Kepemimpinan yang Melayani

0
129
Ket. Foto: Ansel Deri

Oleh Ansel Deri

APA yang diharapkan dari seorang pemimpin –di semua level kepemimpinan– tatkala ia mendapat mandat dari rakyat yang dipimpinnya? Bagi pemimpin itu sendiri, apa pelajaran paling utama selama memimpin? Dua pertanyaan saya ajukan bagi masyarakat Kabupaten Dogiyai memperingati dua tahun kepemimpinan Bupati Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Oscar Makai (selanjutnya Dumupa dan Makai), yang jatuh pada 18 Desember 2019.

Apa urgensinya membuat catatan ringkas ini sebagai seorang “asing” di mana lokus domisili saya yang sangat jauh dengan Dogiyai, kabupaten nun di tanah Papua, nusa awal matahari menyapa bumi Pertiwi? Lalu apa pula mesti saya menuangkan waktu dan pikiran kecil ini sedangkan siapa sosok Bupati Dumupa dan wakilnya, Makai, tak pernah saya jumpai secara langsung? Ini pertanyaan retoris lainnya dalam benak saya. Jawaban bisa beragam. Namun, jawaban atas pertanyaan di atas bertolak dari berbagai sumber dan catatan-catatan pribadi Bupati Dumupa di media sosial.

Pemimpin Potensial

Siapa sosok sesungguhnya Bupati Dumapa, setiap warga Papua terutama masyarakat Dogiyai dan sekitarnya tentu punya testimoni. Namun, paling kurang ada hal yang menguras dasar jiwa dan batok saya untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, saya memandang Bupati Dumupa seorang pemimpin potensial yang lahir dari rahim tanah dan honai sendiri, Dogiyai. Ia bukan sekadar anak muda karbitan yang bersolo karir di bidang politik hingga meraih kursi pemerintahan sebagai orang nomor satu Dogiyai.

Namun, lebih dari itu. Pejalanan karier seorang Dumupa dimulai saat diberi mandat rakyatnya menduduki posisi sebagai anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), wadah sosial kultural yang hadir sebagai salah satu perintah Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Panggilan kampung halaman yang memenuhi ruang batinnya membawanya menjadi Bupati Dogiyai dalam usia yang relatif muda. Ia juga putra asli Dogiyai dan seorang intelektual muda lulusan sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.

Kedua, dalam catatan saya, tipikial pemimpin sekelas Dumupa, tak sekadar dibutuhkan untuk memimpin kabupaten yang masih jauh tertinggal dalam berbagai dimensi kehidupan sosial. Namun, lebih dari itu sosok dan kemampuan dia adalah kerinduan bagi Papua bahkan Indonesia di masa akan datang. Ia seorang pemimpin yang tak hanya memimpin kabupaten dalam artian sesungguhnya. Lebih dari itu, ia seorang intelektual muda masa depan Papua dan Indonesia. Berlebihan? Tentu tidak demikian.

Paling kurang itu dalam pikiran saya. setahu saya Bupati Dumupa seorang penulis produktif yang baik. Ia sungguh tengah merawat peradaban Indonesia melalui karya tulis berupa buku bertema kepemimpinan, politik, pembangunan, dan sastra. Hingga saat ini –setahu saya– sudah sembilan buku karya Bupati Dumupa. Dalam catatan saya, dua buku terakhir karya Bupati Dumupa yang terbit penghujung 2019 adalah Kata yang Menghidupkan dan Apa Itu Cinta? lewat Penerbit Ikan Paus, Lamalera, Lembata.

Dalam dua buku itu, pria asli suku Mee itu menuliskan kata-kata inspiratif atau ekspresi cintanya kepada Tuhan, sang Sumber Cinta via laman Facebook miliknya bagi pembaca, tak hanya di Kabupaten Dogiyai atau Papua namun juga umat manusia penikmat kebesaran cinta-Nya di bawah kolong langit. Boleh jadi, ia adalah salah seorang bupati di tanah Papua yang tergolong produktif dalam menulis buku (tentu masih ada bupati lain di Papua yang juga menyisikan waktu menulis buku). Menemukan sosok bupati penulis di era keterbukaan teknologi informasi adalah –seperti kata anak baru gede/ABG– sesuatu banget. Mereka, para pemimpin yang juga penulis adalah kelompok yang ikut merawat peradaban umat manusia lewat tradisi literasi. 

Melayani hingga Kampung

Dumupa dan Makai dilantik Gubernur Papua Lukas Enembe di Gedung Negara, Dok V Jayapura, Papua, Senin, 18 Desember 2017. Pada saat bersamaan, Gubernur Enembe juga melantik Wakil Bupati Yalimo Erdi Dabi sisa masa jabatan 2016-2012. Salah satu pesan penting Enembe ialah pejabat yang dilantik dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Mereka diharapkan bergandengan tangan melaksanakan tugas di kabupaten dan menjalankan kewenangan daerah sesuai peraturan yang berlaku.

Berikut dapat memantau jalannya pemerintahan baik di tingkat kabupaten hingga kampung. “Saya ingin berpesan untuk Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih agar dapat menjalankan pemerintahan dengan sungguh-sungguh untuk mensejahterakan rakyat dalam bingkai NKRI,” ujar Gubernur Enembe kepada Bupati Dumupa dan wakilnya, Makai, saat berlangsung prosesi pelantikan. Pesan ini mau tidak mau menuntut kesiapan pemimpin memberi diri, menjadi pelayan masyarakat.

Meski demikian, menjadi pemimpin tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia (pemimpin) dituntut bekerja dengan totalitas pengabdian bersama warga masyarakat bekerja keras memaksimalkan seluruh potensi sumber daya alam yang dimiliki guna memajukan daerah sesuai kemampuan yang dimiliki. Dalam konteks Dogiyai, Dumupa dan Makai dituntut memajukan daerah yang dipimpinnya sesuai visi yang diusung ‘Dogiyai Bahagia’. Mewujudkan Dogiyai bahagia, tersenyum, aman, sejahtera lahir dan batin hanya bisa digapai melalui kepemimpinan melayani melampaui sekat-sekat primordial. Entah suku, agama, asal usul dan relasi kekerabatan. Ia (pemimpin) siap memberi hati, waktu, tenaga, pikiran, ilmu bahkan nyawa untuk kemajuan rakyat dan daerahnya mulai dari kota hingga kampung. Selamat merayakan dua tahun kepemimpinan untuk Bupati Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Oskar Makai pada 18 Desember 2019. Hormat dibri. Tuhan berkati. Wa wa wa……….

Ansel Deri, Sekretaris Papua Circle Institute; Tenaga Ahli Anggota DPR Dapil Papua 2009-2014

Hp./WA: 081382930629 / 082213433110

E-mail: anselderie@yahoo.co.id

Sumber : Papua Pos Nabire, 18 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here