
Oleh Zefanya Chrisantya Ningrum, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Oka Rusmini, seorang sastrawan dan jurnalis kelahiran 1967, memiliki latar belakang yang sangat krusial dalam penciptaan Tarian Bumi. Sebagai perempuan yang menyandang status kasta Brahmana di Bali, Oka berada dalam posisi yang unik, ia adalah bagian dari hierarki yang ia kritik. Latar belakang sosiokultural ini menjadi modalitas bagi apa yang disebut Longinus sebagai “jiwa yang besar”. Keberanian Oka untuk membongkar kemunafikan adat dan represi terhadap perempuan dalam kasta tinggi maupun rendah adalah fondasi dari keluhuran yang ia tawarkan. Hubungan antara biografi pengarang yang berani dan narasi novelnya menciptakan sinergi ekspresivisme yang membawa pembaca pada tahap sublimasi.
Sebuah karya sastra yang mengguncang tatanan moral masyarakat seringkali langsung dicap sebagai karya yang kontroversial atau bahkan amoral. Namun, jika melihat prespektif Longinus, seorang kritikus klasik abad ke-3 M, ukuran sebuah karya bukanlah pada kepatuhannya terhadap norma-norma santun, melainkan pada kemampuannya mencapai Peri Hypsous atau “Keluhuran”. Bagi Longinus, fungsi sastra yang sejati bukan sekadar memberikan pelajaran atau kesenangan, melainkan untuk membawa pembaca keluar dari dirinya sendiri sebuah proses yang ia sebut sebagai transport. Novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini adalah contoh sempurna dari sebuah teks yang, meskipun dianggap kontroversial karena keberaniannya membongkar tabu budaya dan seksualitas di Bali, justru memancarkan keluhuran yang luar biasa.
Longinus menyatakan bahwa kritik sastra yang akurat hanya bisa lahir setelah seseorang membaca sebuah karya secara intensif. Ketika kita menyelami narasi tentang Ida Ayu Telaga Sari dalam Tarian Bumi, kita tidak hanya disuguhi cerita tentang konflik kasta antara kaum Brahmana dan Sudra. Kita sedang dihadapkan pada sebuah kekuatan yang mampu mengangkat jiwa pembaca ke tahap sublimasi. Keluhuran ini, menurut Longinus, bersumber dari lima prinsip utama, yang semuanya berkelindan secara harmonis dalam novel ini.
Prinsip pertama adalah daya wawasan yang agung (grandeur of thoughts). Longinus percaya bahwa “pikiran-pikiran besar muncul dari jiwa yang besar.” Dalam Tarian Bumi, keagungan ini tampak pada keberanian tokoh utamanya, Telaga, untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya demi cinta dan martabat kemanusiaan yang lebih jujur. Pikiran untuk “turun kasta” demi menikahi Wayan bukan sekadar bentuk kenekatan remaja, melainkan sebuah visi besar untuk melawan struktur sosial yang kaku dan menindas. Di sini, Oka Rusmini menunjukkan bahwa pikiran yang agung adalah pikiran yang bebas dari kerendahan dan kehinaan tradisi yang sudah membusuk. Gagasan besar ini ditata dalam struktur narasi yang kuat, di mana pergulatan batin perempuan Bali tidak lagi menjadi urusan domestik belaka, melainkan menjadi narasi kemanusiaan yang universal.
Yang sering menjadi titik kontroversi dalam novel ini, adalah emosi atau nafsu (passion) yang mulia. Banyak pembaca mungkin merasa terganggu dengan penggambaran hasrat seksual perempuan atau deskripsi tubuh yang begitu “telanjang” dalam novel ini. Namun, dalam pandangan Longinus, sebuah karya yang baik lahir dari dorongan yang kuat dan mulia. Gairah yang digambarkan oleh Oka Rusmini bukanlah pornografi picisan; itu adalah manifestasi dari energi hidup yang jujur. Ketika tokoh-tokohnya mengungkapkan rasa marah, cinta, atau kerinduan yang membakar, mereka sedang mengekspresikan “nafsu yang mulia” karena emosi tersebut lahir dari penderitaan dan kebenaran eksistensial yang dalam. Emosi yang intens ini memiliki kapasitas untuk membawa pembaca pada “suka cita ilahi” (divine joy), di mana kita menyadari bahwa di balik rasa sakit dan hasrat yang meledak-ledak, ada martabat manusia yang sedang diperjuangkan.
