• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Kamis, April 30, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home UMUM

Bung Karno-Pancasila, Ende, dan SVD

by Redaksi
Agustus 2, 2025
in UMUM
2
Bung Karno-Pancasila, Ende, dan SVD

Foto Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Foto dari Google

0
SHARES
487
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp
Oleh FX E. Armada Riyanto, CM

 

Karena sebuah tugas, saya ke Ende. “Indonesia berhutang budi kepada Ende,” kata Prof. Anita Lie dalam pesan singkatnya kepada saya. Segera, di kota kecil ini, di pinggir pantai Selatan Flores ini, saya teringat akan Bung Karno (BK) dan Pancasila-Indonesia. Bung Karno pernah dibuang oleh Belanda di kota ini. Tepatnya selama 4 tahun, 9 bulan dan 4 hari, dari tanggal 14 Januari 1934 sampai 18 Oktober 1938, BK dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda karena dipandang sebagai tokoh penggerak nasionalisme dan kemerdekaan, yang membahayakan kekuasaan kolonial. Saat dibuang Bung Karno berusia 32 Tahun 7 bulan. Ia lahir 6 Juni 1901, konon saat itu terbit “lintang kemukus” (tanda akan terbit seorang pemimpin besar). Dan, bahwa BK adalah seorang pemimpin besar, halnya tidak ada yang menyangkal. Dialah yang memproklamasikan Indonesia merdeka. Dia juga pencetus Pancasila, dasar negara Indonesia.

BK sendiri berkata, “Di kota ini [Ende], kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kerenungkan nilai-nilai luhur Pancasila” (Sumber buku di Serambi Sukarno, Biara SVD di Katedral Kristus Raja, Ende). Saat mengatakan itu, BK berkunjung ke Ende tanggal 30 Oktober 1950. BK mengunjungi Ende 3 kali (1950, 1954, dan 1957), sementara Suharto tidak pernah sama sekali berkunjung ke Ende. Saat dibuang ke Ende, BK didampingi istri tercinta, Ibu Inggit dan ibu mertua, Ibu Asmi, yang wafat karena malaria saat pembuangan tersebut. BK menempati rumah sederhana milik Bapak Haji Abdullah Ambuwari. Rumah itu terlihat kecil dan sangat sederhana. Rumah itu kini – atas kehendak Bung Karno waktu itu – dijadikan museum (sedang dalam renovasi).

Ende kota kecil, hijau dan sejuk, dikelilingi bukit dan gunung, sementara di selatan terbentang lautan. BK kerap jalan-jalan di sebuah taman, yang saat ini, disebut “Taman Bung Karno.” Di taman itu, dia meditasi, merenung, menghadap laut lepas, di sebelahnya ada pohon sukun (saat ini pohon sukun itu generasi ketiga, kata pemandu wisata sejarah).

Tidak jauh dari tempat itu, kira-kira tiga puluhan menit atau lebih jalan kaki, terdapat gereja Katolik, Katedral Kristus Raja. Di sebelahnya, dataran agak tinggi, terdapat biara SVD (Societas Verbi Divini), tempat pastor paroki dan beberapa pastor lain tinggal. Bangunannya asri. Di situ terdapat perpustakaan pribadi para pastor SVD, yang pada waktu itu, dari sendirinya para pastor misionaris dari Belanda. Karena tanahnya cukup tinggi, bila duduk di serambinya, orang bisa melihat laut. Sebuah pemandangan yang sangat indah. Di sanalah BK kerap berkunjung dan menghabiskan waktu-waktunya yang panjang untuk meminjam buku-buku, menikmatinya, dan memperbincangkan banyak pengetahuan, filsafat dengan para pastor misionaris SVD. Hampir lima tahun, Bung Karno menjalani kehidupan yang baru dan kelak akan menjadi batu loncatan baru bagi kemerdekaan Indonesia.

Di Ende, BK dengan demikian memiliki tiga “spots” utama yang menjadi rujukan personal yang indah, yaitu: 1) rumah sederhana dengan keluarga kecilnya, 2) taman dengan beberapa pohon rindang dan pemandangan laut yang indah, 3) biara SVD dan komunitas parokial yang menjadi “oase” insightful bagi Bung Karno yang “sendirian”.

 

Rumah sederhana itu

Rumah itu terletak di pinggir jalan, terbilang kecil dan sederhana. Tetapi, sepertinya untuk zaman itu (1934), rumah itu merupakan model rumah penduduk setempat. Bisa diimaginasikan, BK yang sejak usia dua puluh tahunan sudah memiliki kebiasaan menulis perkara-perkara sosial politik dunia, berpikir luas tentang filsafat dan kebudayaan, pembelajar tanpa kenal lelah organisasi politik dan pergerakan, pemimpin muda yang kerap berjumpa dengan rekan-rekan intelektual lainnya, saat di Ende, secara personal pastilah merupakan momen-momen yang berat dan sepi.

