“Pangeran dari Timur”, Narasi Sastra dan Tafsir Rupa

0
195
Ket. Foto: Acara Peluncuran Novel "Pangeran dari Timur". Penulis Novel: Kurnia Effendi (kiri) - Iksaka Banu (tengah)

BELAKANGAN ini karya-karya sastra Indonesia tumbuh cukup subur. Munculnya karya-karya sastra tidak hanya menggembirakan dunia sastra namun juga dunia ilmu sosial yang mulai melirik sastra setelah jenuh dengan positivisme. Ilmu sejarah juga mulai mencari bentuknya dengan cara penulisan sejarah yang lebih memikat. Novel Pangeran dari Timur yang ditulis oleh Iksaka Banu dan Kurnia Effendi adalah salah satu cara sastrawan menulis sejarah dengan cara sastrawi. Bertempat di Museum Bank Indonesia, Jln. Pintu Besar Utara No. 3,  Sabtu, 14 Maret 2020 novel ini diluncurkan. Tampil sebagai pembicara dalam acara peluncuran itu adalah Iksaka Banu dan Kurnia Effendi, penulis novel Pangeran dari Timur. Yang menarik dari acara peluncuran novel ini adalah sesi action painting. Ini adalah sebuah sesi dimana bagian novel ini dibacakan disertai coretan lukisan yang dibuat oleh pelukis Widi S. Martodihardjo. Sambil mendengarkan narasi penggalan novel Pangeran dari Timur, yang dinarasikan oleh Nana Riskhi Susanti, Widi, pelukis dari Bali itu mencoba menangkap pesan cerita dan menuangkannya di atas kanvas.

Ket. Foto: Pelukis Widi S. Martodihardjo sedang menuangkan di atas kanvas ide yang ditangkap dari narasi novel “Pangeran dari Timur”

Dari Sayembara Skenario Film hingga Beasiswa ke Negeri Belanda

Penulisan novel ini bermula dari sebuah sayembara skenario film tentang Raden Saleh yang diadakan oleh sebuah majalah wanita. Ketika itu Iksaka Banu dan Kurnia Effendi berniat mengikuti lomba tersebut. Rintangan pertama yang mereka temui adalah tidak adanya buku referensi tentang Raden Saleh. Gairah untuk menulis Raden Saleh muncul lagi saat Banu dan Effendi berbelanja buku murah di Teater Utan Kayu. Pada saat itu mereka mendapatkan sebuah buku tipis yang mengulas tentang Raden Saleh. Pada tahun itu mereka juga terpukau oleh gaya tulisan Alan Lightman dalam novel Mimpi-Mimpi Einstein yang diterjemahkan oleh Yusi Avianto Pareanom, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Cara Alan bertutur sungguh filmis. Hal itu memicu awal penulisan sepenggal kisah mengenai Raden Saleh, maestro pelukis yang – ndilalah– menempati posisi ambigu dalam silang pendapat, baik dari kritikus seni rupa maupun pengamat nasionalisme.

Ket. Foto: Novel “Pangeran dari Timur”

Kerja keras untuk menggarap novel ini dilanjutkan dengan pasang surutnya semangat Banu dan Effendi. Bila ada diskusi, pameran, perhelatan yang terkait dengan Raden Saleh, Banu dan Effendi berusaha mengikuti acara-acara itu guna menambah informasi. Seluruh indra mereka kembangkan untuk mengendus, mengintai, mencari buku-buku, mailing list yang berhubungan dengan tokoh Raden Saleh.

Tahun 2017, adalah tahun ‘berkat’ bagi penulisan novel itu. Salah satu penulis novelnya, Kurnia Effendi, mendaftarkan diri sebagai calon peserta reseidensi penulis di luar negeri. Negeri Belanda dipilih sebagai tempat risetnya dengan tujuan ingin napak tilas Raden Saleh agar tidak ada alasan lagi bagi tertundanya penulisan novel yang sudah belasan tahun tak kunjung rampung. Proposal akhirnya disetujui oleh Komite Buku Nasional sehingga beasiswa unggulan dari Kemendikbud menjadi bekal residensi selama dua bulan di Belanda. Selama di Belanda Kurnia Effendi dengan sungguh-sungguh mengunjungi setiap tempat dan mencatat informasi  yang berhubungan dengan Raden Saleh.

