Persinggahan Sang Penyair

0
30

Karlina Supelli (1) 

KETIKA penerbit meminta saya memberi pengantar kumpulan puisi Joko Pinurbo ini, saya merasa kikuk. Membaca karya sastra merupakan pengalaman intim, amat personal. Bahwa kemudian orang mengutip karya-karya tertentu ke dalam tulisan, tidak berarti bahwa pengalaman itu sebagai pengalaman, dapat terpaparkan dengan lancar ke hadirat pembaca. Rasa kikuk ini sebetulnya muncul karena didahului oleh kesadaran bahwa saya bukan kritikus ataupun ahli sastra. Seorang ahli sastra mempunyai dukungan teori dan pemahaman akan kode sastra. Kelengkapan itu akan mengantar dan membingkai pengalaman personalnya memaknai karya yang ia baca.

Sains di masa mendatang akan semakin puitis,(2) dan puisi Joko juga berbicara tentang buku, sesuatu yang berhubungan dengan ilmu, begitu salah satu pertimbangan penerbit. Mereka pun memilih seseorang yang bukan ahli sastra untuk memberi pengantar atas nama pertimbangan itu (bahkan memilih seseorang yang berkecimpung dalam ilmu pengetahuan, khususnya ilmu pasti alam). Introduksi seperti itu, yang dimaksudkan membesarkan hati, ternyata tidak sedikitpun melicinkan jalan untuk menulis. Sebabnya sederhana, apakah “buku” di dalam puisi-puisi Joko Pinurbo memang buku?

Kalaupun pada akhirnya pengantar ini hadir di hadapan pembaca, itu hanya mungkin sesudah jerih payah disertai jeda karena terengah.

Seorang saintis sekaligus novelis Inggris, Charles Percy Snow, pernah memberi kuliah umum, Rede Lecture, di Universitas Cambridge tahun 1959. Snow berbicara tentang The Two Cultures.(3) Ia menunjuk sebuah jurang dalam tak terjembatani yang membentang antara para ilmuwan dan ahli sastra, serta implikasinya bagi masyarakat bahkan dunia.

Mungkin kritik yang diterima Snow akan sedikit lebih lembut jika saja ia, seperti penyair Inggris abad ke-19, Percy Bysshe Shelley, berusul tentang salah satu tugas para penyair. Yakni, menyerap sains untuk mengasimilasikannya ke kebutuhan manusia, mewarnainya dengan jiwa manusia, dan menjadikannya berdarah dan bertulang belulang manusia”. Namun Snow melangkah jauh dari itu. Ia menuduh penyair sebagai para “Luddite”.(4) Ia bahkan mengatakan mereka tidak punya kedalaman dan artikulasi intelektual. Ketika “kerinduan ilmuwan akan masa depan merasuk sampai ke tulang belulang”, bagi Snow, para ahli sastra (5) seperti mengharap masa depan tak pernah. Mereka hanya “memusatkan diri di tragedi dan kesepian manusia individual”.

Keberanian gagap menghaturkan tulisan ini tentu muncul bukan karena pretensi ingin menyangkal gagasan usang Snow. Ada sebuah kenyataan sederhana yang membesarkan hati. Syukurlah bahwa manusia sudah menjadi mahluk bersastra sejak bayi, melalui kidung yang disenandungkan ibu atau sang pengasuh. Mahluk kecil itu lalu belajar menjadi mahluk pencerita. Manusia adalah homo fabulator, tulis Ben Okri dalam bukunya yang indah A Way of Being Free (1998). Sang manusia kecil itu pun mulai bermain dengan kata, sambil belajar mengerti kata yang dimainkan.

Saya pernah mengira bahwa membaca karya sastra jauh berbeda dengan membaca buku fisika atau kosmologi, untuk menyebut dua saja dari ranting sains;(6) mungkin karena terlalu dibebani oleh sejarah perdebatan metode antara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu budaya. Tentu ada perbedaan cara (metode) membaca, menafsirkan, dan memahami isi yang mau disampaikan oleh teks-teks tersebut. Akan tetapi, biarlah itu menjadi kawasan yang dikaji para filosof ilmu.