Dari pengalaman Dr. Cipto Mangun Kusumo, tokoh pergerakan yang juga dibuang Belanda, hukuman pembuangan biasanya sangat menyiksa, karena dipisahkan dari buku-buku (Pembuangan Banda Neira selama 11 tahun oleh Belanda). Cipto Mangun Kusumo sendiri berkata, “Bagi saya momen terberat dalam hidup saya ialah selama pembuangan tidak boleh membawa buku-buku saya!” Bisakah kita membayangkan Bung Karno hanya duduk, makan, tidur selama pembuangan di Ende, dan berpuas diri? Pasti tidak mungkin. Anda jangan menyamakan Bung Karno dengan para pemimpin sekarang yang mudah berpuas diri dan tidak membaca, maaf! Para penguasa zaman ini bukan hanya tidak membaca melainkan juga mengajukan kebijakan-kebijakan yang sangat menyiksa, mendera, dan memiskinkan rakyat yang sudah sangat sulit cari penghidupan di negeri sendiri, rumah sendiri yang kaya raya ini. Akibat kurang membaca buku-buku ekonomi, kebijakan demi kebijakan yang bertentangan dengan prinsip ekonomi justru diberlakukan secara sewenang-wenang. Para penguasa yang tidak turut mencucurkan darah dan keringat perjuangan kemerdekaan ini telah secara arogan dan serampangan mengelola negara ini.

 

Taman dengan pohon Sukun besar dan pemandangan laut

Sekitar dua puluhan menit dari rumah pembuangannya, Bung Karno, seperti yang dia ceritakan sendiri dalam pidatonya di Ende, banyak merenung dan bermeditasi di sebuah taman yang ada pohon sukunnya, sambil memandang laut lepas. Apa yang dimeditasikan, dibayangkan, dan dicita-citakan Bung Karno? Pasti tentang: Indonesia, ke-Indonesiaan, filsafat Indonesia, keanekaragaman Indonesia, Indonesia yang kelak dan harus merdeka, Indonesia tanah air yang kaya dan berlimpah, konsep dan pemikiran universal tentang hak-hak manusiawi, religius yang berkebudayaan, Indonesia sebagai “nation” (bangsa yang bersatu), konsep-konsep demokrasi yang membela kepentingan rakyat (bukan kepentingan pemimpin atau politikus dadakan dan arogan), musyawarah cerdas (bukan kalah menang minoritas mayoritas), dan gambaran-gambaran keadilan yang menyeluruh, sumber-sumber alam yang melimpah untuk seluruh warga negara! Saat Bung Karno memandang laut lepas, dia sudah pasti membayangkan betapa laut adalah harta karun bangsa ini. Tetapi, sayang sekali, betapa ironi saat ini, pemerintah kita lebih bersibuk ria menilap uang rakyat (atas nama pencegahan judol atau sejenisnya) daripada memfasilitasi rakyat nelayan dengan sofistikasi teknologi untuk memanfaatkan lautan.

Sungguh, Bung Karno muda adalah “gambar otentik” dari manusia Indonesia itu sendiri. Ia tidak ber-“slintutan” dengan hukum-hukum dan memikirkan anak-anak dan menantunya agar kelak berkuasa dan melanjutkan hegemoni arogansinya, dan meneruskan nafsu berkuasa bagi diri sendiri dan keluarganya. BK jelas tidak seperti para politikus dan tokoh-tokoh intelektual zaman ini, yang tidak berpikir (bahkan mungkin sama sekali tidak berimaginasi) tentang kemajuan bangsa dan negaranya. Malahan, mereka telah membiarkan rakyat terancam karena makan-makan gratis basi (katanya bergizi), bergulat dengan susahnya hidup lantaran PHK dimana-mana dan terus-menerus, blingsatan dan meregang nyawanya karena tergencet dari alam yang telah dirusak secara arogan. Sementara itu, para wakil menteri pada rangkap jabatan dan banyak intelektual karbitan makan gaji buta dan diam.

“Pohon Sukun”, mengapa BK menyebutnya sebagai tempat di mana dia bernaung dan  memeditasikan Pancasila dan Indonesia yang belum lahir merdeka? Saat BK menyebut “pohon sukun,” halnya mengingatkan kita akan Budha Gautama yang mendapatkan pencerahan di bawah “pohon bodhi.” BK mengklaim mendapatkan “Pencerahan baru” saat bermeditasi di bawah pohon sukun. Mengapa sukun? Dalam tradisi Jawa, pohon sukun adalah pohon rakyat, pohon biasa yang menjadi simbol kemelimpahan, keteduhan bukan milik keraton atau kerajaan melainkan milik rakyat biasa.

