Arief, “Dian”, dan Taman Suropati

Ket. Foto: Arief Budiman

Oleh Ansel Deri

SUATU waktu antara tahun 1999-2000. Saya berjalan kaki dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menuju Taman Suropati, Menteng, tak jauh kediaman Soeharto, Presiden Republik Indonesia selama 32 tahun lebih. Setelah bertemu narasumber di YLBHI di bilangan Jalan Diponegoro, Menteng. Kantor itu seatap dengan kantor Koordinator untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Kontras ini yang belakangan naik daun di bawah pimpinan mas Munir Abdul Thalib atau beken dengan sapaan Munir, arek Malang bertubuh kecil namun berotak cerdas. Selain tentu mas Teten Masduki (kini Menteri yang membantu Presiden Joko Widodo), koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW). Di ruang ini, saya pernah bersua dengan Munir. Munir ini yang belakangan heboh dengan kisah diracun dengan arsenik dalam pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta-Amsterdam.

Tak hanya Munir. Mas Bambang Wijojanto juga pernah saya temui. Selain sebagai narasumber untuk laporan saya ke Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian di Ende, Flores. Selain wawancara dengan mas Bambang, saya juga sempat mengajak mas Bambang (belakangan jadi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk menjadi keynote speech peluncuran OZON, majalah berita bulanan yang saya ikut rintis dengan core sajian seputar lingkungan hidup, pertambangan, pariwisata, kehutanan, dll. Majalah milik Pak Karel Danorikoe, putra Todo, Manggarai, kami launching (luncurkan) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Cipayung, Jakarta Timur. Dari YLBHI saya juga leluasa mewawancarai Ibu Apong Herlina SH, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, terutama soal isu-isu hukum di DKI Jakarta.

Niat saya ke Taman Suropati tak lain melihat dari dekat aksi demo di jalan antara Kantor Menteri Bappenas dan Taman Suropati. Sebagian massa duduk-duduk dalam taman itu karena mungkin kelelahan. Selain sebagai bahan laporan saya ke Dian, sekalian juga kongkow-kongkow dengan beberapa rekan wartawan yang baru saya kenal. Maklum. Wartawan muka baru. Perlu gaul dan bisa melatih lidah saya agak tak kaku lagi dengan bahasa Indonesia logat Kupang atau Lembata. Begitu kira-kira bayangan saya saat itu. Sambil ngeteh dan nikmati tahu dan tempe goreng dengan seorang rekan wartawan asal Semarang, mata saya tertuju pada sosok yang familiar di bawah pohon. Ia tengah dikerubuti beberapa rekan media.

Kali ini saya sungguh beruntung. Bertemu langsung dengan Arief Budiman. Nama aslinya Soe Hok Djin. Ia tak sekadar seorang sosiolog namun juga penulis hebat dan intelektual Indonesia. Ia pemikir kritis era Orde Baru. Kala itu wajah dan komentarnya kerap menghiasi sejumlah media nasional. Namun, dalam pikiran saya Arief adalah pengajar Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. “Itu Pak Arief Budiman, mas. Sosiolog yang brilian. Kayanya beliau lagi tugas di Jakarta. Bisa sampari dan wawancara beliau. Asyik orangnya,” kata mas Joko, rekan jurnalis kepada saya. Tantangan baru bagi saya mewawancarai tokoh sekaliber Arief Budiman. Saya mencoba meyakinkan diri. Kalau saja Pak Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, Jenderal Kemal Idris, Chris Siner Keytimu, Roch Basuki Mangunpurojo saja saya tembus mewawancarai mereka, mengapa Pak Arief nggak bisa?

