
Oleh Alfina Shalsa Damayanti, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Terkadang, tidak semua kepercayaan agama lahir dari keyakinan karena sebagian tumbuh dari kebiasaan, bahkan tekanan. Kepercayaan sering kali hadir bukan sebagai pilihan yang benar-benar bebas, melainkan sebagai sesuatu yang diwariskan, diajarkan, dan perlahan diyakini tanpa banyak pertanyaan. Namun, di titik tertentu, manusia bisa saja berhenti dan bertanya apakah yang diyakini selama ini benar-benar berasal dari hati, atau hanya sekadar mengikuti arus?
Kegelisahan semacam inilah yang terasa kuat dalam cerpen Antara Kepercayaan karya Ramadhan K.H. ketika keyakinan tidak lagi menjadi sesuatu yang pasti, melainkan ruang pergulatan yang sunyi. Cerita ini tidak hanya menghadirkan konflik antar keyakinan, tetapi juga memperlihatkan kegelisahan batin seseorang yang berada di antara dua dunia. Pembaca diajak masuk ke ruang batin tokoh yang mempertanyakan apakah kepercayaan adalah sesuatu yang diwariskan, atau sesuatu yang harus ditemukan sendiri?
Jembatan dalam Melintasi Keyakinan
Cerpen Antara Kepercayaan karya Ramadhan K.H. ini dapat dibaca bukan hanya sebagai cerita tentang konflik agama, tetapi juga sebagai konstruksi suara yang sengaja dibangun oleh pengarang. Dalam hal ini, penting untuk memahami dan menyelaraskan konsep implied author yang diperkenalkan oleh Wayne C. Booth.
Menurut Booth, pengarang yang hadir dalam teks bukanlah pengarang nyata, melainkan sosok yang “dibentuk” melalui pilihan bahasa, sudut pandang, dan struktur cerita. Dengan kata lain, pengarang nyata seolah “menghilang” dan digantikan oleh persona yang mengarahkan cara pembaca memahami cerita. Sehingga konsep ini yang nantinya akan sesuai dengan cerita di dalamnya.
Dalam cerpen ini, suara yang muncul bukan sekadar milik Ramadhan K.H. sebagai individu, tetapi merupakan suara yang telah disusun secara retoris. Suara tersebut mengajak pembaca untuk tidak langsung menghakimi, melainkan merenungkan makna kepercayaan secara lebih dalam. Di sinilah terlihat bahwa teks bekerja sebagai medium yang membentuk cara berpikir pembaca dan sebagai hasil nyata dari konstruksi retoris yang memiliki tujuan tertentu.
Argumentasi di Balik Suara yang Tersembunyi
Di balik cerita Antara Kepercayaan, implied author hadir sebagai sosok yang tenang, reflektif, dan tidak memihak secara ekstrem. Ia tidak memaksakan satu kebenaran, tetapi justru membuka ruang pertanyaan. Hal ini terlihat dari bagaimana konflik dibangun: bukan melalui pertentangan yang keras, melainkan melalui kegelisahan batin tokoh utama (Aku).
Bahasa yang digunakan cenderung sederhana, tetapi tentu sarat makna. Tidak ada diksi yang terlalu menghakimi atau provokatif. Justru, kesederhanaan bahasa ini menjadi strategi retoris yang kuat. Implied author seolah ingin mengatakan bahwa persoalan kepercayaan dan perbedaan agama bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan emosi, tetapi dengan pemahaman.
Selain itu, implied author juga bekerja melalui struktur naratif yang menempatkan tokoh dalam posisi dilematis. Tokoh utama tidak digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya benar atau salah. Ia justru menjadi representasi manusia yang sedang mencari. Dengan cara ini, implied author tidak tampil sebagai “penguasa kebenaran”, melainkan sebagai pemandu refleksi.
Dari sisi kekuasaan, implied author memiliki peran penting dalam mengarahkan simpati pembaca. Pembaca cenderung diajak untuk memahami, bukan menghakimi. Ini menunjukkan bahwa pengarang dalam teks memiliki kekuasaan untuk membentuk perspektif, meskipun tidak terlihat secara langsung.
Jika dilihat dari konteks sosial, cerpen ini juga bisa dibaca sebagai respons terhadap realitas masyarakat yang sering kali terjebak dalam fanatisme. Implied author hadir sebagai suara yang mencoba menyeimbangkan: antara keyakinan dan kemanusiaan, antara tradisi dan kebebasan berpikir.
Penutup dan Refleksi dari Suara yang Tertinggal
Melalui cerpen Antara Kepercayaan, terlihat jelas bahwa Ramadhan K.H. sebagai pengarang nyata tidak hadir secara langsung dalam teks. Ia bertransformasi menjadi implied author yaitu sebuah persona yang melekat dalam cerita secara lebih halus, reflektif, dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan makna.
Transformasi ini menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar media penyampaian pesan, tetapi juga ruang bagi pengarang dalam membentuk cara pembaca memahami dunia. Dalam hal ini, implied author menjadi jembatan antara teks dan pembaca, antara pengalaman dan pemaknaan.
Pada akhirnya, cerpen ini tidak hanya berbicara tentang kepercayaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar untuk memahami bukan sekadar memilih dan memiliki. Dengan begitu, di sanalah kekuatan sastra bekerja sebagai media yang bukan memberi jawaban, tetapi menumbuhkan kesadaran.

