Ignas Kleden dan  Genealogi Intelektual Indonesia Merdeka

0
111

Khudori Husnan, Esais dan Pecinta Buku

 

SEJARAH merupakan  medium  pembentuk identitas. Pada saat bersamaan,  sejarah mendasarkan diri pada kiprah  orang per orang  sebagai mahluk  yang   hidup dalam sejarah. Oleh karena itu, penulisan sejarah  intelektual   di Indonesia  dapat diartikan  sebagai penulisan gagasan-gagasan   intelektual tentang sejarah Indonesia itu sendiri.

Hubungan  penulisan sejarah intelektual  dengan penulisan gagasan-gagasan intelektual tentang sejarah bersifat  timbal-balik  hingga  tak bisa dirangkum dalam  sebuah   rumusan,   sejarahlah  yang menentukan bulat lonjongnya gagasan intelektual, atau sebaliknya, gagasan-gagasan kaum intelektual  yang menentukan  bopeng  mulusnya  sejarah.

Buku Fragmen Sejarah Intelektual, Beberapa Profil Indonesia Merdeka (selanjutnya disingkat Fragmen Sejarah Intelektual) karya cendekiawan Indonesia terkemuka Ignas Kleden, persis menyoroti keterkaitan  sejarah  dengan  subyek-subyek  yang terlibat dan melibatkan diri dalam sejarah.

Bagi Ignas Kleden  “ada hubungan yang bersifat terbuka dan penuh kemungkinan di antara stimuli yang diberikan oleh waktu dan tempat seseorang hidup dan respons yang diberikan oleh tiap orang terhadap berbagai stimuli itu.” Selain itu,  masih menurut  Ignas Kleden, “respons seseorang terhadap setiap stimulus adalah respons yang mengandung kebebasan.”  (Halaman, 64).

Pandangan ini  menyiratkan kesan, gerak sejarah tercipta melalui interaksi antara  konteks dengan  reaksi-reaksi yang tak terduga dan tak bisa  ditentukan dari seseorang, dalam hal ini mereka yang disebut sebagai intelektual, terhadap  konteks yang melingkupinya.

Sejarah Politik Indonesia

Fragmen Sejarah Intelektual   berupaya  mengulas sejarah politik Indonesia dengan  mengungkap kemungkinan tren-tren pemikiran  yang bertalian erat dengan berbagai  diskursus  dan  praktik kekuasaan, khususnya di kurun waktu setelah Indonesia merdeka hingga saat ini. “Dari sejarah  politik Indonesia,” tulis Ignas Kleden,  “kita dapat belajar, bahwa bahkan konsep kekuasaan didefinisikan juga menurut keadaan sosial-historis suatu masa.” (Halaman. 60).

Filosof Prancis Michel Foucault  melalui  apa yang disebutnya sebagai “bio-politics of population,” mengenalkan  pengertian  baru tentang kekuasaan. Menurut Foucault  antara kekuasaan dan pengetahuan tak bisa dipisahkan  dan  tubuh manusia  paling bisa menyesuaikan  diri dengan sirkulasi kekuasaan.

Kekuasaan tak  lagi  berada  luar individu,  yang menekan dan  memaksa. Individu  adalah  bagian dari  kekuasaan itu sendiri. Alih-alih bersifat menekan, kekuasaan justru bersifat produktif.  Hubungan antara tubuh individual dengan tubuh sosial atau populasi, memainkan peran  penting bagi terciptanya  politik modern, melalui   pendisiplinan ala bentuk-bentuk  baru kekuasaan termasuk   pendidikan.

Pendidikan yang diberikan kaum penjajah pada tokoh-tokoh  seperti Bung Karno, Bung  Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka menjadi sarana penguasaan yang sangat efektif. Tapi, pendidikan pulalah yang membuat tokoh-tokoh ini bertekad—dan kemudian berhasil— memerdekakan   bangsa Indonesia dari   penjajahan. “Hampir semua tokoh gerakan kebangsaan dan para pendiri Republik Indonesia,” tulis Ignas Kleden, “berjuang dengan satu keyakinan yang sama, yaitu bahwa politik nasional adalah pendidikan nasional.” (Halaman, 43).

