Jakarta, 1 Agustus 2026 beranda negeri.com — Diskusi dan peluncuran trilogi buku pendidikan Papua sukses digelar. Acara berlangsung Sabtu (1/8/2026) di Media Center KWI, Jakarta. Buku berjudul Kisah-Kisah Guru Perintis mencatat dedikasi era 1962–1980. Sementara itu, buku Hati yang Menyala di Ufuk Timur mengulas Sekolah Kesadaran. Seluruh karya mendokumentasikan penerapan Pedagogi Ignasian di daerah terpencil. Peluncuran karya inspiratif ini didukung penuh oleh Penerbit Gramedia.
Penulis buku, Bernada Rurit, membagikan proses panjang di balik penulisan trilogi. Tim riset mewawancarai hingga 125 narasumber di berbagai wilayah. Transkrip wawancara tersebut bahkan mencapai lebih dari 3000 halaman.
“Guru perintis bukan sekadar pengajar, tetapi juga pemimpin lokal,” tegas Bernada.
Ia menceritakan kisah para guru yang bertugas di medan ekstrem. Mereka harus berjalan kaki selama empat hari menuju lokasi bertugas. Bahkan, ada guru yang hanya dua kali turun kota dalam lima tahun.
“Jasa mereka begitu besar, tetapi bergerak dalam kesunyian,” ungkap Bernada.
Ia menambahkan bahwa kebaikan para guru perintis membuahkan hasil indah. Anak-anak para guru tersebut kini berhasil meraih kesuksesan hidup.
“Buku ini menjadi penghormatan abadi bagi dedikasi mereka,” pungkasnya.
Penulis satunya, Pastor J. Sudrijanta, S.J., memaparkan sejarah panjang pendidikan Katolik. Misi Katolik di Papua diawali kehadiran Pater Le Cocq pada 1894.

“Strategi misi Katolik selalu membangun gereja, sekolah, dan pelayanan kesehatan,” jelas Sudrijanta.
Ia mengungkapkan gelombang guru perintis berkembang pesat sejak era 1960-an. Sepanjang 1963–1968, terdapat 414 guru yang dikirim ke Papua. Sebagian besar guru perintis tersebut berasal dari sekolah guru di Yogyakarta.
“Pengorbanan mereka di daerah konflik menjadi fondasi kuat pendidikan Papua,” tegasnya.
Proses penulisan trilogi ini menghadapi berbagai tantangan besar di lapangan. Tim penulis sempat dihadang oknum warga berparang saat bertugas, pun tantangan berat lainnya yang lebih mendebarkan. Namun, tekad kuat berhasil melahirkan karya sejarah yang berharga.
Diskusi ini dipandu oleh Basil Triharyanto selaku moderator acara. Tokoh pendidikan Papua, Ignatius Adii, turut memberikan pandangan mendalamnya. Guru perintis Suratmin dan Maria Eria hadir menyapa peserta via Zoom.
Perjuangan guru pedalaman kini menjadi warisan berharga bagi bangsa. Dedikasi sunyi mereka terus menyalakan api harapan bagi pendidikan Indonesia.
——————–

