Cerita Polisi Arsy Lethar dikunjungi Penderita Disabilitas Mental

0
64
Ket. Foto: Polisi Arsy Lethar dikunjungi penderita disabilitas mental di rumahnya di Kecamatan Lambalada, Kab. Manggari Timur, NTT (Foto: Polisi Arsy Lethar)

Oleh Markus Makur

JUMAT, 8 Januari 2021, di group whatsapp Relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, saya melihat dan membaca pesan singkat dibalik foto itu. Foto seorang penderita disabilitas mental. Namanya, Ses, asal Kampung Deru, Kecamatan Lambaleda mengunjungi rumah kediaman Polisi Arsy Lethar, seorang anggota Bhabimkamtibmas dari Polsek Dampek, Polres Manggarai Timur yang ditempatkan di salah satu desa di Kecamatan lambaleda. Polisi Arsy sudah dikenal luas di Indonesia sebagai polisi kemanusiaan. Banyak gerakan kemanusiaan yang sudah dilakukannya di Kecamatan lambaleda. Tahun 2020, raih penghargaan. 

Di ceritakan secara singkat oleh Polisi Arsy dalam keterangan fotonya bahwa Ses sudah 6 tahun menderita sakit gangguan jiwa. Mungkin belum ada penanganan medis bagi dirinya. Mungkin juga tidak minum obat karena ketiadaan obat khusus baginya selama ia sakit. Disini kita tak boleh saling menyalahkan satu sama lain. Memang serba terbatas. Itu kita akui. Setelah melihat foto dan membaca keterangannya, saya lalu mulai bertanya dalam otak dan pikiran, mengapa Ses mengunjungi rumah kediaman Polisi Arsy? Apa pesan sesungguhnya dibalik kunjungan tersebut? Apa makna bagi Polisi Arsy dari kunjungan saudara yang derita sakit gangguan jiwa? Sejumlah pertanyaan ini mengalir saja dalam diri saya setelah melihat foto dan membaca keterangannya. Saya menangkap dari kunjungan tersebut, pertama, sebagai saudara untuk memberikan ungkapkan Salam Damai Natal 2020 dan selamat bersama-sama di tahun 2021. Kedua, saudara ses mungkin sedang lapar sehingga membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan sesuap nasi. Beruntung Polisi Arsy yang sangat ramah kepada siapa saja, menerima dia sebagai saudara, tidak menolak dia. Mempersilahkan masuk dan duduk di kursi. Ketiga, meminta tolong kepada Polisi Arsy untuk bersuara agar dia memperoleh perawatan medis yang adil seperti warga lainnya. Keempat, dirinya tak bisa pergi ke tempat pelayanan medis. Kelima, mungkin sewaktu dia sehat, dia tahu bahwa polisi itu sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat sehingga dia berani mengunjungi rumah kediaman Polisi Arsy.

Saya melihat saudara yang duduk dengan pakaian seadanya, tengge lipa teteron disuguhi minuman kopi dan kue yang sudah disiapkan diatas meja di ruang tamu. Syukur kepada Polisi Arsy yang terbuka serta memiliki hati yang tulus untuk menolong sesama. Bukan orang sehat saja yang ditolongnya melainkan orang sakit juga dilayani dengan hati yang sungguh-sungguh.

Saat saya memberikan tanggapan di postingan itu, ini sebuah tanda-tanda baik bahwa orang disabilitas mental membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai pihak. Semua kita bisa mengambil peran untuk menyelamatkan sesama yang sedang menderita, entah sakit apa saja. Untuk menangani dan mencegah penderita disabilitas mental dibutuhkan kerja semua pihak, sama-sama bekerja, melibatkan semua stakeholder. Tidak bisa kerja sendirian. Tidak bisa mengerahkan kemampuan sendiri yang serba terbatas. Polisi Arsy bisa seperti orang Samaria. Dan memegang sabda Allah yang pernah didengarkan dan direnungkannya, “saat saya lapar, kamu beri saya makan, saat saya haus kamu beri saya minuman, saat saya telanjang, kamu beri saya pakaian, saat saya dipenjara, kamu kunjungi saya.”

