Oleh Nia Samsihono
Kehadiran buku Akhir Kisah Bersama Mario karya Fabio H. Seran terasa istimewa dalam peta sastra Indonesia mutakhir. Buku ini bukan sekadar kumpulan 12 cerita pendek, melainkan sebuah ruang perjumpaan antara iman, budaya, dan pengalaman hidup yang berakar kuat di tanah Nusa Tenggara Timur (NTT). Cerpen-cerpen di dalamnya lahir dari tangan seorang Imam Katolik yang mengabdikan diri dalam pelayanan misionaris, namun juga memelihara kecintaan yang mendalam pada dunia sastra.
Profil Penulis: Antara Iman dan Sastra
Fabio H. Seran menempuh pendidikan filsafat di STFK Ledalero-Maumere (kini IFTK), lalu melanjutkan studi teologi di Università Pontificia Salesiana, Roma. Ia ditahbiskan menjadi Imam Serikat Panggilan Ilahi (Vokasionis) pada 2017 di Ruteng. Sejak 2018, ia bertugas di Kota Ho Chi Minh, Vietnam.
Jauh sebelum menjadi Imam, Fabio sudah jatuh cinta pada sastra sejak bangku SMA. Cerpen dan puisinya kerap dimuat di media lokal seperti Pos Kupang dan majalah asuhan STFK Ledalero. Akhir Kisah Bersama Mario adalah buku sastra pertamanya yang dipublikasikan, sebuah persembahan penuh cinta untuk mendiang saudara kandung, yaitu sang kakak Mario Frengky Klau, yang meninggal pada tahun 26 September 2006, bersamaan dengan ulang tahun ke-19 Fabio, ketika itu. Dengan demikian, membaca cerpen-cerpen Fabio berarti juga memasuki ruang batin seorang penulis yang hidup di persimpangan iman religius, pengalaman duka personal, dan akar budaya lokal.
Dunia dalam 12 Cerpen
Cerpen-cerpen Fabio menghadirkan panorama kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur: pedesaan yang bersahaja, ritual adat, persinggungan tradisi dan agama, hingga alam yang hadir sebagai latar sekaligus tokoh. Judul-judul cerpennya, seperti Ketika di Bukit Wemer, Akhir Kisah Bersama Mario, Elegi Cika, Bintang Terkubur, Suara-Suara dalam Gelap, Bunga Penutup Abad, Aku Kenal Dia, Perempuan Angin, Roswita, Memori Bersama Kampung, Di Sada Watu Manu, dan Biarawan Muda Bersayap menggambarkan betapa kuatnya keterikatan penulis dengan tanah kelahirannya.
Mario F. Lawi salah seorang penulis sastra yang lahir di Kupang, kota di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur, dalam endorsemennya pada buku karya Fabio ini mengatakan, kisah-kisah dalam buku cerpen ini berdenyut dengan pengalaman hidup masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT)—penuh kesederhanaan, namun sarat pergulatan eksistensial. Budaya lokal tidak hadir sekadar ornamen, melainkan sebagai sumber nilai yang membentuk cara pandang tokoh-tokoh cerpen.
Tema-Tema Utama: Kehilangan, Iman, dan Kebudayaan
Salah satu inti dari buku ini adalah tema kehilangan. Judul buku sendiri, Akhir Kisah Bersama Mario, adalah bentuk penghormatan pada sang kakak yang telah tiada. Kehilangan pribadi itu menjelma menjadi energi naratif, menjelajah dalam kisah-kisah tentang kematian, kerinduan, dan harapan.
Selain itu, iman Katolik menjadi denyut lain. Sebagai seorang Imam, Fabio menghadirkan doa, refleksi spiritual, dan perjumpaan manusia dengan misteri transendensi, tetapi tidak pernah terjebak pada dogmatisme. Iman di sini membumi—berdialog dengan tanah, adat, dan sejarah hidup tokoh-tokoh yang sederhana.
Budaya Nusa Tenggara Timur juga tampil dengan kuat. Alam Flores, adat istiadat, bahasa, hingga relasi sosial masyarakat pedesaan muncul dalam narasi yang jujur. Cerpen-cerpen ini bisa dibaca sebagai dokumentasi kultural, sekaligus upaya menyuarakan identitas daerah yang sering terpinggirkan dari pusat wacana sastra Indonesia. Coba perhatikan lukisan latar dalam narasi yang diungkap dalam salah satu cerpennya berikut.
