Oleh Rofinus Pati
Setiap tanggal 3 Desember merupakan hari amat istimewa bagi seluruh umat Katolik di Keuskupan Larantuka. Hari ini menjadi istimewa karena dirayakan sebagai Hari Pendidikan Keuskupan Larantuka. Sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Persekolahan Umat Katolik Flores Timur (YAPERSUKTIM) dan sekolah-sekolah milik Yayasan Pendidikan Umat Katolik Lembata (YAPENDUKLEM) diliburkan dari kegiatan pembelajaran di kelas. Libur dalam konteks ini adalah tidak sekedar liburan kosong, melainkan aktif melakukan sesuatu yang penting dan bernilai untuk mengisi satu hari ini.
Biasanya setiap paroki mengadakan kegiatan terpusat berupa perayaan ekaristi. Pelayan liturgis seperti koor atau paduan suara, lektor, pemazmur dan lain-lain ditanggung setiap sekolah secara bergiliran. Setelah perayaan ekaristi, kegiatan-kegiatan lanjutan diselenggarakan untuk memaknai hari bersejarah ini.
Biasanya ada semacam seminar yang diikuti untuk mencerahkan pikiran, memerkaya wawasan dan menimba energi baru untuk terjun kembali ke arena pendidikan untuk mencerdaskan para murid yang menimba ilmu dan nilai-nilai kehidupan di sekolahnya masing-masing.
Para narasumber biasanya memberikan banyak inspirasi kepada para guru Katolik agar dapat menyadari perannya dan merenungkan pengabdiannya sebagai seorang pribadi dengan tiga dimensi: yakni 100% Indonesia, 100% Katolik dan 100% Lamaholot, sehingga tidak menjadi seperti kacang lupa kulit.
Mengenang 163 Tahun Lalu
Umat Keuskupan Larantuka patut bersyukur sebab pendidikan yang merupakan senjata pemerdekaan manusia sudah lama menanamkan akarnya di sini. Seorang tokoh yang tidak boleh dilupakan namanya oleh sejarah adalah seorang imam projo asal negeri Kincir Angin, Belanda. Namanya Romo Caspar Joannes Hubertus Franssen.
Romo Franssen lahir di Tegelen, Belanda pada 23 Januari 1826. Romo Franssen tiba di Batavia (Jakarta) pada 7 Pebruari 1856. Sebelum ke Larantuka, Romo Franssen bertugas di Surabaya. Kemudian pindah ke Ambarawa. Di Ambarawa, Romo Franssen membangun satu gereja, mengelola Yayasan Vincentius dan menjalankan tugas pastoral bagi serdadu Katolik asal Manado.
Sesudah itu, Romo Franssen menerima tugas baru di Larantuka. Dari Batavia, Romo Franssen berlayar pada 7 November 1861. Berhubung harus melintasi beberapa kota (Makassar, Ternate, Ambon, Bandaneira dan Kupang), Romo Franssen baru tiba di Larantuka sebulan kemudian. Tepatnya tanggal 11 Desember 1861.
Romo Franssen hanya sekitar dua tahun bertugas di Larantuka, yakni tahun 1861-1863. Namun demikian, tugasnya dilakukan dengan total dan rupanya Romo Franssen adalah imam spesialis dalam pembangunan gedung sekolah, sebab pernah membangun satu gedung gereja di Ambarawa.
Dalam waktu 1 tahun, kurang 8 hari setelah menginjakkan kakinya di Larantuka pada 11 Desember 1861, Romo Franssen mendirikan sebuah sekolah desa untuk mendidik anak-anak membaca, menulis, berhitung, dan lain-lain. Sekolah itu terletak di Posto yang sekarang bernama Sekolah Dasar Katolik 1 Larantuka. Sekolah itu memulai kegiatan pembelajaran pada tanggal 3 Desember 1862. Dipilih tanggal itu karena bertepatan dengan peringatan Pelindung Misi dalam Gereja Katolik, yakni Santu Fransiscus Xaverius.
Kegiatan Belajar Mengajar yang dimulai pada hari ini, seperti dipaparkan Romo Edu Jebarus dalam Sejarah Persekolahan di Flores, halaman 28, berlangsung dalam situasi apa adanya, bahkan memprihatinkan. Jumlah murid pada waktu itu sebanyak 25 orang yang terdiri dari 24 laki-laki dan 1 putri. Satu-satunya murid putri itu adalah putri Raja Larantuka.
