Oleh Agus Widjajanto
Ditengah tengah jaman dimana tekhnologi Informasi yang begitu canggih dan majunya, yang kerap bisa digunakan beberapa pihak untuk menggiring opini publik, dan antar masyarakat itu sendiri sebagai alat propaganda, untuk menunjukan eksistensi dan kebenaran secara subyektif, merupakan tehnik dan langkah yang telah digunakan secara masif di dunia saat ini, termasuk mempengaruhi secara politis dalam dunia panggung politik kekuasaan .
Pada masa lalu kita kerap mendengar peranan buser atau seseorang yang dibayar untuk memviralkan sesuatu yang hebat yang telah dicapai, atau sebaliknya membikin opini yang menjurus kepada karakter assasination terhadap pihak tertentu, merupakan bagian dari tehnik menggiring opini publik itu sendiri untuk mempengaruhi simpati massa.
Sebuah kebohongan yang dikemas secara meyakinkan dan disajikan serta disebarkan terus menerus, akan dianggap sesuatu kebenaran oleh banyak pihak. Padahal faktanya bukan lah sebuah kebenaran, hanya kebenaran semu.
Masyarakat kerap kali lebih suka menerima informasi mentah tapi dikemas sedemikian rupa yang bisa diterima sebagai kebenaran, karena masyarakat kita malas untuk berpikir dan mencari serta menguji kebenaran itu sendiri.
Fenomena ini menunjukan betapa pentingnya daya kritis dimana ketika kita malas berpikir maka kita menyerahkan kebenaran kepada suara terbanyak, atau narasi yang biasa terdengar di media sosial, akibatnya opini menggantikan fakta, dan manipulasi menggantikan realitas, dan inilah sesungguhnya propaganda bisa begitu berbahaya yang bisa menyesatkan kebenaran dan memanipulasi keadaan karena kita malas untuk berpikir logika, untuk mencari kebenaran itu sendiri.
Untuk itu masyarakat harus mulai berpikir melatih kesadaran untuk berpikir kritis dengan logika ditengah derasnya tekhnologi informasi yang begitu masif, dari berbagai sudut dan pertimbangan.
Dan hal ini terutama sekali masuk pada dunia bisnis dan politik, dimana iklan yang disajikan sangat mewah dan bisa menina bobokan logika berlikir kita hingga digiring pada opini dan kesimpulan ini brended yang bagus ini partai politik yang bagus yang menyuarakan suara rakyat, dan pada ujung-ujungnya kita mengalami kekecewaan, demikian juga saat kampanye begitu besar yang dijanjikan dan masyarakat kita percaya karena logika kritis berpikirnya telah digiring agar mati suri yang ada hanya rasa simpati dan sebuah narasi yang dibangun dianggap sebuah kebenaran.
Maka tidak heran akumulasi kekecewaan hari hari ini terjadi demo dan gerakan Parlemen Jalanan oleh mahasiswa, komponen buruh, masyarakat, dengan segala lapisan, untuk menumpahkan rasa kecewanya hingga meminta sesuatu yang sangat irasional yakni “Bubarkan DPR” padahal secara aturan kontitusi lembaga legislatif yang dalam hal ini adalah DPR tidak bisa dibubarkan, namun setidaknya secara gerakan moral agar ada dan timbul kesadaran untuk bisa merubah sikap tingkah laku dan menyadari tugasnya sebagai wakil rakyat atau pegawai dari rakyat selaku pemegang mandat dalam negara.
Bahwa seluruh pejabat negara, baik dari level presiden dan wakil, maupun menterinya, eselon 1 hingga II anggota dewan, penegak hukum bahkan aparat keamanan semuanya adalah pegawai dari rakyat, yang dibayar dari pajak rakyat, jadi seharus nya jikalau ada juragannya (yakni rakyat) hidup sengsara dan kesulitan, secara sadar logika berpikirnya juga ada rasa malu sebagai pegawai yang diangkat oleh rayat, bahwa saya telah gagal tidak mampu menyejahterakan juragan saya dan memberikan rasa aman dan nyaman, saya gagal sebagai mandataris rakyat, saya gagal sebagai direksi negara, dan saya harus tahu diri.
Itu logika berpikirnya sebuah kebenaran, tapi terkadang simpati kita membunuh logika berpikir kita, itulah kesalahan kita bersama.
Dalam istilah ilmu pengetahuan disebut Post-Truth dimana sebuah fenomena atau sebuah era dimana fakta obyektif menjadi kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding dengan daya tarik emosional dan keyakinan dari masyarakat seperti halnya pada pemilu beberapa dekade lalu , dimana kondisi kebohongan bisa menyamar menjadi kebenaran dengan cara memainkan emosi dan perasaan masyarakat.
Pertanyaan kritisnya hanya selevel itukah kondisi masyarakat kita untuk mudah digiring pada opini publik untuk tujuan bisnis maupun politis? Yang dimana pada era saat ini diperparah dengan maraknya berita bohong atau Hoax, ini yang menjadi tugas kita bersama melawan kebohongan dengan kebohongan, dimana mendudukan persoalan secara obyektif dalam mencari kebenaran dengan cara berpikir secara logika sehat.
——————-
Penulis adalah praktisi hukum, pemerhati masalah sosial budaya dan politik