Cukuplah dihaturkan di sini, baik kosmologi maupun sastra merupakan pengembaraan melampaui kata, melampaui ruang-waktu. Pengembaraan itu sama-sama tidak serta merta membuat seseorang dapat semena-mena meniadakan hubungan kata dengan dunia nyata. Mungkin dengan kosmologi orang dapat merasa sedikit lebih nyaman. Bukankah seorang kosmolog pada akhirnya selalu dijamin oleh sebuah Alam? Namun itu juga berarti kenyamanan perlu ia tebus dengan kerangka yang membatasi kebebasan petualangannya. Suatu waktu entah kapan, ia akan terbentur pada Alam di luar alam yang sedang menari berpasangan dengan benaknya. Itulah mungkin alasan bahwa dengan karya sastra, orang boleh merasa lebih bebas mengembarakan imajinasi.

Hal paling menakjubkan dari karya sastra—khususnya puisi—dan kosmologi, keduanya merupakan pengembaraan hening. Sebuah perjalanan menuju jantung kelengangan, mencapai bilik dan ruang belum bernama karena kata tak pernah cukup untuk menjamahnya. Kalaupun memang masih perlu diakui ada perbedaan, itu karena kosmologi berangkat dari fakta alam dengan mahluk berkesadaran sebagai parameter bagi kemungkinan eksistensinya. Sementara puisi, dalam pengertian paling sederhana, merupakan gumpalan pengalaman manusia yang bermain dengan sisi terang dan sisi gelap kesadaran.

Dalam keduanya, fakta manusiawi seolah tenggelam dan beralih menjadi marka yang material sifatnya: kata.

Melalui marka itulah puisi menantang pembacanya. Sebagian pengalaman manusia merupakan wilayah diam, dengan palung air mata dan tawa yang dalamnya bagai tanpa dasar. Di sana meletak dawai-dawai halus sukma manusia yang menggetar rumit. Pengakuan akan kedalaman inilah yang paling membuat gundah. Kebebasan membaca sastra ternyata tidak juga memungkinkan pembaca sepenuhnya melenyapkan sang penulis. Ia terlahir mengalir dari potongan-potongan senyap pengalaman yang lolos tak tertampung tuturan sehari-hari.

Kau adalah mata, aku airmatamu (“Kepada Puisi”).

Kiranya tak ada jalan lain. Jika penyair bermain dengan kata, pembaca bermain antara dunia nyata dan dunia rekaan ibarat anak kecil sedang bermain petak umpet.
Pada saat-saat seperti itu ia mungkin akan terseret lagi ke masa lalu. Ke masa sebelum benaknya terisi oleh cerita dari berbagai buku. Di sana tersimpan peristiwa, dongeng, dan syair yang pernah dikisahkan ibu. Cerita ibu biasanya kaya ragam, mulai dari kekejaman perang yang bersumber di pengalaman, sampai ke dongeng ajaib di negeri entah, cerita hantu dan nenek sihir.

Tanpa “di sini, di sana, di mana”, bahkan tanpa “siapa’. Biasanya pula anak-anak menolak mendengarkan dengan pasrah. Mereka menuntut penjelasan. Apakah kisah ibu “ada kejadian betulnya atau tidak”? Ibu pun kadang menjawab, kadang hanya tersenyum.

Tak jarang ibu membiarkan saja anak-anak kecil yang gemas itu bertanya. Kemudian, mungkin karena bosan atau putus asa, mereka mulai dengan takut-takut menciptakan sendiri ruang-waktu, tokoh, bahkan memasukkan diri ke dalam cerita ibu. Akhirnya tidak penting lagi bagi mereka, yang mana kisah nyata dan yang mana dongeng. Cerita-cerita ibu membingkai sebuah kosmos takberhingga, taktercakrawalakan, takteruangkan, takterwaktukan. Di dalam kosmos itu mereka bertualang seraya mengubah-ubah ujud. Tak ada di sini di sana, tak ada kemarin, esok, ataupun sekarang yang absolut.

