Denny JA dan Jalan Puisi

0
43

IGNAS KLEDEN dalam bukunya Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan berpendapat bahwa puisi datang kepada kita bukan lewat ide atau gagasan. “Dalam puisi, dalil filsafat Cartesian tentang manusia “saya berpikir maka saya ada” dipatahkan secara mutlak, karena yang terjadi dalam puisi adalah peristiwa yang lain sama sekali wujudnya, yaitu “saya mengalami maka saya ada”. Seperti kita tahu, pengalaman bukanlah perjumpaan intelektual dengan dunia, melainkan keterlibatan eksistensial di dalamnya. Kalau ilmu dan filsafat menjelmakan pengalaman menjadi pengetahuan, mengubah perasaan menjadi pikiran, nada menjadi notasi, rindu menjadi psikologi, intuisi menjadi proposisi dan argumentasi, maka puisi membalikkan semuanya pada posisi yang lebih asali dan lebih alami. Dalam puisi terjadi tarnsposisi pikiran menjadi pengalaman dan suasana, rindu menjadi getar dan perasaan, proposisi menjadi intuisi, dan intuisi menjadi visium tentang warna langit dan bau hutan, dan argumentasi yang tersusun rapi menjadi imaji yang liar berkejar-kejaran. Seorang ilmuwan dan filsuf berusaha menyusun pikiran dan gagasan, sedangkan seorang penyair berikhtiar menemukan makna.” (Ignas Kleden, “Puisi, Penyair, dan Intelektual Publik”,  Sastra Indonesia dalam Enam pertanyaan, Grafiti 2004).

Denny JA, seorang intelektual publik yang belakangan ini mengikhtiarkan dirinya untuk Indonesia tanpa Diskriminasi, membenarkan argument Ignas mengenai puisi diatas. Impiannya tentang Indonesia tanpa Diskriminasi ia lakukan lewat karya budaya yakni dengan menulis puisi esai. Sudah dua buku puisi yang ia hasilkan. Atas Nama Cinta adalah buku pertamanya. Buku puisi keduanya ia beri judul Cintai Manusia Saja, Soal Diskriminasi Agama dan Cinta.

Sudah banyak riset akademik yang ia hasilkan melalui LSI (Lembaga Survei Indonesia). Sudah ratusan kolom yang ia tulis sejak mahasiswa. Namun menurutnya karya seni khususnya puisi adalah karya yang lebih menyentuh hati.

Peristiwa Pemboman Gereja Katedral di Makasar menjadi pelatuk bagi  kita untuk mengapresiasi puisi Denny berikut ini:

SIAPA YANG MEMBELA KITA, IBU?

Dari runtuhan gereja yang dibakar

Masih terdengar lagu “Ave Maria”

Dari runtuhan Masjid yang dirusak

Masih terdengar adzan magrib

I

“Siapa yang membela kita, Ibu?”

Tanya bocah menangis kelu

Dilihatnya rumah ibadah itu

Tempat mereka berdoa selalu

Kini tersegel dan remuk

Mereka dilarang masuk

II

Siapa yang membela kita, Ibu?”

Tanya bocah takut dan pilu

Rumahnya dibakar api

Tanahnya diduduki

Mereka harus mengungsi

Dan dilarang kembali

III

“Siapa yang membela kita, Ibu?”

Tanya bocah histeris ngilu

Ia melihat ayahnya diparang

Oleh massa yang garang

IV

Bocah itu tak meminta

Orang tua yang memberinya

Bocah itu bisa Kristen agamanya

Bocah itu bisa muslim agamanya

Bocah itu bisa Hindu agamanya

Bocah itu bisa juga tak beragama

V

Namun, sekali mereka minoritas

Dan hidup di tanah yang beringas

Mereka menjadi unggas

Bagi serigala yang buas

VI

Ibu hanya menangis dan berdoa

Memeluk bocah penuh tanya

Sambil melindungi

Dari benci dan api

“Tuhan ora sare, anakku

Tuhan tidak tidur sayangku”

VII

Sambil berharap dalam duka

Lirih saja ibu berkata

Bocah dibuatnya nyaman

Dibelainya dalam pelukan

VIII

“Akan selalu lahir pejuang, anakku

Akan lahir pemikir selalu

Akan selalu lahir pahlawan

Mereka akan membawa pesan Tuhan”

IX

Dipeluknya bocah dalam duka

Dengan linangan air mata

“Jika kau besar nanti, anakku

Ingat pesamn ibu selalu”

X

“Dimanapun dirimu berada

Apapun agama dan etnis di sana

Apapun paham yang ada

Cintai manusia saja”

XI

Ibu memungut puing rumah ibadah

Puing itu raib sekejab

Dirasakannya rumah ibadah

Tumbuh di hatinya

Tumbuh di hati anaknya

*************************************

Paskalis Bataona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here