Portugis di Larantuka : Dari Solor ke Sandominggo

Menuju Larantuka dari arah selatan

Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel keenam. Semoga berguna.

Penulis : Benjamin Tukan

Untuk Larantuka, Portugis bukanlah ceritra masa lampau saja, tapi hingga kini jejak-jejak Portugis banyak berbicara mengenai perkembangan kota ini. Kendati demikian, Larantuka bukanlah Makau yang dibangun Portugis yang saat ini cukup dikenal itu. Kecuali tradisi keagamaan, hingga kini peninggalan-peninggalan Portugis di Larantuka masih terus dikumpulkan dan coba untuk diberi makna.

Menelusuri kembali perjalanan Portugis yang singgah di Larantuka, tidak lepas dari budaya bangsa pelaut ini dalam menjelajahi dunia termasuk datang ke daerah Nusantara yang banyak menghasilkan rempah-rempah.

Sungguh petualangan model ini adalah hal yang paling menakjubkan untuk negara sekecil Portugal. Jika bukan karena pembawaan dari bangsa Iberia yakni kecendrungan aneh untuk bermimpi, kesenangan untuk mengambil resiko berbahaya, juga idealisme religus, tidak mungkin mereka tiba di Larantuka.

Petualangan yang begitu sederhana dalam perkembangan kemudian kedatangan Portugis ini didorong oleh tujuan yang lebih besar yakni feitoria, fortaleza, dan igreja atau emas, kejayaan, dan gereja atau perdagangan, dominasi militer, dan penyebaran agama Katolik.

Sebagai negara kecil yang dulunya masih menjadi satu dengan Spanyol adalah negara di bagian paling barat Eropa dengan komunitas agama Katolik. Portugis dikenal sebagai masyarakat penjelajah dunia dengan kebudayaan maritim yang cukup baik.

Perjalanan mengilingi dunia dimulai pada 1488 melalui ekspedisi Bartolomeus Dias. Dia yang menjangkau hingga Tanjung Harapan, Afrika. Vasco da Gama melanjutkan ekspedisi Bartolomeus. Sayang ia juga hanya sampai India 1498. Kemudian pada 1503, Armada yang dipimpin Alfonso de Albuqueque berangkat dari Sungai Tagus yang bermuara ke Samudra Atlantik, mengarungi samudra Atlantik dan masuk melewati Tanjung Harapan Afrika lalu haluan kapal diarahkan menuju Goa India. Baru April 1511 ia ke Malaka dan tiba di Malaka dalam bulan yang sama.

Saat itu Malaka telah menjadi satu tempat di Nusatara yang cukup ramai. Dari Malaka, sebuah akspedsi dikirim oleh Alfonso de Albuqueque. Dibawa pimpinan Antonio de Abreu dan Francisco Serrao mereka berlayar ke arah timur. Pelayaran melewati pesisir pantai Sumatera, Jawa,Bali, Lombok, Sumbawa dan Flores kemudian memutar haluan ke utara dan mencapai Banda pada 1512. Portugis juga mengirimkan armada ke arah China. Pada 1513 armada tiba China dan mencapai Jepang tahun 1543.

Setiap kali mereka tiba di suatu tempat, orang-orang Portugis selalu memegaruhui kehidupan komunitas masyarakat yang disinggahi. Dari tempat yang disinggahi mereka selalu memperkenalkan bahasa, makan, cara berpakaian,dan jenis musik. Orang-orang Portugis sangat menghargai seni baik musik maupun tari-tarian.

Di tempat asalnya, masyarakat Portugis dikenal sebagai bangsa yang sangat menghargai leluhur serta selalu menjaga kebiasaan secara turun temurun. Kehidupan masyarakatnyapun sangat ramah dan saling menghargai antar sesama.

Dalam keluarga tradisional Portugis hubungan antara orangtua dan anak sangat kuat. Tradisi kumpul bersama menjadi kebiasaan yang selalu dipertahankan. Orang-orang Portugis mengajarkan dan mendidik anak mereka untuk menyukai pekerjaaan yang berkaitan dengan rumah termasuk mengurusi halaman rumah dengan tanaman.

Dalam keluarga-keluarga Portugis, ibu memegang peran yang penting menentukan berlangsung hidup keluarga. Di rumah selain tarian dan musik, khususnya anak perempuan dilatih menyulam baju, selimut, taplak meja, saputangan dan lainnya .

Portugis selalu meninggalkan jejak di setiap tempat yang kunjungi lebih-lebih pada kehidupan yang dekat dengan keseharian manusia, membuat bangsa ini selalu diingat. Ini juga yang dilupakan oleh Belanda dalam konflik Belanda dengan Portugis di Nusantara. Belanda mengira Portugis akan pergi dan tak pernah kembali atau meninggalkan jejak di Nusatarara, tetapi kenyataan di beberapa tempat termasuk Flores Portugis meninggalkan jejak itu.

Di luar persaingan perdagangan tempo itu, di Nusantara umumnya dan Larantuka khususnya, Portugis selain dikenang melalui tradisi agama katolik, juga melalui musik, bahasa, pola hidup dalam rumah maupun jenis-jenis sayuran dan buah-buahan.

