• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Senin, Agustus 3, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home UMUM

Antara Mangkunegara IV dan Ranggawarsita dalam Serat Wredhatama: Warisan Kebijaksanaan Jawa untuk Membangun Karakter Bangsa

by Redaksi
Agustus 2, 2026
in UMUM
0
Antara Mangkunegara IV dan Ranggawarsita dalam Serat Wredhatama: Warisan Kebijaksanaan Jawa untuk Membangun Karakter Bangsa

Foto: Mangkunegoro - IV

0
SHARES
6
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

Oleh  Agus  Widjajanto, Pemerhati Sosial Budaya

 

Di tengah derasnya arus globalisasi, kemajuan teknologi, dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat, bangsa Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menjaga identitas dan karakter. Kemajuan ilmu pengetahuan memang membawa banyak manfaat, tetapi tanpa fondasi moral dan spiritual yang kokoh, kemajuan itu justru dapat melahirkan krisis etika, lunturnya kepedulian sosial, serta hilangnya jati diri bangsa.

Dalam situasi seperti ini, warisan sastra Jawa klasik kembali menemukan relevansinya. Sastra Jawa bukan sekadar karya seni bahasa, melainkan khazanah pemikiran yang mengandung filsafat hidup, pendidikan karakter, serta nilai-nilai spiritual yang tetap hidup melampaui zamannya. Dua tokoh besar yang meninggalkan warisan tersebut adalah KGPAA Mangkunegara IV dan Raden Ngabehi Ranggawarsita.

Keduanya hidup pada abad ke-19 dan sama-sama menjadi pujangga besar Tanah Jawa. Meskipun pendekatan mereka berbeda, tujuan yang hendak dicapai sama, yaitu membentuk manusia yang berkarakter, berakhlak, dan memiliki kesadaran spiritual.

Sebagai pujangga terakhir Keraton Surakarta, Ranggawarsita melahirkan karya-karya monumental seperti Serat Kalatidha, Serat Jaka Lodhang, dan Serat Wirid Hidayat. Karya-karyanya tidak hanya memiliki nilai sastra yang tinggi, tetapi juga mengandung pemikiran sufistik yang mendalam. Tentu saja, karya-karya tersebut bukan sumber kebenaran sebagaimana kitab suci, melainkan sumber inspirasi yang mengajarkan manusia membaca realitas kehidupan, memahami perubahan zaman, serta menemukan makna di balik setiap peristiwa.

Sementara itu, Mangkunegara IV menghadirkan warisan yang lebih bersifat praktis melalui Serat Wredhatama, sebuah karya yang mengajarkan bagaimana manusia menjalani kehidupan dengan benar melalui pengendalian diri, keteladanan, dan laku spiritual. Jika Ranggawarsita banyak mengajak manusia memahami hakikat kehidupan melalui perenungan batin, Mangkunegara IV menunjukkan bagaimana pemahaman tersebut diwujudkan dalam tindakan nyata.

 

Raja yang Menjadi Pujangga

KGPAA Mangkunegara IV (1809–1881), yang bernama kecil Raden Mas Sudira, merupakan Raja Mangkunegaran keempat. Pada masa mudanya ia dikenal sebagai prajurit pemberani hingga memperoleh gelar Prabu Prangwedana atau “Raja Ahli Perang”. Namun setelah naik takhta pada tahun 1853, arah hidupnya berubah. Istana tidak dijadikannya sebagai simbol kemewahan, melainkan sebagai pusat pembelajaran, perenungan, dan pendidikan moral.

Dari tangannya lahirlah karya-karya besar seperti Serat Wredhatama, Serat Tripama, dan Serat Darmawasita, yang seluruhnya berisi tuntunan hidup dan pembentukan karakter.

Mangkunegara IV bukan sekadar menulis nasihat, tetapi menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah beliau sering dijadikan teladan konsep Sabda Pandhita, yakni seorang bijaksana yang ucapannya memiliki wibawa karena lahir dari hati yang bersih dan dibuktikan melalui perbuatan.

