• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, April 18, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home UMUM

Sekolah Reyot, Warisan Lama, dan Mimpi yang Tak Mau Padam: Membaca Laskar Pelangi Hari Ini

by Redaksi
April 17, 2026
in UMUM
0
Sekolah Reyot, Warisan Lama, dan Mimpi yang Tak Mau Padam: Membaca Laskar Pelangi Hari Ini
0
SHARES
15
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh Roselina Chelsa Mantur, Mahasiswi Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

 

Di Belitung, cerita besar itu dimulai dari sesuatu yang kecil sebuah sekolah reyot yang nyaris ditutup karena kekurangan murid. Bukan gedung megah, bukan sekolah unggulan, bahkan nyaris tak layak disebut ruang belajar. Tapi justru dari tempat seperti itulah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata menghadirkan kisah yang sulit dilupakan. Bukan sekadar cerita anak-anak desa yang ingin sekolah, melainkan potret yang diam-diam menyinggung persoalan lama: ketimpangan pendidikan.

Sekilas, kisah Ikal dan kawan-kawan terasa sederhana. Mereka belajar dengan segala keterbatasan buku seadanya, ruang kelas yang bocor, dan fasilitas yang jauh dari kata cukup. Namun di sisi lain, berdiri sekolah milik PN Timah dengan segala kemewahannya. Dua dunia yang berdampingan, tetapi tidak pernah benar-benar setara. Dan di titik inilah, pembaca mulai merasa ada sesuatu yang janggal. Mengapa perbedaan itu begitu jauh? Mengapa akses pendidikan masih terasa seperti “hak istimewa”, bukan kebutuhan dasar?

Kalau kita menengok sejarah, jawaban itu sebenarnya tidak terlalu jauh. Sistem pendidikan di Indonesia pernah dibangun di atas fondasi yang diskriminatif. Pada masa kolonial, pendidikan dirancang bukan untuk mencerdaskan semua orang, tetapi untuk melayani kepentingan kekuasaan. Ada batas yang jelas antara siapa yang boleh belajar dan siapa yang tidak. Ada perbedaan kualitas yang sengaja dipertahankan. Yang satu disiapkan untuk memimpin, yang lain cukup untuk mengikuti.

Yang menarik, Laskar Pelangi tidak menggurui pembacanya dengan penjelasan sejarah. Ia tidak bicara panjang tentang kolonialisme atau sistem pendidikan Belanda. Tapi justru di situlah kekuatannya. Ketimpangan itu “ditampilkan”, bukan “dijelaskan”. Pembaca diajak merasakan sendiri ketidakadilan itu lewat pengalaman tokoh-tokohnya. Dan tanpa sadar, kita mulai menghubungkannya dengan kondisi hari ini.

Sebab jujur saja, ketimpangan itu belum sepenuhnya hilang. Kita masih melihat sekolah dengan fasilitas lengkap di kota besar, sementara di daerah lain, masih ada sekolah yang berjuang dengan kondisi minim. Kita masih mendengar cerita tentang anak-anak yang harus berjalan jauh hanya untuk belajar, atau guru yang mengajar dengan segala keterbatasan. Dalam banyak hal, cerita Laskar Pelangi terasa seperti belum selesai.

Namun novel ini tidak berhenti pada kritik. Ia juga menawarkan sesuatu yang lebih penting: harapan. Anak-anak dalam cerita ini tidak membiarkan keterbatasan menentukan masa depan mereka. Mereka tetap bermimpi, tetap belajar, tetap percaya bahwa pendidikan bisa mengubah hidup. Di tengah segala kekurangan, mereka menemukan kekuatan yang justru tidak dimiliki oleh mereka yang serba cukup ketekunan, keberanian, dan rasa ingin tahu yang besar.

Di sinilah identitas itu terbentuk. Bukan dari kemewahan, bukan dari status sosial, tetapi dari proses panjang menghadapi keterbatasan. Identitas yang lahir dari perjuangan seperti ini terasa lebih “hidup”, lebih kuat, dan lebih membumi. Dan mungkin inilah yang ingin disampaikan Andrea Hirata bahwa jati diri bangsa tidak dibangun oleh mereka yang selalu berada di atas, tetapi juga oleh mereka yang bertahan di bawah.

 

Peran Bu Muslimah menjadi salah satu kunci dalam cerita ini. Ia bukan sekadar guru, tetapi simbol dari pendidikan yang sesungguhnya. Ia mengajar dengan hati, bukan sekadar menjalankan tugas. Di tengah sistem yang timpang, ia menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum atau fasilitas, melainkan hubungan manusia antara guru dan murid, antara harapan dan kenyataan. Tanpa sosok seperti ini, mungkin mimpi anak-anak itu akan padam sebelum sempat tumbuh.

Membaca Laskar Pelangi hari ini seperti membaca ulang pertanyaan lama yang belum terjawab: apakah pendidikan kita sudah benar-benar adil? Kita mungkin telah merdeka secara politik, tetapi dalam praktiknya, akses dan kualitas pendidikan masih belum merata. Masih ada jarak yang lebar antara yang “punya” dan yang “tidak punya”. Dan selama jarak itu masih ada, cerita seperti ini akan selalu relevan.

Yang membuat novel ini bertahan bukan hanya karena kisahnya yang menyentuh, tetapi karena kejujurannya dalam menggambarkan realitas. Ia tidak menutupi kekurangan, tidak memoles kenyataan agar terlihat indah. Justru dari kejujuran itulah lahir kekuatan. Kita dipaksa melihat, merenung, dan mungkin bertanya pada diri sendiri: apa yang sudah berubah, dan apa yang belum?

Pada akhirnya, Laskar Pelangi bukan hanya tentang sekolah di Belitung. Ia adalah tentang Indonesia tentang mimpi yang sering kali harus berhadapan dengan kenyataan yang keras. Tapi juga tentang keyakinan bahwa mimpi itu tidak mudah padam. Bahwa di balik atap bocor dan dinding rapuh, selalu ada harapan yang tumbuh diam-diam.

Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesarnya: pendidikan bukan hanya soal tempat kita belajar, tetapi tentang bagaimana kita bertahan dan terus percaya, bahkan ketika keadaan tidak berpihak.

 

ShareTweetSend
Next Post
Ketika Seno Gumira Mencuri Sepotong Senja Untuk Pujaan Hati

Ketika Seno Gumira Mencuri Sepotong Senja Untuk Pujaan Hati

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Pasca Insiden Rasis, Banyak Orang Papua Tiba-Tiba Jadi “Artis”

Pasca Insiden Rasis, Banyak Orang Papua Tiba-Tiba Jadi “Artis”

7 tahun ago
Nasionalisme di Era Algoritma

Nasionalisme di Era Algoritma

1 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In