Oleh Agus Widjajanto
Pada hari Sabtu situasi di Timur Tengah sangat tegang hari ini, 28 Februari 2026. Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran, dengan target utama infrastruktur militer, situs nuklir, dan sistem pertahanan udara. Presiden AS Donald Trump mengumumkan operasi ini sebagai langkah defensif setelah negosiasi program nuklir Iran gagal.
Detail Serangan:
– Target: Lima kota besar Iran, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah.
– Keterlibatan Israel: Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menjalankan operasi “Roaring Lion” untuk melumpuhkan ancaman rudal strategis Iran.
– Respons Iran: Serangan balasan dengan gelombang rudal dan drone ke Israel dan basis militer AS di Timur Tengah.
Dampak Global:
– Delapan negara di Timur Tengah menutup ruang udara, menyebabkan gangguan besar pada penerbangan global
– Sistem pertahanan udara di negara-negara Teluk diaktifkan untuk menghadapi serangan Iran
Situasi ini masih berkembang, dan dunia internasional memantau dengan cermat. Presiden Donald Trump menyatakan serangan militer skala penuh dilakukan untuk menghukum orang jahat yang bisa membahayakan keamanan Amerika, dan harus di akhiri, pertanyaan selanjutnya, dalam kontek kepentingan dan sudut pandang yang mana bisa di sebut antara terang melawan gelap, antara benar melawan salah? yang ada adalah hukum rimba, siapa yang kuat akan melibas yang lemah dalam hukum politik kekuasaan untuk mencapai hegemoni adi daya dunia.
Seorang pakar ekonomi dan akademisi Jeffrey Sachs, seorang ekonom dan akademisi Amerika, memang pernah menyebutkan bahwa Amerika Serikat telah melakukan intervensi politik dan penggulingan rezim pemerintahan di negara lain sebanyak 70 kali antara tahun 1947 hingga 1989.
Namun, perlu diingat bahwa angka ini tidak dapat diverifikasi secara independen dan mungkin berbeda-beda tergantung pada sumber dan definisi “intervensi” yang digunakan.
Beberapa contoh intervensi Amerika Serikat yang terkenal termasuk:
– Iran (1953): CIA membantu menggulingkan pemerintahan Mohammad Mossadegh dan mengembalikan Shah Iran ke tampuk kekuasaan.
– Guatemala (1954): CIA membantu menggulingkan pemerintahan Jacobo Arbenz dan menggantinya dengan pemerintahan militer.
– Kongo (1960): CIA membantu menggulingkan pemerintahan Patrice Lumumba dan menggantinya dengan pemerintahan Mobutu Sese Seko.
– Chili (1973): CIA membantu menggulingkan pemerintahan Salvador Allende dan menggantinya dengan pemerintahan Augusto Pinochet.
Intervensi Amerika Serikat di negara lain seringkali dipicu oleh kepentingan geopolitik, ekonomi, dan keamanan nasional. Namun, intervensi ini juga seringkali dikritik karena melanggar kedaulatan negara lain dan menyebabkan kerugian bagi masyarakat lokal.
Demikian juga seorag pakar ekonomi ternama John Perkins dalam bukunya “Confessions of an Economic Hit Man” membahas tentang bagaimana Amerika Serikat menggunakan strategi ekonomi untuk menguasai negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Perkins, yang merupakan seorang “Economic Hit Man” (EHM), menjelaskan bagaimana ia dan timnya menggunakan laporan keuangan yang berputar, pemilihan yang curang, penyuapan, dan pemerasan untuk mempengaruhi kebijakan ekonomi negara-negara tersebut.
Dalam buku ini, Perkins juga membahas tentang bagaimana Amerika Serikat menggunakan lembaga-lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia dan IMF untuk mengendalikan perekonomian negara-negara yang sedang berkembang. Ia juga menjelaskan bagaimana negara-negara berkembang dijebak dalam utang yang tidak dapat dibayar, sehingga mereka terpaksa mengikuti kebijakan ekonomi yang diinginkan oleh Amerika Serikat.
