• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Sabtu, Mei 30, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Komunitas Basis Gerejani dan Relevansinya dalam Tatanan Hidup Etnis Orang Lamalera

by Redaksi
Mei 30, 2026
in OPINI
0
Komunitas Basis Gerejani dan Relevansinya dalam Tatanan Hidup Etnis Orang Lamalera
0
SHARES
41
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh RP. Moses H. Beding, C.Ss.R.

 

 

Pendahuluan

 Tulisan di bawah ini bukanlah suatu telaah ilmiah sosiologis atau antropologis mengenai kehidupan orang-orang etnis Lamalera tetapi terlebih merupakan suatu refleksi pribadi dalam melihat kehidupan bergereja dan aspek pastoralnya di Lamalera. Refleksi pribadi ini timbul spontan dalam rangka menyambut pesta emas (50 tahun) P. Alex Beding, SVD dalam bulan Oktober 2001. Saya sendiri tidak berpretensi untuk mengklaim bahwa apa yang saya sajikan ini merupakan kebenaran yang perlu diikuti. Saya lebih mengharapkan satu permenungan lebih lanjut mengenai topik ini dari rekan-rekan yang mempunyai concern tentang kehidupan umat dan bergereja di Lamalera ke depan. Bahkan sangat saya harapkan satu dialog atau pembicaraan bersama tentang tema ini dalam kesempatan-kesempatan tertentu.

I

Salah satu trend yang sangat dominan mempengaruhi pola kehidupan modern, zaman teknologi, ialah mengagungkan ‘individu’ (individualisme). Dan rupanya ini tidak terlepas dari paham mentalitas Barat, yaitu “ich – Bewusstsein”, yaitu kesadaran akan “aku” atau diriku sendiri. Oleh sebab itu seluruh perjuangan untuk hidup terfokus pada sasaran ini. Sejauh perjuangan untuk menjamin kehidupan diri sendiri – terutama dalam bidang jasmani – tidak berdampak negatif dan merugikan orang lain atau masyarakat, maka hal itu wajar-wajar saja. “Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu” (Kej 3,19). Betapa enaknya menikmati hasil dari kerja keras dan keringat sendiri. Hasil yang diperoleh merupakan rahmat dan berkat dari Tuhan sendiri. Dalam menerimanya kita bersyukur kepada Tuhan dan dalam situasi seperti ini kita juga terdorong untuk bertenggang rasa dan memperhatikan orang-orang lain atau sesama kita.

Akan tetapi kalau demi “aku” yaitu ego-pribadi atau ego-kelompok, hasil kerja dan karya diperoleh secara tidak wajar, bahkan secara rakus dan serakah, maka jelas dampaknya ialah sesama atau masyarakat menjadi korban. Manusia lain sebagai sesama citra Allah direndahkan, bahkan diperkosa martabat dan haknya. Wujud kesatuan dan persatuan sebagai wujud kesatuan ciptaan Allah dengan demikian menjadi retak dan rusak. Gencarnya teknologi dapat mempersatukan umat manusia secara fisik dan geografis, namun sekaligus memecahbelahkan dan menjauhkan manusia satu daripada yang lain secara rohaniah dan batiniah. Hal ini nampak dan transparan dalam tatanan kehidupan manusia modern sekarang baik dalam skala nasional maupun internasional, yang diwarnai dengan peperangan, perselisihan, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain-lain. Semuanya ini bersumber dari ekses mengagung-agungkan ‘ego’ (aku).

Dunia Timur, yang lebih dikenal dengan pola hidupnya yaitu menekankan “Familien – Bewusstsein”, yaitu kesadaran hidup berkeluarga dan dalam keluarga, semakin hari semakin terpuruk dan digeser oleh individualisme tersebut di atas. Hal ini kelihatan jelas dalam tatanan hidup di kota-kota. Ikatan kekerabatan alamiah semakin digerogoti dan digeser oleh ikatan kelompok-kelompok artifisial. Ikatan kepentingan lahiriah atau materialistis lebih menonjol ketimbang emosional apalagi ikatan rohaniah. Ikatan kepentingan lahiriah misalnya: arisan, kegiatan-kegiatan berdasarkan hobi, kepentingan berdasarkan ideologi atau politik, yang secara insidentil bisa timbul dan bisa juga hilang atau bubar, tidak bisa bertahan lama karena tidak bertumpu di atas suatu dasar rohaniah. Pola hidup masyarakat gereja atau umat perdana dalam gereja semakin pudar atau bahkan hilang di banyak tempat dalam kemilau dan kecemerlangan hidup individualistis dan modern.

