
Oleh Agus Widjajanto
Sun Tzu dalam The Art of War menekankan pentingnya memenangkan pertempuran tanpa peperangan. Beberapa strateginya antara lain:
- Mengenal musuh: Memahami kekuatan dan kelemahan musuh untuk menentukan strategi yang tepat.
- Menggunakan taktik: Menggunakan taktik yang tidak terduga untuk mengalahkan musuh.
- Menghindari konfrontasi langsung: Menghindari konfrontasi langsung dengan musuh yang lebih kuat, dan mencari kelemahan mereka.
- Menggunakan diplomasi: Menggunakan diplomasi untuk memenangkan hati dan pikiran musuh.
- Menggunakan intelijen: Menggunakan intelijen untuk mengumpulkan informasi tentang musuh dan mengantisipasi gerakan mereka.
Dalam konteks modern, strategi Sun Tzu dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang, seperti:
- Bisnis: Mengalahkan kompetitor tanpa harus melakukan perang harga.
- Politik: Memenangkan hati dan pikiran masyarakat tanpa harus menggunakan kekerasan.
- Keamanan: Mengantisipasi dan mencegah ancaman tanpa harus melakukan pertempuran.
Strategi Sun Tzu masih relevan diterapkan dalam kasus China Daratan dengan Taiwan, terutama dalam konteks kunjungan ketua oposisi Taiwan ke Beijing. Beberapa prinsip Sun Tzu yang relevan adalah:
– Mengenal diri sendiri dan lawan: China harus memahami kekuatan dan kelemahan Taiwan, serta kekuatan dan kelemahan oposisi Taiwan.
– Menggunakan taktik: China dapat menggunakan taktik untuk mempengaruhi opini publik Taiwan dan menciptakan ketidakstabilan.
– Menghindari konfrontasi langsung: China dapat menghindari konfrontasi langsung dengan Taiwan dan AS, dan mencari cara untuk mencapai tujuannya melalui diplomasi dan ekonomi.
– Menggunakan intelijen: China dapat menggunakan intelijen untuk mengumpulkan informasi tentang Taiwan dan AS, serta untuk mempengaruhi opini publik.
Dalam konteks kunjungan ketua oposisi Taiwan ke Beijing, China dapat menggunakan kesempatan ini untuk:
– Meningkatkan hubungan dengan oposisi Taiwan: China dapat menggunakan kunjungan ini untuk meningkatkan hubungan dengan oposisi Taiwan dan menciptakan ketidakstabilan di Taiwan.
– Menggunakan oposisi Taiwan sebagai alat: China dapat menggunakan oposisi Taiwan sebagai alat untuk mempengaruhi opini publik Taiwan dan menciptakan ketidakstabilan.
– Menguji reaksi AS: China dapat menggunakan kunjungan ini untuk menguji reaksi AS dan melihat bagaimana AS akan merespons.
Namun, perlu diingat bahwa strategi Sun Tzu harus digunakan dengan hati-hati dan tidak boleh digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak etis atau tidak adil.
China Daratan dengan taiwan adalah satu rumpun yang dipisahkan oleh ideologi politik saat Sun Yat Sen memdirikan pulau Taiwan sebagai wilayah kekuasaannya , dan politik jangka panjang China bersatu tampaknya akan terwujud tanpa peperangan dan pertempuran senjata, ditengah hegemoni Amerika Serikat yang sedang turun menghadapi front peperangan dengan Iran.
China Daratan dan Taiwan memang memiliki sejarah yang kompleks, dipisahkan oleh ideologi politik sejak Sun Yat-sen mendirikan Republik Tiongkok di Taiwan. Saat ini, China daratan dan Taiwan memiliki perbedaan ideologi yang signifikan, namun keduanya masih memiliki akar budaya dan sejarah yang sama.
Politik jangka panjang China bersatu memang tampaknya menjadi tujuan yang ingin dicapai oleh Beijing, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Taiwan memiliki pemerintahan sendiri dan sistem demokrasi yang kuat, sehingga reunifikasi tidak akan mudah dicapai tanpa kesepakatan yang saling menguntungkan.