Meski sama-sama berpandangan  pendidikan dan kemerdekaan  adalah kunci, Ignas Kleden mencatat ada perbedaan pemaknaan  tentang kemerdekaan  dari sudut pandang   politik serta  dari sudut pandang kesenian dan    kebudayaan.  “Dalam politik,” demikian Ignas Kleden, “kemerdekaan lebih diproyeksikan sebagai tujuan perjuangan, sementara dalam kebudayaan dan kesenian, kebebasan dituntut sebagai prasyarat yang memungkinkan dan memfasilitasi usaha kreatif.” (Halaman.50).

Kekuasaan  dan Kebebasan

Buku ini  terdiri dari dua  bagian yaitu pertama,  mengetengahkan pemikiran-pemikiran  Bung Karno, Bung  Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Soedjatmoko, Frans Seda, Gus Dur, dan Sultan Hamengku Buwono, dan kedua  membahasa  karya   Sutan Takdir Alisjahbana, Ajip Rosidi, Asrul Sani, Mochtar Lubis, Rendra, Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Sardono W. Kusumo, Jacob Oetama, dan Pramoedya Ananta Toer.

Ignas Kleden menganggap tokoh-tokoh  di muka sebagai intelektual karena mereka adalah  orang-orang “yang   menghadapi keadaan masyarakatnya dengan pikiran, akal sehat, dan renungan kritisnya dan kemudian mengambil sikap, menyatakan sikap  itu, dan mengambil risiko untuk mempertahankannya.” (halaman 15)

Meski tidak disebutkan secara eksplisit di dalamnya, buku Fragmen Sejarah Intelektual rupanya menggunakan pendekatan genealogis  yang mendasarkan pemaparannya  pada pertalian antara kekuasaan dengan  pengetahuan dan  bertitik-tolak dari pandangan bahwa fakta adalah hasil  konstruksi sosial dari realitas (Bdk., halaman 399-340). Genealogi berkehendak menunjukan bagaimana realitas dapat dipahami secara berbeda jika  konstruksi  politik dan situasi politik tertentu juga berbeda.

Dengan  menggunakan kaca mata  filsafat, sejarah, sosiologi, seni dan budaya  Ignas Kleden menunjuk pada episod-episod dan contoh-contoh sembari  memusatkan perhatian pada permasalahan yang mengemuka dan  tampak normal dalam rentang sejarah  Indonesia,  kemudian   dikaitkan  dengan   relasi-relasi kekuasaan serta  pelbagai kemungkinan—sejauh masih memiliki kaitan tematik  antara masa lalu dan masa kini.

Melalui   Frgammen Sejarah Intelektual,  Ignas Kleden  menemukan  tema kebebasan sebagai benang merah yang menyatukan  pergulatan para intelektual dari episod setelah Indonesia merdeka  hingga masa sekarang;  salah satu kekhasan analisa genealogis adalah berusaha mengintervensi/membaca ulang masa lalu untuk mendiagnosa masa kini.

Kritik

Di balik  penjelasan yang sangat ketat, teliti, dan terperinci dalam  buku Fragamen Sejarah Intelektual ini, saya cukup  heran dengan tidak dibahas dengan  gamblangnya  jenis relasi kuasa lain yang menyelinap dalam apa yang disebut  Benedict Anderson   sebagai “kapitalisme cetak” dan dampaknya  pada  imajinasi tentang nasionalisme  dalam diri para pelopor kemerdekaan  Republik Indonesia.

Pramoedya Ananta Toer menarasikan persoalan di muka  lewat Minke dalam novel Bumi Manusia yang mengawali petualangannya, setelah dipicu  ketakjuban  pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang tersimbolisasikan  saat  Minke   terpesona pada  kecantikan paras  Ratu Wilhelmina  di selembar potret yang nota bene adalah  produk kemajuan teknologi di bidang reproduksi mekanis.

Terlepas dari keheranan saya di atas,  buku Fragamen Sejarah Intelektual ini tak diragukan lagi merupakan buah karya yang bermutu sangat baik  dari seorang intelektual  dengan kadar sesarjanaan yang  cemerlang,  tentang sejarah formasi inteligensia Indonesia, termasuk pergulatan-pergulatannya dalam memperjuangan,  mengisi, dan mendefinisikan kemerdekaan Indonesia.

 

Judul Buku   :           Fragmen Sejarah Intelektua – Beberapa Profil Indonesia Merdeka

Penulis         :           Ignas Kleden

Penerbit       :           Yayasan Pustaka Obor Indonesia

Cetakan       :           Pertama, Desember 2020

Tebal            :           xxi+460  halaman

ISBN            :           978 – 602 – 433 – 687  – 5

***********

 

 

 

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here