Oleh Agus Widjajanto
Menjelang Peringatan Kemerdekaan RI ke-80 yang merupakan moment penting menuju tonggak kemandirian bangsa disemua lini, baik kemandirian secara politik, kemandirian secara ekonomi, kemandirian secara hukum untuk mencapai keadilan merata maupun budaya.
Masih terjadinya ketimpangan yang dirasakan sebagian besar masyarakat, terlebih-lebih kaum muda, baik ketimpangan dalam persamaan di depan hukum, ketidakadilan, ketimpangan secara sosial ekonomi, dan kerawanan sosial, terjadinya masalah antar umat beragama, telah memicu sebagian dari masyarakat kaum muda melakukan protes dalam bentuk simbol dalam mengekspresikan diri melalui pengibaran bendera One Piece, merupakan indikator terjadinya kegelisahan dari masyarakat atas kondisi ini, yang harus dijawab pemerintah sebagai pemimpin hasil dari sistem Pemilihan Umum Langsung yang dianggap sebagai bentuk demokrasi paling nyata, bahwa Suara Rakyat adalah Suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei) yang tentu pemilih meminta pertanggungjawaban agar terjadi perbaikan dan gebrakan baik dalam bentuk regulasi maupun tindakan nyata yang berpihak pada rakyat kecil. Tentu pemerintah harus bijak jangan reaktif yang terlampau besar karena kritik simbol tersebut merupakan kritik membangun, bukan bentuk gerakan makar maupun gerakan demo berjilid-jilid seperti pada masa lalu.
Gerakan topi jerami dengan tengkorak pada dunia maya, awalnya merupakan gerakan moral dengan simbol yang merupakan ekpresi diri atas sebagian orang atau masyarakat di dunia, untuk melawan ketidakadilan, melawan kekuasaan yang otoriter, melawan sistem yang korup bagi pemerintahan dan itu berlaku diseluruh dunia. Yang merupakan kritik secara santun dan bermoral, tanpa demo tanpa anarkis, tanpa gerakan subversif yang merugikan banyak orang. Yang lalu menjalar pada generasi muda di seluruh dunia. Jadi pemerintah juga tidak usah terlampau reaktif dan represif. Cukup peka saja menyikapi fenomena baru kaum milenial, menuju tatanan dunia baru.
Gerakan One Piece bertujuan:
* Melawan Ketidakadilan: One Piece secara konsisten mengkritik sistem pemerintahan yang korup dan sewenang-wenang (pemerintahan seluruh dunia) bukan hanya untuk Indonesia. Cerita ini menunjukkan bagaimana kekuasaan bisa menindas kebenaran, memanipulasi sejarah, dan menciptakan ketidakadilan sosial. Para kru Topi Jerami dan sekutunya sering kali bertarung melawan tirani untuk membebaskan rakyat yang tertindas, memberikan pesan bahwa penting untuk berani melawan kezaliman. Ini menunjukkan bahwa kekuatan sejati juga datang dari welas asih (cinta kasih) yang merupakan sifat dasar Ketuhanan secara universal .
Masalah yang dihadapi Bangsa saat ini
Fenomena terbaru bangsa Indonesia dalam berbangsa dan bermasyarakat saat ini cukup kompleks dan beragam. Beberapa isu yang sedang hangat dibahas antara lain:
– Intoleransi dan Perpecahan: Meningkatnya kasus intoleransi antar umat beragama, suku, dan budaya, yang dapat memicu perpecahan dan konflik sosial.
– Kekerasan dan Kriminalitas: Kasus pembunuhan, kekerasan fisik, dan pelecehan seksual masih sering terjadi dan menjadi perhatian serius.
– Permasalahan Ekonomi: Kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan ekonomi masih menjadi masalah besar yang dihadapi Indonesia.
– Pendidikan: Ketimpangan akses pendidikan antar daerah, penyalahgunaan dana bantuan pendidikan, dan kurikulum yang sering berganti-ganti menjadi permasalahan yang perlu diatasi.
– Kesehatan: Mahalnya jasa kesehatan, kurang gizi, dan penyalahgunaan NAPZA menjadi masalah kesehatan yang serius.
– Korupsi dan KKN: Praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme masih menjadi masalah besar yang dihadapi Indonesia dan memerlukan penanganan serius.
Dalam konteks integrasi nasional, Indonesia sebagai negara dengan tingkat keberagaman tertinggi sangat rentan terhadap masalah persatuan. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk memperkuat nilai-nilai integrasi nasional dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya persatuan dan kesatuan.
Sebagai bagian dari anak bangsa yang tidak pernah lelah mencintai negeri ini, berharap negara harus hadir untuk melakukan perbaikan atas permasalahan permasalahan bangsa tersebut.
Upayakan melalui politik hukum agar dapat dikembalikan sistem pendidikan yang berbasis local wisdom akan tetapi tetap menyerap tekhnologi dan wawasan paling up to date, menyangkut kemajuan jaman . Agar bisa menciptakan generasi muda yang berintegritas, cinta tanah air, dan cerdas yang bisa bersaing dalam dunia international untuk kemajuan bangsa ini menuju Indonesia Emas tahun 2045.
Bangunlah negeri ini baik secara fisiknya maupun rohaninya, membangun karakter anak bangsa seutuhnya, dengan jalan pemerataan ekonomi nasional yang bisa dirasakan masyarakat, keamanan terjamin, dan keadilan merata yang bisa dirasakan langsung, dimana hukum tetap tajam ke atas maupun ke bawah sebagai panglima. Bukan keadilan semu dimana hukum hanya milik ekonomi kuat dan golongan atas.
Jangan sampai Ibu Pertiwi menangis melihat masih terjadi fenomena pelarangan beribadah dari antar umat beragama, terjadi ketimpangan sosial ekonomi yang sangat jauh, hukum dijadikan alat bisnis dan kekuasaan. Karena Indonesia didirikan. sesuai cita-cita awal para pendiri bangsa menuju persatuan dan kemakmuran bersama dan keadilan yang beradab serta mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai Preambul (Pembukaan) UUD 1945.
*********************

Penulis adalah Praktisi Hukum, Pengamat Politik, Sosial Budaya dan Sejarah Bangsanya