Amerika Serikat juga memiliki peran penting dalam dinamika ini, dengan komitmennya untuk membantu Taiwan mempertahankan diri. Namun, AS juga berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan China, sehingga situasinya menjadi sangat kompleks.
Dalam beberapa tahun terakhir, China telah meningkatkan tekanan militer dan ekonomi terhadap Taiwan, namun Taiwan tetap menunjukkan keteguhan dan meningkatkan pertahanan diri. Kunjungan Ketua Kuomintang (KMT) Cheng Li-wen ke Beijing baru-baru ini juga menunjukkan adanya upaya untuk meningkatkan dialog dan kerja sama antara kedua belah pihak.
Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, dan situasi ini memerlukan penanganan yang hati-hati dan diplomatis untuk menghindari eskalasi konflik.
Teori The Art of War dari Sun Tzu masih sangat relefan untuk diterapkan dalam kaitan berbangsa dan bernegara khusus nya dalam pemerintahan di era modern.
Ditengah derasnya pengaruh budaya dan doktrin politik liberal yang mengacu pada Demokrasi ala barat, kadang mencabut akar tata cara demokrasi yang sudah berurat berakar pada sebuah bangsa, contohnya Indonesia.
Negara ini di bentuk di desain dari awal memang bukanlah berkiblat kepada bentuk demokrasi Liberal dan juga bukan berbentuk sosialis Marxisme, tapi demokrasi jalan tengah yang sudah ada dan hidup ditengah-tengah masyarakat Indonesia secara berabad abad, dengan musyawarah dan mufakat.
Oleh sebab itu Soepomo mendesain negara ini dengan desaian negara desa adat dalam lingkup nasional, yang artinya Soepomo menggagas sebuah pemerintahan desa adat yang diterapkan dalam sebuah negara integralistik. Dalam desa adat yang dinamakan rembuk desa, yakni forum yang diciptakan secara adat untuk menyelesaikan segala masalah desa, yang diwakili oleh sesepuh desa, kaum agama, ada perwakilan pemuda, ada cendikiawan desa, dan perangkat desa dari kepala desa hingga kepala urusan kepala urusan yang ada didesa, yang saat Indonesia merdeka diterapkanlah yang dinamakan Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang merupakan lembaga rembuk desa dalam skala negara yang diwakili oleh seluruh anggota DPR dari partai-partai politik, utusan daerah dan utusan golongan.
Sayang desain desa adat dari Soepomo ini telah di hancurkan oleh kaum reformis yang tergila-gila akan isme-isme demokrasi Liberal, baik secara politik dan ekonomi, berkiblat ke pada kebebasan yang hak hak individualistiknya sangat dominan hingga menghancurkan soko guru atau tiang dari bangunan sebuah negara yang dibangun dan didesain dari awal oleh para pendiri bangsa (founding fathers) kita.
Akibat dari hancurnya dan dirobohkannya tiang penyangga sebuah negara maka kita kehilangan arah dimana tidak ada lagi kompas sebagai petunjuk mau dibawa kemana Indonesia ini dan harus bagaimana ?…..yang ada adalah setiap rezim yang berkuasa suka-suka mereka membuat program kebijakan karena memang tidak ada lagi blue print yang bisa dijadikan pedoman kedepannya, maka secerdik dan sepintar apapun tidak bisa memainkan jurus strategi perang ala Sun Tszu , dalam The Art of Warnya . Semua bukan lagi hitam.atau putih lagi atau abu-abu akan te tapi sudah merah kelabu, dimana segala tatanan berbangsa dan bernegara telah hilang dan kehilangan jati diri nya dari sebuah bangsa yang adi luhung yang sangat disegani yang dulu menguasai sepertiga dunia hingga nenek moyang kita bisa mencapai madagaskar. Dan menguasai seluruh wikayah Asia Tenggara dalam sebuah imperium kekuasaan.
———————
Penulis adalah praktisi hukum , pemerhati masalah sosial politik dan sejarah bangsanya





