• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, Mei 30, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home UMUM

Ketika Joko Pinurbo Menjadi Lelaki Malang

by Redaksi
April 12, 2026
in UMUM
0
Ketika Joko Pinurbo Menjadi Lelaki Malang
0
SHARES
55
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Mariany Be’i Adja Pi, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

 

 

Joko Pinurbo merupakan seorang penyair yang lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia menunjukkan ketertarikannya dengan dunia sastra sejak usia Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna, puisinya bisa menyentuh perasaan pembaca. Karya-karyanya seringkali mengangkat soal permasalahan di kehidupan sehari-hari, namun diolah dengan cara yang unik sehingga membuat hal-hal biasa terasa istimewa dan bermakna. Puisi “Kucing Hitam” menghadirkan kisah yang sederhana di permukaan, tetapi menyimpan lapisan makna yang dalam dan kompleks. Relasi antara lelaki malang dan kucing hitam tidak sekadar hubungan antara manusia dan hewan, melainkan simbol dari dinamika kekuasaan, ketergantungan, serta kehancuran yang lahir dari sesuatu yang awalnya dicintai. Hal ini bisa kita lihat bahwa cinta dan kasih sayang tidak selalu membawa kebahagiaan.

 

Kucing Hitam

Oleh  Joko Pinurbo

 

Kucing hitam yang ia pelihara dengan kasih sayang

kini sudah besar dan buas.

Tiap malam dihisapnya darah lelaki perkasa itu

seperti mangsa yang pelan-pelan harus dihabiskan.

 

“Jangan anggap lagi aku si manis yang mudah terbuai

oleh belaianmu, hai lelaki malang.

Sekarang akulah yang berkuasa di ranjang.”

 

Lelaki perkasa itu sudah renta dan sakit-sakitan.

Tubuhnya makin hari makin kurus, sementara kucing hitam

yang bertahun-tahun disayangnya makin gemuk saja

dan sekarang sudah sebesar singa dan ngeongnya

sungguh sangat mengerikan.

 

Si tua yang penyabar itu lama-lama geram juga.

Tiap malam si hitam gemuk mengobrak-abrik ranjangnya

dan melukai tidurnya.

 

“Sebaiknya kita duel saja,” si kurus menantang.

“Boleh,” jawab si gemuk hitam. “Nanti

tulang-belulangmu kulahap sekalian.”

 

“Ayo kita tempur!”

“Ayo kita hancur!”

“Jahanam besar kau!”

“Jerangkong hidup kau!”

 

Parah. Tubuh lelaki itu telah berwarna merah,

wajahnya bersimbah darah. Gemetaran ia berdiri

dan diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Hore, aku menang!” teriaknya lantang, lalu disepaknya

bangkai kucing maut itu berulang-ulang. “Jahanam besar kau!”

 

Persona Poetica

Dalam bidang naratologi (teori tentang cerita), Wayne Booth memperkenalkan istilah Implied Author (penulis yang tersirat atau tersembunyi) dalam bukunya The Rhetoric of Fiction (1963). Istilah Implied Author atau sering disebut sebagai persona poetica digunakannya untuk membedakan antara penulis (persona practica) dengan instansi (fokalisator) yang berperan menyampaikan cerita kepada pembaca. Implied Author berdiri di tengah-tengah antara pengarang nyata dengan narator (juru cerita dalam teks).

Konsep Implied Author mengacu kepada peranan yang diberikan teks kepada pengarang, yang bukan hasil abstraksi seorang pengarang nyata. Pengarang tersembunyi itu lebih merupakan tegangan tertentu yang diciptakan oleh pengarang pada saat menuliskan karyanya. Pengarang menciptakan suatu imajinasi dalam dirinya sendiri (semacam dirinya yang kedua, the second self) sebagai juru kisah, misalnya yang sedang memperbaiki atap bocor, membayar pajak, yang gagal mencari jati dirinya (Booth, 1963: 137).

Dalam puisi “Kucing Hitam” Joko Pinurbo sebagai pengarang nyata “menghilang” dan digantikan oleh Implied Author (lelaki malang).  Melalui pilihan diksi seperti “lelaki perkasa”, “lelaki malang”, hingga “si tua yang penyabar”, persona poetica membangun transformasi karakter tokoh tanpa harus memberikan penilaian langsung. Ia membiarkan fakta-fakta puitik berbicara: bagaimana kekuatan berubah menjadi kelemahan, dan bagaimana kasih sayang berujung pada penderitaan. Persona ini juga menciptakan jarak emosional yang justru memperkuat efek tragis. Pembaca tidak digiring untuk sekadar bersimpati, melainkan diajak menyadari absurditas situasi: sesuatu yang dipelihara dengan cinta justru menjadi sumber kehancuran.

 

Lelaki Malang

Joko Pinurbo tidak sedang secara harfiah “mengaku” sebagai lelaki malang, melainkan membangun sebuah representasi puitik yang mencerminkan kondisi manusia dalam relasi yang timpang dan destruktif. Figur “lelaki malang” dalam puisi “Kucing Hitam” lebih tepat dibaca sebagai proyeksi pengalaman batin, refleksi sosial, sekaligus strategi estetik.

