Oleh Kurniawan Junaedhie
Selama bertahun-tahun, Julia Utami, penulis buku ini, menulis di atas kereta yang tengah melaju. Di antara derak suara roda kereta dan hiruk pikuk penumpang yang berjejalan, diam-diam ia menulis banyak puisi, cerpen, haiku, dan beratus-ratus catatan kecil lainnya yang ditulisnya dengan jujur tentang apa yang dialami dan dirasakannya sebagai seorang perempuan, seorang ibu dan seorang guru.
Buku ini sesungguhnya sebuah buku kumpulan tulisan dan kiprah perjalanan seorang penulis yang di dunia sastra dijuluki ‘Si Penyair Kereta’, selama 10 tahun terakhir, yang diawali tanpa sengaja sejak 2016. Mulai dari menulis untuk mengusir jenuh di perjalanan, hingga akhirnya menemukan suara untuk mengobarkan semangat berliterasi di sekitarnya.
Selain menghimpun ratusan karya yang pernah dituliskannya, buku ini juga menghimpun aneka kliping dan foto yang mendokumentasikan perjalanan kepengarangannya selama ini sebagai seorang manusia yang tak pernah berhenti belajar.
Julia Utami memang dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Tapi ia tidak menulis untuk panggung besar. Ia menulis karena cinta: cinta pada kehidupannya, pada profesinya, dan pada keyakinan bahwa setiap orang berhak menulis kisahnya sendiri.
Buku ini pun diterbitkan dengan tujuan sederhana, mensyukuri usianya yang tahun ini genap berusia 54 tahun, pada 28 Mei 2026. Ia mensyukuri atas umur panjang, atas kesempatan, dan atas api kecil yang masih menyala untuk berbagi. Suatu tradisi self reward yang bukan kebetulan sudah dilakukannya selama ini pada setiap ulang tahunnya.
Buku ini kiranya mampu mengingatkan kita semua bahwa kisah besar sering lahir dari rutinitas kecil yang kita tekuni dengan cinta. Selamat ulang tahun, Bu Jul. Menulislah terus, selama dengan menulis engkau merasa hidup. Seperti ungkapan Latin cogito, ergo sum, ‘Aku berpikir, maka aku ada’ maka buku ini sangat tepat berjudul, Aku Menulis maka Aku Ada.