Ruang kelas untuk bersekolah itu adalah sebagian dari ruang gereja Posto, berukuran 10 x 10 meter. Sebuah sekat dipasang untuk membatasi atau memisahkan ruang kelas dan ruang lain sebagai gereja untuk kegiatan rohani. Dicatat juga bahwa untuk mendukung pembelajaran di kelas, sekolah perdana ini memiliki media amat terbatas. Hanya tersedia 14 batu tulis untuk 25 murid dan 25 anak batu tulis sebagai pena untuk setiap murid. Ada juga satu lembar papan tulis kecil yang dipinjam dari tangsi tentara.
Tenaga guru yang diandalkan hanya 2 orang yakni Romo Franssen sendiri dan 1 orang awam yang dapat membaca, menulis dan berhitung (Calistung), namun guru itu tidak memiliki ijazah guru. Selain itu, mata pelajaran yang diajarkan adalah Katekismus (pelajaran agama Katolik), pelajaran membaca, menulis dan berhitung serta bahasa Melayu. Bahasa yang dipakai dalam kegiatan pembelajaran adalah bahasa Melayu.
Pada tahun kedua (1863), sekolah perdana ini memiliki bangunan sendiri. Gedung sekolahnya dibangun oleh Pater Gregorius Metz, SJ (1819-1885) yang berbakat dan berpengalaman sebagai pengajar dan pendidik di Kolese Yesuit di Belanda, tepatnya di Sittard dan Katwijk. Pater Metz tiba di Larantuka pada 17 April 1863 dan merupakan misionaris Yesuit pertama yang berkarya di Larantuka. Pater Metz memajukan pendidikan untuk putra dan putri, menghadirkan suster OSF, meningkatkan kesehatan dan pertanian masyarakat.
Jumlah murid pada tahun kedua sebanyak 50 orang. 30 murid diantaranya diperkenankan menghuni asrama misi di Posto, Larantuka. Karena tinggal di asrama, para murid dilatih dan dibiasakan dengan praktik-praktik agama Katolik. Kebiasaan-kebiasaan yang dilatih di asrama kemungkinan besar tidak didapatkan di rumahnya masing-masing.
Satu hal penting lain, terkait sekolah perdana ini, yakni seluruh keuangan, baik biaya sekolah maupun asrama ditanggung oleh Pastor, sehingga orangtua murid tidak dikenakan biaya sepeser pun. Konsep Sekolah Gratis ternyata sudah dimulai sejak sejarah awal berdirinya lembaga pendidikan di Larantuka, lebih dari satu setengah abad yang lalu.
Berhubung kondisi kesehatan memburuk, Romo Franssen harus meninggalkan Stasi Larantuka pada Oktober 1863 untuk menjalani cuti di Belanda selama dua tahun. Pada Juli 1866, Romo Franssen kembali lagi ke Batavia, namun hanya empat bulan kemudian (November 1866), beliau harus kembali lagi ke Belanda karena kesehatannya tidak mendukung. Pada 7 Mei 1888, Romo Franssen meninggal dunia di Belanda dalam usia 62 tahun (1826-1888). Pater Metz menjadi pembantu sekaligus pengganti Romo Franssen sebagai pastor kepala untuk Stasi Larantuka sebelum berpindah ke Maumere sampai meninggal di sana pada 26 Oktober 1885 dan dikuburkan di Maumere.
Kalau dikalkulasi secara teliti, Romo Franssen makan makanan, minum air dan tinggal di tanah Larantuka, hanya selama 1 tahun dan lebih 10 bulan. Sejak tiba pada 11 Desember 1861 sampai Oktober 1863 saat meninggalkan Larantuka menuju Kupang untuk berobat dan selanjutnya ke Batavia dan Belanda. Meskipun dalam waktu singkat, dia telah bekerja sungguh keras, menjalankan tugas dan pelayanannya secara total, tuntas, sepenuh-penuhnya. Kesehatannya telah dipertaruhkan untuk masa bekerja yang tidak mencapai 2 tahun. Dia telah menggoreskan sejarah pendidikan di Keuskupan Larantuka yang tetap dikenang sepanjang masa.
Sebagai kenangan lestari itulah, Bapa Uskup Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr dalam Surat Keputusan (SK) pada tahun 2019, menetapkan tanggal 3 Desember sebagai Hari Pendidikan Katolik Keuskupan Larantuka. Hari Libur khusus bagi sekolah-sekolah di bawah Yapersuktim di Kabupaten Flores Timur dan Yapenduklem di Kabupaten Lembata. Hari libur dari kegiatan pembelajaran di kelas, namun diisi dengan kegiatan-kegiatan produktif dan bermanfaat.
