Oleh Alfina Shalsa Damayanti, MahasiswinSastra Indonesia – Universitas Sanata Dharma Yogyakarta
Sastra tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai ruang representasi berbagai realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Melalui karya sastra, pembaca dapat melihat bagaimana relasi kuasa seperti ketimpangan sosial, dan praktik diskriminasi bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu karya yang menampilkan realitas tersebut adalah cerpen Mata yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari.
Cerpen ini mengisahkan seorang perempuan muda penyandang disabilitas yang hidup dalam kemiskinan dan menjadi bagian dari kelompok pengemis jalanan. Tokoh perempuan tersebut tidak hanya menghadapi keterbatasan fisik, tetapi juga menjadi objek tatapan, belas kasihan, bahkan eksploitasi oleh orang-orang di sekitarnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ia berada pada posisi sebagai liyan (the other), yakni kelompok yang dipandang berbeda dan ditempatkan di luar pusat kekuasaan sosial.
Esai ini bertujuan menganalisis bentuk-bentuk kekerasan yang dialami tokoh perempuan dalam cerpen menggunakan teori kekerasan Johan Galtung dan teori interseksionalitas Kimberle Crenshaw. Analisis ini penting untuk menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui struktur sosial dan budaya yang menempatkan individu tertentu pada posisi yang rentan.
Liyan dan Posisi Marginal Tokoh Perempuan
Konsep liyan merujuk pada individu atau kelompok yang dianggap berbeda dari kelompok dominan sehingga mengalami marginalisasi. Dalam cerpen Mata yang Enak Dipandang, tokoh perempuan berada dalam posisi liyan karena beberapa identitas yang melekat padanya. Ia adalah perempuan, penyandang disabilitas, dan berasal dari kelompok miskin.
Keberadaan tokoh tersebut tidak dipandang sebagai manusia yang memiliki martabat setara, melainkan sebagai objek yang menarik perhatian publik karena kondisi fisiknya. Bahkan judul cerpen, Mata yang Enak Dipandang, mengandung ironi karena tubuh perempuan tersebut menjadi komoditas visual yang mendatangkan keuntungan bagi pihak lain. Dengan demikian, identitasnya direduksi menjadi objek tatapan, bukan sebagai subjek yang memiliki hak dan suara.
Posisi sebagai liyan membuat tokoh perempuan kehilangan kesempatan untuk memperoleh perlakuan yang adil. Ia tidak memiliki akses terhadap pendidikan, pekerjaan yang layak, maupun perlindungan sosial yang memadai. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat secara tidak langsung menciptakan jarak antara kelompok dominan dan kelompok marginal.
Analisis Semiotika Budaya: Sistem Tanda dan Representasi Liyan
Analisis semiotika terhadap cerpen ini menunjukkan bagaimana tanda-tanda yang hadir dalam cerita bekerja secara berlapis untuk mengkonstruksi tokoh perempuan sebagai liyan. Setiap tanda memiliki makna denotatif, konotatif, hingga mitis yang mencerminkan ideologi dan relasi kuasa dalam masyarakat.
Tanda pertama yang paling dominan adalah mata, sebagaimana tercermin dalam judul cerpen. Secara denotatif, mata merupakan alat penglihatan manusia. Akan tetapi, pada tingkat konotatif, mata merepresentasikan cara masyarakat memandang individu yang berbeda. Tokoh perempuan dalam cerita tidak dipandang sebagai manusia yang memiliki identitas, kehendak, dan martabat, melainkan sebagai objek yang menarik perhatian publik karena kondisi fisiknya. Melalui simbol mata, Ahmad Tohari menunjukkan adanya relasi kuasa antara pihak yang melihat dan pihak yang dilihat. Tatapan masyarakat menjadikan tokoh perempuan sebagai objek konsumsi visual yang terus-menerus dinilai dan dihakimi berdasarkan kondisi tubuhnya.
Pada tingkat mitos budaya, simbol mata mengungkap keyakinan sosial bahwa penyandang disabilitas identik dengan kelemahan dan ketergantungan. Mitos ini kemudian melahirkan praktik-praktik diskriminatif yang diterima sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, simbol mata tidak hanya menunjukkan aktivitas melihat, tetapi juga mengandung makna ideologis mengenai cara masyarakat mengonstruksi kelompok rentan sebagai liyan.
