• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Kamis, April 30, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

L E A R

by Redaksi
November 23, 2023
in OPINI
0
L E A R
0
SHARES
63
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Goenawan Mohamad

 

SHAKESPEARE juga bicara tentang kemiskinan dan ke­ adilan. Dalam King Lear, raja tua itu berdiri di dataran yang di­ngin. ­Ia telah membagi kerajaannya kepada kedua putrinya, tapi ia merasa telah mereka khianati. Raja itu pun jadi sinting, berge­ landang, menadah topan dan hujan. Di situlah ia teringat akan mereka ”yang bugil dan nestapa”, yang ”menanggungkan beri­ ngas­badai yang tak berbelas”—orang-orang yang kepalanya tak berumah dan perutnya tak beroti.

Lalu ia pun berseru, agar yang berlimpah diguncang, hingga­ tertadah oleh yang tak punya, untuk ”menunjukkan langit adalah adil”.

Shakespeare menulis King Lear ketika masyarakat Inggris ber­ ubah. Perdagangan tumbuh. Kapal niaga datang pergi lewat Su­ngai­ Thames. Kelas menengah, para saudagar, sedang naik. ”Lon­don sangat kaya,” tulis duta besar Italia waktu itu, ”bukan hanya dari segi perdagangan besar dan jual-belinya dengan nege­ri lain, tapi juga dari privilese yang dinikmati oleh semua pendu­duk­ nya….”

Sang duta besar tampaknya tak tahu betapa banyak orang mis­kin di London saat itu, juga ketegangan sosial lain yang tera­sa. Bangsawan lama, yang tak begitu pandai mengelola kekaya­an, tengah digantikan aristokrasi baru. Mereka ini yang membeli dan mengomersialkan tanah-tanah milik gereja yang dulu disita oleh Raja Henry VIII yang membangkang melawan Paus. Mere­ka agresif, maju-dan tentu saja tak peduli akan orang yang me­ nyewa tanah dengan tarif tinggi dan kemiskin­an yang terjadi.

Seorang pengkhotbah kemudian mengecam tipe ”priayi ba­ru” ini, our newcome gentleman, yang ”menyangka bahwa ke­bang­sawanan bisa dibangun dari benda duniawi yang berlebihan”. Tapi kaum aristokrasi baru inilah yang-bergabung dengan pa­ra saudagar-membentuk dukungan kukuh buat Ratu Eliza­beth I. Dan seperti ditulis oleh Paul Siegel dalam satu telaah ten­tang masyarakat zaman Shakespeare, saat itulah para bangsawan istana menikmati monopoli dari Sri Ratu, dan bersekutu dengan ”proyektor” atau saudagar yang punya modal. Dengan itu mereka menguasai pelbagai bidang industri. Tujuan Sri Ratu, tentu saja, adalah untuk melindungi industri ini dari persaingan.

Tapi di akhir abad ke-16, Inggris mengalahkan Spanyol, dan ada yang bergerak di masyarakat. Perang dengan Spanyol­ me­mang berkobar atas nama Kristus, tapi di pihak Inggris, lebih ba­nyak yang bersemangat menghabisi posisi istimewa Spanyol un­tuk berdagang budak dan emas ke Amerika. ”Dunia Baru” itu. Ketika Spanyol tak lagi jadi penghalang, kelas menengah Inggris­ pun kian yakin akan kemungkinan mereka berkembang. Suara­ mereka di parlemen mengeras. ”Ini lebih mirip sekolah dasar ke­ timbang parlemen,” tulis Cecil, Earl of Salisbury, aristokrat yang tak betah mengalami kegaduhan itu.

Di tahun 1601, kritik terhadap pelbagai peraturan industri, terutama monopoli, kian sengit. Akhirnya Sri Ratu mengucapkan­ terima kasih kepada rakyatnya yang lelah mengingatkannya akan soal itu. Ia tetap memegang hak prerogatifnya, tapi ia cabut bebe­rapa monopoli yang banyak dikecam.

Mungkin karena Sri Ratu tak ingin posisinya guncang dan ke­ra­jaan terancam. Ia sudah tua, dan orang belum pasti siapa peng­ganti Baginda yang tak berputra. Dalam sikap berjaga itu pula Sri Ratu memenjarakan Peter Wentworth, anggota parlemen yang mengusulkan agar ada undang-undang suksesi. Tapi toh akhir­nya, 24 Maret 1603, nyawa Baginda pergi ­tatkala ia duduk-ka­rena ia takut berbaring. Sesuai dengan pesan terakhirnya, Raja James diangkat. Zaman Tudor pun mulai, tumbuh bersama kaum borjuasi dan pemegang monopoli baru.

Di tahun 1605, Shakespeare menulis King Lear. Sastrawan so­sialis George Orwell pernah mengatakan bahwa lakon ini banyak mengemukakan kritik sosial, meskipun terselubung. Agaknya be­­nar, si Badut dalam Lear memang menyebut soal ”monopoli” dan ”tuan-tuan besar yang ingin kebagian laba”, dan Gloucester bangsawan tua yang dikhianati anak tirinya, berbicara tentang perlunya pembagian kekayaan yang akan ”menghabisi keberle­bih­an” hingga ”tiap orang berkecukupan”.

Syukurlah, King Lear tak dilarang. Shakespeare bukan Pra­moe­­dya atau Rendra. Bahkan lakon itu dipentaskan di depan Raja di sekitar Natal tahun 1606. Toh Inggris dan sistem sosial­ tak runtuh. Shakespeare ikut menikmatinya. Dan kita hari ini tahu betapa beruntungnya dapat menemukan keindahan se­buah karya dan kearifan sebuah masa lalu.

—————————————-

 

Sumber Tulisan dari Buku Catatan Pinggir 4, Goenawan Mohamd, Grafiti, 1995.

ShareTweetSend
Next Post
Sekelumit Pemikiran tentang Perbandingan Pemberantasan Korupsi di Negara Maju dan Kondisi Konkrit di Indonesia Masa Kini

Sekelumit Pemikiran tentang Perbandingan Pemberantasan Korupsi di Negara Maju dan Kondisi Konkrit di Indonesia Masa Kini

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Memaknai Waktu dan Ruang-Tempat

Memaknai Waktu dan Ruang-Tempat

5 tahun ago
Presiden Jokowi Akan Tempatkan 1.000 Sarjana Muda Papua di BUMN

Presiden Jokowi Akan Tempatkan 1.000 Sarjana Muda Papua di BUMN

7 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In