Kesederhanaannya menjadi kisah yang terus dikenang. Meskipun seorang raja, kehidupan pribadinya sangat sederhana. Ketika para menteri mempertanyakan mengapa beliau tidak hidup mewah, Mangkunegara IV menjawab: “Yen aku sugih barang, batinku bisa mlarat. Yen batinku sugih, negaraku ora bakal kekurangan.” Artinya, apabila dirinya kaya harta, batinnya justru bisa miskin. Sebaliknya, apabila batinnya kaya, negaranya tidak akan pernah benar-benar kekurangan.

Jawaban sederhana itu menunjukkan bahwa kekayaan sejati bukan terletak pada harta benda, melainkan pada keluhuran budi.

 

Serat Wredhatama dan Jalan Menjadi Manusia Utama

Serat Wredhatama ditulis sekitar tahun 1870-an. Kata wredha berarti tua atau bijaksana, sedangkan tama berarti utama. Dengan demikian, Wredhatama dapat dimaknai sebagai ajaran kebijaksanaan menuju manusia utama.

Karya ini terdiri atas lima pupuh macapat yang masing-masing membahas dimensi berbeda dalam kehidupan manusia.

Pupuh Pangkur mengajarkan pentingnya mencari ilmu dan memperdalam agama. Belajar tidak mengenal usia, dan ilmu harus berjalan seiring dengan keimanan.

Pupuh Sinom membahas kehidupan bermasyarakat, keluarga, serta kepemimpinan yang dilandasi tanggung jawab dan tepa selira.

Pupuh Pocung mengingatkan manusia agar mampu mengendalikan hawa nafsu, menjauhi keserakahan, kesombongan, dan kemarahan.

Pupuh Gambuh mengajarkan laku spiritual melalui keheningan, tapa brata, dan pendekatan kepada Tuhan.

Sedangkan Pupuh Kinanthi menekankan kasih sayang, welas asih, dan keluhuran budi sebagai puncak kesempurnaan manusia.

Melalui keseluruhan ajaran tersebut, Mangkunegara IV hendak membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

 

Ngelmu Iku Kelakone Kanthi Laku

Salah satu ajaran paling terkenal dalam Serat Wredhatama berbunyi: “Ngelmu iku kelakone kanthi laku.” Ilmu tidak menjadi bernilai hanya karena dipahami atau dihafalkan. Ilmu memperoleh maknanya ketika diwujudkan dalam tindakan nyata.

Bagi Mangkunegara IV, seseorang belum dapat disebut berilmu apabila perilakunya bertentangan dengan apa yang diajarkannya. Pengetahuan harus menyatu dengan tindakan sehingga melahirkan keteladanan.

Karena itu, beliau lebih dahulu menjalani laku kehidupan sebelum menuliskan ajarannya. Nasihat yang lahir bukan berasal dari teori semata, melainkan dari pengalaman batin yang telah ditempa melalui disiplin hidup.

 

Sabda Pandhita: Keteladanan sebagai Sumber Wibawa

Puncak ajaran Serat Wredhatama adalah konsep Sabda Pandhita.

 

Dalam pupuh Kinanthi disebutkan:

Sabda pandhita tan ana ingkang ngliya,

Ginentor ing tyas suci,

Tan ngawur yen masesa,

Nglurug tanpa bala,

Menang tanpa ngasorake,

Sekti tanpa aji-aji,

Sugih tanpa bandha.

 

Makna bait tersebut bukan berbicara mengenai kesaktian dalam arti mistis, melainkan mengenai integritas seorang manusia.Ucapan hanya akan memiliki kekuatan apabila lahir dari hati yang bersih (tyas suci), disampaikan dengan penuh kebijaksanaan, mampu menyadarkan tanpa paksaan (nglurug tanpa bala), memenangkan persoalan tanpa mempermalukan orang lain (menang tanpa ngasorake), memiliki kewibawaan tanpa mengandalkan kekuasaan (sekti tanpa aji-aji), serta kaya batin meskipun hidup sederhana (sugih tanpa bandha). Dengan kata lain, kewibawaan lahir dari keteladanan, bukan dari jabatan ataupun kekuasaan.

 

Ranggawarsita dan Guru Sejati

Jika Mangkunegara IV menekankan laku kehidupan, Ranggawarsita lebih mengajak manusia mengenali dirinya sendiri.

