• Redaksi & Kontak
  • Tentang Kami
  • Privacy Policy
Rabu, April 29, 2026
  • Login
No Result
View All Result
Beranda Negeri
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
  • HOME
  • BERITA
  • JELAJAH
  • BUMI MANUSIA
  • BIOGRAFI
  • OPINI
  • KOLOM
  • SASTRA
  • Lainnya
    • TEROPONG
    • PUSTAKA
    • PAPALELE ONLINE
    • LENSA
    • JADWAL
No Result
View All Result
Beranda Negeri
No Result
View All Result
Home OPINI

Post – Trust Fenomena Masyarakat, Membunuh Logika Berpikir Kritis

by Redaksi
Agustus 29, 2025
in OPINI
0
Merefleksi Kembali Ajaran Taman Siswa dalam Sistem Pendidikan Kita 
0
SHARES
12
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatsApp

 

Oleh  Agus Widjajanto

 

Ditengah tengah jaman dimana tekhnologi Informasi yang begitu canggih dan majunya, yang kerap bisa digunakan beberapa pihak untuk menggiring opini publik, dan antar masyarakat itu sendiri sebagai alat propaganda, untuk menunjukan eksistensi dan kebenaran secara subyektif, merupakan tehnik dan langkah yang telah digunakan secara masif di dunia saat ini, termasuk mempengaruhi secara politis dalam dunia panggung politik kekuasaan .

Pada masa lalu kita kerap mendengar peranan buser atau seseorang yang dibayar untuk memviralkan sesuatu yang hebat yang telah dicapai, atau sebaliknya membikin opini yang menjurus kepada karakter assasination terhadap pihak tertentu, merupakan bagian dari tehnik menggiring opini publik itu sendiri untuk mempengaruhi simpati massa.

Sebuah kebohongan yang dikemas secara meyakinkan  dan disajikan  serta disebarkan terus menerus, akan dianggap sesuatu kebenaran oleh banyak pihak. Padahal faktanya bukan lah sebuah kebenaran, hanya kebenaran semu.

Masyarakat kerap kali lebih suka menerima informasi mentah tapi dikemas sedemikian rupa yang bisa diterima sebagai kebenaran, karena masyarakat kita malas untuk berpikir dan mencari serta menguji kebenaran itu sendiri.

Fenomena ini menunjukan betapa pentingnya daya kritis dimana ketika kita malas berpikir maka  kita menyerahkan kebenaran kepada suara terbanyak, atau narasi yang biasa terdengar di media sosial,  akibatnya opini menggantikan fakta, dan  manipulasi menggantikan realitas, dan inilah sesungguhnya propaganda bisa begitu berbahaya yang bisa menyesatkan kebenaran dan memanipulasi keadaan karena kita malas untuk berpikir logika, untuk mencari kebenaran itu sendiri.

Untuk itu masyarakat harus mulai berpikir melatih kesadaran untuk berpikir kritis dengan logika ditengah derasnya tekhnologi informasi yang begitu masif, dari berbagai sudut dan pertimbangan.

Dan hal ini terutama sekali masuk pada dunia bisnis dan politik, dimana iklan yang disajikan sangat mewah dan bisa menina bobokan logika berlikir kita hingga digiring pada opini dan kesimpulan ini brended yang bagus ini partai politik yang bagus yang menyuarakan suara rakyat, dan pada ujung-ujungnya kita mengalami kekecewaan, demikian juga saat kampanye begitu besar yang dijanjikan dan masyarakat kita percaya karena logika kritis berpikirnya telah digiring agar mati suri yang ada hanya rasa simpati dan sebuah narasi yang dibangun dianggap sebuah kebenaran.

Maka tidak heran akumulasi kekecewaan hari hari ini terjadi demo dan gerakan Parlemen Jalanan oleh mahasiswa, komponen buruh, masyarakat, dengan segala lapisan, untuk menumpahkan rasa kecewanya hingga meminta sesuatu yang sangat irasional yakni “Bubarkan DPR” padahal secara aturan kontitusi lembaga  legislatif yang dalam hal ini adalah DPR tidak bisa dibubarkan, namun setidaknya secara gerakan moral agar ada dan timbul kesadaran untuk bisa merubah sikap tingkah laku dan menyadari tugasnya sebagai wakil rakyat atau pegawai dari rakyat selaku pemegang mandat dalam negara.

