Mengawali Perkembangan Kota Larantuka: Gereja, Kerajaan dan Pemerintahan

0
149
Pelabuhan Larantuka (Foto : Toni-FBC)

Pengantar : Untuk  semakin mengenal tradisi semana santa, sejarah dan  kebudayaan  wilayah Larantuka dan sekitarnya, berandanegeri.com menurunkan beberapa  tulisan sejak hari Rabu 26 Februari 2020  hingga menjelang Paskah 12 April 2020. Tulisan akan dikemas sebagai esey budaya. Ini merupakan artikel ketiga Semoga berguna.

Penulis :  Benjamin Tukan

Dari sejarah yang ditutur-lisankan secara turun temurun  dari penduduk Flores bagian timur khususnya Larantuka dan sekitarnya, asal usul penghuni wilayah ini datang dari penduduk asli yakni suku ile jadi,  dan para pendatang yang berasal dari wilayah nusantara bagian Barat dan Timur. Suku pendatang berasal dari Barat disebut dengan istilah “Sina Jawa Malaka” dan yang datang dari Timur disebut “Keroko Puken” dan “Tena Mao”.

Sebutan “Sina Jawa Malaka” sering diasosiasikan orang  sebagai berikut : Sina dimaksudkan suku dari Cina bagian selatan, Jawa ialah suku Hindu Jawa dan Malaka yaitu berasal dari suku Melayu termasuk Portugis indo dan Portugis hitam yang sebelumnya pernah tinggal di Malaka.

Sedangkan “Keroko Puken”   berasal dari sebuah pulau di timur Lembata yang tenggelam. Suku dari timur pun termasuk suku Seram Goran yang datang dari Maluku, Arafuru dan Banda. Kedatangan penduduk dari luar wilayah ini dalam hal pembauran dengan penduduk asli telah menghasilkan kekhasan tersendiri dalam corak budayanya.

Jika dilihat lebih jauh lagi ke dalam masyarakat Lamaholot, penduduk yang mendiami wilayah timur Flores ini dapat dikatakan bahwa penduduk Lamaholot merupakan suatu masyarakat yang dibentuk dari proses perjumpaaan, kawin mawin dan asimilasi kebudayaan antara masyarakat asli atau yang datang lebih dahulu dengan masyarakat yang datang kemudian ke wilayah ini.

Perpindahan suku-suku ke wilayah ini telah dimulai sekitar abad ke 3 hingga abad 5 dari migrasi Melayu yang diperkirakan telah mencapai wilayah Timur dan termasuk daerah  timur Flores. Namun, jika berpatokan pada imigrasi manusia dari Afrika ke bumi nusantara, tentu hitungan tahun dapat mundur jauh ke belakang.  

Salah satu teluk berpasir putih di Kota Larantuka (Foto : BN)

Gelombang berikutnya,  pada era kejayaan kerajaan Sriwijaya, juga terjadi migrasi yang mencapai daerah Flores bagian timur termasuk  daerah Timor dan Maluku. Selanjutnya, terjadi pada era perdagangan nusantara termasuk pada era kerajaan Majapahit  yang membawa misi mempersatukan nusantara.  

Dalam perkembangan masyarakat wilayah ini, dapat dikatakan tempat ini mendapat pengaruh  dari  kerajaan-kerajaan nusantara baik Sriwijaya, Majapahit dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya di nusantara, juga pengaruh dari Portugis, Belanda dan Jepang yang datang kemudian.

Pengaruh yang dibawa dari luar tentu saja mempengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah ini. Selain bentuk dan struktur suku, kampung dan kerajaan, tradisi yang dijalani hingga sekarang pun merupakan hasil dari pencampuran dengan unsur budaya luar atau budaya yang datang kemudian.

Bukan berlebihan bila dikatakan kebiasaan hidup masyarakat Larantuka merupakan pencampuran yang cukup sempurna antara kebudayaan asli, dan pendatang Malayu dan Eropa. Dalam masyarakat Lamoholot pun terjadi hal yang sama. Dapat kita lihat berbagai kemiripan yang bisa dijumpai dengan penduduk di tenggara Maluku bahkan sampai Papua bagian barat.

