Oleh Rofinus Pati
Masa lalu dinilai dari pelbagai segi sejauh pemaknaan yang diberikan setiap orang. Bagi sebagian orang, masa lalu dikunci dalam sebuah ruang waktu dan tidak perlu dibuka lagi. Yang lalu dibiarkan berlalu, jangan dikenang lagi. Sejarah ditutup rapat.
Ada sebagian lagi menilai masa lalu sebagai sebuah peristiwa yang dapat menimbulkan luka, namun sekaligus dijadikan obat untuk menyembuhkan luka itu. Masa lalu adalah gudang pengalaman yang dapat menjadi perpustakaan hidup. Setiap orang boleh belajar dari pengalaman itu dan menjadi lebih baik lagi dalam merangkai hari-hari hidup selanjutnya.
Rumah Masa Lalu
Kita menyaksikan di media sosial setiap hari, banyak video reels yang menayangkan kembali suasana pedesaan seputar tahun 1980-an dan 1990-an, bahkan ada yang lebih awal lagi pada era 1970-an. Divideokan pondok-pondok di pedesaan yang sedang kosong dan sepi, dinding-dinding tua dan sedang lapuk, kebun dan sawah menghijau dengan air jernih mengalir, udara segar dan bersih.
Selain itu, ada pondok sederhana yang merupakan istana cinta bagi seorang kakek-nenek yang saling setia. Masa lalu juga khas dengan alat-alat musik, mode pakaian, gaya berpacaran, lagu-lagu yang viral di saat itu, suasana keramaian dalam keluarga, maupun sarana teknologi yang dinikmati kala itu seperti “tape” menggunakan batrei, kaset menggunakan pita yang sering diputar manual untuk mencari lagu-lagu yang hendak dimainkan.
Ada jenis permainan anak-anak, teknologi, termasuk merek sandal tertentu yang masih berdenyut dalam memori. Ada sandal lily, ada lampu pelita, obor, lampu petromax, ada permainan petak umpet, lompat tali merdeka, bermain mobil-mobilan, perang-perangan, engklek, dan seterusnya.
Celana khas saat itu bermerek antara lain Levi’s, Lee, Wrangler, Diesel dan Guess. Bajunya bermerek Nike, Adidas, Reebok, Calvin Klein, dan lain-lain. Di saat mencari hiburan, tampak semangat bergelora dalam diri anak-anak yang senang bermain debu dan masak-memasak, membangun rumah-rumahan.
Juga saat menonton televisi hitam putih di rumah tetangga. Menonton sambil duduk maupun berdiri dari jarak tertentu, disertai malu-malu, bahkan ada yang mengintip dari lubang dinding disertai rasa takut ketahuan dan diusir tuan rumah. Ada juga yang menonton televisi hitam putih beramai-ramai di rumah kepala desa, sebab hanya kepala desa yang memiliki fasilitas itu.
Selalu Ingin Pulang
Para netizen yang memberikan jempol suka dan komentar dalam video reels tentang suasana pedesaan itu berkisar minimal ratusan bahkan ribuan orang. Melihat lokasi pedesaan dan panoramanya yang khas, banyak orang merasakan rindu menyesakkan dada, ingin pulang ke masa lalu dalam angan. Kenangan pribadi maupun bersama dibuka kembali dan orang rindu pulang.
Pulang dalam hal ini tidak hanya kembali ke kampung, melainkan ke keadaan atau suasana di masa lalu yang penuh keceriaan, ramai oleh canda dan tawa anggota keluarga yang masih utuh, termasuk kakek nenek masih ada. Utuh karena belum dipisahkan oleh pekerjaan atau mendahului ke alam kubur. Sejarah memanggil mereka pulang ke ruang waktu, di sudut masa silam untuk melebur rasa rindu, untu sejenak boleh merasa lega di kala menjalani hidup yang semakin kompleks.
Martin Heidegger (1889-1976), seorang filsuf dalam bukunya “Being and Time” (1927) menulis bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki masa lalu. Peristiwa atau pengalaman masa lalu itu turut mempengaruhi kehidupannya pada saat ini. Karena berdampak sampai pada masa sekarang, maka manusia tidak sepenuhnya melepaskan diri dari peristiwa-peristiwa sebelumnya.
Masa lalu berdampak panjang dan selalu membersamai hidup seseorang. Heidegger pernah berkata, “Die Vergangenheit ist nicht vergangen, sondern ist noch unserem Sein gegenwartig”. “Masa lalu tidaklah berlalu, tetapi masih hadir dalam keberadaan kita”. Badan kita adalah produk masa lalu dan sifatnya menyejarah, walau hidup di masa kini.
Hati dan Ingatan akan Kemapanan
Alat untuk menghadirkan masa lalu itu adalah hati dan ingatan. Ingatan memanggil kembali semua pengalaman hidup pada tahun-tahun yang telah pamit dan hati merangkulnya erat-erat dan merenungkannya dalam-dalam. Dunia yang telah jauh berubah karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi beserta seluruh dampaknya yang positif sekaligus negatif, hidup manusia terasa sedang berlari tunggang-langgang seperti ditegaskan Anthony Giddens.
