Oleh Maharani Yahya, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
IDENTITAS FILM
Judul Film: Pangku (International Title: On Your Lap)
Sutradara: Reza Rahadian
Tahun Rilis: 2025
Durasi: 1 jam 40 m
Rumah Produksi: Gambar Prima Gerak
Genre: Drama / Kritik Sosial
Dalam masyarakat, kemiskinan sering kali dipandang sebagai persoalan individu. Mereka yang hidup dalam keterbatasan dianggap kurang bekerja keras, kurang berusaha, atau mengambil keputusan yang salah dalam hidupnya. Akibatnya, masyarakat lebih mudah memberikan penilaian moral daripada mencoba memahami kondisi yang sebenarnya dialami seseorang. Padahal, bagi sebagian orang, kemiskinan bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan situasi yang membatasi pilihan hidup hingga pada titik di mana bertahan hidup menjadi satu-satunya tujuan yang tersisa.
Realitas tersebut diangkat dalam film Pangku (2025), debut penyutradaraan Reza Rahadian yang berani menyoroti kehidupan masyarakat pinggiran dengan pendekatan yang realistis dan manusiawi. Film ini tidak berusaha menawarkan kisah yang manis atau menghibur, melainkan mengajak penonton menyaksikan bagaimana tekanan ekonomi, stigma sosial, dan ketimpangan gender dapat membentuk jalan hidup seseorang. Melalui kisah Sartika, seorang ibu yang berjuang demi masa depan anaknya, Pangku hadir sebagai kritik sosial yang mempertanyakan kembali cara masyarakat memandang kemiskinan, perempuan, dan moralitas.
Tolong Beli Kopi Saya, Mas
Film ini berpusat pada kehidupan Sartika, seorang ibu yang tinggal di kawasan pesisir Pantura dan berusaha mempertahankan hidup di tengah keterbatasan ekonomi. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari dan memberikan masa depan yang lebih baik bagi anaknya, Sartika bekerja di sebuah warung kopi pangku milik Bu Maya. Namun, pekerjaan tersebut tidak hanya menuntut tenaga dan waktu, tetapi juga mengharuskannya berhadapan dengan berbagai stigma yang melekat pada perempuan yang bekerja di ruang-ruang semacam itu.
Melalui perjalanan Sartika, film ini memperlihatkan bahwa perjuangan hidup tidak selalu berlangsung dalam bentuk yang heroik. Kadang-kadang, perjuangan justru hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang menyakitkan dan harus diambil setiap hari. Di sinilah kekuatan naratif Pangku mulai terasa. Film ini tidak menempatkan Sartika sebagai sosok yang sepenuhnya benar ataupun sepenuhnya salah, melainkan sebagai manusia biasa yang berusaha bertahan di tengah keadaan yang tidak memberinya banyak pilihan.
Menukar Harga Diri, Menyambung Nasi
Salah satu kekuatan utama Pangku terletak pada cara film ini menggambarkan kemiskinan sebagai persoalan yang kompleks. Kemiskinan tidak hadir hanya sebagai latar belakang cerita, melainkan menjadi kekuatan yang menggerakkan hampir seluruh konflik dalam film. Sartika harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kebutuhan hidup sering kali menuntut pengorbanan yang tidak sederhana. Dalam kondisi tertentu, seseorang tidak lagi memiliki kebebasan untuk memilih apa yang diinginkan, melainkan hanya dapat memilih apa yang memungkinkan agar hidup tetap berjalan.
Melalui penggambaran tersebut, Pangku menunjukkan bahwa kemiskinan bukan hanya tentang kurangnya uang, tetapi juga tentang sempitnya pilihan yang tersedia bagi seseorang. Film ini mengajak penonton untuk melihat bahwa keputusan yang sering dianggap salah oleh masyarakat bisa jadi lahir dari keadaan yang tidak memberikan alternatif lain. Dengan demikian, fokus cerita tidak lagi berada pada tindakan tokohnya semata, melainkan pada sistem sosial yang membuat tindakan tersebut seolah menjadi satu-satunya jalan yang tersedia.