Kembali ke Larantuka. Sebagai kota yang pernah dijadikan pusat misi Katolik,  Paderi Portugis dan umat Katolik awal, terus menghidupkan  tradisi katolik yang tersisa, entah tersisa dari tanah asalnya di Eropa, maupun tersisa dari pelarian setelah runtuhnya benteng Malaka, benteng Makasar maupun benteng Solor.

Ketika memulai kehidupan awal di Larantuka dari suatu perjalanan panjang sebelumnya, orang nasarani Larantuka memulai dengan menata patung dan segala ornamento perayaan keagamaan Katolik untuk disimpan pada tempat yang lebih baik. Tradisi yang merupakan warisan dari masyarakat Eropa abad pertengahan ini berhubungan pula dengan devosi kepada yang Kudus yang terus dirayakan, dipertahankan bahkan terus diwariskan kepada keturuanannya hingga saat ini.

Patung, ornamento dan tradisi berdevosi, bukanlah sekadar hadir menyemarakan perayaan keagamaan dalam tradisi Katolik. Ada suatu yang lebih dari itu yakni untuk menghadapi ancaman yang terus datang  baik dari Belanda maupun penduduk lokal juga termasuk persaingan dagang tempo itu. Ornamento dan tradisi dijadikan sarana perlindungan sekaligus jalan pengharapan akan datangnya mukjizat dan keselamatan. Semakin banyak dijumpai kesulitan, semakin umat merasa dekat dengan yang kudus.

Larantuka ketika itu, memang jauh dari pembicaraan politik para pengambil keputusan. Pergolakan politik yang terjadi di luar sana, sepertinya tidak pernah memikirkan tentang keberadaan masyarakat Larantuka. Larantuka bahkan semakin jauh dari perhatian, juga ketika kedatangan VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) di Nusantara dalam tahun 1602 atau setelah hancurnya Benteng Portugis di Ambon 1605.

Walau Portugis pernah menjadikan Solor sebagai pusat misi, yang kurang lebih berhubungan dengan perdagangan cendana, itupun tidak menjadi pertimbangan VOC untuk melihat lebih jauh akan potensi ekonomi wilayah ini. Politik VOC yang tidak memperhatikan daerah-daerah di luar Jawa, semakin menjauhkan Larantuka dari percaturan perdagangan masa VOC Belanda yang dampaknya hingga saat ini.

Menarik disimak perkembangan masyarakat di wilayah ini terutama dalam hal kegalauan menghadapi kebijakan politik dan ekonomi kala itu. Persaingan Portugis dan Belanda, sungguh mempengaruhi keberadaan misonaris yang melayani umat saat itu.Misonaris Portugis terpaksa pergi meninggalkan Larantuka  seiring dengan kemauan politik yang menghendaki Portugis harus pergi, menyebabkan umat  harus berjuang sendiri lepas dari para misionaris. Di sinilah mulai muncul peran raja Larantuka yang semakin luas untuk mengambil alih kepemimpinan agama saat itu. 

Bersama raja, penduduk Larantuka melewati hari-hari dalam kesepian, menjadi sendiri bagai “yatim piatu” jauh dari persinggungan arus perkembangan perdagangan nusantara dan atau terpengaruh menjadi koloni dari para penguasa jalur rempah. Barangkali hubungan-hubungan kerajaan-kerajaan kecil Islam di wilayah ini dengan Ternate dan Tidore, Gowa dan Bima sedikit banyak menghidupkan perdagangan di wilayah ini tempo itu.

Larantuka baru kembali menjadi perbincangan ketika datangnya misonaris Belanda dan mulai membuka lembaga-lembaga pendidikan.  Sekalipun di wilayah pemerintahan, sentralisme Belanda tetap menjauhkan Larantuka, justru dalam soal agama, Larantuka tetap menjadi awal sejarah pendidikan dan misi di Flores.