Terang Telah Terbit di Timur
Paparan ini tidak mengecilkan peran tokoh utama pendidikan Indonesia yakni Ki Hajar Dewantara. Semua orang sudah tahu. Tulisan ini hanya menyasar insan-insan lain dalam sejarah pendidikan Katolik yang patut pula diketahui dan diingat pada tataran lokal.
Kehadiran misionaris ke kawasan Timur Indonesia, telah membawa cahaya bagi orang-orang di bagian ini, terkhusus imam Fransiskus Xaverius yang mencari rempah-rempah ke kepulauan Maluku sekitar 1511.
Fransiscus Xaverius bersama-sama dengan Alfonso de Albuquerque yang baru tiba di India, pada tahun 1510. Sebagai gubernur Portugal atau raja muda yang ditempatkan di India, Alfonso terpesona dengan Malaka yang terkenal sebagai pusat perdagangan saat itu.
Seperti dalam Buku Sejarah Keuskupan Larantuka, tulisan Romo Edu Jebarus, Pr, bahwa hanya setahun kemudian (1511), Alfonso de Albuquerque menaklukkan Malaka untuk menguasai pusat perdagangan. Setelah itu, pada bulan November 1511, Alfonso menyuruh dua orang pelaut berlayar ke Maluku untuk, selain mencari rempah-rempah, menyebarkan agama Katolik dan mencerdaskan mereka melalui pendidikan. Kedua pelaut itu bernama Antonio de Abreu dan Fransisco Serrao.
Fransisco Serrao ke Hutu dan berusaha mengajarkan agama dan membaptis penduduk di sana. Bertempat di Pulau Moro, tepatnya di Mamuya, bagian utara Halmahera, penduduk pribumi pertama kali dipermandikan menjadi Katolik pada tahun 1534.
Pelaut lainnya yaitu Antonio de Abreu kembali ke Malaka lewat kepulauan Solor. Dia sempat singgah di kawasan Flores dan Nusa Tenggara Timur. Secara umum, Portugis sudah menetap di Timor pada tahun 1520. Dengan demikian, jika ada orang dari kepulauan Solor yang dibaptis, maka itu terjadi pada tahun 1520 itu. Namun, pembaptisan secara perorangan.
Setelah 25 tahun pembaptisan komunitas Katolik di Mamuya, utara Halmahera, terjadi pula peristiwa iman yang sama di Larantuka. Pater Baltazar Diaz, SJ melaporkan bahwa pada akhir tahun 1559, terdapat sekitar 200 orang di Lewonama dibaptis oleh seorang pedagang bernama Joao Soares. Lewonama adalah sebuah kampung di dekat Kota Larantuka, barangkali di Balela, sekitar Kapela Tuan Ana dan rumah raja sekarang. Sejarah mencatat bahwa rang-orang di Lewonama adalah komunitas Katolik pertama di Pulau Flores.
Selanjutnya, buku terbitan Kemendikbud yang berjudul: “Sejarah Pendidikan di Indonesia Zaman Penjajahan”, disebutkan bahwa sekitar pertengahan abad ke-16, yakni tahun 1546, terdapat 7 kampung di Ambon yang memeluk agama Katolik dengan sekolah-sekolahnya yang bernapaskan Katolik. Pelajaran yang diberikan kepada para murid waktu itu adalah agama, membaca, menulis, berhitung dan juga bahasa Latin.
Di tanah Jawa, Romo Van Lith mendirikan sebuah sekolah di Muntilan. Sekolah ini awalnya untuk calon katekis atau guru agama di Semarang yang didirikan pada tahun 1896. Romo Van Lith akhirnya mendirikan beberapa sekolah pada tahun 1900 dan disambut baik oleh masyarakat Muntilan. Romo Van Lith sendiri mencari para murid dengan mendatangi setiap kampung dan meminta agar anak-anak dapat belajar di sekolah-sekolah yang telah disediakan. Sementara itu, di Jakarta Pusat sudah berdiri SMA Katolik St. Ursula pada 1859.
Para misionaris memfokuskan perhatian ke Indonesia Timur, sebab saat itu di Jawa kemungkinan sudah banyak terdapat pengaruh lain (termasuk agama), persaingan dagang, penguasaan wilayah dan lain-lain. Intinya bahwa wilayah Indonesia Timur jauh dari gejolak kekuasaan di pusat, sehingga tidak mengalami banyak pergolakan politik yang sifnifikan dan dapat menjadi ladang “penginjilan” yang subur. Para misionaris, sambil mencari rempah-rempah, juga sekaligus menyebarkan agama yang sudah dianut di negaranya.
