Oleh Euis Putri Noviyani
Kajian postkolonial merupakan salah satu pendekatan penting dalam studi sastra dan film yang digunakan untuk memahami dampak kolonialisme terhadap masyarakat yang pernah dijajah. Pendekatan ini tidak hanya membahas masa penjajahan, tetapi juga bagaimana warisan kolonial masih memengaruhi cara berpikir, identitas, budaya, dan hubungan sosial setelah kolonialisme berakhir. Dalam film sejarah, kajian postkolonial membantu penonton melihat bagaimana kekuasaan kolonial direpresentasikan, bagaimana kelompok terjajah digambarkan, serta bagaimana perlawanan terhadap kolonialisme ditampilkan.
Salah satu film Indonesia yang dapat dianalisis menggunakan pendekatan postkolonial adalah Bumi Manusia (2019) karya Hanung Bramantyo yang diadaptasi dari novel Pramoedya Ananta Toer. Film ini berlatar Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 dan menceritakan kehidupan Minke, seorang pribumi terdidik yang berusaha memperoleh pengakuan dalam masyarakat kolonial. Melalui tokoh-tokohnya, film ini memperlihatkan ketimpangan sosial, diskriminasi rasial, dan perjuangan kaum pribumi dalam menghadapi sistem kolonial. Oleh karena itu, Bumi Manusia menjadi contoh yang relevan untuk memahami konsep-konsep utama dalam kajian postkolonial.
Postkolonial adalah kajian yang membahas pengaruh kolonialisme terhadap masyarakat yang pernah dijajah. Tokoh-tokoh seperti Edward Said, Homi K. Bhabha, dan Gayatri Chakravorty Spivak menjelaskan bahwa kolonialisme tidak hanya menguasai wilayah secara politik dan ekonomi, tetapi juga membentuk cara pandang masyarakat terhadap diri mereka sendiri.
Edward Said dalam bukunya Orientalism menjelaskan bahwa bangsa Barat sering menggambarkan bangsa Timur sebagai masyarakat yang terbelakang, tidak rasional, dan membutuhkan bimbingan. Gambaran tersebut digunakan untuk membenarkan praktik penjajahan. Akibatnya, masyarakat terjajah sering diposisikan sebagai kelompok yang lebih rendah dibandingkan penjajah.
Dalam konteks film sejarah, kajian postkolonial digunakan untuk melihat bagaimana hubungan antara penjajah dan yang dijajah direpresentasikan. Fokus utamanya adalah persoalan identitas, kekuasaan, diskriminasi, dominasi budaya, dan bentuk-bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.
Salah satu tema utama dalam Bumi Manusia adalah adanya hierarki sosial yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda. Masyarakat dibagi berdasarkan ras dan asal-usul. Orang Eropa menempati posisi tertinggi, diikuti kelompok Timur Asing seperti Tionghoa dan Arab, sedangkan pribumi berada pada lapisan paling bawah.
Pembagian tersebut terlihat jelas dalam kehidupan Minke. Meskipun ia memperoleh pendidikan modern dan memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, statusnya sebagai pribumi tetap membuatnya diperlakukan berbeda. Ia tidak mendapatkan hak yang sama dengan orang Eropa. Kondisi ini menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga menciptakan sistem sosial yang membatasi kesempatan masyarakat pribumi.
Melalui penggambaran tersebut, film memperlihatkan bagaimana kolonialisme bekerja melalui hukum, pendidikan, dan birokrasi. Kekuasaan tidak selalu diwujudkan dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga melalui aturan-aturan yang menempatkan kelompok tertentu pada posisi yang lebih rendah.
Dalam perspektif postkolonial, tokoh Minke menggambarkan individu yang mengalami krisis identitas akibat kolonialisme. Sebagai pribumi yang memperoleh pendidikan Barat, ia berada di antara dua dunia yang berbeda. Di satu sisi, ia mengagumi kemajuan pendidikan Eropa. Namun di sisi lain, ia menyadari bahwa bangsa Eropa tetap memandang pribumi sebagai kelompok inferior.
Keadaan tersebut menciptakan konflik batin dalam diri Minke. Ia berusaha menunjukkan bahwa pribumi mampu berpikir maju dan setara dengan bangsa Eropa. Akan tetapi, berbagai pengalaman diskriminatif membuatnya menyadari bahwa pendidikan saja tidak cukup untuk menghapus batas-batas rasial yang dibangun oleh kolonialisme.