Pendidikan yang diselenggarakan dalam banyak hal lebih ditujukan untuk melayani pengembangan misi dimanapun dibutuhkan. Bisa dikatakan, Larantuka hidup dan berkembang tidak secara khusus untuk masyarakatnya sendiri melainkan selalu berhubungan dengan sesuatu di luarnya.

Perkembangan lain yang cukup menarik disimak adalah dalam hubungan dengan kekafiran (istilah untuk orang yang belum beragama formal) ataupun dalam kerangka agama lokal menghadapi datangnya agama-agama baru yang dibawa orang Eropa.  Ada yang cukup menarik lantaran tempat inipun menjadi awal perjumpaan antara agama baru dan agama lokal.

Selat Larantuka bagai sebuah danau, tempat warga menghabiskan waktu untuk memancing ikan (Foto : FBC)

Dapatkah mereka bersanding? Itu pertanyaan yang mungkin ada. Tapi bagaimana pun kemauan awal dari perjalanan yang sungguh jauh di belahan Eropa sana tidak mudah menerima semuanya bisa bersama berjalan secara mulus. Keinginan  untuk melawan kekafiran di sekitarnya merupakan sebagian sedikit sejarah yang menandakan keberadaan kota ini. 

Perlawanan untuk mempertahankan kebenaran yang diyakini, segera mencari jalan baru untuk membawa daerah ini pada suatu perlindungan dalam tradisi yang dihayati. Oleh para misonaris, kota Larantuka berada dalam perlindungan santo Philipus dan Yakobus, kendati hingga kini orang lebih mengenal sebagai kota Maria atau dijuluki ‘Kota Reinha’.

Patahan demi patahan sejarah terus dialami penduduk wilayah ini. Kehidupan yang mulai tertata harus diiklaskan untuk tidak dilanjutkan, lantaran politik yang ditentukan di luar sana menghendaki suatu yang lain sama sekali. Apa yang dialami umat ketika peralihan Portugis ke Belanda, kembali terulang dalam peralihan Belanda ke Jepang. Segalanya harus mulai secara baru lagi. Lagi-lagi untuk bisa bertahan, kembali ke tradisi adalah jawabannya.

Perkembangan terus berjalan. Sebagai akibat dari pertumbuhan umat yang semakin pesat, sejak 1951 Larantuka dan sekitarnya menjadi  satu wilayah keuskupan yakni Keuskupan Larantuka. 

Larantuka dijadikan tempat kediaman Uskup Larantuka yang berarti juga menjadi pusat keuskupan. Ini juga membawa pengaruh yang cukup besar dan berarti bagi perkembangan kota ini. Hilir mudik para imam dan biarawan yang mengunjungi rumah keuskupan di Sandominggo menjadikan kota ini mulai terasa kian ramai dan mulai ada kesibukan baru.  

Sementara di wilayah pemerintahan yang ketika itu sudah menjadi bagian dari NKRI, Larantuka dijadikan  ibukota kabupaten  Flores Timur, sebagaimana masa Belanda yang menempatkan satu komandan di sini.

Sebagai ibukota Kabupaten Flores Timur, mulai ada permintaan tenaga kerja untuk mengisi pos-pos dalam pemerintahan. Perpindahan penduduk ke pusat kekuasaan adalah suatu hal yang tak bisa dihindarkan. Larantuka mulai bertumbuh sebagai sebuah ibu kota kabupaten dengan segala konsekuensinya.

Larantuka, wilayah yang kecil itu, adalah tempat tinggal uskup Larantuka, tempat tinggal raja Larantuka dan tempat tinggal dan bekerja dari seorang bupati. Semuanya ada di sini dan semuanya memiliki “suara” yang sama nyaringnya. Karenanya tidak heran, saat sebuah isu diperbincangkan di wilayah publik, orang pun bertanya, “ini suara siapa?”.

Larantuka masih terus berkembang. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here