Oleh Joan Delanoue, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Antara Suara yang Menulis dan Suara yang Tertulis
Karya sastra bukan sekadar dokumen biografis pengarangnya. Di balik setiap teks, terdapat lapisan suara yang kompleks karena ada pengarang sebagai individu historis yang hidup, bernapas, dan menanggung beban zamannya, dan ada pula “pengarang” lain yang lebih gaib, yang hanya bisa dikenali melalui pilihan-pilihan estetik yang tertinggal di dalam teks itu sendiri. Dua entitas inilah yang dalam teori sastra modern dikenal sebagai real author dan implied author.
Perbedaan antara keduanya bukan sekadar persoalan teknis akademis, melainkan menyentuh pertanyaan filosofis yang jauh lebih dalam mengenai sejauh mana sebuah karya sastra adalah cerminan dari diri pengarang dan sejauh mana karya justru melampaui bahkan mengkhianati pengarangnya sendiri. Pedalaman tanya ini menjadi semakin relevan ketika kita berhadapan dengan sebuah puisi yang tampaknya tercipta dari sebuah perjumpaan yang tidak biasa antara seorang penyair Melayu-urban dengan dunia kosmologis Maluku yang jauh dari pengalamannya langsung.
Esai ini mengkaji puisi Cerita buat Dien Tamaela (1946) karya Chairil Anwar dengan menggunakan kerangka teoritis implied author yang diperkenalkan oleh Wayne C. Booth dalam The Rhetoric of Fiction (1961), serta diperkaya dengan refleksi Umberto Eco tentang diskrepansi transendental antara pengarang dan teks. Melalui kajian ini, akan diperlihatkan bagaimana Chairil Anwar sebagai real author dan “Pattiradjawane” sebagai implied author merupakan dua entitas yang berjauhan secara biografis, namun bersatu secara estetik dalam sebuah teks yang luar biasa.
I. Kerangka Teoritis: Dari Real Author ke Implied Author
Konsep implied author merupakan respons terhadap dua ekstrem dalam sejarah teori sastra yakni di satu sisi, tradisi ekspresionistis yang mereduksi karya sastra menjadi ungkapan langsung jiwa pengarangnya, dan di sisi lain, gerakan otonomi sastra yang justru mengebiri pengarang dari perbincangan tentang teks. Wayne C. Booth menawarkan jalan tengah bahwa pengarang memang tidak hadir secara langsung dalam teks, tetapi citra atau versi kedua dari pengarang itu menjadi suatu konstruksi yang dibentuk oleh keseluruhan pilihan estetik dalam teks akan selalu dapat diidentifikasi oleh pembaca yang cermat.
Real author adalah manusia historis, seseorang dengan nama, tubuh, biografi, latar sosial, dan pengalaman yang konkret dan terverifikasi. Ia menulis pada waktu tertentu, di tempat tertentu, dengan motivasi tertentu. Tetapi begitu pena terangkat dari kertas, apa yang tertinggal dalam teks bukanlah pengarang itu sendiri, melainkan jejak-jejak pilihannya bahwa pilihan kata, suara naratif, sistem nilai, dan perspektif estetik yang secara kolektif membangun implied author.
Umberto Eco memperdalam konsep ini dengan menunjukkan bahwa antara pengarang dan teks, serta antara pembaca dan teks, terdapat diskrepansi yang tak mungkin sepenuhnya dijelaskan karena ada dimensi-dimensi transendental yang terlibat di dalamnya. Artinya, implied author bukan sekadar topeng yang disengaja dikenakan oleh pengarang, melainkan sebuah entitas yang memiliki otonomi parsial yang lahir dari teks, hidup dalam teks, dan kadang-kadang melampaui intensi teks pengarangnya sendiri.
II. Real Author: Chairil Anwar sebagai Individu Historis
Untuk memahami implied author dalam Cerita buat Dien Tamaela, kita perlu terlebih dahulu memahami siapa Chairil Anwar sebagai real author. Chairil Anwar (1922–1949) adalah penyair pelopor Angkatan 45 yang lahir di Medan dan menghabiskan masa hidupnya di Jakarta. Berlatar belakang budaya Melayu, ia adalah sosok bohemian yang hidup keras, akrab dengan dunia malam kota, dan sangat dipengaruhi oleh arus modernisme serta eksistensialisme Barat, mulai dari Rainer Maria Rilke hingga Henri Marsman.