Cerita Pengalaman Markus dan Rosis Yang Sama Dengan Polisi Arsy

Peristiwa tak terduga yang dialami oleh Polisi Arsy, kami juga pernah merasakan seperti itu, November 2020, di sebuah rumah relawan KKI di Desa Ngampang Mas, Saya (Markus Makur) dan Ambrosius Adir pulang dari Tilir melewati Kampung Jong, Paang leleng, Keros, Ngusu, Balus Permai, Perang hingga tiba di rumah anggota relawan KKI, Foyensius Ondi. Saat itu kami sudah dalam keadaan lapar. Saya ungkapkan secara terbuka bahwa kami lapar. Kemudian istrinya om Foyen menyiapkan hidangan makanan, sayur dan lauk. Saat kami sedang mau makan, tiba-tiba, salah satu warga yang disabilitas mental masuk ke bagian ke dapur. Kami semua kaget. Tapi, Om Foyen memberikan tanda-tanda kepada kami bahwa saudara yang baru masuk seorang penderita disabilitas mental yang jalan-jalan bahwa sampai di Kota Waelengga. Kemudian dia duduk, lalu istri om Foyen mengambil piring dan menyerahkan kepadanya. Dia mengambil nasi. Lalu makan. Makannya sangat cepat. Kami semua sama-sama makan. Bahkan ada satu saudara yang diduga retardasi mental juga makan bersama kami. Bersyukur nasi, sayur dan lauk pauknya cukup untuk 5 orang. Tuhan Yesus dulu makan di rumah Zakeus ribuan tahun silam. Sementara kami makan di rumah relawan KKI bersama dengan orang yang derita disabilitas mental dan retardasi mental. Setelah makan bersama, kami ucap syukur dengan berdoa. Selanjut, penderita itu diberikan minum obat yang sedang tersedia. Setelah minum obat, dia kembali jalan-jalan di sekitar kampung. Dia tak mengganggu warga kampung. Saat kami pulang ke Kampung Peot, Kelurahan Peot, Kecamatan Borong, kami sempat berpapasan dengannya di jalan raya di kampung tersebut. Tak lama kemudian, kami dapat kabar bahwa dia tidur di rumah. Efek dari minum obat tersebut untuk proses pemulihan.

Cerita Romo Hermen Sanusi, Pr mengunjungi penderita disabilitas mental yang pasung dan pulih di wilayah Kelurahan Ronggakoe

Bulan Januari 2021 sudah di lalui, ada peristiwa menarik dari Masa Natal 2020 dalam kalender Gereja Katolik. Setelah Yesus Lahir di Kandang Betlehem, ada peristiwa penampakan Tuhan. Saat peristiwa hari Penampakan Tuhan sesuai ajaran iman Gereja Katolik, Romo Hermen sanusi, Pr mengisinya dengan mengunjungi saudara yang disabilitas mental di pasung di Kampung Waebok dan seorang penderita disabilitas mental yang sudah pulih. Yang pulih itu berkat rutin minum obat yang didampingi keluarganya. Saat itu Romo  bersama rombongannya membawa bingkisan kado Natal dan Tahun Baru untuk proses asupan gizi bagi para penderita. Saat itu, Romo disambut hangat dan penuh kasih oleh anggota keluarganya. Bahkan Romo langsung melihat saudara yang dipasung di ruang sumpek di bagian belakang rumah besar tersebut. Tempat pasung dibuat dalam bentuk panggung.

