
Oleh Julia Utami
Adakah yang belum pernah dengar ada seorang filsuf yang kalimat pendeknya Cogito ergo sum – Saya berpikir, maka saya ada? Pemikiran ini telah membuat banyak orang mengkloning ungkapan ini untuk berbagai hal. Contohnya judul buku saya ini, Aku Menulis, maka Aku Ada. Ya, beliau adalah filsuf Rene Descartes (1509-1650). Beliau tidak banyak meninggalkan karya tetapi banyak sumbangannya di bidang filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal itu masih terasa hingga sekarang.
Berbicara tentang menulis, rasanya perjalanan hidupku sangat berwarna. Sejak SD sering mengikuti lomba-lomba baca puisi di kecamatan, jarang menang tapi tak surutkan langkah. Saat di SMP N 1 Sukoharjo, Lampung menulis puisi di mading. Lanjut sekolah di SMA Xaverius Pringsewu. Kampus Sanata Dharma seperti memanggilku. Saya kuliah di Sanata Dharma untuk S1 dan lanjut ke S2 di UPH. Kesempatan studi ini dengan biaya penuh dari Yayasan Satya Bhakti. Saat duduk di kuliah itulah saya mencoba untuk beberapa kali menulis. Panggilan menulis ini, mungkin yang membuat saya memutuskan pindah jurusan saat kuliah. Sempat merasakan kuliah di Pendidikan Akuntansi Sanata Dharma pada tahun 1990 tapi tak merasa itu panggilanku. Ya, akhirnya saya memutuskan pindah jurusan ke Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Di sanalah hati saya berpuisi setiap hari.
Saat di kelas kuliah Apresiasi Sastra, ada pembahasan tentang cerpen “Orang-Orang Bloomington” karya Budi Darma. Salah satu cerpen berjudul OREZ. Saya menjawab OREZ adalah sebuah cerita omong kosong saja atau tak nyata. Kalau dibalik menjadi ZERO. Ternyata Pak Rahmanto bilang, “ Ternyata ada anak pinter di kelas ini.” Senanglah saya lalu semakin cinta sastra. Ditambah di semua mata kuliah Pak Alex Sudewa nilai saya A+. Dan saat itu beliau terkenal berikan nilai sampai F, kalau jawaban kita tak bunyi. Saat di semester 3 mengirimkan analisis cerpen Pelajaran Mengarang dari Kompas ke Seno Gumira Ajidarma (SGA). Dan dibalas. Lanjut proposal seminar, lanjut ajukan beasiswa skripsi kumpulan cerpen Saksi Mata dan lolos, dipanggil P Swantoro dan Daniel Dhakidae ke Kompas, lalu jumpa pertama kali dengan SGA (1996). Pak Dewa mengajak saya memborong semua buku SGA.
Setelah sekian lama lulus kuliah dan mengajar, tetiba hatiku terpanggil kembali menulis. Hal ini semakin subur karena ada undangan menulis dari banyak komunitas. Memang kiprah di jalan puisi baru dimulai awal Januari 2016 namun setiap tanggal 28 Mei bertepatan dengan ulang tahun saya akan ada buku baru saya. Semacam tradisi self reward, akan terbit satu buku baru untuk hadiahi diri sendiri. Buku ini karya tunggal bukan antologi bersama. Maka sudah ada 10-an buku karya tunggal saya.
Tahun ini tepat satu dasawarsa maka buku ini juga menandai 10 tahun saya menulis. Saya menulis banyak genre. Ada jenis puisi, pantun, haiku, tanka, karmina, akrostik, tatika, pentigraf, cerpen, novel, obituari, juga kritik sastra. Saat membaca kembali dan membukukan, di sana otomatis akan bermunculan nama-nama para pahlawan saya dalam dunia kepenulisan ini.
Pertama-tama pastilah nama guru menulis sekaligus komandan saya. Beliau adalah Mas Kurniawan Junaedhie (KJ). Mas KJ yang selalu membimbing dan mengajari banyak hal berkaitan dengan sastra, bahkan juga penerbitan. Lalu ada Mas Adri Darmadji Woko, Dokter Handrawan Nadesul, Prof. Prijono Tjiptoherijanto, bahkan sekarang saya bersama para beliau dalam Yayasan Dari Negeri Poci.