Masih segar dalam memori kita tentang mata pelajaran sejarah yakni tiga faktor pendorong utama bagi penjelajahan nusantara oleh bangsa-bangsa Eropa: Gold, Gospel dan Glory. Mereka mencari emas (kekayaan), mewartakan Injil (menyebarkan agama) dan, dengan semuanya itu, boleh mengantongi nama besar atau tersohor
*
Orang-Orang Larantuka: Kakak dari R.A. Kartini dan Dewi Sartika
Raden Ajeng Kartini, lahir pada 21 April 1879 di Jepara dan meninggal pada 17 September 1904 dalam usia muda belia, 25 tahun. Sebagai anak bangsawan, Kartini disekolahkan di ELS (Europese Lagere School) sampai usia 12 tahun dan kemudian dipingit di istana, tinggal menetap di istana dan selalu dalam pengawasan ketat sebagai anak berdarah biru sehingga tidak bebas berkontak atau berkomunikasi dengan orang-orang biasa di masyarakat, meskipun Kartini sendiri ingin hidup berbaur dengan masyarakat.
Dalam bidang pendidikan, R.A.Kartini adalah pejuang emansipasi, namun emansipasi atau kesetaraan gender tidak dalam arti bahwa perempuan harus keluar bekerja dan menjadi pesaing bagi laki-laki di pelbagai lapangan kehidupan dan membiarkan anak-anak serta rumah tangganya terbengkelai. Bukan itu!
Dalam suratnya tertanggal 4 Oktober 1902 kepada Profesor Anton dan Nyonya, Kartini menulis:
“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum perempuan, agar perempuan lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”.
Kemudian, Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Bandung pada 4 Desember 1884 dan meninggal di Tasikmalaya pada 11 September 1947 dalam usia 63 tahun (1884-1947). R.A. Kartini dan Dewi Sartika adalah pejuang emansipasi atau pejuang hak azasi perempuan di Jawa untuk disamakan kedudukannya dengan laki-laki, agar perempuan merasa “diorangkan”, diberi hak dan kebebasan yang sama, dihargai dan dicintai selayaknya seperti laki-laki mencintai dirinya sendiri.
Kartini mewariskan bukunya berjudul: “Habis Gelap Terbitlah Terang” (Door Duisternis tot Licht). Kesadaran Kartini akan kesamaan derajat antara laki-laki dan perempuan ini berkat perjuangan dan perkenalan lewat korespondensinya yang intensif dengan seorang Belanda bernama Abendanon. Yayasan-yayasan bernama “Kartini” pun didirikan pada tahun 1912 di beberapa tempat setelah kematiannya, seperti di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya.
Sementara itu, Dewi Sartika pada tahun 1904 mendirikan Sekolah Istri di Bandung. Sekolah ini merupakan sekolah pertama untuk perempuan di Indonesia. Pada awalnya, sekolah ini memiliki 20 murid dan 2 ruang kelas. Selanjutnya, sekolah ini berubah nama menjadi “Sakola Kautamaan Istri” dan sudah menyebar ke daerah-daerah lain di seluruh Jawa Barat. Pada 1912 (8 tahun kemudian), sekolah ini memiliki 9 cabang di kota-kota di Jawa Barat. Dewi Sartika sendiri mengunjungi kampung-kampung dan mengajarkan ketrampilan praktis seperti memasak, mencuci, menjahit dan lain-lain.
Mengapa kedua tokoh besar di atas itu disebut “adik” dalam mengenyam pendidikan?
Nah, R.A. Kartini lahir pada tahun 1879. Itu berarti bahwa saat Kartini lahir dan masih bayi merah, sekolah yang didirikan di Larantuka oleh Romo Franssen sudah berusia 17 tahun (sejak 1862). Sekolah itu sudah beroperasi, sudah menjalankan Kegiatan Belajar Mengajar selama 17 tahun pada saat Kartini dilahirkan. Kalau 3 tahun lamanya bagi para murid bersekolah sampai tamat, maka sekolah di Larantuka sudah menamatkan 14 angkatan dan pada waktu itu barulah bayi Kartini menangis pertama kali di bumi Jawa.
Sementara itu, Dewi Sartika jauh lebih “adik” lagi. Dewi Sartika lahir pada 4 Desember 1884. Itu berarti setelah 22 tahun sekolah di Larantuka beroperasi, barulah Dewi Sartika dilahirkan ke dunia sebagai orang Sunda.