Secara biografis, Chairil Anwar tidak memiliki hubungan langsung dengan budaya Maluku. Ia bukan putra Pattimura, bukan orang yang lahir dengan “darah laut” atau dibesarkan dalam tradisi tifa dan datu. Puisi ini ditulis pada tahun 1946 di masa revolusi yang penuh gejolak dan ditujukan kepada Dien Tamaela, seorang perempuan yang namanya mengandung konotasi kultural Maluku. Itulah satu-satunya jembatan biografis yang dapat kita bangun antara Chairil sebagai manusia dan dunia yang ia tulis.
Sebagai real author, Chairil adalah seorang penyair yang bergulat dengan kematian, kebebasan individu, dan dengan pencarian makna di tengah kehancuran. Dalam puisi-puisinya yang lain seperti Aku atau Malam di Pegunungan, kita menemukan suara yang sangat berbeda dari “Pattiradjawane” yakni suara yang eksistensial, defiant, dan sangat personal. Real author Chairil Anwar adalah manusia yang terancam oleh kematian, bukan sosok yang mengancam dengan kekuatan magis.
III. Implied Author: Konstruksi Suara dalam Teks
Ketika kita memasuki teks Cerita buat Dien Tamaela, kita bertemu dengan implied author yang secara fundamental berbeda dari real author Chairil Anwar. Implied author ini membangun dirinya melalui serangkaian pilihan estetik yang konsisten dan koheren. Mari kita telusuri beberapa dimensi pentingnya.
Pertama-tama, identitas kultural yang dikonstruksi implied author adalah identitas Maluku yang otentik dan mengakar. Penggunaan kata ganti “beta” sebagai kata ganti orang pertama dalam dialek Melayu Ambon dan nama marga “Pattiradjawane” bukan sekadar ornamen eksotis, melainkan pondasi dari seluruh bangunan suara dalam puisi ini. Implied author berbicara dari dalam budaya itu, bukan tentang budaya itu. Ia berkata:
“Beta Pattiradjawane / Yang dijaga datu-datu / Cuma satu.”
Kalimat pembuka ini langsung menetapkan sebuah klaim identitas yang total bahwa implied author adalah si Pattiradjawane yang tunggal, unik, dan dilindungi oleh roh leluhur. Ini bukan cara bicara seorang pengamat luar yang terpesona oleh eksotisme, ini adalah cara bicara seseorang yang merasakan dirinya sebagai bagian tak terpisahkan dari kosmos yang ia gambarkan.
Kedua, implied author membangun otoritas spiritual dan magis yang tidak dimiliki oleh real author manapun dalam dunia biografi. Perhatikan baris-baris berikut:
“Siapa mendekat / Tiga kali menyebut beta punya nama.”
“Beta bikin pala mati, gadis kaku beta kirim datu-datu!”
Di sini implied author tidak hanya mengklaim identitas Maluku, tetapi juga mengklaim kekuatan supranatural atas alam dan manusia. Nama yang harus disebut tiga kali untuk bisa mendekat adalah motif ritual yang menunjukkan bahwa implied author bukan manusia biasa, ia adalah figur yang namanya mengandung daya. Kemampuan “mematikan pohon pala” dan “mengirim datu-datu” menempatkan implied author sebagai entitas yang melampaui batas manusiawi. Sungguh jauh dari Chairil Anwar yang, sebagai real author, justru bergumul dengan ketakutan akan kematiannya sendiri.
Ketiga, implied author menghadirkan diri sebagai sosok yang melampaui waktu dan menyatu dengan ritme kosmis:
“Beta ada di malam, ada di siang / Irama ganggang dan api membakar pulau….”
Kehadiran simultan di malam dan di siang adalah atribut ontologis yang melampaui kondisi manusiawi. Implied author bukan makhluk yang terikat oleh linearitas waktu. Ia adalah prinsip kosmologis, semacam arketipe yang menjadi poros dari seluruh kehidupan di pulau itu. Ganggang, api, dan pulau bukanlah objek alam yang ia amati dari luar, namun ia menyatu dengan semuanya dalam satu irama tunggal.
Keempat, implied author menghadirkan erotisme yang berdimensi ritual dan kosmik, bukan sekadar personal:
“Pohon pala, badan perawan jadi / Hidup sampai pagi tiba.”
“Mari menari! mari beria! mari berlupa!”
