Oleh SangGi, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Bagi banyak orang, Korea Selatan adalah simbol modernitas. Negara ini dikenal melalui K-Pop, drama Korea, film-film berkualitas, dan teknologi yang berkembang sangat pesat. Setiap tahun jutaan orang menikmati budaya Korea, belajar bahasanya, bahkan bermimpi untuk berkunjung atau tinggal di sana. Di mata dunia, Korea Selatan tampak sebagai negara yang maju dan penuh peluang.
Namun, seperti halnya negara lain, di balik kemajuan tersebut masih terdapat berbagai persoalan sosial yang tidak selalu terlihat. Salah satu isu yang cukup sering menjadi perhatian adalah kekerasan terhadap perempuan.
Ketika mendengar kata “kekerasan”, kebanyakan orang langsung membayangkan tindakan fisik seperti pemukulan atau pelecehan seksual. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Kekerasan terhadap perempuan dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan dalam hubungan pacaran, pelecehan seksual di tempat kerja, hingga kejahatan digital yang semakin berkembang seiring kemajuan teknologi.
Korea Selatan menjadi salah satu negara yang cukup sering dibicarakan terkait kejahatan digital terhadap perempuan. Salah satu contohnya adalah kasus molka, yaitu tindakan merekam seseorang secara diam-diam menggunakan kamera tersembunyi di toilet umum, ruang ganti, atau tempat lainnya. Rekaman tersebut kemudian disebarkan melalui internet tanpa persetujuan korban. Meskipun pemerintah telah memperketat hukuman bagi pelaku, kasus seperti ini tetap menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat, terutama perempuan.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan meningkatnya rasa aman. Sebuah negara bisa memiliki internet tercepat dan industri digital yang sangat maju, tetapi masih menghadapi persoalan mendasar mengenai perlindungan terhadap hak-hak perempuan.
Selain kejahatan digital, perempuan di Korea Selatan juga masih menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungan kerja, misalnya, masih ada perempuan yang merasa harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama dengan rekan laki-lakinya. Sebagian perempuan juga menghadapi tekanan sosial untuk memilih antara membangun karier atau berfokus pada keluarga setelah menikah.
Tekanan tersebut sering kali dianggap sebagai sesuatu yang biasa karena sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat. Bahkan, ketika terjadi kasus pelecehan atau kekerasan seksual, tidak jarang perhatian publik justru tertuju pada korban. Pertanyaan seperti, “Mengapa ia berada di tempat itu?” atau “Mengapa ia tidak melawan?” masih sering muncul dalam berbagai diskusi. Tanpa disadari, cara berpikir seperti ini membuat korban merasa takut untuk berbicara.
Di sinilah kita mulai menyadari bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya tentang tindakan seseorang terhadap orang lain. Ada faktor-faktor yang lebih luas yang ikut membentuk kondisi tersebut. Nilai-nilai sosial, kebiasaan, hingga cara masyarakat memandang peran laki-laki dan perempuan dapat memengaruhi bagaimana sebuah kasus dipahami dan diselesaikan.
Dalam pandangan Johan Galtung, kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat. Kadang-kadang, kekerasan juga hidup dalam struktur sosial dan budaya yang membuat ketidakadilan terus berlangsung. Perspektif ini membantu kita melihat bahwa persoalan kekerasan terhadap perempuan tidak cukup dipahami hanya dengan mencari siapa pelaku dan siapa korban, tetapi juga dengan melihat lingkungan yang memungkinkan kekerasan itu terus terjadi.
Meski demikian, Korea Selatan juga menunjukkan berbagai perubahan positif. Banyak anak muda mulai lebih terbuka membicarakan isu kesetaraan gender. Media sosial menjadi ruang bagi korban untuk berbagi cerita dan mendapatkan dukungan. Organisasi masyarakat sipil dan berbagai komunitas juga terus menyuarakan pentingnya menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan.
Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tidak tinggal diam. Kesadaran bahwa perempuan berhak hidup tanpa rasa takut semakin berkembang, terutama di kalangan generasi muda. Mereka mulai mempertanyakan norma-norma lama yang dianggap tidak lagi sesuai dengan nilai kesetaraan.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah negara tidak hanya diukur dari besarnya ekonomi atau populernya budaya yang dimiliki. Kemajuan juga dapat dilihat dari bagaimana negara tersebut mampu melindungi setiap warganya dan memberikan rasa aman tanpa memandang jenis kelamin.
Korea Selatan telah membuktikan bahwa sebuah negara dapat berkembang dengan sangat cepat. Namun, perjalanan menuju masyarakat yang benar-benar adil dan setara masih terus berlangsung. Kekerasan terhadap perempuan mengingatkan kita bahwa pembangunan bukan hanya soal teknologi dan infrastruktur, tetapi juga tentang membangun budaya yang menghargai martabat manusia.
Karena pada akhirnya, sebuah masyarakat yang maju bukanlah masyarakat yang hanya mampu menciptakan hiburan terbaik atau teknologi tercanggih, melainkan masyarakat yang memastikan setiap orang dapat menjalani hidupnya tanpa rasa takut