Kau tentu masih ingat waktu kita berjalan bersama di pematang sawah yang sempit saat kita pulang dari kebun. Waktu itu turun gerimis. Dengan hati-hati sekali kita berlari-lari kecil melewati pematang-pematang sempit itu dengan daun pisang di tangan kanan kita masing-masing. Kau masih ingat kan? Kau bilang waktu itu bahwa kampungmu, di Manggarai sana, ada hamparan sawah yang pematang-pematangnya jalin-menjalin hingga menyerupai jaring laba-laba. ….. (Dari cerpen berjudul “Memori Bersama di Kampung”, hlm. 63 Fabio H. Seran di buku Akhir Kisah Bersama Mario, Jakarta: Penerbit KKK, 2025).
Paragraf cerpen itu merekam keintiman kenangan melalui lanskap alam Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Manggarai. Ada beberapa hal yang dapat kita lihat.
1. Alam sebagai latar emosional
Kenangan tentang berjalan di pematang sawah yang sempit, diiringi gerimis, menekankan kedekatan manusia dengan lingkungan sehari-hari. Alam hadir bukan hanya sebagai latar, melainkan sebagai bagian dari pengalaman batin yang mengikat tokoh-tokoh dalam cerita. Gerimis dan daun pisang menjadi simbol sederhana dari perlindungan dan keakraban.
2. Ciri khas lanskap Manggarai
Penyebutan pematang sawah di Manggarai yang “jalin menjalin menyerupai jaring laba-laba” langsung merujuk pada fenomena sawah lingko, salah satu kekhasan budaya agraris masyarakat Manggarai. Sawah berbentuk seperti jaring laba-laba itu tidak hanya unik secara visual, tetapi juga menyimpan makna sosial: pembagian lahan pertanian yang adil di antara anggota masyarakat. Dengan begitu, cerpen ini memunculkan identitas lokal melalui lanskap alam.
3. Alam sebagai memori kolektif dan identitas
Sawah, gerimis, dan daun pisang berfungsi sebagai penanda memori. Alam menjadi arsip kenangan, tempat hubungan personal terikat dengan identitas kampung. Cerpen ini menegaskan bagaimana alam Nusa Tenggara Timur bukan hanya ruang fisik, melainkan juga ruang kultural dan emosional yang membentuk ingatan bersama.
4. Nuansa puitis dalam penggambaran alam
Kalimat yang menyandingkan pematang dengan “jaring laba-laba” bukan sekadar deskripsi geografis, melainkan metafora yang memperkaya imajinasi pembaca. Alam Nusa Tenggara Timur dipersonifikasi, diberi “bentuk bahasa” yang indah, sehingga menghadirkan citra khas sekaligus memikat.
Paragraf cerpen yang saya kutip ini memperlihatkan bahwa alam di Nusa Tenggara Timur (khususnya sawah lingko Manggarai) bukan hanya lanskap, melainkan warisan budaya, identitas, dan ruang kenangan yang memperkuat ikatan emosional tokoh-tokohnya.
Sebagai sebuah karya, Akhir Kisah Bersama Mario menunjukkan kematangan emosional dan kedalaman refleksi. Dari sisi teknik, gaya bahasa Fabio relatif sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya: ia menulis dengan kejujuran. Tidak ada ambisi estetis yang berlebihan, melainkan keinginan untuk berbagi pengalaman hidup dengan pembaca.
Buku ini memiliki nilai ganda:
1. Sastra – menghadirkan cerita pendek dengan latar lokal yang kuat, memperkaya khazanah sastra Indonesia dengan suara dari timur.
2. Kultural dan spiritual – menyuarakan tradisi, iman, dan pergulatan eksistensial masyarakat NTT, menjadikannya bacaan yang relevan bagi siapa saja yang ingin memahami perjumpaan agama, adat, dan modernitas.
Akhir Kisah Bersama Mario adalah buku yang lahir dari hati seorang imam, seorang penyair, sekaligus seorang saudara yang masih menyimpan luka duka. Cerpen-cerpen di dalamnya adalah upaya untuk merawat kenangan, sekaligus menyalakan cahaya pengharapan di tengah kehidupan yang rapuh. Kehadirannya membuktikan bahwa sastra bisa menjadi jembatan antara iman dan budaya, antara luka pribadi dan pengalaman kolektif. Fabio H. Seran menghadirkan suara yang jernih dari Nusa Tenggara Timur, sebuah suara yang pantas mendapat tempat dalam percakapan sastra Indonesia kontemporer. Pasti daerahnya indah, Fabio H. Seran dilahirkan di Betun, Kabupaten Malaka, yaitu Pulau Timor bagian Barat Nusa Tenggara Timur yang menyebut areal persawahan mereka dengan kata “bakateu”.
*****************************
Nia Samsihono, Penulis Indonesia