Krisis identitas yang dialami Minke merupakan salah satu tema penting dalam kajian postkolonial. Kolonialisme sering membuat masyarakat terjajah merasa terpecah antara budaya lokal dan budaya penjajah. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan nilai-nilai Barat, tetapi tetap dianggap berbeda dan tidak sepenuhnya diterima.
Tokoh yang paling kuat dalam film Bumi Manusia adalah Nyai Ontosoroh. Ia merupakan perempuan pribumi yang dijadikan nyai oleh seorang Belanda, tetapi berhasil mendidik dirinya sendiri hingga mampu mengelola perusahaan keluarga dengan baik.
Dalam sistem kolonial, seorang nyai dipandang rendah karena tidak memiliki status hukum yang jelas. Namun Nyai Ontosoroh menolak menerima posisi tersebut. Ia belajar membaca, menulis, dan memahami dunia bisnis sehingga mampu membuktikan bahwa dirinya memiliki kemampuan yang setara bahkan lebih baik daripada banyak orang Eropa.
Melalui tokoh ini, film menunjukkan bentuk perlawanan terhadap kolonialisme. Perlawanan tidak selalu dilakukan melalui peperangan atau pemberontakan bersenjata, tetapi juga melalui pendidikan, pengetahuan, dan usaha mempertahankan martabat diri. Nyai Ontosoroh menjadi simbol bahwa kelompok yang selama ini dipinggirkan mampu melawan dominasi kolonial dengan kecerdasan dan keteguhan sikap.
Kajian postkolonial juga menyoroti bagaimana hukum digunakan untuk mempertahankan kekuasaan kolonial. Dalam film Bumi Manusia, hal ini terlihat pada kasus Annelies Mellema. Meskipun dibesarkan oleh Nyai Ontosoroh dan hidup di Hindia Belanda, pengadilan kolonial memutuskan bahwa Annelies harus dibawa ke Belanda.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa hukum kolonial lebih mengutamakan kepentingan orang Eropa daripada keadilan bagi masyarakat pribumi. Nyai Ontosoroh tidak memiliki kekuatan hukum untuk mempertahankan anaknya karena statusnya sebagai nyai dianggap tidak sah.
Peristiwa ini memperlihatkan bahwa kolonialisme tidak hanya menguasai wilayah secara fisik, tetapi juga mengendalikan kehidupan masyarakat melalui sistem hukum. Film dengan jelas menunjukkan bahwa hukum kolonial menjadi instrumen untuk mempertahankan ketimpangan dan dominasi penjajah atas masyarakat yang dijajah.
Meskipun Indonesia telah merdeka, kajian postkolonial tetap relevan karena warisan kolonial masih dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan. Beberapa pola pikir yang menganggap budaya Barat lebih unggul, misalnya, merupakan salah satu dampak kolonialisme yang masih terasa hingga saat ini.
Film Bumi Manusia mengingatkan bahwa perjuangan melawan kolonialisme tidak hanya berkaitan dengan kemerdekaan politik, tetapi juga pembebasan cara berpikir. Masyarakat perlu menyadari bahwa identitas bangsa tidak harus diukur berdasarkan standar yang ditetapkan oleh bangsa penjajah.
Melalui pendekatan postkolonial, penonton diajak untuk memahami sejarah dari sudut pandang masyarakat yang pernah dijajah. Pendekatan ini membantu membangun kesadaran kritis terhadap berbagai bentuk ketidakadilan yang muncul akibat warisan kolonial.
Kajian postkolonial merupakan pendekatan yang penting untuk memahami hubungan antara penjajah dan masyarakat terjajah dalam film sejarah. Melalui film Bumi Manusia, terlihat bagaimana kolonialisme menciptakan diskriminasi rasial, ketimpangan sosial, dan krisis identitas bagi masyarakat pribumi. Tokoh Minke menggambarkan pergulatan identitas akibat kolonialisme, sedangkan Nyai Ontosoroh menjadi simbol perlawanan terhadap dominasi kolonial melalui pendidikan dan keberanian mempertahankan martabat.
Film ini menunjukkan bahwa kolonialisme tidak hanya hadir dalam bentuk kekuasaan politik, tetapi juga melalui hukum, budaya, dan cara pandang masyarakat. Oleh karena itu, kajian postkolonial membantu kita memahami bahwa sejarah kolonial bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan pengalaman yang masih memiliki pengaruh dalam kehidupan masa kini. Dengan memahami warisan kolonial secara kritis, masyarakat dapat membangun identitas yang lebih mandiri dan menghargai pengalaman sejarah bangsanya sendiri.



