Oleh Rofinus Pati
Goresan tentang Covid-19 ini tidak bermaksud mengembalikan ingatan kita untuk disandra oleh masa lalu, melainkan hendak menegaskan bahwa efek samping dari Covid-19 masih dapat ditelusuri pada saat ini. Penyakit yang pernah ganas di muka bumi ini turut membentuk masyarakat, terkhusus peserta didik seperti yang ada sekarang ini. Dampak lanjutannya masih ada pada perilaku peserta didik, entah sampai kapan kenyataan ini diarahkan menjadi lebih positif dan produktif.
Penyakit Covid-19 yang melanda dunia masih menyisakan bekas tebal dan mendalam, terutama di kampung-kampung. Dampaknya tidak hanya “Baby booming” di seantero jagat, terutama di Indonesia, tetapi dalam hal lain yang perlu segera disadari dan ditanggulangi bersama. “Baby booming” hanyalah salah satu dampak dari Covid-19, yang memberikan bonus populasi di setiap negara. Remaja di kampung, tidak luput dari pengaruh modernitas yang datang seperti sinar matahari disertai Covid-19 yang pernah viral itu.
Di satu sisi, Covid-19 membantu setiap orang untuk kembali kepada keluarga sebagai harta yang paling berharga. Cinta kasih antaranggota keluarga terjalin semakin erat dan mesra selama masa Covid-19, sebab, sebelumnya, kesibukan setiap orang bisa mengorbankan kemesraan keluarga. Selain itu, semua orang selama Covid-19, diwajibkan menjaga jarak fisik atau menghindari kerumunan. Dengan kata lain, Covid-19, menyadarkan manusia untuk kembali kepada keluarga masing-masing, melakukan refleksi dan berbenah diri untuk menjadi keluarga tangguh di zaman yang serba berubah ini.
Sistem Belajar Daring
Peserta didik (SMP dan SMU) selama Covid-19, belajar dari jarak jauh. Peserta didik belajar dari rumah sebab penyakit mematikan itu memaksa manusia untuk mengurangi mobilitas atau membatasi kontak dengan orang lain, sehingga kondisi terjamin aman dari penularan penyakit yang menurut data World Health Organization (WHO), telah menelan korban sekitar 16,6 juta jiwa di dunia selama periode 2020 sampai 2021.
Setelah Covid-19, situasi berubah drastis bagi semua orang, termasuk peserta didik. Pengalaman membawa banyak buku ke sekolah sebelum Covid-19 berubah menjadi semakin ringan dan santai. Peserta didik lebih melekat dengan telepon seluler yang diisi dalam saku pakaian untuk digunakan kapan serta dimana saja. Buku-buku tulis dalam tas semakin jarang dibawa anak-anak, sebab materi pembelajaran bisa diakses secara mudah melalui internet dan media digital.
Bahkan, saat Ujian Sekolah Berbasis Android (USBA), banyak murid tidak memiliki pulpen, sebab tangan mereka sudah mulai jarang difungsikan, kecuali jari-jarinya yang dipakai untuk mengelus dan menindih huruf maupun angka di layar kaca. Ruang kelas yang menjadi sunyi selama Covid-19, kini ramai dan riuh setiap hari oleh kehadiran dan suara peserta didik, namun perlengkapan berupa buku dan alat tulis minim. Ketagihan akan gadget atau media digital membuat peserta didik melupakan, bahkan meninggalkan perlengkapan sekolah yang sebelumnya pernah dan harus ada.
Sekitar tiga tahun lalu, Indonesia mulai memasuki masa pemulihan atau normalisasi dari Covid-19 yang ditengarai berasal dari Wuhan, China. Namun demikian, sebagian besar masyarakat menjadi bingung, tidak puas, hingga kini. Masyarakat dipacu untuk berpikir lebih serius terkait kehidupan bersama, terkhusus perilaku peserta didik yang sudah jauh berubah.
Efek pembelajaran Daring (online) memengaruhi gaya hidup peserta didik di kampung-kampung sebagai warisan dari sistem pembelajaran selama Covi-19 silam. Hanya media digital sebagai produk modernitas yang menjadi penghubung pembelajaran antara guru dan murid selama Covid-19. Sikap santai paling tampak pada perilaku peserta didik, sesantai memainkan jemari di layar kaca. Sesantai masa-masa belajar dari rumah di kampung-kampung. Keseriusan dan ketuntasan murid dalam menyelesaikan tugas-tugas masih dirasakan jauh dari maksimal, bahkan kelulusan di akhir tahun ketiga lebih dilihat sebagai bonus atau ‘dewi fortuna’.
Zygmunt Bauman (1991: 279) menegaskan bahwa “postmodernitas adalah permainan dan ambivalensi adalah penopangnya. Ambivalensi membuat ketidakpuasan umum, namun ambivalensi pun dipakai masyarakat untuk membantu mereproduksi dirinya”. Para orangtua di kampung-kampung sudah mengalami ambivalensi sejak Covid-19 dengan sistem pembelajaran online atau daring.
Selama Covid-19, peserta didik belajar dari rumah, namun mereka adalah anak sekolah karena memang berusia sekolah. Aktivitas tatap muka di kelas diganti dengan menatap layar kaca yang dengan sendirinya mengurangi interaksi sebagaimana di ruang kelas nyata. Sulit dikontrol sejauh mana peserta didik serius mengikuti kegiatan belajar mengajar di layar kaca, apalagi di kampung-kampung. Seperti dipaparkan di atas, yang sekarang menonjol adalah sikap santai, malas, mentalitas instan, daya juang rendah dan lemahnya ketahanan psikis muncul dalam diri banyak peserta didik dan sebagian besar orangtua kewalahan mengatasi anaknya sendiri.