Bahwa seluruh pejabat negara, baik dari level presiden dan wakil, maupun menterinya, eselon 1 hingga II  anggota dewan, penegak hukum bahkan aparat keamanan  semuanya adalah pegawai dari rakyat, yang dibayar dari pajak rakyat, jadi seharus nya jikalau ada juragannya (yakni rakyat) hidup sengsara dan kesulitan, secara sadar logika berpikirnya juga ada rasa malu sebagai pegawai yang diangkat oleh rayat, bahwa saya telah gagal tidak mampu menyejahterakan juragan saya dan memberikan rasa aman dan nyaman, saya gagal sebagai mandataris rakyat, saya gagal sebagai direksi negara, dan saya harus tahu diri.

Itu logika berpikirnya sebuah kebenaran, tapi terkadang simpati kita membunuh logika berpikir kita, itulah kesalahan kita bersama.

Dalam istilah ilmu pengetahuan disebut Post-Truth dimana sebuah fenomena atau sebuah era dimana fakta obyektif menjadi kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik dibanding dengan daya tarik emosional dan keyakinan dari masyarakat seperti halnya pada pemilu  beberapa dekade lalu , dimana kondisi kebohongan bisa menyamar menjadi kebenaran dengan cara memainkan emosi dan perasaan masyarakat.

Pertanyaan kritisnya hanya selevel itukah kondisi masyarakat kita untuk mudah digiring pada opini publik untuk tujuan bisnis maupun politis? Yang dimana pada era saat ini diperparah dengan maraknya berita bohong atau Hoax, ini yang menjadi tugas kita bersama melawan kebohongan dengan kebohongan, dimana mendudukan persoalan secara obyektif dalam mencari kebenaran dengan cara berpikir secara logika sehat.

——————-

Penulis adalah praktisi hukum, pemerhati masalah sosial budaya dan politik 

ShareTweetSend
Next Post
Jejak Sarjana di Balik Motor Sayur

Jejak Sarjana di Balik Motor Sayur

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Recommended

Bie Lelaki Lamalera di Ujung Senja

Bie Lelaki Lamalera di Ujung Senja

7 tahun ago
Panggilan Hidup

Panggilan Hidup

4 hari ago

Popular News

    Newsletter

    Beranda Negeri

    Anda bisa berlangganan Artikel Kami di sini.
    SUBSCRIBE

    Category

    • BERITA
    • BIOGRAFI
    • BUMI MANUSIA
    • Featured
    • JADWAL
    • JELAJAH
    • KOLOM KHUSUS
    • LENSA
    • OPINI
    • PAPALELE ONLINE
    • PUISI
    • PUSTAKA
    • SASTRA
    • TEROPONG
    • UMUM

    Site Links

    • Masuk
    • Feed entri
    • Feed komentar
    • WordPress.org

    About Us

    Beranda sebagai suatu tempat para penghuni rumah untuk duduk melepas lelah, bercerita dengan anggota keluarga ataupun tamu dan saudara. Karena itu pula media Baranda Negeri merupakan tempat bercerita kita dan siapa saja yang berkesempatan berkunjung ke website ini.

    • Redaksi & Kontak
    • Tentang Kami
    • Privacy Policy

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    No Result
    View All Result
    • HOME
    • BERITA
    • JELAJAH
    • BUMI MANUSIA
    • BIOGRAFI
    • OPINI
    • KOLOM
    • SASTRA
    • Lainnya
      • TEROPONG
      • PUSTAKA
      • PAPALELE ONLINE
      • LENSA
      • JADWAL

    © 2023 BerandaNegeri.com - Morris by Gendis.

    Welcome Back!

    Login to your account below

    Forgotten Password?

    Retrieve your password

    Please enter your username or email address to reset your password.

    Log In