“Parade Kematian” – “Di Seberang Samudera”, Puisi-puisi Simply de Flores

0
43
Foto Ilustrasi dari Google

PARADE KEMATIAN

Mati adalah anugerah dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan setiap manusia di bumi fana oleh Sang Pencipta
Kematian adalah kepastian, meski misteri caranya, kapan dan dimana

Mati karena kecelakaan dan becana alam sering menjadi pengalaman tragis dan tidak gampang dihadapi

Mati karena membunuh diri pun sering terjadi dengan berbagai alasan
Dan meninggalkan banyak pertanyaan bagi yang hidup
Mengapa dia bunuh diri dan akhiri hidupnya ?

Mati karena perang, pembunuhan dan kejahatan sesama juga mengerikan

Mati yang terjadi karena pandemi bertubi-tubi dan dimana-mana seluruh dunia saat ini
Menjadi menakutkan, mencekam, mengerikan dan menghentak totalitas adanya setiap pribadi agar kembali ke jati diri dan hakekat hidup
Bahkan Sang Pencipta

“Aku ini siapa, darimana datangku, siapa penjamin adaku, bagaimana memperlakukan hidupku di tengah sesama dan alam ini, kemana nanti kukembali, kapan – bagaimana dan dimana aku mati, mengapa dan untuk apa saya terlahir”
Adakah Kasih Allah
Dimana Allah-ku

Apakah aku juga masuk daftar mati dalam parade kematian pandemi covid19 ini ?
Semua air mata, ketakutan, rindu damba
Segala daya upaya tidak mampu menghentikan dan menghilangkan kematian

Saatnya menyadari, memahami, bersahabat dan mencintai kematian
Saudara kembar kehidupan
Misteri realitas dan Sang Pencipta

—————————————————————–

DI SEBERANG SAMUDERA

(Memaknai kematian, mengiringi semua yang telah berpulang mendahului )

Biduk kita bertolak dari pelabuhan asal
Berlayar melintas ombak lautan menerjang mengarungi gelombang samudera agar sampai tujuan jiwa di seberang sana

Ada burung camar melintas menyapa
Ada lumba-lumba mengiring bercanda
Ada badai menerpa dan layar tersobek, tiang nyaris patah, biduk hampir tenggelam dalam siang malam berganti melewati hari-hari

Ketika biduk ditelan batas pandang cakrawala
Saat kehidupan sirna di ujung samudera,
waktunya ajal datang menjemput jiwa,
Maka segalanya tak mampu ditahan karena kehidupan ada awal dan ada akhir

Ketiadaan mengawali dan kematian mengakhiri
Yang tersisa adalah amal bhakti setiap kita yang tercatat di pasir pantai, dalam debur ombak, pada halaman samudera dan sejarah peradaban

Ada keyakinan asali
Ada harapan hakiki jiwa nurani sejati
Di seberang samudera ada kota perjanjian
Di batas cakrawala ada pelabuhan cinta
Di akhir pelayaran ziarah makna dunia
Setiap kita yakini ada awal kehidupan baru abadi lestari bersemi

(Maumere, Flores, 21 Juli 2021)


 

*Simply da Flores, Direktur YaHarmoni.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here