Ketiga dan keempat, Longinus menekankan pentingnya retorika yang unggul serta pengungkapan yang berkelas melalui diksi dan metafora. Oka Rusmini tidak menggunakan bahasa yang mendayu-dayu tanpa makna. Diksi-diksinya tajam, sering kali terasa perih seperti sembilu, namun tetap memiliki kelas yang tinggi. Metafora “tarian” dalam judulnya sendiri merupakan sebuah bentuk penggubahan yang mulia (prinsip kelima). Menari dalam novel ini bukanlah sekadar gerakan estetis di atas panggung, melainkan metafora dari gerak hidup yang melelahkan, penuh keringat, dan darah. Pemilihan kata yang berkaitan dengan bau tubuh, sesaji yang busuk, hingga deskripsi tentang kotoran manusia, digunakan bukan untuk menghina pembaca, melainkan untuk memberikan efek sublim. Longinus menyebut bahwa sumber-sumber keagungan ini mengilhami dan merasuki kata-kata dengan semangat ilahi. Melalui diksi yang berani inilah, Oka Rusmini berhasil menciptakan suasana yang mencekam namun sekaligus luhur.
Kehebatan Tarian Bumi terletak pada kemampuannya memenuhi syarat utama Longinus: nothing is poetry unless it transports. Sebuah karya hanya menjadi hebat jika memiliki kekuatan membawa pembaca ke hal yang luhur. Saat kita membaca penderitaan Luh Sekar yang mengejar status sosial atau kepedihan Telaga yang kehilangan suaminya, kita tidak sekadar merasa kasihan. Kita merasa “terangkat”. Kita dibawa keluar dari realitas kita yang sempit untuk melihat sebuah kebenaran yang lebih besar tentang struktur kekuasaan dan penindasan gender. Inilah yang disebut Longinus sebagai proses di mana pikiran, perasaan, dan kehendak pembaca terlibat secara harmonis.
Kontroversi mengenai novel ini seperti kritik terhadap penggambaran kasta Brahmana yang tidak selalu suci atau keterbukaan soal libido perempuansebenarnya adalah bukti bahwa karya ini memiliki energi Peri Hypsous. Keluhuran sejati sering kali memang menakutkan karena ia memaksa kita melihat hal-hal yang selama ini disembunyikan. Namun, sebagaimana kata Longinus, keluhuran sejati akan selalu menyenangkan dan membawa suka cita bagi semua pembaca di setiap zaman. Tarian Bumi tetap relevan dan terus dibaca hingga hari ini karena ia melampaui perbedaan ras, agama, dan ideologi; ia berbicara langsung pada jiwa yang rindu akan kebebasan.
Unsur terpenting dalam penciptaan seni sastra, menurut materi Longinus, adalah kreativitas dalam jiwa pengarang. Oka Rusmini menunjukkan kreativitas tersebut dengan tidak terjebak pada pakem-pakem sastra yang sekadar mencari harmoni palsu. Ia berani menunjukkan bahwa keluhuran bisa lahir dari lumpur penderitaan. Keluhuran atau sublimasi sejati dalam novel ini tercapai ketika pembaca akhirnya menyadari bahwa meskipun tubuh para perempuan Bali dalam cerita ini mungkin hancur oleh beban tradisi, jiwa mereka tetaplah agung.
Sebagai penutup, jika kita hanya melihat Tarian Bumi sebagai sebuah novel tentang protes sosial, kita akan kehilangan esensi keluhurannya. Dengan menggunakan perspektif Longinus, kita bisa melihat bahwa novel ini adalah sebuah monumen estetika yang berhasil mentransformasi rasa sakit menjadi sebuah keindahan yang agung. Ia adalah bukti bahwa karya besar tidak harus “sopan”, tetapi ia harus “luhur”. Kemampuan novel ini untuk mengangkat pembaca ke tahap sublimasi inilah yang menjadikannya salah satu karya sastra terbaik Indonesia yang pernah ada, yang secara akurat memenuhi standar Peri Hypsous yang diajarkan oleh Longinus ribuan tahun yang lalu.