Konsep Pancasila berasal dari kearifan lokal yang dihayati dan dihidupi oleh rakyat jelata. Kearifan lokal Pancasila bukan milik para politikus, punggawa raja, adipati, pangeran, melainkan milik rakyat, manusia-manusia yang secara khas memiliki kebenaran-kebenaran otentik dalam kesahajaan sekaligus keagungan harmoni relasionalitas dengan Tuhan, alam, dan sesamanya. Pancasila adalah kebenaran-kebenaran yang bersumberkan dari relasionalitas manusia-manusia dengan Tuhannya, alamnya, dan sesamanya. Dan, itu menjadi nyata di Ende! Bung Karno menangkap kebenaran “mutiara-mutiara” ini.

 

Biara SVD di Ende

Tahun 1934, saat Bung Karno mendarat dengan kapal di pelabuhan Ende, dia segera menjumpai dirinya terdampar di sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota, baik itu dari segi keramaian lalu lintas maupun silang perdebatan intelektual dengan teman-temannya. Sukarno muda sejenak menjumpai dirinya “sendirian” untuk sementara waktu, meskipun ditemani istri setianya, Ibu Inggit dan mertuanya yang sudah sepuh.

Tetapi, Ende bukan kota sunyi-senyap. Di sana ada Gereja Katolik, umat paroki dengan organisasi orang mudanya yang memiliki satu dua gedung diantaranya, gedung “Imaculata” (yang menjadi tempat BK mementaskan naskah drama-drama atau tonil yang ditulisnya, ada 12 judul), anak-anak dengan Sekolah Rakyat yang didirikan oleh para misionaris. Dan, di Ende, ada beberapa Romo SVD misionaris Belanda yang cakap, cerdik, tahu banyak tentang filsafat, kebudayaan, teologi, filologi, yang – dan ini paling disukai oleh Bung Karno – memiliki buku-buku bermutu tentang semua itu.

Bung Karno, yang sangat gemar membaca dan belajar filsafat, segera kerasan di Ende. Seandainya pembaca budiman ada dalam situasinya Bung Karno, tak ayal lagi, biara SVD-lah yang akan menjadi pelarian ternyaman dan sesering mungkin. Saya bertanya kepada Bruder Simplisius SVD (yang menjelaskan kunjungan tetap Bung Karno ke biara): “Seberapa sering Bung Karno datang ke biara SVD di sini?” Dia tidak bisa menjawab persis. Tetapi, pastor paroki, Pater Gerardus Huijtink SVD yang sering meninggalkan pastoran untuk kunjungan patroli ke stasi-stasi dengan senang meminjamkan pula kunci kamarnya (yang mudah dibayangkan di dalam kamar itu sudah pasti terdapat banyak buku, seperti kamar para romo sebagaimana biasanya zaman dulu maupun sekarang). Zaman itu, dimana surat kabar jarang dan bahkan dilarang dibaca, radio tidak ada, buku-buku harus ditinggalkan, biara SVD tak ayal lagi menjadi semacam “oase” bagi Bung Karno muda. Pater Huijtink SVD ingin memastikan bahwa Bung Karno muda dapat tetap leluasa mengambil buku, menikmatinya, dan membacanya di serambi (yang saat ini disebut Serambi Sukarno) sambil minum kopi Flores, meskipun dirinya sedang kunjungan ke stasi dan tidak ada di rumah, dan memandang di kejauhan panorama laut luas. Luar biasa! Selain Pater Huijtink SVD, juga ada Pater Johannes Bouma SVD, ahli filsafat dan filologi yang sering berdiskusi dengan Bung Karno muda.

Apa yang dibaca Bung Karno dan mendiskusikan apa dia? Pasti buku-buku berbahasa Belanda, Jerman, atau bahasa asing lainnya. Cobalah Anda pergi ke pasturan dan lihatlah rak-rak bukunya, ada buku apa saja di sana? Filsafat. Antropologi. Kebudayaan. Teologi. Ajaran Sosial Gereja. Satu dua buku liturgi doa brevir. Bung Karno membaca pula Rerum Novarum, Ensiklik Ajaran Sosial Pertama dari Paus Leo XIII, yang darinya dapat disimak konsep-konsep filsafat sosial, gambaran tentang Keadilan, dan sekitar itu, kata Bruder Simplisius SVD.

