Menulis Esai sebagai Kebahagiaan: Belajar dari Montaigne

0
142
Budi Darma

 

untuk: Budi Darma # RIP

 

Oleh  Agustinus Tetiro (jurnalis dan esais)

 

DALAM Filokomik, dilukiskan bahwa Montaigne memberi beberapa pengajaran untuk berbahagia, yaitu memiliki pengalaman hidup, sikap meragukan semua karena kita tidak sempurna, banyak piknik melihat dunia, keberanian untuk melepaskan, melawan prasangka dan bertoleransi.[1] Semua itu memberikan kita satu informasi bahwa Michel Eyquem de Montaigne (1533-1592) adalah seorang filsuf yang berfilsafat dengan merefleksikan pengalaman hidup dan riwayat biografisnya sendiri. Hal itulah yang membuatnya berbahagia. Kebahagiaan dalam berpengalaman langsung dengan realitas dan dalam kebersamaan dengan orang lain itulah yang diajarkan Montaigne melalui tulisan-tulisannya, terutama yang berbentuk esai yang diartikan sebagai “suatu obrolan yang cerdas dan memikat”.[2] Karena, menurut Montaigne, “latihan yang paling bermanfaat dan alami bagi pikiran kita adalah, menurut pendapat saya, percakapan”.[3]

J.M. Cohen yang menerjemahkan karya besar Montaigne, Essays, ke dalam bahasa Inggris melukiskan dengan tepat filsafat yang dihidupi Montaigne dalam pilihan gaya menulisnya. Esai adalah sebentuk sastra (genus litterarium). “Tujuannya adalah menampilkan potret dirinya dalam bingkai keabadian; untuk membangun dari sejumlah sketsa parsial manusia esensial; bukan sebagai makhluk yang tidak berubah, tetapi sebagai orang yang mempertahankan inti identitas lebih penting sebagai subjek daripada peristiwa yang menimpanya.”[4]

Semangat Montaigne dalam menulis esai sebagai kegembiraan hidupnya terinspirasi dari para filsuf klasik seperti Aristoteles dan filsafat Stoikisme.[5] Dari kedua sumber ini, Montaigne berbicara tentang persahabatan yang menggembirakan. Dalam tulisannya bertajuk “Tentang Persahabatan” (On Friendship), Montaigne banyak merujuk pada karya Cicero berjudul De Amicitia (Tentang Persahabatan) dan konsep persahabatan dari Aristoteles. Menurut Montaigne, persahabatan pertama-tama dipelajari dari rumah dan keluarga dan kemudian berkembang lebih luas hingga menjadi persahabatan politik (Aristoteles) dan warga dunia yang kosmopolis (Stoikisme Cicero). Orang berbahagia bila dia bisa mengalami pengalaman kebersamaan dengan orang lain.[6]

Montaigne sangat antusias merefleksikan pengalaman kesehariannya, karena hal itu menggembirakan. “Dalam menilai kehidupan orang lain, saya selalu menanyakan bagaimana setidaknya dia berperilaku; dan salah satu tujuan utama saya dalam hidup saya adalah untuk berperilaku baik. Itu berakhir – dengan damai, maksud saya, dan dengan pikiran yang tenang.”[7]

Montaigne tidak menutup mata bahwa dalam merefleksikan persahabatan dan pengalaman kebersamaan bisa saja kita salah paham ataupun menimbulkan kontradiksi. Hal itu tidak akan banyak menganggu, karena “kontradiksi pendapat, oleh karena itu, tidak menyinggung atau menjauhkan saya; mereka hanya membangkitkan dan melatih pikiran saya.”[8] Menurut Montaigne, latihan pikiran dan olah rasa seperti ini akan berguna untuk pemuliaan martabat manusia. Montaigne menulis, “Saya mencintai dan menghormati pengetahuan sebanyak mereka yang memilikinya; jika digunakan dengan benar, itu adalah perolehan manusia yang paling mulia dan paling kuat.”[9]

Kekaguman pada realitas dan pada hidup manusia tentu saja telah mendorong Montaigne untuk dengan gembira menikmati pengalaman hidupnya. Dalam esainya bertajuk On the Power of Imagination (Tentang Kekuatan Imajinasi), Montaigne menekankan pentingnya imajinasi kreatif untuk kebahagiaan manusia. “Mungkin saja kepercayaan pada mukjizat, penglihatan, pesona, dan kejadian luar biasa seperti itu bersumber dari kekuatan imajinasi yang terutama bekerja di benak orang awam, yang lebih mudah terkesan.”[10]

Imajinasi kreatif yang menuntun Montaigne menjadi sangat otentik bagi pembelajaran sang filsuf tentang hidupnya sendiri yang pada gilirannya membawa kebahagiaan. Bagi Montaigne, kebahagiaan bisa diperoleh dengan memberanikan diri sendiri untuk menyelami sejarah hidup masing-masing, mengalami sendiri, dan merefleksikan pengalaman dalam kebersamaan, khususnya bersama orang-orang yang—meminjam istilah saat ini—‘sefrekuensi’.[11] Imajinasi kreatif Montaigne dalam merefleksikan pengalaman hidup dan kebersamaannya itu yang kemudian memantapkan bentuk esai sebagai tulisan yang bisa diterima umum dan diakui sebagai karya yang otentik.