Itulah alasan saya mendekati Arief Budiman, mengorek banyak soal tentang demo yang kerap dilakukan rekan-rekan mahasiswa dan elemen-elemen lain kala itu. Dari mana pangkal soal aksi demo yang kerap melimpuhkan beberapa ruas jalan di Ibukota. Apakah pangkal soalnya adalah kebijakan Presiden Soeharto yang ditentang sebagian kalangan atau ada agenda lain di balik itu. Bagi saya, Arief Budiman adalah sosok yang tepat saya ajukan pertanyaan. “Saya sudah lama tahu Dian. Media itu kayanya sudah lama terbit. Anda ditugaskan Dian di Jakarta?” tanya Pak Arief usai saya wawancara. “Saya hanya kontributor lepas, Pa Arief. Saya terima kasih karena sudah menyampaikan banyak gagasan,” kata saya menimpali. Dan ia segera bergegas meninggalkan Taman Suropati.

Nama Arief Budiman belakangan menghilang. Sosiolog ini kabarnya menuju Melbourne, Australia dan menjadi pengajar di Melbourne University. Di kota negeri Kanguru itu, ia sempat menghabiskan waktunya sebagai dosen. Kabar Arief mengajar di kampus itu juga pernah disinggung ama Dr Justin Laba Wejak, salah seorang pengajar Kajian Asia di Melbourne University dari kampung Baolangu, Nubatukan, Lembata. “Tapi kayanya beliau sudah kembali ke Salatiga,” kata ama Justin. Hari ini, kabar mengejutkan Arief Budiman berpulang. Sosiolog brilian kebanggaan itu menghadap Tuhan. Ia menutup mata di bawah langit Ungaran, Jawa Tengah pada Kamis, 23 April 2020 di usia 79 tahun.

Justin mengenang kolega baiknya itu, sesama pengajar di Melbourne University, melalui Ata Lembata, grup WA warga asal Lembata sedunia. Kata Justin, Prof. Arief Budiman, akademisi dan aktivis, menjadi founder Professor untuk Indonesian Studies di Universitas Melbourne (1997-2007). “Dia senior saya di lembaga itu, dan sama-sama mengajar satu mata kuliah tentang Ketimpangan Sosial di Indonesia. Banyak kenangan indah selama 10 tahun bersama di Melbourne; dia dikenang sebagai sosok sahaja dan humanis yang luwes bergaul dengan siapapun. Selamat jalan sang Mentor yang sahaja dan polos,” kata magun Justin, lulusan STF Ledalero Maumere, Flores.

KH Dr Ahmad Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah melukiskan sekilas sosok alm Arief Budiman. Kata Gus Mus, hari ini mendengar berita saudara dan guru kita Prof Dr Arief Budiman berpulang ke rahmatuLlãh. Kita kehilangan seorang tokoh intelektual dan budayawan yang berprinsip dan teguh dalam pendirian. Semoga segala amal baik almarhum diterima oleh Allah dan kesalahannya diampuni olehNya. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’ãfihi wa’fu ‘anhu. Semoga Mbak S. Leila Chairani dan segenap keluarga yang ditinggal dianugerahi tambahan ketabahan dan kesabaran. Al-Fãtihah. “Foto saat aku menjenguk beliau di rumahnya di Salatiga setahun yang lalu. Dari kiri: Mbak S. Leila Chairani, Prof. Dr. Arief Budiman, aku, anakku Rabiatul Bisriyah,” kata Gus Mus dalam caption foto di akun Facebook-nya.

Sastrawan Floribertus Rahardi juga menulis sekilas sosok Arief Budiman. Rahardi, penulis buku Lembata, Sebuah Novel menulis, Arief lahir di Jakarta 3 Januari 1939. Ia kakak Soe Hok Gie (1942-1969). Ia salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan 1963. Juga tokoh Golongan Putih (Golput) dalam Pemilu 1971; meskipun istilah golput sendiri dicetuskan oleh Imam Waluyo. Pernah menjadi redaktur Majalah Sastra Horison 1966-1972. Arief pernah ditahan Pemerintah Orde Baru karena demonstrasi menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah 1972. Belakangan dikenal sebagai sosiolog dan menjadi guru besar di Universitas Melbourne, Australia.

*********

Jakarta, Kamis, 23/4 2020

Ansel Deri, Pernah Menjadi Kontributor DIAN dan FLORES POS








LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here