 

  1. Situasi kita pada umumnya

 

Gereja melihat dan menyadari semakin memudarnya makna kehidupan ini, maka akhir-akhir ini dikembangkan satu pola hidup kristiani, yang disebut Komunitas Basis Gerejani (KBG). Komunitas Basis adalah suatu cara menggereja yang baru (FABC 5,8) dan Paus Yohanes Paulus II menyebutnya “Jemaat-jemaat Gerejani” dan mengacunya sebagai “sebuah rumah tangga dan keluarga bagi siapapun juga” (FABC art. 85).

Lewat media massa (majalah, surat kabar, Radio, dan Televisi) kita mengetahui bahwa situasi politik dan ekonomi tidak menentu membawa keterpurukan hampir di semua dimensi kehidupan, yang mempunyai dampak penderitaan dan kesengsaraan rakyat berkepanjangan, ditambah lagi kerusuhan-kerusuhan yang secara sporadis terjadi di tanah air kita, yang menyebabkan teriakan dan tangisan berkepanjangan dan darah mengalir setiap hari. Hal-hal yang turut menambah keprihatinan kita semua, yang mencemaskan dan menggelisahkan ialah pencurian dan perampokan, perjudian dan kenakalan anak-anak muda dan remaja, beredarnya obat-obat terlarang dan video porno secara diam-diam dan semakin menjadi-jadi.

Berhadapan dengan situasi seperti ini, gereja dalam upaya karya keselamatannya, mau menghantar kita kembali ke basis keberadaan kita sebagai komunitas murid-murid Yesus (gereja).

Komunitas yang kita bangun merupakan komunitas yang mengambil bagian dalam visi dan misi Yesus. Oleh sebab itu pertanyaan, apa visi dan misi Yesus menjadi dasar refleksi komunitas dan sekaligus menjawab komunitas macam apa yang ingin kita bangun. Komunitas dengan orientasi ini diperkenalkan dengan nama Komunitas Basis Gerejani (KBG).

Dalam KBG kita ingin membangun kembali kebersamaan yang lebih manusiawi, damai, adil dan penuh cinta kasih. Kehidupan bersama seperti itulah yang dirindukan dan diperjuangkan oleh semua orang yang berkehendak baik. Oleh para Uskup se-Asia, kerinduan itu dirumuskan sebagai “kehidupan yang utuh dan bermartabat, kehidupan yang ditandai belaskasihan terhadap kaum miskin dan terlantar. Kehidupan dalam solidaritas dengan tiap bentuk kehidupan dan perhatian yang peka terhadap alam semesta.”

 

II. Relevansi KBG di Lamalera

 

Semua orang dipanggil untuk bersatu. Semua anggota adalah penting, semua kita dibutuhkan untuk membangun Tubuh Kristus menjadi penuh dan paripurna. Untuk mencapai tujuan ini KBG adalah salah satu dari sarana-sarana lain, jadi KBG bukanlah tujuan itu sendiri. Sarana menuju kesatuan dan persatuan dalam Kristus ini dianggap begitu penting dan berdaya lestari, sampai-sampai diangkat menjadi topik pembicaraan dan pergumulan dalam Pertemuan Sidang Raya Umat Katolik di tingkat nasional pada bulan November 2000. Hal-hal yang perlu diperhatikan ialah:

 

  1. KBG dibangun melalui dan dalam tetangga yang berdekatan.
  2. Setiap anggota Paroki dapat bergabung.
  3. KBG menghadirkan kembali Paroki (Gereja) di tempat tertentu.

 

Mencermati ciri-ciri KBG, maka sebenarnya banyak unsur secara alamiah telah dihayati dan dihidupi dalam tatanan hidup orang-orang Lamalera secara turun-temurun dari sononya, nenek-moyang, jadi jauh-jauh hari sebelum Gereja menyentuh peradaban etnis Lamalera ini.

 

  1. Membangun Umat Basis, yang menjadi trend pastoral Gereja dewasa ini, tidak lain mau menghidupkan kembali pola hidup umat Gereja perdana, di mana mereka selalu berkumpul bersama-sama untuk mendengarkan pewartaan para Rasul, memecahkan roti dan merayakan perjamuan kudus. “Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa” (Kis 2,42).

Di Lamalera ada kurang lebih 14 Suku (marga). Ada beberapa suku yang sudah punah (karena habis anggotanya) dan ada satu-dua Suku kecil menggabungkan diri pada Suku yang lebih besar. Suku ini adalah perekat, yang mempersatukan dan menggabungkan keluarga-keluarga kecil. Setiap anggota dalam Suku secara emosional merasa diri terikat satu sama lain dalam segala tingkah laku tradisional, dan adat istiadat warisan turun temurun, yang dianggap sebagai tabu, kalau melanggarnya. Segala kepentingan dalam Suku adalah kepentingan bersama, demikianpun segala permasalahannya. Ini bukanlah suatu persatuan artifisial, yang baru dibuat-buat, tetapi secara alamiah dihidupi berabad-abad lamanya, sejak nenek-moyang orang Lamalera menjelajah lautan lepas sejak dari daerah di Kerajaan Luwuk-Sulawesi Selatan, berputar-putar di kepulauan Maluku, kemudian menyisir pantai Selatan Lembata (Lomblen) dan akhirnya singgah dan menetap di Lamalera.