Transformasi pohon pala menjadi tubuh perawan dalam tarian malam adalah sebuah gambaran yang menggabungkan kesuburan alam, seksualitas, dan ritual dalam satu citra yang tak terpisahkan. Implied author menguasai tifa, alat musik pukul sakral Maluku. Melalui tifa itu ia menggerakkan alam dan manusia dalam tarian yang melampaui batas antara yang profan dan yang sakral.
IV. Diskrepansi dan Signifikansinya
Dari pembandingan antara real author dan implied author di atas, terlihat jelas betapa besar jarak di antara keduanya. Chairil Anwar sebagai real author adalah penyair Melayu-urban yang sekular, eksistensialis, dan terancam oleh kematian, sedangkan implied author si “Pattiradjawane” adalah sosok mistis Maluku yang abadi, berkuasa, dan justru mengancam dengan kematian. Chairil adalah orang yang berada di luar budaya Maluku dan implied author adalah inkarnasi dari inti terdalam budaya itu.
Diskrepansi ini, seperti yang ditengarai Eco, mengandung dimensi transendental yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan. Seseorang mungkin akan bertanya motif Chairil Anwar hingga mampu menciptakan suara yang demikian otentik dari sebuah budaya yang bukan miliknya. Maka jawabannya tidak bisa semata-mata bersifat biografis, namun cukup dengan mengatakan bahwa ia terinspirasi oleh Dien Tamaela. Sesuatu yang lebih besar terjadi di sini adalah sebuah lompatan imaginatif yang melampaui batas pengalaman langsung.
Dalam perspektif teori ekspresionis, seseorang mungkin berusaha menjelaskan puisi ini sebagai ekspresi rindu Chairil kepada Dien Tamaela, sehingga ia seolah-olah “merasuki” dunia budayanya sebagai bentuk cinta. Tetapi penjelasan semacam ini terlalu mereduksi puisi menjadi sekadar dokumen perasaan pribadi. Yang lebih tepat adalah mengatakan bahwa Chairil, melalui tindakan kreatifnya, membangun sebuah implied author yang otonom bahwa sebuah kesadaran baru yang tidak bisa direduksi pada biografinya, dan yang justru menampilkan dimensi-dimensi kemanusiaan yang tidak tersedia bagi Chairil dalam kehidupan nyatanya.
Di sinilah letak keistimewaan karya sastra besar mampu memungkinkan pengarang untuk menjadi lebih dari dirinya sendiri. Sebagai real author, Chairil adalah manusia yang fana dan terbatas yang dilihat melalui implied author si “Pattiradjawane” sebagai figur yang abadi dan berkuasa. Puisi ini, dengan demikian, adalah ruang di mana Chairil melampaui keterbatasan biografisnya untuk menciptakan sebuah suara yang, sekali terlahir dari teks, terus hidup bahkan setelah kematian pengarangnya pada 28 April 1949.
V. Kesimpulan
Analisis atas Cerita buat Dien Tamaela dengan menggunakan kerangka real author dan implied author memperlihatkan betapa kompleks dan kayanya relasi antara seorang pengarang dengan karyanya. Chairil Anwar sebagai real author adalah seorang penyair Jakarta yang tidak memiliki akar kultural di Maluku, tetapi implied author yang ia konstruksi dalam puisi ini adalah “Pattiradjawane” yang dijaga datu-datu, yang berdarah laut, yang memiliki otoritas magis atas alam dan manusia yang menjadi sebuah entitas yang justru sangat Maluku dalam setiap lapisan suaranya.
Jarak antara keduanya bukan sebuah kontradiksi yang perlu diselesaikan, melainkan sebuah ketegangan kreatif yang justru menjadi sumber kekuatan puisi ini. Cerita buat Dien Tamaela adalah bukti bahwa kedua kutub itu tidak saling mengecualikan tetapi menjadi sebuah karya dapat sekaligus merupakan ekspresi jiwa pengarangnya dan sekaligus melampaui jiwa itu menuju sesuatu yang lebih universal. Pada akhirnya, mungkin inilah yang paling indah dari sebuah karya sastra yang besar, bahwa ia menghadirkan pengarang yang lebih besar dari pengarangnya sendiri, suatu implied author yang seperti dikatakan Eco, mengandung dimensi-dimensi ghostly yang tidak pernah sepenuhnya bisa kita jelaskan, tetapi selalu bisa kita rasakan.



