Oleh Waleed Ahmad Loun, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Ketika orang membicarakan Heer Ranjha, biasanya mereka menyebutnya sebagai kisah cinta tragis dari Punjab. Di Pakistan, nama Heer dan Ranjha hampir selalu disandingkan dengan Romeo dan Juliet. Mereka menjadi simbol cinta yang tidak dapat bersatu karena berbagai rintangan. Selama bertahun-tahun, kisah ini dikenang sebagai cerita tentang dua insan yang saling mencintai tetapi gagal memperoleh akhir yang bahagia.
Namun semakin saya memikirkan kisah itu, semakin saya merasa bahwa cara tersebut terlalu menyederhanakan tragedi yang sebenarnya terjadi.
Sebagai mahasiswa Pakistan yang belajar sastra di Indonesia, saya sering menemukan bahwa karya-karya klasik memiliki kecenderungan untuk dibaca secara romantis. Kita terpesona oleh kisah cintanya, lalu berhenti di sana. Padahal, di balik cerita cinta sering tersembunyi persoalan sosial yang jauh lebih besar. Hal itulah yang saya rasakan ketika membaca kembali kisah Heer dan Ranjha.
Sekilas, konflik utama dalam cerita ini tampak sederhana. Heer dan Ranjha saling mencintai, tetapi hubungan mereka ditolak oleh keluarga dan masyarakat. Heer kemudian dipaksa menikah dengan laki-laki lain. Berbagai upaya untuk mempersatukan keduanya berakhir sia-sia hingga akhirnya kisah tersebut ditutup dengan kematian yang tragis.
Jika dibaca secara sepintas, kita mungkin menyimpulkan bahwa Heer menderita karena tidak bisa bersama dengan orang yang dicintainya. Akan tetapi, penjelasan itu terasa kurang memadai. Banyak kisah cinta berakhir gagal, tetapi tidak semuanya berubah menjadi tragedi sebesar Heer Ranjha. Ada sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar patah hati.
Menurut saya, penderitaan Heer sebenarnya bermula dari kenyataan bahwa ia tidak pernah benar-benar memiliki kuasa atas hidupnya sendiri. Sejak awal, pilihan-pilihan penting dalam hidupnya ditentukan oleh orang lain. Keluarga merasa berhak menentukan dengan siapa ia harus menikah. Masyarakat merasa berhak menilai bagaimana seorang perempuan harus bertindak. Bahkan kebahagiaan pribadinya harus tunduk pada apa yang dianggap sebagai kepentingan keluarga dan kehormatan sosial.
Di sinilah kisah Heer menjadi lebih menarik untuk dibaca. Tragedi yang dialaminya bukan hanya tragedi seorang kekasih, melainkan juga tragedi seorang perempuan yang hidup dalam sistem yang membatasi kebebasannya.
Sosiolog perdamaian Johan Galtung pernah mengingatkan bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk pukulan, darah, atau tindakan fisik yang mudah dikenali. Ada pula kekerasan yang tersembunyi dalam aturan, kebiasaan, dan cara pandang masyarakat. Gagasan ini membantu saya melihat Heer Ranjha dari sudut yang berbeda. Jika menggunakan kacamata tersebut, penderitaan Heer tidak hanya berasal dari tindakan individu tertentu, tetapi juga dari lingkungan sosial yang membuat penderitaan itu menjadi mungkin.
Dalam cerita, tidak ada penjara yang mengurung Heer. Tidak ada rantai yang membatasi langkahnya. Namun kebebasannya tetap terenggut. Ia hidup di tengah masyarakat yang menganggap kehormatan keluarga lebih penting daripada kehendak seorang perempuan. Keinginannya untuk menentukan masa depan sendiri dianggap tidak sepenting kepentingan kolektif keluarga. Dalam kondisi seperti itu, pilihan yang tersedia baginya menjadi sangat terbatas.
Yang membuat situasi ini semakin tragis adalah kenyataan bahwa banyak orang di sekeliling Heer menganggap keadaan tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Tidak ada yang melihatnya sebagai ketidakadilan. Justru karena tradisi dan norma sosial telah diterima begitu lama, pembatasan terhadap perempuan dianggap sebagai bagian normal dari kehidupan. Dengan kata lain, penderitaan Heer tidak muncul karena satu orang jahat semata, melainkan karena seluruh sistemsosial ikut mendukungnya.
Hal ini membuat saya teringat pada berbagai diskusi tentang posisi perempuan yang masih berlangsung hingga sekarang. Meskipun masyarakat telah berubah dan zaman telah berganti, tekanan sosial terhadap perempuan belum sepenuhnya hilang. Dalam berbagai bentuk, masih ada perempuan yang menghadapi tuntutan untuk mengorbankan keinginan pribadinya demi keluarga, komunitas, atau norma yang berlaku. Bentuknya mungkin berbeda dari masa Heer, tetapi logika yang mendasarinya sering kali masih serupa.
Karena itu, saya merasa Heer Ranjha tetap relevan untuk dibaca pada masa kini. Kisah ini tidak hanya berbicara tentang cinta, tetapi juga tentang kebebasan, pilihan, dan hak seseorang untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Tragedi yang dialami Heer mengajak pembaca untuk mempertanyakan sejauh mana masyarakat berhak mengatur kehidupan individu, terutama kehidupan perempuan.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu melihat Heer secara berbeda. Selama ini ia sering dikenang sebagai perempuan yang kehilangan kekasihnya. Padahal, yang lebih dahulu hilang darinya adalah kebebasan untuk memilih. Dan ketika seseorang tidak lagi memiliki hak untuk menentukan hidupnya sendiri, tragedi sebenarnya telah dimulai jauh sebelum kisah cinta itu berakhir.



