Mau Kemana Diaspora Lamaholot ? Ini Pendapat Ketua Tite Hena Jabodetabek

Sambutan Ketua Tite Hena Fidelis Lein pada acara serah terima. (Foto : Frengky)

BERANDANEGERI.COM,- Sekalipun konsepsi hidup masyarakat dalam budaya Lamaholot di Flores Timur, tidak membedakan warga yang tinggal di kampung atau Lewotana (Flores Timur) dengan para perantau, usaha untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman tetap harus ditingkatkan. Solidaritas, kolaborasi dan jejaringan perlu dimasuki sebagai upaya lain membangun kebersamaan menuju kesejahteraan.

Ketua Tite Hena Periode 2019-2022 Fidelis Lein mengatakan hal itu dalam sambutan pada pada acara serah terima kepengurusan Kerukunan Tite Hena di Aula SMU PAX PATRIAE, Jl.Gardenia Raya Utara Bekasi, Sabtu 26 Oktober 2019.

Acara dihadiri Bupati Flores Timur Anton Hadjon, Wakil Bupati Flores Timur Agus Payong Boli, Wakil Ketua DPRD Yoseph Paron Kabon, sesepuh masyarakat Lamaholot jakarta, Perwakilan Ikatan Keluarga Besar (IKB) dalam komunitas Lamaholot, dan warga dan anggota Kerukunan Tite Hena.

Fidelis Lein mengatakan, visi kepengurusan yang dipimpinnya adalah “One Tou Khirin Ehan”  atau juga “ Puin Ta’an Ulin Ehan, Gahan Ta’an Kahan Olo (Satu Tite Hena dalam Diaspora, Lewotanah dan Indonesia).

Tema ini mau mengatakan bahwa saat ini kerukunan Tite Hena sedang menapaki anak tangga dari kepengurusan sebelumnya yang mengusung visi “Semakin dekat-semakin akrab dan semakin bersaudara” atau “ Herun Dike Haban Saren. Kunci kepengurusannya adalah”One Tou Khirin Ehan” di antara sesama warga Diaspora Flores Timur.

Menurut Fidelis, untuk mewujudkan visi ini butuh proses dan tidak langsung jadi. Karena itu perlu dipadukan, dipadatkan, direkatkan dan diikat menjadi satu “Ulin Ehan” dan di gahan/ dibungkus/ dibentangkan dalam satu “Kahan Olo”.

“Kita tahu banyak perubahan-perubahan besar yang terjadi di dunia ini. Perubahan itu disertai juga dengan solidaritas. Solidaritas bertumbuh karena kesamaan kepentingan, kesamaan tujuan, kesamaan cita-cita,” katanya.

Dengan berbagai kekuatan, potensi, kelemahan juga tantangan yang dirasakan dan dihadapi, menurut dia, kedepannya masyarakat diaspora harus memulai konsolidasi, berkolaborasi,dan berjejaring.

” Tite Hena pun demikian, dalam tiga tahun ke depan harus konsolidasi ke dalam sambil bergerak ke luar.,” ungkapnya.

Tuntutan penataan manajemen organisasi ke arah organisasi modern sudah mulai ditingkatkan, termasuk relasi, komunikasi dan koordinasi dengan IKB-IKB. Perlu selalu dibangun dan ditingkatkan, relasi dan semangat gelekat di antara sesama pengurus juga harus dan perlu terus menerus dijaga, dirawat dan ditingkatkan.

“Dua ayunan besar konsolidasi ke dalam  tetapi bergerak ke luar ini menjadi satu ayunan bersama dan dalam satu irama yang sama, tidak hanya di tingkat pengurus Tite Hena dengan pengurus IKB –IKB dan antar IKB dengan IKB,” ujarnya.  

Diaspora Lamaholot, menurut Fidelis, harus menatap ke luar bahwa zaman terus berubah dan bergerak dengan cepatnya. “Kita yang tadinya nyaman hanya bergaul dalam lingkaran kita sendiri, sudah saatnya kita juga harus memulai membuka diri, bergandengan tangan, berjejaringan membentuk komunitas –komunitas baru lintas IKB,” tegasnya.

Dalam perkembangan kehidupan masyarakat dan negara, menurut Fidel kelompok-kelompok diaspora termasuk Tite Hena, sudah harus menetapkan diri sebagai bagiandari masyarakat sipil (civil society) untuk mengambil peran, mengisi ruang-ruang yang tidak bisa diurus oleh Negara/pemerintah dan atau sektor swasta,

“Maka kolaborasi, berjejaringan lintas budaya , lintas komunitas , lintas agama, lintas suku adalah penting dan sudah seharusnya mulai kita lakukan, karena zaman terus bergerak. Dengan cara itu Tite Hena akan ikut berkontribusi merawat Indonesia dan Lewotanah,” harapnya.

“Saya sampaikan, mari kita semua anak-anak Flores Timur Diaspora, mari membuka diri, mari bergandengan tangan, mari sisihkan sedikit dari waktumu, pikiranmu dan barangkali rejekimu  untuk gelekat Lera Wulan Tanah Ekan, Lewotana Bangsa dan Negara,” tutupnya.

Serah terima kepengurusan Tite Hena dari Ketua Simon Lamakadu kepada Fidelis Lein dilakukan dalam sebuah serimonial pengalihan kepemimpinan. Simon Lamakadu menyerahkan sebuah parang dan salendang kepada sesepuh masyararakat Flores Timur Jabodetabek Bapak Umar Uli. Selanjutnya parang dan salendang tersebut diserahkan kepada Fidelis Lein.

Upacara serah terima ini ini berlangsung penuh khidmat, disaksikan Bupati dan Wakil Bupati dan Wakil Ketua DPRD Kab Flores Timur. Sebelumnya dilakukan upacara penyambutan dengan diiringi tarian hedung.

Sebagaimana ajakan ketua Tite Hena Fidelis Lein agar masyarakat diaspora perantauan bersatu, berkolaborasi dan berjejaringan menyambut perubahan saman, maka kiranya diaspora dapat kembali mememberi arti baru dari suatu organisasi perantauan di tengah perubahan.(ben)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here