Beberapa hal yang bisa dikatakan tentang esai menurut Montaigne.[12] Pertama, essai atau essais dalam bentuk jamaknya, sengaja dipilih oleh Montaigne, karena maksud utama tulisan dan renungan-renungannya adalah mencoba memahami manusia dan masyarakat secara lebih baik. Kedua, esai menghindari konsep-konsep abstrak dan selalu bertolak dari pengalaman. Menurut Montaigne, pengalaman manusia adalah obyek penelitian dan sekaligus juga metode penelitian. Ketiga, pengetahuan sistematis memang berguna, tetapi belum mempunyai manfaat yang optimal kalau tidak membantu kita mendapatkan pengertian moral tentang apa yang baik dalam hidup, dan sanggup membentuk sikap kita terhadap hidup itu sendiri.

Sampai di sini, kita perlu memberikan beberapa pertimbangan. Pertama, pilihan Montaigne untuk menulis tentang kebahagiaan hidup dalam bentuk esai lebih menyentuh hati daripada uraian sistematik tentang kebahagiaan yang dalam banyak pengalaman ternyata tidak banyak membantu manusia untuk menggapai kebahagiaan. Kedua, kebahagiaan yang diperoleh dalam pengalaman kebersamaan dan rasa kagum pada kehidupan manusia tentu saja lebih membekas pada setiap sejarah hidup masing-masing pribadi. Ketiga, kendati demikian, peran pengetahuan sistematis tetap berguna dan tak tergantikan. Selain fungsinya untuk menginformasikan suatu pengetahuan, sejarah manusia juga mencatat bahwa ada orang yang juga bisa menulis suatu pengetahuan sistematis dengan hati yang gembira.

********************************

 

[1]Jeane-Philippe Thivet dkk., Filokomik. 10 Filsuf 10 Strategi Bahagia (terj. A Setyo Wibowo) (Jakarta: KPG, 2020), hlm.56-67.

[2]Ignas Kleden, Antara Obyektivitas dan Orisinalitas (Esei Kita), dalam “Prisma” No.8 Tahun XVII 1988 (Sastera dan Masyarakat Orde Baru), hlm.17.

[3]“The most fruitful and natural exercise for our mind is, in my opinion, conversation.” Michel de Montaigne, Essays (translated with an Introduction by J.M. Cohen) (Middlesex, English: Penguin Books, 1958), hlm.286.

[4]“His aim is to present a portrait of himself in a frame of timelessness; to build up from a number of partial sketches the essential man; not as an unchanging being, but as one who retained a core of identity more important as a subject than the events that befell him.” J.M. Cohen, Introduction, dalam Michel de Montaigne, Essays (translated with an Introduction by J.M. Cohen) (Middlesex, English: Penguin Books, 1958), hlm.9.

[5]“Montaigne’s own practical philosophy derived from the Classical forms of self-discipline, which he found in Socrates and the Stoics.”  J.M. Cohen, Introduction, hlm.17.

[6]Michel de Montaigne, Essays, hlm.91-105.

[7]“In judging another man’s life, I always inquire how he behaved at the least; and one of my principal aims of my life is to conduct myself well it ends–peacefully, I mean, and with a calm mind.” Michel de Montaigne, Essays, hlm.36.

[8]“Contradiction of opinion, therefore, neither offend nor estrange me; they only arouse and exercise my mind.” Michel de Montaigne, Essays, hlm.288.

[9]“I love and honour knowledge as much as those who possess it; put to its proper use, it is the noblest and most powerful acquisition of man.”  Michel de Montaigne, Essays, hlm.292.

[10]“It is probable that the belief in miracles, visions, enchantments, and such extraordinary occurrences springs in the main from the power of imagination acting principally on the minds of the common people, who are the more easily impressed.”  Michel de Montaigne, Essays, hlm.39.

[11]“The only good histories are those written by men who were themselves at the head of affairs, or took a share in the conduct of them, or at least hand the good fortune to direct others of a similar nature.”  Michel de Montaigne, Essays, hlm.171.

[12]Untuk bagian ini disarikan dari artikel berjudul Esai. Godaan Subyektivitas dalam  Ignas Kleden, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Esai-Esai Sastra dan Budaya (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2004), hlm.472-476.

Agustinus Tetiro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here