Tanda kedua adalah tubuh penyandang disabilitas yang dimiliki tokoh perempuan. Secara denotatif, tubuh tersebut menunjukkan adanya keterbatasan fisik. Namun secara konotatif, tubuh itu menjadi simbol ketidakberdayaan sosial yang terus-menerus dimanfaatkan oleh lingkungan sekitarnya. Dalam cerita, kondisi fisik tokoh perempuan dijadikan sarana untuk memperoleh simpati dan belas kasihan dari masyarakat. Tubuhnya tidak lagi dipandang sebagai bagian dari identitas manusia yang utuh, melainkan sebagai komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Makna budaya yang muncul dari tanda ini menunjukkan bagaimana masyarakat sering mengonstruksi penyandang disabilitas sebagai objek belas kasihan, konstruksi yang memperkuat posisi mereka sebagai kelompok subordinat yang dianggap tidak memiliki kemampuan untuk menentukan hidupnya sendiri.
Selain tubuh, aktivitas mengemis juga menjadi tanda penting dalam cerpen. Pada tataran denotatif, mengemis merupakan kegiatan meminta uang atau bantuan kepada orang lain. Akan tetapi, secara konotatif aktivitas tersebut merepresentasikan kemiskinan, ketidakberdayaan, dan keterbatasan akses terhadap sumber daya sosial. Kehadiran pengemis dalam ruang publik menunjukkan adanya kelompok masyarakat yang tersingkir dari sistem ekonomi yang berlaku. Pada tingkat mitos, kemiskinan sering dipahami sebagai akibat dari kegagalan individu semata. Cara pandang tersebut menutupi fakta bahwa kemiskinan seringkali merupakan hasil dari ketimpangan sosial yang berlangsung secara sistematis. Melalui tanda mengemis, Ahmad Tohari memperlihatkan bahwa masyarakat lebih mudah memberikan belas kasihan sesaat daripada mempertanyakan struktur sosial yang menyebabkan kemiskinan terus berlangsung.
Tanda berikutnya adalah jalan raya sebagai latar utama cerita. Secara denotatif, jalan raya merupakan ruang publik yang digunakan untuk mobilitas masyarakat. Namun secara konotatif, jalan raya menjadi simbol pertemuan antara kelompok yang memiliki akses ekonomi dan kelompok yang terpinggirkan. Di ruang tersebut, pengguna kendaraan yang relatif lebih mapan berhadapan dengan para pengemis yang hidup dalam keterbatasan. Jalan raya menjadi arena yang memperlihatkan ketimpangan sosial secara nyata: kelompok dominan hadir sebagai pihak yang memiliki kebebasan bergerak dan akses terhadap berbagai sumber daya, sedangkan kelompok marginal hanya hadir sebagai objek belas kasihan. Melalui simbol ini, Ahmad Tohari mengkritik realitas sosial yang mempertahankan jarak antara kelompok kaya dan kelompok miskin.
Pembacaan semiotika terhadap tanda-tanda tersebut menunjukkan bahwa tokoh perempuan dalam cerpen dikonstruksikan sebagai liyan melalui berbagai representasi budaya. Ia tidak hanya dipandang berbeda karena kondisi fisiknya, tetapi juga karena status ekonomi dan posisi sosialnya. Proses liyan ini kemudian berkaitan erat dengan tiga lapisan kekerasan yang dikemukakan Johan Galtung.
Kekerasan Langsung dalam Perspektif Johan Galtung
Menurut Johan Galtung, kekerasan langsung merupakan bentuk kekerasan yang tampak secara nyata dan dilakukan oleh pelaku tertentu terhadap korban. Dalam cerpen ini, kekerasan langsung terlihat melalui eksploitasi yang dilakukan terhadap tokoh perempuan.
Tokoh perempuan dijadikan alat untuk memperoleh belas kasihan dari masyarakat. Kondisi fisiknya dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan dari aktivitas mengemis. Situasi tersebut menunjukkan adanya hubungan yang tidak setara antara pihak yang memperoleh keuntungan dan pihak yang dieksploitasi. Meskipun tidak selalu berbentuk pemukulan atau tindakan fisik, eksploitasi tersebut tetap merupakan bentuk kekerasan karena merampas kebebasan dan martabat korban.
Selain itu, tatapan masyarakat yang memandang tubuh tokoh perempuan sebagai objek juga dapat dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik. Ia tidak dihargai sebagai manusia seutuhnya, melainkan hanya sebagai sosok yang mampu membangkitkan rasa iba. Dalam kerangka semiotika, kekerasan ini beroperasi melalui tanda-tanda yang telah dibahas sebelumnya: tatapan (mata) dan tubuh yang dikomodifikasi.
Kekerasan Struktural dalam Perspektif Johan Galtung
Galtung menjelaskan bahwa kekerasan struktural terjadi ketika sistem sosial menghasilkan ketidakadilan yang menghambat individu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Dalam cerpen ini, kemiskinan yang dialami tokoh perempuan merupakan manifestasi dari kekerasan struktural.