Keberadaan seseorang merupakan ritus hidup dalam Suku, sejak kelahirannya, sepanjang hidupnya sampai kematiannya. Peristiwa-peristiwa penting dalam hidup: kelahiran, urusan perkawinan, dan kematian dan hal-hal lain yang terkait mempunyai agenda seremonial dalam Suku, yaitu Lango Béla atau rumah Adat. Dalam rumah Adat (Lango Béla) ini diurus segala sesuatu, yang menyangkut selamat atau tidak selamatnya seseorang anggota.

Unsur perekat persatuan dan kesatuan dalam suku padanan dengan Lango Béla ialah Téna Laja (peledang dan peralatan-peralatannya). Inilah sarana utama dalam mempertahankan asap di dapur. Téna Laja ini harus dijaga dan dirawat dengan penuh tanggungjawab sesuai dengan ketentuan tatanan aturan yang sudah diwariskan dalam tradisi. Seperti halnya “Lango Béla”, “Téna Laja” juga mengandung unsur magis dan mistis. Pembuatannya sejak proses awal sampai turun ke laut harus ditaati dengan cermat sampai pada tatacara seremonial yang berkaitan dengan selesainya setiap tahapan. Setiap pelanggaran atau penyelewengan dari ketentuan akan mendatangkan musibah atau kegagalan mendapat hasil di laut. Setiap anggota mempunyai saham pada Téna Laja, sesuai dengan kedudukannya dan andilnya dalam suku.

 

  1. Menjamin hak dan kewajiban membutuhkan keadilan bagi setiap warga suku. “Janganlah menahan kebaikan daripada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melaksanakannya” (Amsal 3,27).

Lango Béla dan Téna Laja adalah perangkat-perangkat yang mempersatukan dan mengikat semua anggota marga/suku. Tanpa diajak dan diajar untuk bersatu dalam persaudaraan dan kekerabatan dalam suku, masing-masing anggota sejak lahir merasa memiliki Lango Béla dan Téna Laja. Biasanya setiap suku memiliki satu Lango Béla dan satu Téna Laja. Suku-suku yang besar memiliki lebih dari satu. Otoritas dalam suku ialah Kepala Suku, yang sekaligus mewarisi Lango Béla secara turun-temurun dan bertanggung jawab atas Téna Laja. Dalam Lango Béla ada satu tempat/bilik khusus, tempat menyimpan peralatan peledang (alat-alat khusus, seperti Leo), selama bulan-bulan peledang turun ke laut. Ruang ini dianggap agak sakral, tidak boleh diperlakukan sembarangan.

Bagaimana setiap anggota diperlakukan secara adil, dapat dilihat dari cara membagi-bagi hasil penangkapan dari lefa, terutama ikan-ikan besar seperti ikan Paus, ikan Pari, dll. Bentuk dan besar kecilnya bagian ikan yang dibelah dan dibagi sesuai dengan format yang telah digariskan secara tradisional turun-temurun dan tidak boleh dirombak. Sanksinya adalah kutukan atau kabueng. Pantai di mana ikan-ikan itu dibelah dan dipotong-potong untuk para awak peledang meng serta “blapalolo”, tempat di mana ikan dibagi-bagi kepada para anggota suku yang mempunyai saham dan andil pada peledang suku, menurut hemat saya adalah tempat “ibadah”. Betapa tidak! Di situlah keadilan dipertaruhkan. Hati nurani mulai mengajukan pada orang-orang yang bertanggung jawab atas pembagian ikan di pantai, di bawah bangsal peledang atau di atas blapalolé. Sedikit saja keadilan melenceng, timbullah pertengkaran dan perselisihan. Dan kalau terjadi hal demikian, maka semua orang sudah tahu, pasti peledang dari suku yang bersangkutan akan mengalami malapetaka atau musibah di laut, kutukan  (kebueng). Dan untuk kembali normal, harus diadakan ritus pemulihan antara pihak-pihak tertentu dan terkait di Lango Béla. Otoritas kepala sukulah yang mengatur semuanya ini. Dan semua anggota suku secara penuh lahir batin merasa terlibat dalam proses atau dalam ritus pemulihan ini.

