Oleh Aurelia Keyodia, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma- Yogyakarta
Karya sastra lahir dari proses perenungan dan penghayatan pengarang terhadap berbagai pengalaman kehidupan. Melalui karya sastra, seorang pengarang tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga menciptakan keindahan melalui pengolahan bahasa. Keindahan tersebut dikenal sebagai nilai estetis. Salah satu bentuk karya sastra yang kaya akan nilai estetis ialah puisi.
Dalam puisi, bunga sering diasosiasikan dengan cinta, hujan dengan kerinduan, dan langit dengan harapan. Namun, Sapardi Djoko Damono justru memilih sebilah pisau sebagai pusat puisinya. Benda yang identik dengan ketajaman dan luka itu tiba-tiba tampil seolah memiliki kesadaran dan kemampuan untuk menatap.
Di titik inilah puisi Mata Pisau menghadirkan pengalaman yang ganjil bagi pembaca. Pisau tidak lagi hadir sebagai alat yang digunakan manusia, melainkan sebagai subjek yang memperoleh peran dan kehidupan di dalam teks. Akibatnya, pembaca tidak dapat memaknai pisau secara otomatis sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari.
Keanehan tersebut dapat dibaca melalui perspektif Formalisme Rusia, sebuah pendekatan sastra yang menempatkan karya sebagai pusat perhatian. Berbeda dengan pendekatan yang menekankan biografi pengarang, sejarah, atau kondisi sosial, Formalisme Rusia memusatkan perhatian pada cara bahasa bekerja di dalam teks. Salah satu tokohnya, Viktor Shklovsky, memperkenalkan konsep ostranenie atau defamiliarisasi, yakni teknik yang membuat sesuatu yang akrab menjadi terasa asing sehingga pembaca dapat melihatnya kembali dengan kesadaran baru.
Deotomatisasi dan Personifikasi Pisau
Gagasan Shklovsky tampak jelas dalam puisi Mata Pisau. Sapardi tidak menghadirkan pisau sebagai benda mati, melainkan sebagai sesuatu yang mampu mengamati, merasakan, bahkan seolah memiliki kesadaran. Personifikasi tersebut menciptakan jarak antara makna sehari-hari dan makna puitik. Pisau tidak lagi dipahami sebagai alat untuk memotong atau mengiris, melainkan sebagai objek yang memperoleh identitas baru melalui bahasa.
Keanehan itu mulai terasa sejak larik pertama Mata pisau itu tak berkejap menatapmu kalimat tersebut langsung menggeser posisi pisau dari benda biasa menjadi sosok yang tampak hidup. Pisau tidak lagi berada di tangan manusia sebagai alat, tetapi justru tampil sebagai pihak yang mengawasi. Pembaca pun dihadapkan pada situasi yang tidak lazim karena mata pisau yang menatap merupakan sesuatu yang mustahil dalam logika sehari-hari.
Efek asing tersebut semakin kuat ketika puisi bergerak ke larik berikutnya. Tokoh kau tampak memandang pisau sebagaimana mestinya: benda tajam yang digunakan untuk mengiris apel setelah makan malam. Situasi ini terasa sederhana dan akrab. Namun, ketenangan itu segera berubah ketika Sapardi menuliskan, “Ia berkilat ketika terbayang urat lehermu.” Dalam sekejap, suasana yang semula biasa berubah menjadi tegang. Pisau tidak lagi hadir sebagai alat rumah tangga, melainkan sebagai objek yang menyimpan kemungkinan ancaman.
Pergeseran Makna dan Efek Keasingan
Keasingan dalam puisi ini tidak hanya muncul melalui personifikasi pisau, tetapi juga melalui susunan peristiwa yang dibangun pengarang. Pada awalnya, pembaca diperlihatkan aktivitas sehari-hari yang sangat biasa: mengasah pisau untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja makan. Gambaran tersebut menghadirkan suasana yang tenang dan dekat dengan pengalaman keseharian.
