Oleh Maharani Yahya, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Pendahuluan
Legenda Putri Mandalika merupakan salah satu cerita rakyat dari Nusa Tenggara Barat yang mengisahkan pengorbanan seorang putri demi mencegah konflik dan penderitaan rakyatnya. Dikisahkan bahwa banyak pangeran datang untuk meminang Putri Mandalika. Namun, persaingan di antara mereka memunculkan ancaman peperangan yang dapat membahayakan kerajaan dan rakyat. Untuk mencegah konflik tersebut, Mandalika memilih mengorbankan dirinya dengan melompat ke laut.
Selama ini, kisah Putri Mandalika umumnya dipahami sebagai cerita tentang pengorbanan dan ketulusan. Namun, melalui perspektif interseksionalitas, tokoh Mandalika dapat dibaca sebagai sosok liyan (the Other) yang berada pada persimpangan berbagai identitas sosial. Sebagai perempuan, putri kerajaan, dan figur yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, Mandalika menghadapi berbagai tekanan yang membatasi kebebasannya dalam menentukan pilihan hidup. Oleh karena itu, esai ini bertujuan menganalisis bentuk ketertindasan dan perlawanan yang dialami Putri Mandalika melalui pendekatan interseksionalitas.
- Gender: Perempuan sebagai Objek Perebutan Kekuasaan
Sebagai perempuan dalam tatanan masyarakat patriarkal, Mandalika ditempatkan sebagai liyan yang diobjektifikasi. Kecantikannya diposisikan sebagai daya tarik utama yang mengundang kedatangan para pelamar, sementara keinginan dan pilihan pribadinya justru terpinggirkan. Ketika Mandalika secara rahasia mengamati para pangeran di paviliun tamu, ia menyadari bahwa persoalan yang dihadapinya tidak lagi berkaitan dengan dirinya semata, sebagaimana terlihat pada kutipan berikut:
“…yang terlihat bukan karisma para pangeran… melainkan sikap sombong dan kekanak-kanakan para pangeran yang sedang memuji diri sendiri dan merendahkan kerajaan lain… Mereka tak segan mengajukan ancaman perang pada kerajaan lain. Apalagi jika sampai tak terpilih, mereka hendak menyerang kerajaan yang berhasil meminang Putri Mandalika.”
Ancaman peperangan yang muncul apabila lamaran mereka ditolak menunjukkan bahwa Mandalika tidak dipandang sebagai individu yang bebas menentukan pilihan hidupnya. Ia menjadi objek yang diperebutkan demi ambisi dan kepentingan para pangeran. Dalam perspektif interseksionalitas, kondisi ini menunjukkan bagaimana perempuan sering ditempatkan sebagai liyan dalam struktur sosial yang lebih mengutamakan kepentingan laki-laki daripada suara perempuan itu sendiri.
- Kelas Sosial: Hak Istimewa yang Menjadi Beban
Selain sebagai perempuan, Mandalika juga memiliki identitas sebagai putri Kerajaan Sekar Kuning. Sekilas, status tersebut tampak sebagai bentuk keistimewaan karena memberinya kedudukan sosial yang tinggi. Namun, melalui perspektif interseksionalitas, status tersebut justru menjadi sumber tekanan tambahan.
Hal ini terlihat ketika para pangeran datang membawa berbagai hadiah dan hantaran. Alih-alih merasa senang, Mandalika justru menganggap semua pemberian tersebut sebagai beban. Dalam cerita disebutkan bahwa “bukan membuatnya senang, benda-benda indah itu malah menjadi beban buatnya.” Beban tersebut muncul karena status sosial Mandalika membuat setiap keputusan pribadinya memiliki dampak yang jauh lebih luas daripada sekadar urusan pernikahan.
Keputusan mengenai pernikahannya berhubungan langsung dengan keamanan kerajaan dan kesejahteraan rakyat. Jika Mandalika merupakan rakyat biasa, penolakan terhadap lamaran mungkin hanya berdampak pada kehidupan pribadinya. Namun, sebagai putri kerajaan, pilihan yang diambilnya dapat memengaruhi nasib banyak orang. Dengan demikian, status sosial yang tinggi tidak sepenuhnya menghadirkan kebebasan, tetapi juga melahirkan tanggung jawab yang membatasi ruang geraknya.
- Otonomi Semu dalam Persimpangan Pilihan
Secara lahiriah, Mandalika tampak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri. Raja dan ratu tidak memaksakan kehendak serta memberikan kesempatan kepada putri mereka untuk mencari petunjuk melalui semedi. Akan tetapi, kebebasan tersebut pada dasarnya merupakan bentuk otonomi yang semu.
Hal ini tampak ketika Mandalika menyadari bahwa persoalan yang dihadapinya telah berkembang melampaui urusan pribadi.