Goresan ide untuk mengenang Hari Pendidikan Katolik Keuskupan Larantuka ini, sebenarnya mau menegaskan satu hal. Bahwa umat Keuskupan Larantuka memiliki kebanggaan tersendiri. Umat Katolik patut bersyukur karena kegelapan “kebodohan/keliaran” yang melekat dalam diri setiap insan Lamaholot, sudah lama dihalau dan ‘disinari’ dengan kehadiran sekolah pertama di Larantuka, di mana pada tahun 2025 ini, genap berusia 163 tahun. Karya para misionaris ini akan selalu kita catat dengan tinta emas dalam sejarah Keuskupan Larantuka.
Untuk pelayanan misi di aneka bidang, terkhusus bidang pendidikan dan kesehatan di Keuskupan Larantuka, tidak dapat disangkal bahwa para misionarislah yang menjadi perintis. Misalnya, yang membuka sekolah-sekolah pertama di pelosok Flores Timur dan Lembata adalah para misionaris. Semua orang, termasuk Muslim dahulu, yang akhirnya menjadi orang hebat di kemudian hari dalam tataran lokal, bahkan nasional, sebagian besar menamatkan pendidikan SD atau SMP-nya di sekolah-sekolah misi (Sekolah Katolik).
Pelayanan kesehatan di Keuskupan Larantuka, sejak dahulu juga dirintis oleh misi, sebelum negara membangun fasilitasnya sendiri. Misalnya, rumah Sakit Bukit di Lewoleba, kabupaten Lembata, yang mempunyai moto ‘Sahabat Kehidupan’, sudah didirikan sejak tahun 1950-an dan RSUD Lewoleba baru dibangun pada tahun 2002 oleh Pemerintah Daerah Lembata. Sejak dahulu, semua pasien dari latar belakang manapun (bahkan dari pulau-pulau tetangga) datang mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Bukit.
Kembali ke Raden Ajeng Kartini dan Dewi Sartika di atas. Kata “Raden Ajeng” dan “Dewi” adalah gelar ningrat atau kebangsawanan yang menunjuk pada posisi tinggi dan terhormat. Keduanya mempunyai nama harum. Mereka terkenal dalam sejarah Indonesia sebagai pejuang emansipasi perempuan. Karena mereka berani berpikir sendiri, mereka bersekolah, belajar mengasah ketrampilan, gila membaca dan bergaul dengan banyak orang dari pelbagai kalangan, untuk membuka wawasannya.
Lebih dari itu, pergolakan sosial, politik dan kebudayaan di pusat, terkhusus budaya feodal lebih dirasakan di Jawa, sehingga mendorong kedua orang itu tampil “melawan arus” dan namanya terkenal di seantero Indonesia, bahkan dunia.
Karena itu, kita pun boleh berspekulasi bahwa, seandainya Larantuka adalah sebuah kota ibarat di Jawa dan pendidikan ditanamkan sejak 1862, disertai pergolakan sosial, ekonomi, politik, terutama budaya kerajaan di Lamaholot amat mengekang seperti di Jawa kala itu, maka dari Larantuka, kemungkinan telah tampil terlebih dahulu kakak-kakak dari Kartini dan Sartika yang melawan supremasi dan dominasi laki-laki Lamaholot.
Kakak-kakak itu tentu tampil dengan nama khas Lamaholot, misalnya: Katarina Bataona, Yohana Koten, Maria Kabelen, Petronela Maran, Martha Kelen, Agnes Da Silva, Anselma Hurint dan seterusnya. Bahkan ada juga nama-nama yang menunjukkan “darah biru” dari Portugis seperti: Emiliana Riberu, Yuliana Da Silva, Dominika de Ornay, Theresia da Costa, Emiliana Da Santo, Maria da Gomez, Patrisia Monteiro, dan seterusnya. Namun, budaya Lamaholot tidak ekstrem dalam hal dominasi laki-laki terhadap perempuan, sebab pihak perempuan biasa dijunjung tinggi juga dari segi adat.
Dalam konteks ini, R.A. Kartini dan Dewi Sartika adalah “kakak beradik” yang barusan belajar sebagai “adik” dari kakak-kakaknya di Larantuka yang terlebih dahulu menikmati pendidikan yang dikelola oleh orang-orang Barat.
Teriring Salam Pendidikan untuk umat Katolik di Keuskupan Larantuka. Dengan momentum Hari Pendidikan Keuskupan Larantuka ini, marilah kita bangkit berbenah diri, mengumpulkan energi, bersinergi dan berjuang memanusiakan manusia muda, di tempat kerja, dalam tugas dan pelayanan kita masing-masing.
************