Tidak perlu dijelaskan lagi bahwa sikap santai dan malas belajar memupuk bertumbuhnya mentalitas instan. Menyontek saat ujian bukanlah cerita baru, bahkan dianggap sebagai usaha cerdik untuk meraih kesuksesan dalam ulangan atau ujian. Selain itu, daya juang rendah dan lemahnya ketahanan psikis remaja, membuat banyak remaja mudah lari dari kenyataan atau mengambil jalan pintas ketika menghadapi persoalan. Fenomena bunuh diri beberapa remaja di Nusa Tenggara Timur dapat menjadi indikasi jelas.
Selama Covid-19 dan sistem pembelajaran daring, orangtua merasa tidak puas, namun tidak sanggup menghindar dari keadaan nyata pada diri anaknya. Aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang diupayakan di sekolah tidak berjalan di rumah, sebab orangtua hanya sebatas menyediakan konsumsi setiap hari untuk anak-anaknya dan sulit menggantikan peran guru. Tanggung jawab guru di sekolah tidak bisa diambil alih oleh para orangtua di kampung-kampung yang mayoritas adalah petani, sebab perhatian mereka lebih difokuskan untuk merawat jagung, singkong atau menuai kacang tanah di kebun.
Bahkan, pada saat sekarang ini, banyak orangtua (bahkan juga sekolah) cukup bingung menangani perilaku peserta didik dengan mentalitas santai dan semacamnya sebagai warisan dari masa pembelajaran daring dahulu. Kelekatan pada media digital dan dunia maya, membuat peserta didik sulit berkonsentrasi kalau harus duduk membaca buku. Tujuh menit saja dirasakan sangat lama dan membosankan, bahkan buku dianggap sebagai musuh yang membuatnya tidak krasan untuk duduk berlama-lama.
Refleksi Serius ke Depan
Dalam konteks ambivalensi dan ketidakpuasan ini, Bauman (1991: 272) juga menegaskan bahwa “Postmodernitas tidak berarti berakhirnya atau ditolaknya modernitas. Postmodernitas merupakan sebuah pemikiran modern yang merefleksikan dirinya secara serius dan mendalam atas kondisi dan karya di masa lalu…”. Setiap masalah selalu diupayakan solusinya demi kepentingan pribadi maupun bersama.
Gelombang Covid-19 yang menyapu dunia, termasuk peserta didik, tidak membuat orangtua patah arang. Orangtua mulai menyadari perannya yang hakiki. Rumah adalah sekolah pertama dan orangtua adalah guru utama, sehingga tidak hanya mengofer tanggung jawab ke sekolah dalam mendidik anak-anak mereka. Sekolah hanya melanjutkan pendidikan nilai dan karakter dari rumah dan lingkungan sekitar yang turut membentuk kepribadian awal anak-anak.
Warisan perilaku peserta didik sejak Covid-19 (seperti dipaparkan sebelumnya) bisa saja menghantui sekolah-sekolah di kampung, namun optimisme tidaklah padam bagi peserta didik Generasi Z. Mereka kelahiran 1997-2012. Generasi Z dibesarkan di era digital, mereka cepat menguasai teknologi digital dan internet serta mampu menggunakannya dengan baik. Mereka sanggup melakukan beberapa pekerjaan dalam waktu bersamaan, seperti mengontak teman di provinsi lain, mendegar musik dan bermain game. Tentu termasuk belajar.
Meskipun di rumah, Generasi Z ini lebih sering menyendiri, ‘terasing’ karena asyik dengan dunia maya, namun jaringan mereka bersifat global. Mereka peduli dan menyebarkan opini mereka tentang isu-isu sosial dan lingkungan. Mereka juga merupakan pribadi yang berpikir kritis karena memiliki jaringan dan wawasan global.
Konsekuensi lebih jauh bahwa generasi Z biasanya terbuka terhadap pelbagai perbedaan seperti agama, suku, ras, budaya sebab mereka memiliki jaringan global, sehingga sekaligus juga menjalin kontak dan relasi dengan banyak orang dari latar belakang yang berbeda.
Oleh karena itu, meskipun kondisi peserta didik sejak Covid-19 masih mewariskan sikap santai, malas, mentalitas instan, daya juang cukup rendah, lemahnya ketahanan psikis pada diri peserta didik, dan lain-lain, namun kelebihan mereka sebagai generasi Z seperti diuraikan di atas adalah kekuatan inti mereka. Ambivalensi, ketidakpuasan dari sekolah maupun masyarakat dan refleksi mendalam atas kondisi peserta didik saat ini, dapat merintis jalan ke depan penuh harapan.
Artinya, perilaku warisan Covid-19 pada peserta didik di kampung-kampung seperti santai, malas, mentalitas instan, daya juang rendah, lemahnya ketahanan psikis dan semacamnya perlahan-lahan dapat diatasi. Sebaliknya, kekuatan atau kelebihan peserta didik sebagai generasi Z seperti dipaparkan di atas merupakan kontribusi amat berharga dan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemajuan atau kepentingan orangtua, sekolah, masyarakat umum dan Negara Kesatuan Republik Indonesia *


