Menulis “c i n t a” menemukan sesama dan Tuhan

0
152
Buku Puisi "Apa itu Cinta? karya Yakobus Odiyaipai Dumupa

DALAM bukunya Kata Waktu Esai-esai Goenawan Mohamad 1960-2001 (Penerbit Pusat Data dan Analisa Tempo),  Goenawan mengatakan bahwa: “Puisi dimulai dengan semangat dan kerinduan, dan berakhir dengan kerendahan hati. Mereka yang mencipta dengan sungguh-sungguh tahu bahwa kesenian merupakan usaha yang tak putus-putusnya. Jika seni merupakan proses dialektik – manusia di satu sisi dan realitas di pihak lain – dialektik itu tak kunjung habis. Hasil seni tak pernah sempurna, meskipun ia selalu ingin demikian.”  Semangat menulis itulah yang menjadi pelatuk bagi Yakobus Odiyaipai Dumupa menerbitkan buku puisinya Apa Itu Cinta. Permenungan tentang cinta (dari cinta akan sesama sampai ke pencarian akan cinta abadi) menggelisahkan Yakobus untuk menulis puisi-puisinya.  

Pesona Cinta

Dalam novel dari pengarang Rusia Dotoevski, Crime and Punishment, kita dapat memperoleh inspirasi yang menarik mengenai cinta. Bagaimana tidak? Dalam novel itu, dikisahkan bagaimana Raskolnikov seorang  mahasiswa yang miskin, terdesak akan kebutuhannya akan uang untuk melunasi biaya kuliah dan kosnya di Petersburg (Moskow sekarang), menjadi mata gelap dan membunuh dua orang perempuan tua, tukang gadai barang. Kepada mereka ini Raskolnikov biasa menggadaikan barangnya. Sekian lama polisi mencari jejak si pembunuh, namun belum menemukan. Sekian lama pula, Raskolnikov berada dalam kegelisahnnya karena perbuatannya belum diketahui.

Akan tetapi tatkala percintaan terjalin antara Raskolnikov dan Sonia, meluaplah pengakuan dari hati si anak muda yang gelisah oleh karena beban kejahatan yang tersembunyi dan telah terlalu lama ditanggungnya. Pengakuan itu tercurah bagaikan air ke dalam jembangan ketulusan dan kesederhanaan si gadis miskin itu. Tetapi drama percintaan itu tidak hanya berhenti di situ. Daya cinta Sonya mendorong Raskolnikov untuk melangkah lebih jauh lagi, menegakkan harga diri Raskolnikov, sehingga ia berani secara jantan mengakui perbuatannya itu di hadapan polisi. Memang, Raskolnikov akhirnya mendapat ganjaran delapan tahun kerja paksa di Siberia, namun Sonia yang setia tidak meninggalkannya sendirian. Ia ikut menemani kepindahan kekasihnya ke Siberia. Yang menarik, Sonia tidak dilukiskan Dotoevski sebagai seorang moralis, yang berkotbah mengenai kebaikan dan tanggung jawab atau pun menjelaskan mengenai jahtnya pembunuhan, melainkan sebagai seorang gadis yang sederhana, yang bahkan sering menjadi incaran orang-orang kaya untuk dijadikan koirban karena kemiskinan dan kesederhanaannya.

Teknologi canggih dewasa ini bisa menjelaskan kemungkinan memindahkan gunung untuk membuat jalan raya atau menimbun jurang untuk membuat jalan kereta, menimbun danau untuk pertanian dan sebagainya. Akan tetapi cinta bukanlah “teknik” dan untuk menggerakkan hati, atau menegakkan harga diri, ternyata diperlukan energi yang jauh lebih besar dari yang bisa dicipta  oleh “teknik”. Teknik mampu memproduksikan energi atom atau nuklir, yang berdaya guna. Akan tetapi energi ini tak bisa menggerakan perasaan moral manusia.

Hanya dalam cinta yang tulus dan setia ada energi yang besar sekali, energi yang  bisa menggoncang kehidupan, merobohkan kesombongan, mencairkan kebekuan, dan menerobos kemampetan ( Bagian ini sepenuhnya saya ambil dari buku: A. Sudiarja, Menemukan Tuhan dalam Segala, Kanisius 2014).  Yakobus Odiyaipai Dumupa meyakini bahwa cinta mampu memberikan energi untuk kehidupan.

