• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Rabu, April 29, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home PUISI

“Jalan ke Vignole” – Sajak Nirwan Dewanto

by Redaksi
Maret 27, 2025
in PUISI
0
0
SHARES
25
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

 

Berjam-jam (tidak, barangkali juga berabad-abad)
Aku dan kaum jemaat itu sabar menunggu di Giudecca
Si tukang perahu yang akan mendamparkan kami
Ke sebuah pulau yang dilahirkan matahari

 

Pastilah ia akan benar-benar serupa
Dengan si pemberontak yang dihukum mati
Di Golgotha, ketika umurnya baru 33. (Tetapi
Ia bangkit pada hari ketiga.) “Tak ada
Pendayung ulung serupa itu di sini,”
Kata seorang lelaki berkuda, angkuh
Dan beku dalam baju zirahnya
Berabad-abad, seakan pasukan Turki
Akan selalu menyerbu ke mari. Dan jawabku:

“Colleoni, kamilah para penyerbu terkini
Tapi kami tak membunuh pulau-pulaumu.”

 

Ya, aku telah membinasakan barisan mobil
Pakaian seragam, jalanan aspal, kitiran besi.
Kepalaku penuh abu, embun dan maut
Ketika aku terbangun di bawah pohon palma
Di dunia yang baru saja ditorehkan Carpaccio:
aku pun bangkit bersama iringan jemaat berjubah
(Yang baru saja menguburkan Santo Jarome)
Merayap di lelurung berbau kemih anjing
Muntah di teras lapang aneka basilika
Dengan tubuh hijau lebam kami rubuh lagi
Di antara meja-kursi di Paizza San Marco
Dan seekor singa bersayap menggeram:
“Pergilah kalian para pemabuk jahanam,
Bertobatlah hanya sebelum tiba malam.”

Maka terdamparlah kami di muara amis itu:

“Persetan dengan si tukang perahu!”
Tapi sebuah perahu besar tiba-tiba
Merenggutkan kami dari kabut muram lena.
Melewati pekuburan yang dilindungi ombak
Kami terhadang hantu Pound dan Stravinsky
Padahal sudah lama kami membenci musik dan puisi
Yang pasti bukan bagian dari penyelamatan kami
Yang cuma hiburan jika kami sampai di neraka nanti.

 

Musim semi menggosok tangan kami
Yang perlahan terlihat seperti sayap
Tidak, sungguh kami tak ingin terbang,
Kami tak pernah bersekutu dengan Gabriel,
Kami suka mengukur laut dengan jengkalan.
“Pesiarkah, atau pembuangankah ini?”
Tanya dua belas orang di antara kami
Yang tiba-tiba mirip serdadu Roma, seraya
Mengeluarkan palu dan paku dari saku

 

Kami akan segera sampai di pulau matahari itu
Untuk menghajar berpiring ikan mentah
Dengan baluran minyak zaitun dan cuka
Dengan roti gandum coklat dan anggur merah tua.
Kemudian di antara rerumpun asparaga
Kami akan memilih perawan paling murni
Untuk berlama-lama mendoakan kami
Agar kami segera menemukan pemberontak itu
Yang kukira menyamar sebagai si tukang perahu.
Padahal ia bekerja sebagai koki di restoran tujuan kami:

 

Pastilah ia tengah melubangi kedua telapak tangannya
Dan mengucurkan darahnya ke hidangan siang kami.

—————————–

 

Sumber: Buku Puisi Buli-Buli Lima Kaki, Nirwan Dewanto, 2010
ShareTweetSend
Next Post
Rosalina dan Hilangnya Harapan Mengeja Huruf Anak-anak Yahukimo

Rosalina dan Hilangnya Harapan Mengeja Huruf Anak-anak Yahukimo

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Antara Suara Moral dan Keterbatasan dalam Sosok Soe Hok Gie

Antara Suara Moral dan Keterbatasan dalam Sosok Soe Hok Gie

2 minggu ago

TNI AL Lanal Maumere Terus Lakukan Serbuan Vaksinasi Masyarakat Maritim Hari Ke-10

5 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In