
Oleh Helena Beraf
Setiap Hari Anak Nasional, linimasa kita mendadak penuh dengan foto anak-anak yang tersenyum. Ada yang sedang makan, ada yang sedang sekolah, ada pula yang memakai seragam sambil mengacungkan dua jari. Anak disebut sebagai generasi emas, masa depan bangsa, harapan Indonesia. Tidak ada yang salah dengan itu. Anak memang layak dirayakan.
Hanya saja, setiap kali mendengar kalimat “anak adalah masa depan bangsa,” saya selalu ingin nanya : TRUS PEREMPUAN DILETAKAN DIMANA?
Bukankah sebelum ada anak yang disebut sebagai masa depan bangsa, ada perempuan yang lebih dulu mengandung masa depan itu? Sebelum ada bayi yang lahir sehat, ada tubuh yang menanggung mual, muntah, perubahan hormon, rasa cemas bahkan risiko kehilangan nyawa ketika melahirkan? Anehnya, setiap kali kita berbicara tentang anak, perempuan sering kali hanya muncul sebagai pelengkap cerita.
Simone de Beauvoir, dalam buku The Second Sex, mengingatkan bahwa perempuan kerap ditempatkan sebagai the other; dibutuhkan, tetapi TIDAK BENAR² MENJADI PUSAT PERHATIAN.
Pengalaman hidupnya dianggap biasa. Kerja-kerja perawatannya diperlakukan seolah-olah memang sudah menjadi KODRAT. Saya kira, Hari Anak Nasional ini pun masih menyimpan persoalan itu. Anak menjadi pusat perayaan, sementara perempuan kembali diminta bekerja dalam diam.
Negara kemudian datang membawa Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Gagasannya baik. Siapa yang tidak ingin melihat anak-anak Indonesia makan dengan layak? Tidak ada ! Tetapi hidup selalu lebih rumit daripada isi sebuah kotak makan siang.
Dalam pelaksanaannya, kita juga mencatat sejumlah kejadian dugaan keracunan makanan di beberapa daerah. Penyebabnya tentu harus dijelaskan melalui penyelidikan, apakah berasal dari proses pengolahan, penyimpanan, distribusi, atau lemahnya pengawasan keamanan pangan Apa pun hasilnya, kejadian menjadi alarm bhw makanan bergizi juga harus menjadi makanan yang aman. Percuma mengejar generasi emas kalo makanan yg hrusnya menyehatkan justru menghadirkan risiko utk kesehatan anak.
Yang lebih menarik, kita kerapkali memperlakukan stunting seolah-olah cukup diselesaikan dengan menambah lauk, susu, atau telur. Seandainya stunting sesederhana itu, mungkin para ahli kesehatan sudah lama kehilangan pekerjaan. Betul gak? Hehe
Stunting bukan hanya soal isi piring. Tp lahir dari banyak persoalan yang saling berkaitan. Tubuh anak tidak hidup sendirian. Tp tumbuh di tengah air yang mungkin tidak bersih, buruknya sanitasi, lingkungan yang rentan infeksi, akses pelayanan kesehatan yang rumit, dan keluarga yang mungkin belum pernah memperoleh PENDIDIKAN GIZI yang memadai.
Anak mungkin sdh dapat makanan bergizi. Namun, jika ia terus-menerus mengalami diare atau infeksi akibat sanitasi yang buruk, tubuhnya tentu tidak mampu menyerap zat gizi secara optimal. Di situlah pertumbuhan mulai terganggu. Maka, membicarakan stunting juga berarti membicarakan sanitasi, air bersih, pencegahan infeksi, dan lingkungan yang sehat.
Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, pencegahan stunting bahkan dimulai ketika seorang anak BELUM MENJADI JANIN; dimulai ketika seorang REMAJA PUTERI memperoleh pendidikan kesehatan reproduksi yang benar, memahami tubuhnya sendiri, mendapatkan tablet tambah darah secara rutin, dan tumbuh dengan status gizi yang baik. BANGSA INI TERLALU SERING MENUNGGU SEORANG PEREMPUAN HAMIL UNTUK MULAI PEDULI KEPADANYA. PADAHAL, PERHATIAN ITU SEHARUSNYA DIBERIKAN JAUH SEBELUM KEHIDUPAN MULAI BERDENYUT DI DALAM RAHIM.