Mungkin kelonggaran benak kanak-kanak semacam itulah juga yang mengawali perjumpaan seseorang dengan karya banyak penulis, pengarang, dan penyair (pula mungkin dengan hidup dan kehidupan. Ah, … Aku harus mencari susu baru …).

Ia tidak lagi mendikte teks, seperti ia pernah memutuskan berhenti mendikte guru cerita-cerita pertamanya agar menjelaskan bilik-bilik yang tersembunyi. Mungkin baru setelah waktu yang lama sekali, orang akhirnya menyadari adanya permainan itu. Sebuah permainan merebut makna di antara dunia-kemungkinan yang ditawarkan oleh teks dan diri di dalam dunia nyata.

Permainan itu meletihkan. Orang terus menerus bergulat menerima sekaligus menolak ruang-waktunya sendiri, ruang-waktu yang-mungkin, ruang-waktu seharusnya, sambil selalu mengais kembali arus kata yang sudah melaluinya. Di tengah kegembiraan penemuan, di antara terang cahaya dan gelap bayang-bayang tarian makna, kerap juga ia kalah. Ia gagal sehingga tak juga berani berujar, the beyond was here, all was here: a valley, a mountain, a distant country, the neighbors patio.(7)

Namun di tengah kekalahan itu, masih ada orang yang dengan diam-diam merawat sebuah kepercayaan sederhana. Membaca bukan kerja berimbalan seperti pernah dikatakan Virginia Woolf.(8) Membaca merupakan imbalan itu sendiri.

Demikianlah betapapun leluasanya, pada setiap ujung kata, orang menemukan bahwa ia bukanlah sepenuhnya pembaca. Ia juga pendengar, yang membiarkan puisi berbicara dan menemu-ulang dirinya manakala dibaca. Itulah saat ia dengan perlahan, di dalam kesengsaraan melampaui kata, ruang dan waktu, mulai mendengar bisik hening, tarikan nafas senyap, dan nyanyian diam yang melantun di antara aliran deras kata.

Dalam kesengsaraan itu saya membaca seluruh Kekasihku. Apalagi, tak ada peristiwa atau benda yang seakan tidak mengandung makna bagi Joko Pinurbo. Pengalaman sederhana membentangkan lipatannya, menghadirkan sesuatu yang dalam kebudayaan superficial sekarang ini cenderung saja mau cepat dilupakan atau malahan dinamakan, agar dapat ditaruh ke dalam kotak nilai material, atau fungsinya. Apakah batuk kalau bukan suatu penyakit yang perlu diobati seperti kata iklan obat batuk? Melalui puisi pendek yang tetap setia kepada bunyi, “Batuk” menjelma sebagai nama bagi harapan akan pembebas. Saya hanya bisa tersenyum dengan kenakalan Joko Pinurbo.

Cukup lama saya terpaku di hadapan “Telepon Tengah Malam”. Setelah berkali-kali membiarkan telepon yang sering berdering, aku akhirnya menanggapi. Dalam puisi ini, Joko menghadirkan suara (dering telepon); suara yang panjang dan keras. Akan tetapi kehadiran menjadi dramatik karena justru diambil kembali. Telepon diloloskan dari materialitasnya. Lalu diletakkanlah telepon yang berdering di dalam rongga dada aku. Suara muncul dari ketiadaan suara. Lalu Ibu juga hadir, tetapi kehadiran itu pun diambil lagi. Ibu ada di dalam sakit aku. Ada muncul sekaligus bersama paradoksnya, ketiadaan. Kegetiran yang menggigit seolah mau diatasi dengan penutup yang seperti sebuah penegasan. Bukan hanya aku, tetapi juga sakitku akan nyenyak tidurnya.

Ketika kata berakhir puisi mulai berbicara, ujar Octavio Paz.
Saya tertegun, sebuah kesenyapan memiliki suara: senyap itu sendiri.
Namun dalam senyap Joko Pinurbo juga ada kejenakaan. Kejenakaan menyemburkan hangat jiwa dunia anak-anak, yang meredakan kelelahan. Sekejap saja; karena kemudian kejenakaan itu menelan kita dalam gelak kita sendiri (dan itu bukan karena dunia anak-anak pun bisa teramat dingin dan sepi).

