• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Jumat, Juli 10, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Marak Masyarakat Adat Rabasa Hain dan Etnomatematika

by Redaksi
Juli 9, 2026
in OPINI
0
Marak Masyarakat Adat Rabasa Hain dan Etnomatematika
0
SHARES
56
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh Emanuel Bria

 

Simbol atau cap adat (marak) di Pulau Timor sering kali hanya dianggap sebagai simbol identitas turun-temurun, namun belum dipandang sebagai hasil produksi pengetahuan yang dapat dipelajari secara sistematis. Misalnya, pada masyarakat adat Rabasa Hain di wilayah adat Wewiku-Wehali, marak justru memperlihatkan bentuk bahasa yang sistematis, konsisten, sarat logika relasional, serta tata kelola kekuasaan adat. Jika dibaca melalui kerangka etnomatematika, marak seperti halnya simbol adat yang lain, misalkan sarung sutra, motif tenun, atau benda pusaka, dapat dipahami sebagai cara masyarakat adat memodelkan dunia kehidupan mereka dan mendokumentasikan hubungan antara asal, perantara, dan hilir dalam satu susunan visual yang bermakna (Hadija, 2022; Ike et al., 2025).

Etnomatematika merupakan kajian keilmuan yang melihat matematika sebagai pengetahuan yang hidup dalam kebudayaan, bukan sebagai ilmu yang terpisah dari simbol-simbol kebudayaan masyarakat sehari-hari (D’Ambrosio, 1997). Artinya, matematika bukan hanya ilmu yang dipelajari secara terbatas di ruang kelas atau dalam buku pelajaran namun dapat juga hadir di dalam berbagai produk kebudayaan yang diwarisi dan dihidupi secara turun-temurun. Dalam tradisi etnomatematika, bentuk, pola, pengulangan, simetri, perbandingan, dan relasi spasial merupakan ekspresi bagaimana sebuah komunitas budaya berpikir. Hal ini terlihat dari bagaimana masyarakat adat Rabasa Hain memodelkan pola relasi dan tata kelola adat dalam bentuk simbol atau cap adat yang dikenal sebagai marak. Marak biasanya ditato pada tangan anggota suku atau pada bagian tertentu dari badan hewan piaraan milik suatu suku, seperti kerbau dan kuda, sebagai tanda untuk mengenal asal-usul seseorang atau kepemilikan hewan piaraan. Dalam konteks adat Rabasa Hain, susunan marak dibangun dari lingkaran, garis, kaki, cabang, rotasi, busur, dan engsel. Marak-marak tersebut bukan sekadar motif visual, melainkan sistem konseptual yang mengatur bagaimana relasi antar rumah adat dikelola dalam satu kesatuan struktur adat.

 Salah satu kekhasan utama dari marak masyarakat adat Rabasa Hain adalah kesederhanaan unsur dasarnya. Dalam pemetaan marak-marak Rabasa, bentuk utamanya terdiri atas lingkaran, garis, dan kaki. Lingkaran dapat tampil sebagai kepala, pusat, atau wadah; garis berfungsi sebagai poros atau jalur penghubung; sedangkan kaki menandai arah, tumpuan, atau kelanjutan relasi. Dengan hanya tiga unsur ini, sudah cukup untuk memperkenalkan beragam kosakata geometri, termasuk titik pusat, garis lurus, garis sejajar, kemiringan, lengkungan, percabangan, dan simetri. Secara etnomatematis, ini menunjukkan bahwa geometri tidak harus didefinisikan secara abstrak, melainkan dapat dipelajari melalui simbol adat yang terus digunakan dan diwariskan secara turun-temurun.

Marak Rabasa Nain memberi contoh yang paling jelas tentang apa yang dapat disebut sebagai bentuk dasar atau pola asal. Simbol ini digambarkan dengan dua lingkaran vertikal, satu garis lurus, dan satu kaki lurus pendek, tanpa operasi geometri tambahan. Secara visual, komposisi ini menghadirkan poros tunggal yang tegas, sebuah aliran yang bergerak dari atas ke bawah tanpa pecah atau berbelok. Dalam bahasa etnomatematika, bentuk ini dapat dipahami sebagai model relasi linier yang sederhana, langsung, dan stabil. Ia menunjukkan bagaimana sebuah komunitas menggunakan kesederhanaan bentuk untuk menandai kemurnian struktur asalnya. Di sisi lain, marak Lafoun dan Banai menampilkan operasi penggandaan pada garis. Pada titik ini, logika etnomatematika mulai terlihat lebih jelas. Satu garis pada Rabasa Nain diperkuat atau dipertebal dengan garis-garis sejajar pada Lafoun dan Banai. Dalam pelajaran geometri di sekolah, garis sejajar biasanya dibahas sebagai dua garis yang tidak pernah berpotongan, tetapi tetap mempertahankan jarak yang konstan. Secara etnografis, prinsip garis sejajar tersebut dapat dipahami sebagai satu asal yang dapat mengalir melalui lebih dari satu lintasan tanpa kehilangan arah dasarnya. Dengan kata lain, marak menerjemahkan ide kapasitas relasi ke dalam bentuk visual yang mudah dikenali.