“Ternyata lamaran-lamaran itu bukan hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang peperangan antar suku.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Mandalika telah melampaui urusan pribadi. Ia berada pada persimpangan pilihan yang sama-sama berisiko. Memilih salah satu pangeran dapat memicu peperangan dari pihak yang tidak terpilih, sedangkan menolak semuanya berpotensi mengancam keselamatan kerajaan.
Dalam kondisi seperti ini, Mandalika sebenarnya tidak memiliki ruang aman untuk mengambil keputusan. Ketertindasan yang dialaminya tidak hanya berasal dari individu tertentu, tetapi juga dari struktur sosial yang membatasi seluruh kemungkinan pilihannya.
Strategi Perlawanan Putri Mandalika
Pembacaan interseksional tidak hanya melihat bentuk ketertindasan yang dialami tokoh, tetapi juga cara tokoh merespons tekanan tersebut. Dalam legenda ini, perlawanan Mandalika tampak melalui keputusan yang diambilnya di Pantai Seger. Ketika menyatakan menerima seluruh pinangan para pangeran, Mandalika menghadirkan jawaban yang mengguncang logika persaingan yang selama ini dibangun para pangeran. Dengan cara tersebut, ia menolak tunduk pada sistem yang menjadikannya sebagai objek perebutan.
Keputusannya untuk melompat ke laut juga dapat dipahami sebagai bentuk keberanian dalam menentukan pilihan di tengah berbagai tekanan yang dihadapinya. Tindakan tersebut bukan sekadar bentuk kepasrahan, melainkan cara Mandalika menghentikan konflik yang mengancam rakyat sekaligus mengambil kendali atas nasibnya sendiri. Setelah menjelma menjadi nyale, Mandalika tetap hadir sebagai simbol kesejahteraan yang manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Dengan demikian, pengorbanannya tidak hanya menjadi tragedi, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap struktur sosial yang membatasi kebebasannya.
Implikasi Budaya: Perubahan pada Struktur Kekuasaan
Tindakan Mandalika tidak hanya mengubah nasib dirinya sendiri, tetapi juga memengaruhi para pangeran yang sebelumnya terlibat dalam persaingan. Hal ini terlihat pada bagian akhir cerita:
“Sedangkan para pangeran, pulang tanpa membawa permaisuri. Namun, mereka menjadi pemimpin yang menghargai dan menghormati rakyatnya, bahkan bersedia berkorban bagi mereka seperti yang dilakukan Putri Mandalika.”
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tindakan Mandalika menghadirkan perubahan cara pandang para pangeran. Mereka yang sebelumnya bersikap sombong dan mengutamakan kepentingan pribadi akhirnya belajar mengenai pengorbanan dan tanggung jawab terhadap rakyat. Dengan demikian, perlawanan Mandalika tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga menghasilkan perubahan nilai pada pihak-pihak yang sebelumnya menjadi sumber tekanan baginya.
Kesimpulan
Melalui pembacaan interseksional, Legenda Putri Mandalika menunjukkan bahwa tokoh Mandalika tidak dapat dipahami hanya sebagai sosok putri yang rela berkorban demi rakyat. Ia merupakan sosok liyan yang berada pada persimpangan berbagai identitas sosial, yaitu sebagai perempuan, putri kerajaan, dan individu yang memikul tanggung jawab terhadap keselamatan banyak orang. Persimpangan identitas tersebut melahirkan berbagai bentuk tekanan yang membatasi kebebasannya dalam menentukan pilihan hidup.
Namun, legenda ini tidak berhenti pada kisah ketertindasan. Putri Mandalika hadir sebagai tokoh yang tidak hanya mengalami ketertindasan, tetapi juga menunjukkan keberanian untuk mengambil keputusan dan menentukan jalan hidupnya sendiri di tengah berbagai tekanan yang mengekangnya. Keputusannya untuk melompat ke laut bukan sekadar tindakan pengorbanan, melainkan bentuk perlawanan terhadap struktur sosial yang menjadikannya objek perebutan dan kepentingan politik. Melalui transformasinya menjadi nyale, Mandalika bahkan melampaui batas-batas identitas yang membelenggunya semasa hidup dan tetap menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Dengan demikian, Legenda Putri Mandalika memperlihatkan bahwa cerita rakyat tidak hanya menyimpan nilai moral, tetapi juga merekam pengalaman ketertindasan, keberanian, dan perlawanan perempuan. Oleh karena itu, legenda ini tetap relevan dibaca melalui perspektif interseksionalitas karena memperlihatkan bahwa ketertindasan dan perlawanan sering kali lahir dari pertemuan berbagai identitas sosial yang saling beririsan.