Awal sekali ada nama B Rahmanto (Alm.), Doktor Alex Sudewa (Alm), mereka dua dosen kebanggaan saya. Kemudian saya bertemu Bunda Dhenok Kristianti, Ibu Nana Ernawati, Nia Samsihono, Alexander Aur, Siwi Dwi Saputro, Windu Setyaningsih, Wikan Sawitri (Alm), Badri, Ezra Tuname, Paskalis Bataona, JB Kleden, Eka Budianta, Asrizal Nur, Eddy Pramduane, Remmy Novaris dan Riri Satria (dulu di DSJ), Kurnia Effendi, Frid Dacosta, Joko Pinurbo, Seno Gumira Ajidarma, dan juga Om Sutardji Calzoum Bachri. Terima kasih pada penyair Sapardi Djoko Damono melalui puisi-puisinya terutama “Aku Ingin”, menjadikan guru yang dikenal suka menyanyi. Kapan dan di mana pun, para alumni akan menyanyikan “Aku Ingin” begitu jumpa dengan saya. Mereka selalu memberi tahu saya kalau ada Jokpin, atau SDD di Mata Najwa, atau acara TV lainnya. Pak Maman S. Mahayana, Tengsoe Tjahjono, dan Ons Untoro juga berjasa pada saya. Salam untuk teman semua yang selalu menjadi sahabat dalam menulis bersama serta kumpul-kumpul. Tak cukup apabila semua didaftarkan. Itulah beberapa nama yang menjadi tolakan pertama kecemplung di sastra.
Sampai sekarang, saya tetap menulis karena saya ADA. Saya menulis terus maka saya ADA. Sebagai guru pun saya terus mendampingi anak-anak menulis. Banyak buku karya mereka sudah diterbitkan. Agar anak-anak mempunyai kecintaan membaca puisi mereka dapat melihat youtube saya. Secara usia tahun depan saya akan memasuki masa purnabakti, saya ingat kata Pramudya Ananta Toer, “Menulis adalah melukis keabadian”. MSaya boleh selesai tugas dari sekolah ini karena pensiun, tapi buku-buku saya yang berbicara di perpustakaan sekolah. Itu adalah warisan intelektual dan rasa cinta. Saya akan ada terus di sini melalui buku. Prinsip saya harus terus menulis dari rumah. Bersama Aksi Swadaya Menulis (ASMDR).
Terima kasih Tuhan, atas kasih-Mu aku dapat terus menulis. Terima kasih Bapakku Paulus Sukamdi dan Ibundaku Elisabeth Siti Rejeki. Terima kasih Mas Daniel Boli Kotan, anak Roseline Danelia Kotan, Victor Descartes Dalo Kotan. Bukan suatu kebetulan nama anakku ada Descartes-nya. Ada harapan yang masih impian, tapi telah dihayati anakku. Dia harus tahu siapa nama yang melekat dalam dirinya. Semoga semua akan baik-baik semua.
Terima kasih Suster Moekti Gondosasmito, OSU selaku Ketua II Yayasan Satya Bhakti, dan Miss Vina Agustin dan teman guru SMP Santa Ursula, Jakarta. Mas Kurniawan Junaedhie yang tak pernah lelah memberikan ilmu yang begitu kerennya untuk pemula seperti saya. Terima kasih Penerbit Kosa Kata Kita, dan juga semua anggota komunitas Aksi Swadaya Menulis dari Rumah (ASMDR) karena Anda semua saya dan Mas KJ tak pernah berhenti berpikir membuat tantangan baru menulis yang ajeg ada setahun minimal 3 kali terbitkan buku baru.
Dalam buku ini ada beberapa lampiran. Ada foto dan catatan media. Hal ini untuk jejak saja sudah 10 tahun sudah menulis serius. Setiap ulang tahun ada hasil karya berupa buku baru. Kadang terpikir untuk apa, nanti siapa yang mau membacanya. Dari semua pertanyaan itu, tempat terbaik untuk buku-buku baru adalah di pangkuan Anda. Buku ini dapat dinikmati sambil bersantai. Percayalah, sedikit banyak dari yang Anda baca akan menginspirasi Anda.
Sekian uneg-uneg saya, dan saya akan terus menulis. Kalau mulai lelah saya akan baca judul tulisan ini lagi. Niscaya semangat terbangun lagi. Saya menulis maka saya ada.