Sangat nyata dan konkret kebenaran ini, apabila Bung Karno berkata bahwa “Pancasila dengan lima butir mutiaranya lahir di Ende.” Sebuah diktum-diktum Pancasila yang sangat padat dan ketat hampir pasti tidak mungkin ada apabila tidak berasal dari sebuah pembacaan buku-buku filsafat yang panjang dan tekun, permenungan yang mendalam dan lama, dan diskusi (filsafat, religi, kebudayaan, politik, sosial) yang seru dengan para pemikir yang bermutu tinggi di bidangnya masing-masing! Relief perjumpaan dan diskusi mendalam dengan kedua pater SVD, romo-romo misionaris di Ende tersebut, bagaikan sebuah “craddle” yang turut melahirkan rumusan-rumusan frase padat mutiara Pancasila yang ketangguhan dan kekuatannya melampaui batu pertama mana pun. Sebab, diktum-diktum Pancasila itu menggambarkan Indonesia yang sesungguhnya dan selamanya sepanjang segala abad. Pancasila pasti tidak lahir spontanan!

Oh, Ende, Indonesia bernar-benar berhutang budi kepadamu!

Pada tanggal 30 Oktober 1950, Bung Karno mengunjungi Ende sebagai presiden, berpidato di hadapan ribuan warga Ende. Saat melihat Pater Huijtink SVD, Bung Karno berkata, “Dulu aku datang ke Ende sebagai orang buangan dan tahanan, dan Pater Huijtink banyak membantuku, menyambutku. Sekarang, aku datang sebagai Presiden Indonesia, apa yang Pater Huijtink minta kepada Presiden Indonesia ini?” Tentu saja Anda bisa menggambarkan riuhnya pidato itu. Kata-kata Bung Karno ini mengingatkan akan Injil Matius 25, “Ketika aku seorang asing, engkau menyambutku … ketika aku seorang tahanan, engkau mengunjungi dan menemaniku …” Pater Huijtink tidak meminta lain kecuali dia diperkenankan menjadi warga negara Indonesia. Dan, Presiden Sukarno pun langsung memberinya saat itu (Sumber: Buku di Serambi Sukarno, Biara SVD, Ende!).

Adakah yang istimewa dari sebuah biara Katolik? Biara SVD di Ende telah menjadi “oase” yang penuh makna, bukan hanya dari sudut pengalaman personal Bung Karno dalam turut mencetuskan Pancasila, tetapi barangkali juga menjadi oase perjumpaan, diskusi, dan persahabatan Bung Karno muda yang kelak matang dalam membentuk Indonesia merdeka dengan segala keluhuran nilai-nilai keragaman budaya, religiusitas, dan kebersamaannya.

Semoga Indonesia tidak melupakan Ende. Tidak melupakan orang-orang kecil, terpencil, vulnerabel, yang pernah menjadi teman dan sahabat bagi Sang Proklamator, sang pejuang kemerdekaan Indonesia!

 Semoga para pemimpin Indonesia tidak melupakan momen-momen berat pembuangan para Pendiri Negara ini. Semoga bangsa Indonesia tidak pernah dan jangan sampai menafikan persahabatan, perjumpaan, diskusi-silaturahmi dalam keragaman yang sangat indah. Semoga para politikus dan penguasa negeri ini membaca. Membacalah, belajarlah kawan, tentang apa saja (tata ekonomi, tata ekonomi yang adil, keadaban dan hormat terhadap hak-hak rakyat, tata hidup rukun dalam keragaman) agar jangan kau jebloskan negeri yang indah ini ke kubangan kemiskinan dan keterpurukan. Kita telah merdeka 80 Tahun lho! Ingatlah momen-momen Bung Karno di Ende, kawan!

Ende, 31 Juli 2025.

———————————

 

FX E. Armada Riyanto CM, Guru Besar Filsafat STFT Widya Sasana, Malang; Inisiator dan penulis buku Kearifan Lokal Pancasila (Kanisius, 2015).

 

Beberapa foto lama dikutip dari buku yang berada di meja Serambi Sukarno, Biara SVD, Katedral Kristus Raja, Ende, Flores. Terimakasih kepada Bruder Simplesius SVD yang menjelaskan kunjungan BK ke biara SVD:

ShareTweetSend
Next Post
Fenomena Sosial Pengibaran Bendera “One Piece”, Bentuk Kritik Kaum Milenial

Fenomena Sosial Pengibaran Bendera “One Piece”, Bentuk Kritik Kaum Milenial

Comments 2

  1. Vian Baunsele says:
    9 bulan ago

    Luar biasa kisah yg perlu diangkat tidak boleh dil dilupakan (JASMERAH)

    Balas
  2. Bambang Edi S. says:
    9 bulan ago

    Apik bisa dipakai untuk bahan refleksi menjelang HUT RI ke 80. Bagus juga untuk renungan malam tirakatan menjelang 17 Agustus.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Nihilitas Pemikiran Manusia Modern

Nihilitas Pemikiran Manusia Modern

2 tahun ago
Rekonsiliasi Permasalahan Politik Masa Lalu, dalam Pelanggaran HAM untuk Menatap Bangsa Ke Depan 

Teori Quantum Entanglemen  dan  Interkoneksi dalam Hukum Alam

1 tahun ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In