  1. Unsur-unsur penting untuk membangun Umat Basis, sebenarnya sudah ada dan telah dihidupi oleh orang-orang etnis Lamalera secara turun-temurun jauh-jauh hari sebelum KBG dikumandangkan. KBG adalah suatu produk model pastoral yang asal mulanya dikembangkan di Amerika Selatan sesuai dengan kondisi yang ada di sana, dan sekarang menyebar sampai di Indonesia. Tetapi perlu diingat, bahwa KBG mengandaikan bahwa umat di suatu paroki adalah umat heterogen, yang berasal dari berbagai jenis etnis dari luar daerah dan kebetulan bertemu dan berkumpul hidup bersama-sama di suatu tempat/paroki karena mencari kerja, menjalankan tugas atau alasan-alasan lain. Umat heterogen semacam itu biasanya terdapat dalam paroki-paroki di kota-kota. Untuk kelompok-kelompok ini gereja harus mencari suatu pola pastoral untuk mengumpulkan dan mempersatukan mereka dalam ikatan cinta kasih sesuai dengan visi dan misi Yesus Kristus. Sedangkan umat di Paroki Lamalera adalah umat eksklusif, tidak ada campuran dengan umat dari etnis lain dari luar.

Tatanan hidupnya sudah dipolakan secara tradisional turun-temurun menyangkut kesejahteraan rohani dan jasmani. Dalam kondisi ini rasanya kedodoran, kalau KBG dipaksakan untuk dilaksanakan atau dikembangkan di Lamalera. Menurut hemat Saya KBG sebagai wadah pastoral di Lamalera adalah Suku. Tinggal saja para pastor dan agen-agen pastoral memolesnya untuk mencapai apa yang dicita-citakan bersama, ialah keselamatan rohani dan jasmani dalam Kerajaan Allah.

  1. KBG bukanlah tujuan, melainkan hanyalah satu sarana di antara banyak sarana yang lain. Pertanyaan Saya: Mengapa Suku, satu sarana atau wadah yang sudah mapan untuk orang-orang Lamalera tidak diandalkan dan didayagunakan dalam karya pastoral Gereja? Mengapa para Kepala Suku tidak dikumpulkan dan dilibatkan dalam Dewan Pastoral Paroki? Mungkin ada di antara mereka tidak sekolah atau bahkan buta huruf, akan tetapi otoritasnya pada umat “akar-rumput” perlu diperhitungkan. Mengapa Lango bela (rumah induk suku) tidak dijadikan tempat resmi untuk berdoa bagi keluarga-keluarga dalam suku, ketimbang Umat Basis yang artifisial (dibuat dan harap tidak ‘dibuat-buat’?), misalnya: Umat Basis Kalimati yang berkumpul untuk berdoa adalah sebagian umat dari Suku Bediona, sebagian dari Bataona, dll, yang berpindah-pindah dari rumah ke rumah dalam doa bergilir?

 

Penutup

Para misionaris dan para pionir sejak zaman Yesuit sampai SVD zamannya P. B. Bode, SVD dan P. Bruno Phel, SVD, sungguh mempunyai intuisi pastoral yang tajam dengan tetap melestarikan Suku dan mendayagunakannya dalam reksa pastoral Gereja. P. Bode bahkan secara berani dan tegas mengkristenkan proses dan tatacara Ola Nué, mulai dari awal persiapan turun ke laut pada masa lefa Nué, yang diawali dengan upacara pembersihan diri secara ritual adat di Lango Béla (rumah besar), maupun secara agama dengan Misa atau ibadah bersama di pinggir pantai. Dia juga mengkristenkan semua kegiatan di laut baik sebelum penangkapan, maupun setelah penangkapan ikan hingga kembali ke darat. Dan sampai kepada pembagian hasil penangkapan. Pater Bode-lah yang memberi nama pada peledang-peledang dengan nama-nama kristen dalam bahasa Latin, umpamanya: peledang Sta. Rosa, In Nomine Tuo, dst.

Sementara gema KBG semakin kuat mengumandang, saya mendengar tentang lonceng tua di atas bubungan – Lango Bela – suara panggilan: marilah bersatu dalam Suku – marilah bersatu dalam Umat Paroki – marilah bersatu dalam AKU!

—————————-

 

ShareTweetSend

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Presiden Jokowi Intensifkan Perbaikan Sistem Perizinan dan Investasi

Presiden Jokowi Intensifkan Perbaikan Sistem Perizinan dan Investasi

7 tahun ago
Filsuf Ternama JÜRGEN HABERMAS Meninggal Dunia Pada Usia 96 Tahun

Filsuf Ternama JÜRGEN HABERMAS Meninggal Dunia Pada Usia 96 Tahun

3 bulan ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In