***

Pelayaran Portugis mengarungi nusantara yang melewati perairan Nusa Tenggara, membawa mereka pada suatu waktu di masa lalu untuk tiba di Larantuka dan kepulauan Solor. Sebelum tiba di kepulauan Solor, dalam perjalanan itu, mereka menemukan sebuah pulau yang kemudian dinamakan “Cabo da Flores” yang berarti Tanjung Bunga yang mana nama tersebut dipakai hingga saat ini menjadi Pulau Flores.

Letak kepulauan Solor yang terbilang strategis untuk menghindari dari amukan gelombang laut, membuat perahu-perahu Portugis memilih untuk berlabuh di daerah ini. Begitu pun hasil-hasil alam dari kepulauan ini cukup untuk memasok perbekalan perjalanan mereka selanjutnya.

Pada 1515 pelayaran Portugis membuka perdagangan di kepulauan nusantara tiba di kepulauan Solor dan Timor. Lima tahun kemudian, pada 1520 pedagang Portugis mulai menetap dan tinggal di Solor, pulau kecil di depan Larantuka. Mulai saat itu, Solor dijadikan tempat pertama untuk aktivitas perdagangan wilayah kepulauan.

Di Solor, mereka membangun rumah-rumah sederhana dan karena mereka beragama Katolik, maka mereka mulai berdoa dengan cara dan tradisi Katolik. Pada 1522 seorang imam yang menyertai rombongan pedagang itu tinggal dan menetap di Solor. Ia bekerja dengan tekun, melayani umat baik di kepulauan Solor maupun Timor.

Laporan seorang imam Dominikan P. Antonio de Taveria, OP pastor kapal Portugis, ketika menyinggahi Lohayong di Pulau Solor dan Larantuka di Pulau Flores, beliau mendapati banyak orang katolik disana. Dia juga berkesempatan mempermandikan banyak orang.

Perkembangan umat katolik yang dibawa pedagang Portugis di wilayah kunjungan mereka, mendapat respon dari Paus sebagai pemimpin Gereja katolik. Pada 1529 Paus menyerahkan tugas menyebarkan agama katolik kepada misionaris Portugis.

Perkembangan dan pertumbuhan umat yang pesat diketahui juga oleh Uskup Malaka Mgr. Jorge da Santa Lucia, OP. Pada 1561. Uskup menugaskan tiga imam Ordo Dominikan dari Melaka ke Solor. Ketiga missionaris tersebut adalah Pater Antonio da Cruss OP, Pater Simao das Chagas, dan Bruder Alexsius. Ketiga imam Dominikan ini pergi dan menetap di Solor. Oleh karenanya, tahun ini ditetapkan sebagai tahun resmi awal karya Misi Katolik di kawasan ini.

Pada 1566, Pater Antonio da Cruz mulai membangun sebuah benteng di Solor dengan pendanaan dari Maukau. Benteng yang dibangun, kemudian menjadi pusat aktivitas misi Katolik. Di dalam banteng itu dibangun asrama, gereja dan seminari. Pada tahun 1600 tercatat sedikitnya ada 50 siswa seminaris. Benteng ini kemudian oleh Belanda diberi nama benteng Fortaleza (benteng pertahanan), “Henricus”.

***

Kepulauan Solor dulunya ditumbuhi hutan-hutan cendana yang sangat bernilai harganya pada perdagangan kala itu. Dari Lohayong -Solor hubungan baru mulai tercipta. Perkembangan dari sisi ekonomi perdagangan dan agama katolik di wilayah ini, membuat Solor berhubungan langsung dengan pusat-pusat perdagagan dan pusat-pusat misi seperti Maluku dan Ternate, Malaka dan Maukao bahkan hingga ke Goa India.

Sementara itu terjadi persaingan di tingkat perdagangan yang melibatkan pedagang yang melintasi Larantuka, juga perlawanan dari penduduk lokal sendiri dengan kehadiran agama baru tersebut. Sebagai akibatnya, pada masa itu terjadi pembunuhan dan lahirlah para Martir Katolik pertama. Meraka adalah Pater Antonio Pestana, Pater Simao de Montanhas, Pater Simao da Chagas, dan Pater F. Calassa.

Harapan untuk menancapkan pengaruh yang semakin kuat,pada kenyataannya harus menghadapi ancamanan dari kedatangan Belanda. Pada 27 Januari 1613 sebuah armada Belanda datang ke Solor dan tiga bulan kemudian pada 18 April 1613 benteng Lohayong pun jatuh ke tangan Belanda.

Jatuhnya Benteng ke tangan Belanda mengakibatkan banyak orang Portugis meninggalkan Solor menuju Larantuka, bahkan ada yang memilih untuk kembali ke Malaka. Pater Agustino de Magdalena dan Kapitan Fransiskus Fernandes memimpin beberapa pengikut yang setia berserta orang-orang Portugis hitam (Indo) menuju Larantuka.

Pater Agustino de Magdalena memilih sebuah tempat yang bagus dan strategis untuk pertahanan Keamanan,yakni di Sandominggo (sekarang istana Uskup Dioses Larantuka). Jadi jika orang bertanya kapan ulang tahun kota Larantuka, maka bisa saja diambil dari tanggal 18 April (18 April 1613), kecuali ada pertimbangan lain. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here