Kompleksitas pola relasi meningkat seiring bertambahnya jumlah cabang dan rotasi. Misalnya, pada marak Uma Bot Rabasa, satu garis utama memiliki cabang yang miring. Perubahan kecil ini secara keseluruhan mengubah struktur visual karena munculnya simpul baru di tengah. Dalam teori graf modern, perubahan ini menunjukkan peningkatan derajat simpul (vertex degree), dari sekadar jalur tunggal menjadi titik yang mampu melakukan mediasi dan distribusi (Rosen, 2012). Demikian pula pada marak Manakon dan Makbukar, kemiringan poros atau kaki yang memanjang dan melengkung menunjukkan titik penyebaran keluar. Terdapat operasi rotasi, perubahan arah, dan pengalihan aliran sebelum mencapai ujung. Semua itu menunjukkan bahwa masyarakat adat Rabasa Hain memandang struktur hubungan bukan sebagai garis tunggal yang tetap, melainkan sebagai jaringan dinamis dalam pengelolaan relasi tersebut.

Contoh lain yang sangat kaya adalah marak Mamulak dan Ba’asa. Marak Mamulak memperlihatkan busur ganda, dengan satu titik di bawah sebagai engsel dan dua kaki yang tersusun simetris. Bentuk ini menunjukkan prinsip keseimbangan bilateral, bahkan seperti sebuah titik pivot yang menghubungkan kedua sisi yang simetris. Sementara itu, marak Ba’asa menunjukkan kaki yang bercabang dua seperti akar, yang secara matematis dapat dibaca sebagai struktur bercabang di ujung. Dua contoh ini penting karena menunjukkan bahwa marak masyarakat adat Rabasa Hain tidak hanya mengenal bentuk lurus dan lingkaran, tetapi juga mengembangkan konsep simetri, engsel, percabangan, dan distribusi. Dalam bahasa etnomatematika, simbol semacam ini menjadi bukti bahwa pengetahuan geometri lokal seperti marak dapat menyimpan pemahaman mendalam tentang relasi dan penyebaran.

Satu hal yang membuat marak penting bagi pengetahuan publik yang lebih luas adalah fakta bahwa ia menawarkan cara lain untuk memahami matematika. Selama ini matematika sering dipersepsikan sebagai ilmu yang netral, universal, dan terpisah dari budaya. Padahal, sejumlah penelitian etnomatematika di Indonesia menunjukkan bahwa konsep-konsep matematika justru tumbuh dari pengalaman kultural yang konkret, mulai dari motif kain, alat musik, hingga benda pusaka (Hadija, 2022; Fathiyah, 2025). Marak masyarakat adat Rabasa Hain menambah daftar itu dengan sumbangan yang khas. Cap adat seperti marak memperlihatkan bahwa masyarakat adat dapat mengembangkan notasi visual untuk menggambarkan pola relasi antarsuku atau rumah adat melalui operasi geometri yang konsisten dan dapat dianalisis secara sistematis.

Dalam konteks tersebut, keberadaan marak menjadi penting tidak hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga untuk pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Bagi dunia pendidikan, marak dapat digunakan untuk mengajarkan garis sejajar, sudut, simetri, percabangan, dan struktur graf melalui konteks lokal yang dekat dengan pengalaman siswa. Dengan kata lain, marak merupakan arsip intelektual yang menyimpan cara berpikir tentang bentuk, arah, keseimbangan, dan hubungan dalam masyarakat adat. Membaca marak dalam konteks etnomatematika sekaligus membuat kita belajar bahwa  masyarakat adat bukan hanya pewaris tradisi, tetapi juga produsen pengetahuan yang memodelkan dunia kehidupannya dengan perangkat visualnya sendiri.

—————————-

Penulis: Akademisi dan Generasi Rabasa Nain

 

ShareTweetSend

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Mulai 18 Mei, Italia Mulai Buka Kembali Misa Publik

Mulai 18 Mei, Italia Mulai Buka Kembali Misa Publik

6 tahun ago
Penggunaan Sistem DPA (“Deferred Prosecution Agreement”) dalam Penyelesaian Kasus Kerugian Negara terhadap Perseorangan dan  Korporasi Besar

Penggunaan Sistem DPA (“Deferred Prosecution Agreement”) dalam Penyelesaian Kasus Kerugian Negara terhadap Perseorangan dan  Korporasi Besar

9 bulan ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In