CINTA DAN HIDUP

Ketika cinta tak terbendung

Yang dibutuhkan hanya kepercayaan

Biarkanlah kasih kalbumu bersatu

Sebesar ketulusan kasih kalbuku

Ketika kasih kalbu bersatu

Yang dibutuhkan hanya pengorbanan

Biarkanlah dirimu berkorban

Sebesar kukorbankan diriku

Ketika pengorbanan terbukti

Biarkanlah dirimu menemukan makna hidupku

Sebesar aku menemukan makna hidupmu

Menuju akhir kehidupan dunia

(Lereng Merapi, 17/06/2010).

Yakobus Odiyaipai Dumupa

Puisi bukan deretan kata mati, puisi adalah realitas hidup ketika dibahasakan, disuarakan,  dan digaungkan dalam keindahan kata. Dalam puisinya “Gelora Cinta Teluk Saireri”, Yakobus seolah menegaskan bahwa hal-hal yang mempesona, sebelum hilang mesti kita olah menjadi karya sastra entah itu berupa puisi ataupun cerpen.

GELORA CINTA TELUK SAIRERI

Cinta yang membekas

Kapal Dorolonda adalah saksi

Kala kau tergoda dan pasrah

Disambar kedip mesra tatapanku

Kau tersenyum malu

Ditengah alunan gelombang

Tak henti kau menatapku

Dalam hembusan angina malam Saireri

Kala aku ulur tangan hendak kenal

Kau menyambar girang

Aku mengaku Rajawali rimba

Kau mengaku Rembulan Serui

Dewa cinta melilit kita

Dalam peluk cium mesra

Dewi bulan menemani kita

Dalam canda tawa girang

Takdir tak dapat dilawan

Kau pergi menghiasi taman kembang

Aku pergi mengitari rimba

Tapi kenangan cinta tetap abadi

(Km. Doloronda Nabire-Serui, 04/06/2008).

Seorang filsuf besar abad 20, Alfred North Whitehead, membicarakan agama sebagai sumber visi dan penggerak untuk bertualang atas dasar keyakinan iman. Whitehead juga menekankan pentingnya “adventure” (sikap dan keberanian untuk melakukan suatu penjelajahan baru). Allah digambarkan oleh Whitehead sebagai suatu daya dinamis yang secara imanen berfungsi dalam pergulatan hidup manusia di dunia ini dan bukan sebagai suatu individu yang serba transenden. Agama adalah dasar yang memberikan jaminan bahwa perjuangan hidup yang tak kunjung habisnya untuk menyempurnakan hidup di dunia ini, tidaklah sia-sia. Agama memberikan rasa damai. Rasa damai diperoleh karena walaupun proses hidup di dunia ini tidak lepas dari kekurangan, kesalahan dan dosa, namun Tuhan Penebus dan Penyelamat mampu menjalin suatu karya seni yang indah. Yakobus dalam peziarahan hidupnya, dengan penuh kerendahan hati terus mencari cinta yang berasal dari Sang Sumber Cinta. Tentang itu ia menulis:

PELUKAN KEABADIAN

Dalam remang-remang kabut kehidupan

Ketika segala sinar sirna dihadapan waktu

Tersisa senyap-senyap melodi ratapan

Aku termenung tak berdaya di ujung senja

Seakan girang yang berlalu tak bermakna lagi

Hanya jejak-jejak pengantar kea lam binasa

Hendak kuratapi setiap detik yang berlalu

Tapi tak ada harapan yang sudi menolong

Di ujung senja ini aku terlelap lunglai

Bermimpi bidadari merangkulku mesra

Membawaku terbang tinggi ke kayangan

Agar aku tetap dalam pelukan keabadian

(Dune Kapau, Makewaapa, 9/8/2015)

Yakobus seakan mengajak kita melihat Tuhan dengan kaca mata Whitehead, Tuhan sebagai teman seperjalanan dan teman senasib sepenanggungan yang maha memahami, maha memaklumi dan oleh karena itu maha mengampuni.

Paskalis Bataona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here