penghakiman dan tubuhnya yang kerap dijadikan sasaran serangan moralitas.

****************

 

ShareTweetSend
Next Post
Estetika Keluhuran dalam “Broken Strings” Aurelie Moeremans: Simfoni Trauma dan Resiliensi

Estetika Keluhuran dalam "Broken Strings" Aurelie Moeremans: Simfoni Trauma dan Resiliensi

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Keluhuran dalam Novel “Gadis Pantai” Karya Pramoedya Ananta Toer

Keluhuran dalam Novel “Gadis Pantai” Karya Pramoedya Ananta Toer

3 minggu ago
Hak Servitut Implementasi Hak Atas Tanah Berfungsi Sosial

Perpu Bermakna Ambigu

7 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In