Saya pun tersenyum karena sebagaimana kumpulan puisi sebelumnya (Celana, 1999), larik-larik celana dalam “Selepas Usia 60” bisa mengundang tawa. Bukan hanya karena saya sering salah memakai celana sehingga kadang seliritnya menjepit dindaku, tetapi gambar Superman pun bisa rontok dari celana bocah culun yang sedang ciat-ciat bermain silat. Hanya pada tiga larik sebelum larik penghabisan, pembaca dibawa ke semacam kesimpulan yang menggentarkan: ibu yang datang menjemput, senja yang mulai merosot, dan celana yang diam-diam mau melorot. Kembalilah pembaca ke saya di larik pembuka, bahkan judul puisi.

Boleh jadi bukan semata kejenakaan yang mendorong Joko Pinurbo memilih gambar Superman. Sebagaimana pula mungkin bukan erotisisme yang mau dimunculkan dalam “Hijrah”, walaupun bisa saja pembaca terbawa ke penafsiran itu.

Ranjang, celana, buku, tubuh, adalah sebagian tempat imajinasi sang penyair mengelana dalam waktu yang sabar, namun punya batas di entah dan yang akan dilupakan sejenak saat tertawa. Ia tidak selalu mengembara ‘dari’ menuju ‘ke’, ia terkadang sekaligus di dalam awal dan akhir (sebab menginjak ranjang serasa menginjak/rangka tubuh ibunya yang sedang sembahyang/dan bila sesekali ranjang berderak atau berderit/serasa terdengar gemeretak tulang/ibunya yang sedang terbaring sakit).

Ketika pada setiap persinggahan Joko Pinurbo membekukan imajinasi ke dalam kata, hadirlah ambiguitas makna dengan kedalaman yang puitis. Pemahaman yang dengan terengah ingin kita genggam, mungkin hanya bayang-bayang rekaan kita sendiri.


————————————————————————————————–

Catatan
1. Dosen di Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta.
2. Christopher Langton dalam John J. Ratey, A User’s Guide to the Brain (Vancouver: Vintage Books, 2002), p. 5.
3. Setelah dilengkapi, kuliah itu diterbitkan dalam The Two Cultures and the Scientific Revolution (Cambridge University Press, 1959). Tahun 1965 Snow menjawab berbagai kritik dengan menerbitkan edisi berikutnya, The Two Cultures and a Second Look.
4. Istilah Luddite berasal dari sebutan bagi kelompok pekerja Inggris yang pada permulaan 1800-an melakukan protes terhadap perubahan teknologi produksi. Protes mereka kerap disertai dengan
penghancuran mesin-mesin pabrik. Mesin-mesin yang hadir sebagai ciri Revolusi Industri di Inggris itu, mereka nilai sebagai ancaman terhadap pekerjaan mereka. Istilah Luddite/Luddisme sekarang ini diterapkan pada orang atau gerakan yang menentang kemajuan industri teknologis.
5. Tak jarang dalam tulisan itu Snow merancukan ahli sastra dengan mereka yang bergulat dalam bidang traditional culture.
6. Kosmologi adalah sains tentang alam semesta. Kosmologi mempelajari evolusi dan struktur spasio-temporal dan komposisional alam semesta. Kosmologi mengkaji ruang-waktu sampai ke titik tempat teori-teori fisika terbentur dengan kegagalan menjelaskan (setidaknya teori-teori yang ada sampai saat ini), yaitu
awal ruang-waktu itu sendiri. Sekalipun kosmologi modern adalah cabang ilmu pengetahuan empiris, namun nafas tradisional tetap menggema di dalam penyelidikannya. Kosmologi mempertanyakan, darimana kita berasal, kemana kita menuju, dan bagaimana semua ini akan berakhir?
7. Dikutip dari Nobel Lecture Octavio Paz, 1990.
8. Virginia Woolf, How Should One Read a Book dalam Gateway to Great Books: Critical Essays, ed. R.M. Hutchins & M.J. Adler (London: William Benton, 1963), Vol. 5.

Sumber tulisan pengantar dalam buku Kekasihku, kumpulan puisi Joko Pinurbo. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2004.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here