Perkins juga membahas tentang bagaimana Indonesia menjadi salah satu korban dari strategi EHM, dan bagaimana negara ini dijebak dalam utang yang besar untuk proyek-proyek pembangunan yang tidak menguntungkan bagi rakyat Indonesia
Dalam situasi yang tidak menentu ini tentu akan berdampak pada ekonomi global, termasuk Indonesia, ditengah baru saja ditanda tanganinya penyelesaian secara damai soal jalur gaza untuk palestina merdeka rasanya akan sangat berpengaruh , dan sulit untuk dilaksanakan mengingat secara mengejutkan Tiba tiba Amerika serikat dan israel melancarkan serangan udara dalam skala penuh ke wilayah Iran.
Nasib Board of Peace (BoP) antara Amerika Serikat dan Indonesia di jalur Gaza pasca serangan Israel dan Amerika ke Iran sedang dipertanyakan. Serangan ini menimbulkan kekhawatiran bahwa BoP tidak memiliki misi yang tulus untuk perdamaian, melainkan lebih kepada perluasan konflik dan serangan militer ke negara lain.
Indonesia telah berkomitmen untuk mengirimkan 8.000 pasukan ke Gaza sebagai bagian dari upaya stabilisasi dan rekonstruksi, dengan BoP menjanjikan dana sebesar US$ 5 miliar untuk rekonstruksi Gaza. Namun, serangan ini dapat menghambat upaya meredakan ketegangan di Jalur Gaza.
Beberapa legislator Indonesia, seperti TB Hasanuddin, meminta pemerintah Indonesia untuk menentukan sikap yang jelas terhadap invasi Israel dan Amerika Serikat ke Iran, dan mempertanyakan apakah BoP benar-benar memiliki misi perdamaian yang tulus.
Indonesia harus berhitung dengan cermat menyikapi situasi ini. Selat Hormus telah ditutup Iran seluruh perdagangan minyak dunia dari Timur Tengah lewat selat Hormuz, maka harga minyak akan melambung tinggi, dan gejolak ekonomi akan terjadi, pesawat terbang akan melonjak tinggi, dan dunia di ambang resesi.
Teori Domino
Teori domino memang bisa menjadi faktor yang memperluas konflik antara Iran dan Amerika Serikat/Israel, yang berpotensi melibatkan Rusia, China dan sekutunya mengingat sebagian besar minyak di impor dari Timur Tengah untuk menghidupi industri China. Teori ini awalnya dikembangkan pada masa Perang Dingin, yang menyatakan bahwa jika satu negara jatuh ke dalam pengaruh komunis, negara-negara sekitarnya akan mengikuti jejaknya, dan harus belajar dari meletus nya perang dunia kedua dimana jepang membutuh kan sumber daya energi untuk industri nya saat itu, dan sejarah selalu akan berulang.
Dalam konteks saat ini, jika Iran berhasil mempertahankan diri dari serangan Amerika Serikat/Israel, hal ini bisa meningkatkan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah dan meningkatkan kemungkinan negara-negara lain di kawasan tersebut untuk meningkatkan kerja sama dengan Iran. Rusia, yang telah memiliki hubungan baik dengan Iran, mungkin akan semakin terlibat dalam konflik ini untuk melindungi kepentingannya di kawasan tersebut.
Namun, perlu diingat bahwa teori domino bukanlah kepastian, dan banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi jalannya konflik ini, seperti kepentingan nasional, diplomasi, dan kekuatan militer. Selain itu, Rusia juga memiliki kepentingan sendiri di kawasan tersebut, dan mungkin tidak ingin terlibat dalam konflik yang dapat memperburuk hubungannya dengan Barat.
Indonesia sebagai negara non blok dengan politik luar negeri bebas aktif harus mencermati betul situasi ini, walaupun berdampak secara ekonomi tapi harus dijaga jangan sampai berdapak pada politik baik secara geo politik maupun geo strategis yang bisa merugikan bangsa ini ke depan.
Peperangan selalu membawa dampak kehancuran baik secara ekonomi, maupun secara peradaban manusia bisa musnah , akibat kepentingan dari pemimpin pemimpin negara adi daya yang punya agenda dan pertimbangan politik dimana perang sebagai ajang bisnis demi keuntungan ekonomi , dan hegemoni global.
—————–
Penulis adalah pengamat sosial budaya, politik dan hukum