Banyak tantangan yang dihadapi, pelbagai pilihan harus diambil, beraneka informasi datang menyerbu. Dunia nyata semakin ramai. Dunia maya, lebih gaduh lagi. Pada titik tertentu, manusia merasa hidupnya jenuh, kerontang, hampa dan merana sendiri di tengah dunia yang semakin tidak ramah. Di saat itulah, muncul kerinduan untuk menelusuri kembali lorong-lorong waktu, yang pernah membuatnya merasa nyaman, tenang dan stabil. Ada keinginan untuk mengulangi kembali kenangan-kenangan indah dalam lembaran hidup terdahulu.
Bagi Heidegger, manusia adalah makhluk yang dalam konsepnya disebut “Geschichtlichkeit”. Artinya, manusia adalah makhluk yang masuk dalam keadaan historis; menyejarah. Heidegger berpendapat, “Wir sind geschichte Wesen und unsere Geschichte ist nicht nur eine Abfolge von Ereignissen, sondern eine Weise des Seins”. “Kita adalah makhluk historis dan sejarah kita bukanlah hanya urutan peristiwa, tetapi cara keberadaan kita”.
Hal itu berarti bahwa kita setiap hari hidup dan berada dalam alur sejarah setelah mengalami apa yang oleh Heidegger disebut “Geworfenheit” atau “keterlemparan ke dalam dunia” saat eksodus dari rahim ibu ke dalam sebuah dunia yang sudah lebih dahulu ada. Hari-hari yang kita lalui adalah perjalanan, ziarah dan pengalaman yang akan menggumpal menjadi kenangan dan tersimpan rapih dalam museum masa lalu.
Kerinduan akan masa lalu yang tenang dan membahagiakan oleh Sigmund Freud (1856-1939), seorang psikoanalis asal Austria, dinilainya seperti keadaan dalam kandungan ibu. Keadaan itu dianggap sebagai “oceanic feeling” (perasaan samudra). Walaupun Freud sendiri tidak memakai istilah itu dan konsep itu diperdebatkan oleh para ahli psikoanalisis, namun perasaan nyaman kembali ke masa lalu ibarat suasana nyaman dan kesatuan yang dialami seorang bayi dalam rahim ibu. Bayi tidak membedakan dirinya dengan lingkungan rahim namun ia melayang bebas di lautan air ketuban.
Masa lalu yang tetap segar, tidak busuk oleh zaman, dianggap Erich Fromn (1900-1980) sebagai “paradisical state”. Suatu keadaan seperti di “Taman Firdaus” waktu penciptaan awal. Perasaan serba lengkap, penuh, serba ada, dilindungi, dicintai. Fromm melihat suasana ini bisa menjadi sumber motivasi bagi manusia untuk menikmati kebebasan dan kemandirian, meskipun tidak tanpa risiko. Orang bebas mengekspresikan diri agar semakin bermakna hidupnya, tetapi juga bisa meninabobokan, memanjakan orang sehingga santai dan malas berjuang.
Tanggungjawab Masa Depan
Namun, ada hal yang menimbulkan keprihatinan dan perlu menjadi peringatan. Banyak orang kembali mencumbui masa lalu dan sulit pulang ke masa kini. Masa lalu menjadi semacam tempat pelarian, yang memenjarakan angan, mengikat rasa, bahkan memasung diri. Terlanjur sayang dan nyaman dengan masa lalu dan takut berpaling darinya.
Hal ini yang oleh Fromm disebut sebagai regresi (regression) dan ketergantungan (dependence). Orang mundur kembali ke masa lalu dan asyik berada di sana, menikmatinya, bergantung padanya, merasakan keadaan seperti di rahim ibu dan melupakan jalan untuk pulang pada kekinian.
Di dalam bukunya “The Art of Loving” (1956), Fromm menulis: “The desire to return to the womb is the desire to return to the state of being one with the mother, to be protected, to be loved and to be free from responsibility”. Suasana rahim ibu penuh persatuan, perlindungan dan cinta serta bebas dari semua tanggung jawab.
Siapa pun boleh bernostalgia, asalkan tidak kehilangan fokus untuk terus maju dan melaju. Kembali ke masa lalu perlu dihayati sebagai datang ke oase, kembali ke sumber dan menimba “air” kehidupan, membaharui energi, menegaskan motivasi untuk terus melangkah. Mundur dan disandera masa lalu bisa menghalangi perkembangan manusia ke arah yang sehat dan mandiri. Terjebak oleh kenyamanan masa lalu dapat mengaburkan fokus, menciptakan ketergantungan, dan daya juang rendah dalam menghadapi kompleksitas hidup di zaman ini.
Meskipun semua pengalaman masa lalu turut membentuk seseorang ada seperti sekarang ini, namun manusia tidak hidup untuk masa lalu. Manusia menimba masa lalu untuk hidup, bukan hidup untuk masa lalu. Sebab, kemapanan “Taman Firdaus” dan suasana melayang bebas dalam air ketuban di rahim ibu, sudah lama pamit.
Karena itu, mari sejenak kita memandang di sekeliling kita. Setiap saat, dunia nyata terus gaduh, apalagi dunia maya. Dunia berlari dengan kecepatan tak terbendung. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap datang seperti sinar matahari dengan segala risiko yang menyertainya. Setelah kembali dari oase masa lalu, kita sudah mendapatkan motivasi dan energi baru untuk kembali ke masa kini dan tetap bertanggung jawab melanjutkan karya pelayanan menuju masa depan yang lebih baik.
——————-





Reu,…
O Ator deq me kedeq terun ne
Terima reiq te refleksi diri rupa Reu otiq tulis noq me, wakaq alu meka ohaq ne.