Namun, suasana itu perlahan bergeser ketika pisau dikaitkan dengan bayangan urat leher manusia. Perubahan dari apel menuju urat leher menjadi bagian penting dalam pembentukan efek puitik. Kedua objek tersebut sama-sama dapat diiris oleh pisau, tetapi keduanya menghasilkan kesan yang sangat berbeda. Apel merepresentasikan sesuatu yang wajar dan tidak berbahaya, sedangkan urat leher menghadirkan kesan rapuh, rentan, sekaligus mengerikan.
Melalui pergeseran tersebut, Sapardi menciptakan ketegangan tanpa perlu menghadirkan tindakan kekerasan secara langsung. Tidak ada adegan penyerangan ataupun tragedi yang benar-benar terjadi. Yang hadir hanyalah sebuah bayangan. Kata terbayang menjadi penanda bahwa seluruh ketegangan dalam puisi berlangsung di wilayah kemungkinan. Akan tetapi, justru karena hanya berupa kemungkinan, puisi ini membuka ruang tafsir yang luas bagi pembaca.
Ketegangan dalam puisi lahir bukan dari peristiwa yang terjadi, melainkan dari imajinasi yang dibangkitkan oleh bahasa. Pembaca tidak diarahkan pada satu makna tunggal, melainkan diajak mengalami sendiri perubahan suasana yang berlangsung di dalam teks.
Bahasa Puitik sebagai Sarana Defamiliarisasi
Kesederhanaan bahasa yang digunakan Sapardi justru menjadi kekuatan utama puisi ini. Mata Pisau tidak dipenuhi metafora yang rumit ataupun larik-larik yang panjang. Sebaliknya, puisi ini dibangun melalui pilihan kata yang sederhana, tetapi mampu menghasilkan efek yang mendalam.
Dalam perspektif Formalisme Rusia, kekuatan sastra tidak terletak pada apa yang dikatakan, melainkan pada bagaimana sesuatu dikatakan. Sapardi menunjukkan bahwa benda yang paling dekat dengan kehidupan manusia pun dapat berubah menjadi asing ketika ditempatkan dalam struktur bahasa yang puitik. Pisau yang sehari-hari digunakan untuk membantu pekerjaan rumah tangga berubah menjadi objek yang penuh ketegangan, kemungkinan, dan makna.
Melalui proses tersebut, pembaca dipaksa untuk menghentikan cara pandang yang otomatis. Pisau tidak lagi sekadar dipahami sebagai benda, tetapi sebagai pengalaman estetik yang mengundang perenungan. Dengan kata lain, bahasa dalam puisi ini tidak hanya menggambarkan realitas, melainkan juga membentuk cara baru untuk melihat realitas itu sendiri.
Penutup
Melalui puisi Mata Pisau, Sapardi Djoko Damono memperlihatkan bagaimana bahasa sastra mampu mengubah sesuatu yang biasa menjadi luar biasa. Sebilah pisau yang dalam kehidupan sehari-hari tampak sederhana dihadirkan sebagai objek yang mampu menatap, membayangkan, dan menghadirkan ketegangan. Dengan memanfaatkan teknik defamiliarisasi, Sapardi membuat pembaca tidak lagi memandang pisau secara otomatis, melainkan melihatnya kembali sebagai sesuatu yang asing dan penuh kemungkinan makna.
Dalam kerangka Formalisme Rusia, kekuatan puisi ini tidak terletak pada pesan yang disampaikan secara langsung, melainkan pada cara bahasa bekerja menciptakan pengalaman membaca. Pada akhirnya, Mata Pisau menunjukkan bahwa sastra memiliki kemampuan untuk menghidupkan kembali perhatian manusia terhadap hal-hal yang selama ini dianggap biasa. Sebilah pisau yang akrab di atas meja makan berubah menjadi cermin yang memantulkan kembali cara manusia memandang dunia di sekitarnya.