Kegelisahan Banu dan Effendi berikutnya adalah bagaimana cara menempatkan Raden Saleh sebagai sosok yang mereka kagumi (mungkin karena sama-sama penghamba seni rupa) tetapi dari sisi patriotisme, perjalanan hidupnya justru mendapat privilese dari pihak yang sedang menginjak-injak harga diri bangsanya. Banu dan Effendi akhirnya menemukan cara untuk meramu ‘kontroversi’ tentang Raden Saleh. Plot untuk penulisan novel Raden Salah menemukan titik terangnya. Penulisan novel ini di bagi dalam dua arus zaman: abad ke-19 (masa kehidupan Raden Saleh) dan abad ke-20 (masa pergerakan menjelang kemerdekaan Indonesia).

Siapakah Raden Saleh?

Raden Salah Syarif Boestaman lahir di Terboyo, Semarang, tahun 1811. Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa-Arab dari pasangan Sayyid Hoesan bin Alwi bin Awal bin Yahya dan Mas Adjeng Zarip Hoesen. Ketika berusia 10 tahun, Raden Saleh diserahkan kepada pamannya Kyai Adipati Soero Menggolo, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Semarang. Pamannya merupakan salah satu anggota Javaansch Weldadig Genootschap (masyarakat filantropi), yang sebagian besar anggotanya adalah pejabat Belanda.

Keramahan Raden Saleh dalam bergaul memudahkannya masuk dalam lingkungan orang-orang Belanda. Ia diterima bekerja di Lembaga Pusat Penelitian Pengetahuan dan Kesenian Bogor. Di lembaga itu ia bertemu dengan Antonie Auguste Joseph Payen, seorang pelukis keturunan Belgia yang ditugaskan pemerintah kolonial untuk melukis pemandangan alam di Hindia Belanda untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen Belanda. Raden Saleh belajar melukis pada Payen.

Foto Raden Saleh

Ketika Payen harus kembali ke Eropa pada 1825, Raden Saleh sudah menjadi bagian dari keluarga Jean Baptise de Linge, seorang akuntan di Direktorat Keuangan. Ketika de Linge diperintahkan untuk melakukan perjalanan ke Belanda, pada saat itu Raden Saleh ikut bersama mereka. Setelah tugas selesai, ketika de Linge bertolak dari Belanda, Raden Saleh justru memutuskan untuk tinggal dan belajar lebih lama di Belanda. Di Belanda ia belajar melukis potret pada Cornelis Kruseman. Raden Saleh juga belajar melukis pemandangan kepada Andries Schelfhout. Dari Belanda Raden Salaeh terus mengembara ke Eropa.

Pada 1851 Raden Saleh kembali dari Eropa ke Hindia Belanda. Raden Saleh menikah dengan Constancia sekitar tahun 1855 dan tinggal di Kampung Gunung Sahari di utara kota. Raden Saleh kemudian bercerai dan menikah lagi dengan Raden Ayu Danoediredjo, seorang gadis keluarga ningrat dari Keraton Yogya. Raden Saleh meninggal dunia pada 23 April 1880 dan di makamkan di TPU Bondongan, Bogor.

Menulis novel Pangeran dari Timur, membutuhkan waktu yang cukup panjang, sekitar 20 tahun, tutur Iksaka Banu dan Kurnia Effendi. Namun harus diakui, buku setebal 593 halaman ini merupakan sebuah sumbangan besar bagi dunia sastra dan perbukuan di Indonesia. Manusia sudah menjadi makhluk bersastra sejak bayi, melalui kidung yang disenandungkan oleh ibu. Makluk kecil itu lalu belajar menjadi makhluk pencerita. Manusia adalah homo fabulator (makhluk pencerita), tulis Ben Okri dalam bukunya A Way of Being Free. Cerita itu kini kita nikmati dalam novel Pangeran dari Timur.

Paskalis Bataona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here