Oleh Roselina Chelsa Mantur, Mahasiswi Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta
Film sebagai media audio visual memiliki kemampuan yang besar dalam menyampaikan peristiwa sejarah kepada masyarakat. Melalui film, suatu peristiwa masa lalu dapat dihadirkan kembali dalam bentuk gambar, dialog, dan alur cerita yang mampu membangun pemahaman sejarah secara lebih mudah. Selain berfungsi sebagai hiburan, film juga menjadi media pendidikan yang dapat menanamkan nilai-nilai perjuangan, nasionalisme, dan kesadaran sejarah kepada penontonnya. Salah satu film sejarah Indonesia yang memiliki peranan tersebut adalah Soekarno (2013) yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.
Film Soekarno menceritakan perjalanan hidup Soekarno sejak masa muda hingga peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Di dalam film ini ditampilkan berbagai kondisi masyarakat Indonesia pada masa kolonial Belanda, mulai dari penindasan politik, pembatasan kebebasan, hingga perjuangan tokoh-tokoh nasional dalam memperjuangkan kemerdekaan. Melalui berbagai adegan yang ditampilkan, film ini menghadirkan representasi mengenai perlawanan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme.
Kolonialisme Belanda dalam film digambarkan sebagai sistem kekuasaan yang menempatkan rakyat Indonesia dalam posisi yang tertindas. Pemerintah kolonial melakukan pengawasan terhadap organisasi pergerakan, membatasi kebebasan berbicara, dan menindak para tokoh yang dianggap mengancam kekuasaan mereka. Kondisi tersebut menciptakan ketidakadilan sosial dan politik yang mendorong lahirnya gerakan perlawanan nasional.
Tokoh Soekarno menjadi pusat representasi perlawanan dalam film ini. Ia digambarkan sebagai seorang pemimpin yang memiliki kemampuan berbicara dan menyampaikan gagasan yang mampu membangkitkan semangat rakyat. Pidato-pidato yang disampaikan Soekarno tidak hanya berisi kritik terhadap penjajahan, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa bangsa Indonesia memiliki hak untuk merdeka dan menentukan nasibnya sendiri.
Perlawanan yang ditampilkan dalam film tidak hanya berbentuk perjuangan fisik, melainkan juga perjuangan melalui pemikiran dan organisasi. Soekarno bersama tokoh-tokoh pergerakan lainnya berusaha membangun kesadaran nasional melalui pendidikan politik dan semangat persatuan. Mereka meyakini bahwa kemerdekaan hanya dapat dicapai apabila seluruh rakyat Indonesia bersatu melawan kolonialisme.
Film ini juga memperlihatkan tindakan represif yang dilakukan pemerintah kolonial terhadap para tokoh nasional. Penangkapan dan pengasingan Soekarno menjadi salah satu bentuk upaya Belanda untuk menghentikan pergerakan nasional. Namun, tindakan tersebut tidak mampu memadamkan semangat perjuangan. Sebaliknya, pengalaman pengasingan justru memperkuat tekad Soekarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Nasionalisme menjadi salah satu unsur penting yang direpresentasikan dalam film. Semangat persatuan yang melampaui perbedaan suku, agama, dan daerah digambarkan sebagai kekuatan utama dalam melawan penjajahan. Film menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan hanya perjuangan individu, melainkan perjuangan seluruh rakyat Indonesia yang memiliki cita-cita bersama untuk hidup merdeka.
Puncak perlawanan terhadap kolonialisme dalam film ditampilkan melalui peristiwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pembacaan teks proklamasi menjadi simbol berakhirnya kekuasaan kolonial dan lahirnya bangsa Indonesia sebagai negara yang merdeka. Adegan tersebut menggambarkan hasil dari perjuangan panjang yang dilakukan oleh para tokoh nasional dan rakyat Indonesia.
Melalui film Soekarno, perlawanan terhadap kolonialisme direpresentasikan sebagai perjuangan yang melibatkan keberanian, pengorbanan, persatuan, dan kesadaran nasional. Film ini memperlihatkan bahwa kemerdekaan tidak diperoleh dengan mudah, tetapi melalui proses panjang yang penuh tantangan dan pengorbanan.
Pada akhirnya, Soekarno (2013) tidak hanya menjadi film biografi seorang tokoh nasional, tetapi juga menjadi media yang merepresentasikan perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme. Film ini mampu menghadirkan nilai-nilai nasionalisme dan semangat perjuangan yang tetap relevan bagi generasi masa kini. Oleh karena itu, film Soekarno dapat dipahami sebagai media pembelajaran sejarah yang membantu masyarakat memahami makna perjuangan kemerdekaan Indonesia.