Bahkan saat Minggu Kanak-Kanak Yesus, Romo mengajak anggota Serikat Anak Misioner (Sekami) stasi Peot mengunjungi satu keluarga di Paka, Rehes. Ada seorang ibu yang disabilitas mental dan memiliki balita. Saat itu mereka bawa bingkisan kado Natal 2020 dan Tahun Baru 2021. Semua ini digerakkan oleh Sang Emanuel yang setiap tahun dirayakan. Perayaan Natal 2020 sangat berbeda karena dunia sedang dilanda virus Corona. Semua orang penuh waspada dan kehati-hatian saat merayakanNya. Kurang lebih setahun, dunia dilanda wabah virus Corona. Semua manusia tak bebas bergerak. Semua harus mengikuti aturan protokol kesehatan dari World Health Organization (WHO) dengan 3M (Mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak). Semua manusia didunia ini pasrah kepada Sang Pencipta, Allah Semesta alam.

Ket. Foto: RD Herman Sanusi , Pr sedang mengunjungi pasien disabilitas mental yang sedang dipasung di Kampung Waebok, Kel.Ronggakae, Kecamatan Kota Komba, Kab. Mangggrai Timur, NTT (Foto:RD Hermen Sanusi,Pr)

Terima Informasi Penderita disabilitas Mental

Masih di bulan Januari 2021, awal tahun perjalanan Kalender 2021, saya menerima berbagai informasi dengan kiriman foto dan keterangan orang yang derita disabilitas mental di seluruh Manggarai Timur. Informasi ini berkat bagi saya ataukah ada hal lain dibalik informasi tersebut. Informasi dan foto, saya teruskan ke group KKI agar informasi ini diketahui semua pihak di Manggarai Timur. Saya selalu bertanya, mengapa semua informasi itu kirim ke saya. Saya ini tidak memegang kekuasaan di Manggarai Timur. Saya ini orang kecil, kemampuan terbatas. Manusia rapuh. Tak berdaya. Punya banyak kelemahan. Banyak kelalaian. Mengapa tidak mengirim ke pemangku kepentingan di Manggarai Timur. Tapi bagi saya, semua itu saya syukuri saja atas berkat tersebut.

Selanjutnya saya menerima pesan singkat, foto dan keterangan tertulis bahwa Ordo Camelus De Lellis Maumere akan membangun pondok yang layak bagi seorang penderita disabilitas mental di pinggir jalan Borong-Ruteng. Syukur atas semua aksi kemanusiaan ini. Kita melayani, merawat manusia yang memiliki martabat yang sama. Saya menerima pesan itu dari Pater Suparman Andi, MI.

Cerita Pater Frumens Andi, SMM menyapa Penderita disabilitas mental di Kampung Kole, Satarmese Barat

Segala informasi bisa kita peroleh di group whatsapp KKI Manggarai Timur. Di awal bulan Januari 2021, Pater Frumens Andi, SMM menyapa seorang umat yang derita disabilitas mental yang dipasung di Kampung Kole, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai. Syukur atas keterlibatan semua pihak untuk sama-sama menyapa orang yang menderita.

Ket. Foto: Pater Frumens Andi, SMM sedang mengunjungi penderita disabilitas mental di Kampung Kole, Kecamatan Satarmese, Kab. Manggarai, NTT (Foto: Pater Frumens Andi, SMM)

Narasi singkat yang ada dalam group itu, Pater meminta seorang umat lainnya untuk memangkas rambut saudara yang dipasung. Saudara yang sedang sakit itu rambutnya panjang. Tak terawat. Tak terurus. Kemudian, Pater menginformasikan kepada pihak Puskesmas setempat agar diberikan pelayanan medis dan barangkali tersedia obat untuk pemulihannya. 

Ini semua cerita yang saya kumpul bersumber dari group whatsapp KKI di awal tahun 2021. Semoga sepanjang tahun 2021 dari Januari-Desember, penanganan dan pencegahan serta pelayanan bagi mereka (disabilitas mental) di prioritas oleh program Negara. Tuhan sangat menyayangi mereka yang sedang menderita apa saja.

Ada begitu banyak orang baik dan bekerja dengan hati di Manggarai Timur.

*********************

Markus Makur adalah Kontributor KOMPAS.com dan koordinator relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan Jiwa Manggarai Timur. Bisa dihubung di nomor kontak (081238371195)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here