Saya selalu percaya bahwa perempuan yang sehat akan melahirkan anak yang lebih sehat. Namun, perempuan yang cerdas akan melahirkan sesuatu yang lebih besar daripada itu: keluarga yang lebih sehat, keputusan-keputusan yang lebih bijaksana, dan generasi yang mampu memutus mata rantai kemiskinan, kekurangan gizi, serta ketidakadilan.
Karena itu, investasi terbesar sebuah bangsa bukan hanya membangun sekolah, rumah sakit, atau membagikan makanan bergizi. Investasi terbesar adalah memastikan setiap anak perempuan tumbuh menjadi perempuan yang sehat, berpengetahuan, memahami kesehatan reproduksinya, memperoleh akses terhadap pelayanan kesehatan, serta dihormati martabatnya. Ketika seorang perempuan memahami tubuhnya sendiri, ia sedang menjaga kehidupan bahkan sebelum kehidupan itu hadir di dunia.
Joan Tronto, seorang filsuf feminis, menyebut bahwa care atau kerja merawat bukan sekadar urusan domestik, melainkan KERJA POLITIK yang menopang kehidupan bersama. Sayangnya, kita masih sering menganggap kerja-kerja itu sebagai “TUGAS PEREMPUAN”. Ketika seorang ibu memastikan anaknya makan, membersihkan rumah, mengantar imunisasi, berjaga semalaman saat anak demam, atau mengajari anak mencuci tangan, semua itu dianggap naluri, ckckck..Padahal, negara menikmati hasil dari kerja-kerja tersebut setiap hari
TANPA KERJA PERAWATAN, TIDAK AKAN ADA GENERASI EMAS YANG BISA DIBANGGAKAN DALAM PIDATO
Ironisnya, kita terlalu sibuk mengukur tinggi badan anak, tetapi lupa bertanya apakah REMAJA PUTERI di negeri ini sudah bebas dari anemia. Kita begitu bangga membagikan makanan bergizi kepada anak sekolah, tetapi belum tentu memastikan apakah perempuan yang suatu hari akan melahirkan mereka telah memperoleh PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI yang memadai. Kita sibuk bicara tentang masa depan anak, padahal masa depan itu sedang tumbuh di TUBUH PEREMPUAN-PEREMPUAN MUDA HARI INI.
Di sinilah saya melihat bahwa Hari Anak Nasional sesungguhnya bukan hanya tentang anak. Hari ini juga seharusnya menjadi pengingat untuk MELIHAT PEREMPUAN DENGAN LEBIH SUNGGUH-SUNGGUH.
Merawat anak tidak cukup dilakukan dengan menyediakan makanan bergizi. Merawat anak berarti memastikan perempuan tumbuh sehat sejak remaja, memperoleh pendidikan yang baik, mendapatkan tablet tambah darah, memiliki akses terhadap pelayanan kesehatan, menjalani kehamilan yang aman, melahirkan dengan layak, hidup di lingkungan yang bersih, dan tidak dibiarkan menghadapi semua itu sendirian.
Carol Gilligan mengingatkan bahwa peradaban bertahan bukan hanya karena hukum atau kekuasaan, tetapi juga karena kepedulian dan relasi saling merawat. Sayangnya, kerja-kerja kepedulian itu hampir selalu dilekatkan pada perempuan tanpa diikuti penghargaan yang setara. Padahal, merawat kehidupan bukan semata tanggung jawab perempuan. Itu adalah tanggung jawab keluarga, masyarakat, dan negara.
Saya kira ini sebuah ironi Hari Anak Nasional. Kita begitu bersemangat merayakan anak-anak, tetapi sering lupa MENJAGA PEREMPUAN yang sejak awal membawa masa depan itu di dalam rahimnya.
Jadi, kalau hari ini kita sungguh ingin merayakan anak, mulailah dengan MERAYAKAN PEREMPUAN. Bukan dengan bunga, atau ucapan manis setiap 23 Juli, tpi dgn kebijakan yang benar-benar membuat perempuan lebih sehat, aman, berpendidikan, dan bermartabat. Dan, kalau negara benar-benar ingin membangun generasi emas, berhentilah menjadikan perempuan hanya sekadar latar belakang dalam cerita tentang anak.
____________________
*Helena Beraf: Bidan, Guru, Perempuan ( yang menulis))