Dalam karya-karyanya, ia memperkenalkan konsep Sangkan Paraning Dumadi, yaitu kesadaran mengenai asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia.

Menurut Ranggawarsita, guru sejati sesungguhnya berada di dalam diri manusia sendiri, yakni hati nurani yang telah dibersihkan melalui laku kehidupan. Karena itu, manusia perlu belajar mendengarkan suara batinnya agar mampu membedakan yang benar dan yang salah.

Selain hati nurani, alam semesta juga dipandang sebagai guru. Setiap peristiwa, perubahan musim, kegagalan, maupun keberhasilan merupakan pelajaran yang mengingatkan manusia agar tidak sombong dan selalu rendah hati. Di sinilah titik temu pemikiran kedua pujangga tersebut.

 

Eling sebagai Jembatan

Baik Ranggawarsita maupun Mangkunegara IV sama-sama menempatkan eling sebagai fondasi kehJembata

Eling bukan sekadar mengingat, tetapi hidup dalam kesadaran penuh terhadap Tuhan, diri sendiri, dan sesama.

Kesadaran tersebut melahirkan kewaspadaan, pengendalian diri, serta kemampuan mengelola emosi.

Ranggawarsita mengajarkan bahwa manusia perlu belajar diam, hening, dan nerima agar mampu menguasai rasa. Ungkapannya yang terkenal, “Sapa sing bisa nguwasani rasa, bakal bisa nguwasani urip,”

Mengandung pesan bahwa orang yang mampu mengendalikan batinnya akan lebih mampu menjalani kehidupan secara bijaksana.

Dengan demikian, bila Ranggawarsita membangun kesadaran batin, maka Mangkunegara IV membangun karakter melalui tindakan. Yang satu mengajarkan bagaimana menemukan cahaya di dalam diri, sedangkan yang lain mengajarkan bagaimana cahaya itu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

 

Relevansi bagi Indonesia

Ajaran kedua pujangga tersebut tetap relevan bagi Indonesia masa kini. Di tengah berkembangnya budaya materialisme, kompetisi tanpa etika, serta krisis keteladanan, Serat Wredhatama mengingatkan bahwa manusia tidak diukur dari jabatan, kekayaan, ataupun popularitas, melainkan dari kemampuannya mengendalikan diri.

Konsep eling lan waspada, andhap asor, tepa selira, welas asih, dan ngendhaleni hawa nafsu merupakan fondasi pembentukan karakter bangsa.

Bangsa Indonesia tidak hanya membutuhkan manusia yang cerdas, tetapi juga manusia yang jujur, rendah hati, berintegritas, dan mampu menjaga keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, sosial, serta spiritual.

Pada akhirnya, baik Mangkunegara IV maupun Ranggawarsita mengajarkan hal yang sama, yaitu bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan diri sendiri. Sebagaimana ditegaskan Mangkunegara IV:

Ngelmu iku kelakone kanthi laku.

Ilmu akan menjadi cahaya apabila diwujudkan dalam tindakan. Dari tindakan yang baik lahirlah keteladanan. Dari keteladanan lahirlah kepercayaan. Dan dari kepercayaan itulah terbentuk Manungsa Utama, manusia yang tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga mulia dalam budi pekerti.

Warisan kedua pujangga besar tersebut sudah semestinya tidak berhenti sebagai peninggalan sejarah atau sastra klasik semata. Nilai-nilainya perlu terus dihidupkan dalam keluarga, pendidikan, pemerintahan, dan kehidupan bermasyarakat. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi dan teknologi, melainkan bangsa yang mampu menjaga akar budayanya serta membangun peradaban yang berlandaskan kebijaksanaan, kemanusiaan, dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

ShareTweetSend

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

‘Pandemi Baru’ dan Syarat Kepemimpinan

5 tahun ago
Kemenparekraf Ajak Penyelenggara Event Siapkan Kegiatan Wisata Pasca-COVID-19

Kemenparekraf Ajak Penyelenggara Event Siapkan Kegiatan Wisata Pasca-COVID-19

6 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In