Tokoh perempuan hidup dalam kondisi yang serba kekurangan dan tidak memiliki akses terhadap sumber daya yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya. Disabilitas yang dimilikinya semakin memperparah kondisi tersebut karena masyarakat tidak menyediakan ruang yang inklusif bagi penyandang disabilitas.
Ketidakmampuan memperoleh pendidikan dan pekerjaan layak menunjukkan bahwa struktur sosial telah gagal memberikan kesempatan yang setara. Akibatnya, tokoh perempuan terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit diputus. Ia tidak mengalami kekerasan karena tindakan individu semata, melainkan karena sistem sosial yang memungkinkan ketidakadilan terus berlangsung. Tanda mengemis dan jalan raya dalam cerpen, sebagaimana telah dianalisis secara semiotis, berfungsi sebagai representasi visual dari kekerasan struktural ini.
Kekerasan Kultural dalam Perspektif Johan Galtung
Kekerasan kultural adalah aspek budaya yang digunakan untuk membenarkan atau melegitimasi kekerasan langsung maupun struktural. Dalam cerpen ini, kekerasan kultural tampak melalui cara masyarakat memandang kemiskinan dan disabilitas.
Masyarakat cenderung menerima keberadaan pengemis sebagai sesuatu yang normal. Mereka memberikan uang sebagai bentuk belas kasihan tanpa mempertanyakan struktur sosial yang menyebabkan kemiskinan tersebut. Akibatnya, praktik eksploitasi terhadap kelompok rentan menjadi sesuatu yang dianggap wajar.
Selain itu, tubuh penyandang disabilitas sering dipandang sebagai simbol kelemahan dan ketidakberdayaan. Pandangan tersebut membuat masyarakat tidak melihat tokoh perempuan sebagai individu yang memiliki potensi dan hak yang sama dengan orang lain. Dengan demikian, budaya yang memproduksi stigma terhadap kemiskinan dan disabilitas berperan dalam mempertahankan penindasan yang dialami tokoh perempuan.
Interseksionalitas Kimberle Crenshaw
Kimberle Crenshaw menjelaskan bahwa diskriminasi sering kali tidak berasal dari satu identitas saja, melainkan dari persilangan berbagai identitas sosial yang dimiliki seseorang. Konsep ini dikenal sebagai interseksionalitas.
Dalam cerpen Mata yang Enak Dipandang, tokoh perempuan mengalami penindasan yang bersifat berlapis. Pertama, ia mengalami diskriminasi karena gendernya sebagai perempuan. Kedua, ia menghadapi stigma akibat kondisi disabilitasnya. Ketiga, ia berada dalam posisi ekonomi yang sangat rendah sebagai bagian dari kelompok miskin.
Ketiga identitas tersebut saling beririsan dan menciptakan kerentanan yang lebih besar dibandingkan jika hanya salah satu identitas yang dimiliki. Seandainya ia hanya seorang perempuan tanpa disabilitas atau kemiskinan ekstrem, tingkat kerentanannya mungkin berbeda. Namun, karena ketiga identitas tersebut hadir secara bersamaan, ia menghadapi bentuk diskriminasi yang lebih kompleks.
Analisis interseksionalitas menunjukkan bahwa pengalaman tokoh perempuan tidak dapat dipahami hanya melalui perspektif gender. Faktor kelas sosial dan disabilitas juga memiliki peran penting dalam membentuk pengalaman penindasan yang dialaminya. Hal ini pun terlihat dalam sistem tanda cerpen: simbol tubuh, mata, mengemis, dan jalan raya semuanya bekerja bersama untuk menegaskan posisi tokoh sebagai liyan yang mengalami marginalisasi berlapis.
Kesimpulan
Cerpen Mata yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari menggambarkan realitas sosial tentang perempuan marginal yang ditempatkan sebagai liyan dalam masyarakat. Tokoh perempuan mengalami berbagai bentuk kekerasan yang saling berkaitan, mulai dari kekerasan langsung berupa eksploitasi, kekerasan struktural berupa kemiskinan dan keterbatasan akses sosial, hingga kekerasan kultural yang dilegitimasi melalui stigma terhadap kemiskinan dan disabilitas.
Melalui perspektif interseksionalitas Kimberle Crenshaw, terlihat bahwa penindasan yang dialami tokoh perempuan merupakan hasil persilangan identitas sebagai perempuan, penyandang disabilitas, dan anggota kelas sosial bawah. Dengan demikian, cerpen ini menunjukkan bahwa kekerasan terhadap kelompok rentan tidak dapat dipahami secara sederhana, melainkan harus dilihat sebagai fenomena sosial yang kompleks dan berlapis, yang beroperasi sekaligus melalui tanda, struktur, dan budaya.




