Toko Oen: Mengenang Nuansa Lampau Di Kota Malang

WELKOM IN MALANG | TOKO “OEN” DIE SINDS 1930 AAN DE GASTEN GEZELLIGHEID GEEFT.

Sebuah tulisan berhuruf kapital merah, tercetak di atas spanduk berwarna putih, akan menyambut kedatangan para tamu dalam sebuah toko zaman lampau ini. “Selamat datang di Malang. Toko Oen sejak 1930 memberikan kenyamanan pada para tamu,” kurang lebih itulah arti dari alih bahasa Belanda tersebut. Malang, Jawa Timur; kota yang terletak di dataran tinggi beriklim sejuk, menyimpan banyak guratan memorial terkait sejarah perjuangan bangsa pada masa kolonial, termasuk seni budaya dan arsitektur bangunan yang masih bertahan hingga saat ini.

Terletak di Jalan Basuki Rahmat No.5, Toko Oen memberikan corak tersendiri pada jalur sirkulasi Alun-Alun Merdeka (Alun-Alun Malang). Kawasan bersejarah sekitar alun-alun, Masjid Jami dan bangunan historis lainnya diperkirakan berasal dari masa yang sama dan turut membangun laju pertumbuhan sosial ekonomi masyarakat. Potensi pelestarianToko Oen yang telah berusia 81 tahun ini memiliki bangunan dengan perubahan yang sangat minim. Keaslian arsitektural yang terjaga, menjadi tonggak batas kota Malang dengan sumbangsih ekonomi.

Gaya bangunan art deco yang mulai populer pada 1920-an terlihat dari interior Toko Oen, elemen kaca patri dan perabotan yang digunakan. Kursi dan meja rotan khas zaman lampau tertata sedemikian rupa, menimbulkan kesan nyaman seperti layaknya di rumah. Beberapa elemen yang memperkuat kesan nostalgia dalam Toko Oen juga dapat dilihat dengan adanya piano dan radio kuno, gambar-gambar pada masa awal kemerdekaan, bahkan ubin (tegel) yang digunakan pun masih orisinil dengan nuansa lampau yang melekat.

Toko yang didirikan sekitar tahun 1910 di Yogyakarta ini merupakan toko kue yang digeluti oleh Nyonya Liem Gien Nio, akrab dengan panggilan Nenek Oen. Seiring dengan perkembangannya, toko kue Oen berubah menjadi kedai es krim yang menyajikan aneka jenis es krim khas Italia dan hidangan lainnya, termasuk penganan ringan dan oleh-oleh.

Toko Oen: ketika nuansa lampau tercicipi lewat rasa dan karsa.

Sumber:

TOKO OEN 

Mulyadi, Lalu., Gaguk Sukowiyono. “Kajian Bangunan Bersejarah di Kota Malang sebagai Pusaka Kota (Urban Heritage) Pendekatan Persepsi Masyarakat”, Prosiding Temu Ilmiah IPLBI, 2014 hlm. 1—6.

Rahajeng, Dinda., Antariksa., Fadly Usman. “Pelestarian Kawasan Alun-Alun Kota Malang”, Arsitektur E-Journal, Volume 2 No. 3, November 2009 hlm. 142—159

Sumber : kebudayaan.kemdikbud.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here