Tubuh Perempuan di Bawah Kuasa Patriarki
Selain membicarakan kemiskinan, Pangku juga menghadirkan kritik yang kuat terhadap posisi perempuan dalam masyarakat. Sartika tidak hanya harus menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga menghadapi penghakiman moral yang jauh lebih keras dibandingkan laki-laki. Dalam banyak situasi, perempuan sering kali menjadi pihak yang pertama disalahkan ketika berada dalam kondisi rentan, sementara faktor-faktor sosial yang menyebabkan kerentanan tersebut justru diabaikan.
Melalui tokoh Sartika, film ini memperlihatkan bagaimana tubuh perempuan kelas bawah sering kali ditempatkan dalam posisi yang rentan terhadap eksploitasi. Tubuh tidak lagi dipandang sebagai bagian dari identitas manusia yang utuh, melainkan sebagai sesuatu yang dapat dipertukarkan demi memenuhi kebutuhan hidup. Di sinilah Pangku menghadirkan kritik gender yang tajam. Film ini menunjukkan bahwa eksploitasi tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang kasatmata, tetapi juga melalui sistem sosial yang membatasi pilihan hidup perempuan dan membuat mereka harus menanggung beban yang lebih berat dibandingkan kelompok lainnya.
Bahasa Visual yang Sunyi
Dari sisi sinematografi, Pangku membangun atmosfer yang kuat melalui pendekatan visual yang realistis. Lingkungan pesisir Pantura yang sederhana, ruang-ruang sempit, serta nuansa visual yang cenderung suram memperkuat gambaran tentang kehidupan yang penuh tekanan. Kamera tidak berusaha mempercantik realitas, melainkan menghadirkannya apa adanya sehingga penonton dapat merasakan kedekatan dengan kehidupan tokoh-tokohnya.
Pilihan visual tersebut membuat film terasa lebih jujur dan emosional. Penggunaan komposisi gambar yang sederhana justru mampu memperlihatkan kesepian, keterasingan, dan perjuangan yang dialami Sartika tanpa harus bergantung pada dialog yang berlebihan. Dengan demikian, sinematografi dalam Pangku tidak hanya berfungsi sebagai unsur estetis, tetapi juga sebagai sarana untuk memperkuat kritik sosial yang ingin disampaikan film.
Sebuah Tamparan untuk Nurani Kita
Pada akhirnya, Pangku bukan sekadar kisah tentang perjuangan seorang ibu menghadapi kemiskinan. Film ini merupakan refleksi mengenai bagaimana masyarakat memandang perempuan, kemiskinan, dan moralitas. Melalui cerita yang sederhana tetapi menyentuh, film ini mengingatkan bahwa di balik setiap pilihan hidup yang tampak salah di mata masyarakat, sering kali terdapat perjuangan panjang yang tidak pernah benar-benar terlihat.
Kelebihan utama film ini terletak pada keberhasilannya menghadirkan kritik sosial yang kuat tanpa terasa menggurui. Karakter-karakternya dibangun secara manusiawi sehingga penonton dapat memahami kompleksitas situasi yang mereka hadapi. Selain itu, pendekatan visual yang realistis berhasil memperkuat suasana emosional dan pesan sosial yang diusung film.
Meski demikian, tempo cerita yang cenderung lambat mungkin menjadi tantangan bagi sebagian penonton. Atmosfer yang muram dan tema yang berat juga membuat film ini kurang cocok bagi mereka yang mencari hiburan ringan. Namun, justru melalui pendekatan tersebut, Pangku mampu mempertahankan fokusnya pada realitas sosial yang ingin diangkat.
Sebagai karya debut penyutradaraan, Pangku menunjukkan keberanian dalam mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat tetapi jarang dibicarakan secara terbuka. Film ini sangat direkomendasikan bagi mahasiswa, pemerhati isu sosial, penikmat film drama, serta siapa pun yang ingin melihat realitas kemiskinan dan ketimpangan gender dari sudut pandang yang lebih empatik. Lebih dari sekadar tontonan, Pangku merupakan kritik sosial yang mengajak penonton untuk memahami sebelum menghakimi.