Figur “lelaki malang” menjadi pusat tragedi dalam puisi ini. Ia awalnya digambarkan sebagai sosok “perkasa”, penuh kontrol, dan dominan. Namun, seiring waktu, kekuasaan itu terkikis hingga ia menjadi renta, sakit-sakitan, dan akhirnya terperangkap dalam relasi yang merugikan dirinya sendiri. Kemalangan lelaki ini bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis dan eksistensial. Ia tidak sekadar diserang oleh kucing hitam, melainkan oleh konsekuensi dari pilihan masa lalunya. Kasih sayang yang dulu ia berikan tanpa batas justru menjadi bumerang yang menggerogoti dirinya perlahan-lahan.

Puncak kemalangan itu terlihat ketika ia menantang duel. Tindakan tersebut tampak sebagai usaha merebut kembali martabat, tetapi sekaligus menunjukkan keputusasaan. Kemenangan yang ia klaim di akhir puisi pun terasa ambigu—apakah benar ia menang, atau justru itu bentuk ilusi terakhir dari seseorang yang telah kehilangan segalanya? Dengan demikian, “lelaki malang” dapat dibaca sebagai representasi manusia yang terjebak dalam relasi destruktif, baik dalam konteks cinta, kekuasaan, maupun kebiasaan hidup yang merusak diri sendiri.

 

Metafora Kucing Hitam

Kucing hitam dalam puisi ini merupakan metafora utama yang membuka berbagai kemungkinan tafsir. Pada awalnya, ia adalah simbol kelembutan dan ketergantungan—makhluk yang dipelihara dengan kasih sayang. Namun, seiring waktu, ia berubah menjadi sosok yang buas, dominan, bahkan mengancam kehidupan tuannya. Perubahan ini menunjukkan bahwa kucing hitam bukan sekadar hewan, melainkan representasi dari sesuatu yang tumbuh dari dalam relasi itu sendiri. Ia bisa ditafsirkan sebagai simbol kekuasaan yang berbalik arah, hasrat yang tak terkendali, atau bahkan kebiasaan buruk yang awalnya kecil namun berkembang menjadi destruktif.

Ciri-ciri kucing yang “makin gemuk” dan “sebesar singa” menegaskan sifat metaforisnya: sesuatu yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali akan menjadi kekuatan yang melampaui manusia itu sendiri. Bahkan, suaranya yang “mengerikan” menunjukkan bahwa ancaman itu kini tidak lagi tersembunyi, melainkan hadir secara nyata dan tak terelakkan. Metafora kucing hitam memperlihatkan paradoks: sesuatu yang lahir dari kasih sayang dapat berubah menjadi sumber kehancuran. Di sinilah letak kekuatan puisi ini—ia tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan relasi mereka sendiri dengan hal-hal yang mereka pelihara dalam hidup.

 

Penutup

Puisi “Kucing Hitam” karya Joko Pinurbo pada akhirnya tidak hanya menyajikan kisah tragis antara manusia dan hewan, tetapi menghadirkan refleksi mendalam tentang kehidupan manusia itu sendiri. Melalui persona poetica yang tersembunyi, figur “lelaki malang” yang penuh ironi, serta metafora kucing hitam yang kaya tafsir, puisi ini memperlihatkan bagaimana relasi yang dibangun atas dasar kasih sayang dapat berubah menjadi sumber kehancuran ketika kehilangan kendali.

Kemalangan yang dialami tokoh lelaki bukan sekadar nasib buruk, melainkan konsekuensi dari pilihan, keterikatan, dan ketergantungan yang dibiarkan tumbuh tanpa batas. Di sinilah letak kekuatan estetik puisi ini: ia tidak menghakimi, tetapi mengajak pembaca untuk bercermin—melihat kembali relasi-relasi dalam hidup yang mungkin tanpa disadari sedang menggerogoti diri sendiri.

Dengan demikian, “Kucing Hitam” menjadi lebih dari sekadar karya sastra; ia adalah peringatan halus sekaligus renungan eksistensial. Bahwa dalam kehidupan, tidak semua yang kita pelihara dengan cinta akan tetap jinak, dan tidak semua kemenangan benar-benar menandakan kita telah terbebas dari kemalangan.

 

 

ShareTweetSend
Next Post
Ketika M. Balfas Menjadi Ama dalam Deru Jakarta 1945

Ketika M. Balfas Menjadi Ama dalam Deru Jakarta 1945

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Rabu Abu-Awal Prapaskah, Saatnya Bersiap-siap Pergi ke Larantuka

Rabu Abu-Awal Prapaskah, Saatnya Bersiap-siap Pergi ke Larantuka

6 tahun ago
Gerhana Sublime: Keluhuran Emosi dan Retorika Tersembunyi dalam “Gerhana Mata” Djenar Maesa Ayu

Memangkas Jarak, Menuntut Keadilan: Analisis Posisi Moral Pengarang Tersirat dalam “Clara” Seno Gumira Ajidarma

1 bulan ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In